
" Tidak Syifa, aku tidak mungkin melakukan itu." ucap Anton.
" Aku tidak bisa percaya lagi padamu, kau sudah membuatku kecewa." lirih Syifa.
" Fa, percayalah. Aku tidak mungkin melakukan itu padamu. Apa untungnya aku membunuhmu. Aku berharap kau tetap hidup dan bisa menerima cintaku."
" Jangan katakan itu lagi, Ton. Jangan memaksakan perasaanku, aku mohon biarkan aku pergi."
" Apa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku?"
" Bunuh saja aku, jika Reyhan menemukanmu disini aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padamu."
" Apa hebatnya Reyhan dibandingkan aku, Fa? Dia hanyalah pria arogan yang tak punya hati."
" Kau salah menilai dia, Ton. Reyhan adalah orang yang sangat baik. Jujur, Syifa tak bisa hidup tanpa Reyhan. Maafkan, Syifa."
Anton berjalan menuju ke jendela. Hatinya mulai luluh dengan pengakuan Syifa. Sebenarnya hatinya terasa sangat perih dengan penolakan Syifa, namun dia sudah melangkah sejauh ini. Mungkinkah dia harus melepaskan Syifa dan mengembalikannya kepada Reyhan?
" Bersiaplah, kita akan kembali ke Jakarta." kata Anton datar.
" Benarkah? Kamu tidak bohong, Ton?"
" Iya, kini aku sadar bahwa tidak ada sedikitpun cinta dihatimu untukku. Aku akan mengembalikanmu kepada Reyhan."
" Terimakasih, aku yakin kau akan mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku."
" Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya sebelum aku kembalikan kamu kepada Reyhan?" pinta Anton.
" Untuk persahabatan?" balas Syifa.
" PERSAHABATAN." ucap Anton menegaskan.
Mereka berdua saling berpelukan. Ada kelegaan dalam hati masing - masing setelah keduanya saling ikhlas untuk menerima semua takdir cinta mereka.
" Terimakasih tidak membenciku, Fa." lirih Anton.
" Maafkan aku membuatmu terluka selama ini, Ton." balas Syifa lembut.
" Bersiaplah, kita pergi sebentar lagi."
Anton mengurai pelukannya lalu mengecup kening Syifa sekilas sebelum keluar dari kamar gadis itu. Anton menyuruh semua anak buahnya untuk menyiapkan mobil. Mereka semua akan kembali ke Jakarta secepatnya.
# # #
" Rey, itu ada sebuah rumah. Mungkinkah Syifa disekap disana? Tidak ada lagi rumah selain itu, pasti Syifa ada disana." tunjuk Ardan.
" Semoga saja Syifa ada disana." lirih Reyhan.
" Kita serang saja mereka, sepertinya hanya ada beberapa orang saja." kata Sony.
" Ish... pak Dokter semangat sekali hari ini." ledek Ardan.
" Sudah lama nggak olahraga, lumayan buat melemaskan otot." sahut Sony nyengir.
Reyhan nampak berpikir untuk mencari cara agar bisa menyelinap masuk menyelamatkan Syifa.
" Kita cari Syifa dulu, putar arah dari belakang rumah biar kita tidak ketahuan para penjaga."
Reyhan mengambil pistol dari saku jaketnya. Dia sudah mempersiapkan semuanya semenjak tahu Syifa diculik. Reyhan memang sudah terbiasa membawa senjata kemanapun dia pergi saat di Amerika. Persaingan bisnis yang sangat kejam membuat para pengusaha harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
" Kalian bawa ini untuk berjaga - jaga. Gunakan jika keadaan terdesak saja." kata Reyhan.
" Pistol...?" ucap Ardan dan Sony kaget.
" Kenapa?" sahut Reyhan santai.
__ADS_1
" Wahh... jangan - jangan kau punya profesi jadi mafia, Rey." seloroh Ardan.
" Hahahaa... sebagai pengusaha, kita harus selalu waspada. Semua ini sudah ada ijinnya, tidak perlu khawatir." kata Reyhan.
" Kami biasa tangan kosong, Rey." ucap Sony.
" Hanya untuk berjaga - jaga, ambillah. Bijaklah dalam menggunakannya, itu bukan mainan anak kecil." ujar Reyhan.
Jarak mereka dari rumah itu hanya tinggal lima ratus meter saja. Untuk menghindari para penjaga, mereka bertiga mencari jalan menuju belakang rumah.
" Rey, apa kita masuk ke dalam rumah semua?" bisik Sony.
" Aku saja, kalian berjaga disini." sahut Reyhan pelan.
" Baiklah, hati - hati."
Reyhan mencari jalan untuk masuk ke dalam rumah yang ternyata ada di bagian samping. Setelah memastikan keadaan aman, dia masuk dan segera mencari keberadaan Syifa.
" Ada beberapa kamar disini, dimana Syifa?" batin Reyhan.
Semua penjaga ada diluar, jadi Reyhan bisa memeriksa setiap ruangan yang ada. Sampai di ruangan paling ujung, ada dua kamar yang masih belum ia masuki. Saat Reyhan hendak mendekati kamar itu, tiba - tiba pintunya terbuka. Seorang pria dengan setelan jas rapi keluar dari kamar itu.
" Benarkah itu Anton? Dia sangat berubah sekarang." batin Reyhan.
Anton terlihat membuka kamar di sebelahnya. Tak berselang lama, keluarlah gadis yang sudah tiga hari menghilang itu.
" Syifa?" gumam Reyhan.
Reyhan yang bersembunyi tidak tahan melihat kekasihnya digandeng oleh pria lain. Dia heran kenapa Syifa tidak memberontak saat lelaki itu merangkul bahunya. Apa mungkin Syifa diancam oleh Anton?
" Syifaaa...!" teriak Reyhan.
Mendengar ada suara di belakang mereka, Anton dan Syifa segera membalikkan badannya.
" Kau? Ternyata kau hebat juga bisa menemukan Syifa disini." cibir Anton.
" Lepaskan Syifa!"
" Kalau aku tidak mau kau mau apa?"
" Sialan! Kau sudah melewati batasanmu, Anton!"
" Apa kau kira aku masih seperti dulu yang diam saja saat kau tindas?" seringai Anton.
" Ton, kau sudah_..." lirih Syifa.
" Diam, duduk di sofa itu dan jangan bergerak tanpa kusuruh!" titah Anton yang pastinya tidak terdengar oleh Reyhan.
" Tapi_..."
" Aku hanya ingin tahu seberapa kuat dia bisa melindungimu."
" Aku tidak mau kalian terluka,"
" Tidak, aku hanya akan bermain sebentar saja."
Syifa menuruti perintah Anton dan duduk di sofa sudut ruangan. Sebenarnya dia khawatir jika nanti mereka berdua terluka.
Anton berjalan mendekati Reyhan dan mereka sali menatap tajam. Anton memancing amarah Reyhan dengan sedikit membahas Syifa hingga akhirnya perkelahian itu tak terelakkan.
Reyhan menyerang Anton lebih dulu karena terpancing dengan ucapan Anton. Namun, Anton yang sekarang bukanlah Anton yang dulu pendiam dan kalah. Dia membalas serangan Reyhan dengan saling pukul dan tentang.
" Anton, sudah! Hentikan!" teriak Syifa melihat keduanya baku hantam.
Mendengar teriakan Syifa, Ardan dan Sony langsung bergegas masuk dari pintu samping sedangkan anak buah Anton masuk dari pintu depan.
__ADS_1
Syifa semakin terkejut mendapati kekacauan semakin besar karena Ardan dan Sony juga baku hantam dengan anak buah Anton.
" Sudah! Hentikan semuanya!" teriak Syifa seraya melempar vas bunga kearah kaca yang menempel di dinding.
Praakkk!!!
Semua orang langsung berhenti dan menatap Syifa. Reyhan langsung menghampiri kekasihnya dan memeluknya sangat erat.
" Sayang, kamu tidak apa - apa?" lirih Reyhan.
" Iya, Mas. Syifa baik - baik saja." ucap Syifa.
" Apa mereka menyakitimu?"
" Tidak, kau yang menyakitiku."
" Hah...! Kenapa aku?"
" Kau memelukku terlalu erat, aku tidak bisa bernafas."
Reyhan langsung mengursi pelukannya dan mengecup kening Syifa cukup lama.
" Mas sangat mengkhawatirkanmu, sayang."
" Maaf, karena Syifa... Mas harus kembali lagi ke Indonesia."
" Tidak apa - apa, Mas senang bisa bertemu dengan gadis cantikku ini."
Sementara Anton, dia memarahi anak buahnya yang menyerang tanpa perintah darinya. Anton hanya ingin bermain - main saja dengan Reyhan, namun dia tidak tahu jika Ardan dan Sony juga ada disana.
" Apa saya menyuruh kalian untuk menyerang... hah!" hardik Anton.
" Maaf, Boss. Kami melihat Boss berkelahi jadi kami inisiatif membantu."
" Mereka adalah temanku! Beraninya kalian menyerang. Bersihkan tempat ini sebelum pergi. Saya tidak suka dengan tempst yang kotor." perintah Anton.
Anton mendekati Syifa dan yang lainnya dengan senyum tulus yang terukir di bibirnya.
" Maaf atas kekacauan ini, saya tidak bermaksud membuat semuanya terluka." ucap Anton.
" Dasar br*ngs*k! Beraninya kau menculik Syifa!" teriak Reyhan.
" Hhh... tapi Syifa merasa senang liburan disini. Iya kan, Fa?" sahut Anton dengan senyum manisnya.
" Mmm... aku_..." ucap Syifa ragu.
" Kalian bisa menginap disini malam ini, tempat ini sangat indah. Di belakang rumah ini ada sungai kecil dengan airnya yang jernih." kata Anton.
" Apa yang sebenarnya kau inginkan, Ton?"
" Mari bicara di ruang tamu saja, disini berantakan sekali."
Setelah semuanya duduk, Anton menceritakan kronologi kenapa dirinya sampai menculik Syifa. Dan ternyata semua itu berakar dari Diana yang telah menceritakan tentang keburukan yang dilakukan Reyhan kepada Syifa dan tentu saja semua itu hanyalah kebohongan.
Setelah rumah Anton kembali rapi, Anton menyuruh anak buahnya untuk meninggalkan tempat itu karena sebentar lagi polisi pasti datang.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1