ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 94


__ADS_3

Kini Reyhan dan Syifa sudah sampai di Apartemen milik Reyhan. Keduanya langsung menuju balkon untuk menikmati pemandangan kota di pagi hari dari atas ketinggian. Reyhan memeluk istrinya dari belakang sambil sesekali mencium leher mulus yang membuatnya tak bisa berpaling.


" Sayang, kenapa semalam kamu tidur di lantai?" tanya Reyhan.


" Syifa hanya ingin menemani Mas tidur. Syifa tidak mungkin membiarkan Mas tidur di sofa yang sempit sementara Syifa di tempat tidur yang nyaman." jawab Syifa.


" Tapi kalau kamu sakit gimana, sayangku?"


" Aku tidak selemah itu, Mas."


" Iya, ayo kita coba? Sekuat apa dirimu jika disana." seringai Reyhan seraya menunjuk ke arah ranjang.


" Syifa lapar, mau pesan makanan dulu ya?"


" Huft... baiklah."


Syifa duduk di sofa sambil memainkan ponselnya untuk memesan makanan dan juga meminta Clarissa untuk mengirimkan baju ke Apartemen. Reyhan rebahan di pangkuan istrinya seraya tangannya tak berhenti mengusap lembut punggungnya.


" Ish... Mas, geli. Jauhkan tanganmu dari punggungku."


" Semua yang ada padamu adalah milikku, tidak ada yang bisa melarangku melakukannya."


" Hhh... Maasss!" pekik Syifa.


" Mau disini apa di ranjang?"


" Ini masih pagi, Mas. Jangan macam - macam ya!"


" Memangnya bedanya apa pagi dan malam. Rasanya sama - sama enak." seringai Reyhan.


" Dasar mesum!"


" Apa salahnya? Kau milikku seutuhnya."


Reyhan menciumi perut istrinya dengan lembut. Tangannya tak berhenti dan terus saja menjelajahi seluruh tubuh istrinya.


" Mas, sebentar lagi makanannya datang." lirih Syifa.


" Biarkan saja, Mas tidak peduli." sahut Reyhan.


Reyhan berdiri dan mengangkat tubuh istrinya ke ranjang. Rasanya sudah tak sabar ingin menikmati tubuh istrinya yang kini sudah pasrah dalam kungkungannya. Saat ingin mencium bibir istrinya, tiba - tiba ada yang menekan bel pintu Apartemennya.


" Astaga, apa mereka tidak bisa berhenti mengganggu!" kesal Reyhan.


" Buka dulu, Mas. Mungkin pengantar makanan atau baju."


" Tapi udah tanggung, sayang." rengek Reyhan.


" Sebentar, biar Syifa yang buka."


" Tidak usah, biar Mas aja. Kamu tetap disini jangan beranjak sedikitpun."


Reyhan membuka pintu dan ternyata memang ada dua kurir yang mengantarkan makanan dan pakaian milik Syifa. Reyhan kembali menutup pintunya lalu mengajak istrinya untuk makan.


" Mas, Syifa tidur sebentar ya? Semalam nggak bisa tidur soalnya." rengek Syifa.


" Tidak boleh! Mas tidak mau menundanya lagi." sahut Reyhan datar.


Syifa yang tahu maksud suaminya langsung cemberut. Dia hanya bisa mengalah jika suaminya sudah bersikap dingin seperti itu.


" Baiklah, terserah Mas aja." ucap Syifa pelan.


" Apa kamu tidak bahagia menikah denganku?" pertanyaan Reyhan membuat Syifa terkejut.


" Kenapa Mas bertanya seperti itu?"


" Tidak, maaf."


" Sebenarnya Mas Rey itu kenapa?"

__ADS_1


" Tidak apa - apa, tidurlah. Maaf udah buat kamu tidak nyaman." Reyhan menyandarkan tubuhnya di sofa seraya memejamkan matanya.


" Apa Mas tidak mau menemaniku tidur?"


Syifa menjatuhkan dirinya di pangkuan suaminya lalu bersandar di dada bidang itu. Reyhan yang kaget langsung membuka matanya dan tersenyum melihat tingkah sang istri memainkan jemari lentiknya di leher.


" Sayang, katanya mau tidur?" lirih Reyhan di sela desahannya saat bibir mungil istrinya mencium lehernya.


" Yakin Syifa boleh tidur?" goda sang istri.


" Hmm... aaakhhh...! Kenapa menggodaku jika lelah. Kita bisa melakukannya saat kau siap."


" Benarkah? Terimakasih suami tampanku." Syifa mengecup sekilas bibir suaminya lalu beranjak menuju kamar mandi.


" Hah... apa dia hanya menggodaku saja?" gumam Reyhan.


Reyhan sangat kesal dengan tingkah konyol istrinya yang sudah membangkitkan hasratnya. Bisa - bisanya setelah menggoda, sang istri pergi begitu saja.


" Mas...?" panggil Syifa dari dalam kamar mandi.


" Apaa...?" sahut Reyhan ketus.


" Tolong ambilkan baju Syifa yang tadi diantarkan kurir."


" Ambil saja sendiri!"


" Mas, kok gitu sih sama istri?"


" Iya - iya, Mas ambilkan."


Reyhan beranjak ke kamar mandi mengantar baju milik Syifa yang masih terbungkus di dalam paper bag.


" Sayang, buka pintunya. Ini bajunya cepetan ambil."


" Iya,"


Syifa membuka sedikit pintunya dan menjulurkan satu tangannya untuk meraih baju yang disodorkan Reyhan dari luar. Namun bukan baju yang ia dapat melainkan tangannya dicekal oleh suaminya. Reyhan memaksa masuk ke dalam kamar mandi dan tersenyum saat sang istri hanya memakai handuk yang menutupi dari bagian dada hingga paha.


" Mas mandi dulu, Syifa mau ganti baju."


" Tidak semudah itu keluar dari sini." seringai Reyhan.


" Kenapa?"


Syifa melepas kemeja yang dipakai suaminya dan menariknya ke bawah shower.


" Apa harus memandikanmu dulu baru boleh keluar?"


" Kita mandi bersama, sayang."


Reyhan menarik handuk di tubuh istrinya dan menaruhnya di gantungan. Namun sang istri malah bergegas bersembunyi dibalik punggungnya dan memeluknya erat dari belakang.


" Mas, Syifa malu." rengek Syifa.


" Kenapa malu, aku ini suamimu. Ayolah, biarkan Mas melihat wajah cantikmu." bujuk Reyhan.


Setelah bujukan entah yang keberapa kali, akhirnya Syifa melepaskan pelukannya dan mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat di bawah guyuran air dari shower.


Reyhan memperlakukan istrinya dengan selembut mungkin agar tidak tegang. Berawal dari ciuman di kening hingga turun sampai ke leher, bisa Reyhan rasakan jika istrinya masih sedikit malu.


" Mau berendam, sayang?" tanya Reyhan.


" Tidak, Mas. Tubuh Syifa udah kedinginan."


" Ya udah, kita ke kamar saja."


Reyhan melilitkan handuk di tubuh istrinya dan juga dirinya sendiri. Setelah mendudukkan istrinya di ranjang, Reyhan meraih paper bag yang berisi pakaian Syifa.


" Sayang, ini beneran baju milikmu?" tanya Reyhan heran.

__ADS_1


" Itu Clarissa yang beli Mas." jawab Syifa.


" Yakin kamu mau pakai ini?"


" Memangnya kenapa, Mas?"


Reyhan menyerahkan baju itu kepada istrinya apakah benar memesan baju seperti itu.


" Astaghfirullah...! Kenapa Clarissa beliin lingerie sih? Aku mintanya baju santai, Mas."


" Mending kamu nggak usah pakai baju aja, sayang. Itu anak memang nggak ada akhlaknya."


Syifa mengambil paper bag itu ingin mengecek apakah benar itu kiriman dari Rissa atau bukan.


" Mas, ini seperti ada suratnya." Syifa mengambil secarik kertas yang terlipat di dalam paper bag.


" Coba Mas yang buka."


Reyhan membuka kertas itu dan terbelalak kaget melihat isi tulisannya.


" Adikku tersayang, pakai ini biar lebih romantis. Aku pastikan suamimu takkan bisa mengedipkan matanya... hahahaa..."


' Abang '


" Ish... dasar nggak ada akhlaknya tuh orang!" umpat Reyhan.


" Rissa nulis apa, Mas?"


" Bukan Rissa, tapi Ardan."


Syifa mengambil kertas di tangan suaminya lalu membacanya dengan pelan.


" Ya Allah, Abang. Kenapa jadi dia yang beli baju seperti ini." sungut Syifa.


" Ya udah, sayang. Nanti biar Rendi aja yang cariin baju buat kamu. Pasti sekarang Rissa sedang bersama Ardan."


" Ya udah, kalau begitu lanjut lagi yuk?" ucap Syifa nyengir.


" Tentu saja, Mas tidak akan berhenti sebelum bisa memberikan kehangatan pada istriku yang cantik ini."


Reyhan kembali memulai aksinya di atas ranjang. Kali ini tak boleh ada drama apapun lagi seperti semalam. Syifa juga tidak gugup lagi seperti tadi saat Reyhan melabuhkan ciuman di seluruh tubuhnya.


" Sayang, boleh Mas melakukannya sekarang?" ucap Reyhan lembut di sela - sela kecupannya.


Syifa hanya bisa mengangguk dan membiarkan Reyhan mengambil mahkota yang selama ini dia jaga dengan baik.


" Aakkhhh...! Sakit, Mas...!" lirih Syifa.


" Tahan, sayang. Sebentar lagi ya?"


Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Reyhan berhasil juga menyalurkan hasratnya yang sudah ia nantikan sejak selesai ijab qobul.


" Aakkkhhh..." teriak suami istri itu bersamaan saat mencapai puncaknya.


Reyhan mengecup seluruh wajah istrinya lalu membawanya ke dalam dekapan yang hangat.


.


.


TBC


.


.


Beberapa part lagi akan TAMAT. Terimakasih para readers yang sudah berkenan membaca cerita ini. Baca juga novel terbaru saya " Mengejar Cinta Gadis Brutal "


.

__ADS_1


.


__ADS_2