
Reyhan kembali ke rumahnya setelah mengantar dua sahabatnya. Tubuhnya sangat lelah setelah seharian menghabiskan waktunya bersama kedua sahabatnya. Reyhan bergegas masuk ke dalam kamar karena sudah merindukan kekasihnya yang seharian ini tak dilihatnya.
" Sayang, Mas sangat merindukanmu." gumam Reyhan.
Reyhan segera ganti baju lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur sembari membuka layar ponselnya. Reyhan melakukan panggilan video kepada pujaan hatinya.
[ " Assalamu'alaikum, Mas..." ] sapa Syifa dengan wajah sumringah.
" Wa'alaikumsalam, sayangku... Cintaku... belahan jiwaku..." jawab Reyhan tersenyum sangat manis.
[ " Ish... lebay!" ] cibir Syifa.
" Kok gitu sih? Mas nggak lebay, sayang." rengek Reyhan.
[ " Iya, Syifa percaya. Syifa kangen seharian nggak lihat Mas Reyhan." ]
" Mas juga, sayang. Rasanya kangen banget pengen ketemu."
[ " Kak Sony sama bang Ardan sudah balik ke Indonesia, Mas?" ]
" Sudah, ini Mas baru pulang habis antar mereka ke Bandara."
[ " Pasti seneng ya bisa berkumpul bertiga begitu, Syifa ditinggal sendiri disini." ]
" Makanya, sayangku. Carikan papa sekretaris lagi untuk mendampinginya biar tidak semuanya kamu yang mengerjakan."
[ " Nanti Syifa bicara dulu sama papa, Mas. Takutnya nanti salah pilih." ]
" Iya, sayangku. Sekarang lagi nggak sibuk ya?"
[ " Tidak, Mas. Hanya menyusun jadwal untuk rapat bulanan dengan para kantor cabang." ]
" Kapan bisa kesini? Mas rindu ingin memelukmu."
[ " Ya Allah, Mas. Bukannya Mas mau pulang ya?" ]
" Pekerjaan Mas lagi banyak, sayang. Kamu dong yang kesini, nanti Mas ajak keliling kota New York."
[ " Mas saja yang pulang," ]
" Mas pulangnya mungkin bulan depan, sayang. Tidak apa - apa, kan?"
[ " Iya, tapi awas kalau disana macam - macam!" ]
" Sayangku, Mas tidak mungkin melakukan itu. Percayalah, cinta Mas hanya untuk kamu."
[ " Hmmm... " ]
" Hari ini gadisku sangat cantik, Mas jadi nggak sabar untuk segera pulang."
[ " Mas, udah dulu ya? Dipanggil papa ke ruangannya." ]
" Ya sudah, calon istriku jaga diri dengan baik. Jangan sampai kelelahan! "
[ " Iya, calon suamiku yang bawel... sudah dulu ya, Assalamu'alaikum," ]
" Wa'alaikumsalam..."
Reyhan memeluk ponselnya dengan erat. Semakin hari, rasa cintanya semakin tumbuh walaupun jarak memisahkan keduanya. Hati mereka seakan telah menyatu walau raga terpisah jauh.
# # #
Hari - hari yang dilalui Syifa terasa begitu melelahkan dengan segudang pekerjaan yang ia tanggung sendiri saat ini. Hanya sesekali saja ia berkumpul dengan Ardan dan Sony, itu saja harus dijemput paksa.
" Makanlah dulu, Fa! Lihat tubuhmu, sekarang jadi kurus begini. Tekanan batin?" kata Ardan asal.
" Apaan sih, Bang! Mana ada tekanan batin." sahut Syifa.
" Kalau begitu, makanlah yang banyak biar tidak sakit." ujar Sony.
" Iya, Syifa juga makan kok."
__ADS_1
" Fa, ke Puncak yuk? Sesekali refreshing, jangan kerja terus." bujuk Ardan.
" Sama siapa aja, Bang?" tanya Syifa.
" Terserah kamu mau ajak siapa." sahut Ardan.
" Kak Sony ikut?"
" Lihat jadwalnya nanti, kadang ada pasien mendadak yang harus ditangani. Kakak tidak bisa pergi begitu saja." kata Sony.
" Ke Amerika saja bisa, ke Puncak bilangnya sibuk." cibir Syifa.
" Bukan begitu, Dek. Nanti kakak usahain ikut."
" Terserah, tapi Syifa mau ajak Rendi dan Bella."
" Iya, memang harus ada temen ceweknya jangan sendirian."
" Kakak sama Abang nggak bawa cewek?" ledek Syifa.
" Cukup dengan mengajakmu saja, sayang." goda Ardan.
" Ish... Syifa sama kak Sony aja." sahut Syifa sinis.
" Hahahaa... syukurin tuh! Jangan sok kepedean jadi orang." cibir Sony.
Mereka melanjutkan makan sambil sesekali bercanda. Sudah lama sekali mereka tidak berkumpul seperti ini. Sayangnya masih kurang satu orang lagi. Saat ada Reyhan, Syifa yang tidak ada. Begitupun sebaliknya, jika ada Syifa maka Reyhan yang tidak ada.
" Sayang, habiskan makananmu! Tidak usah mikirin yang jauh, yang deket aja nggak dipikirin." ujar Ardan.
" Apaan sih, Bang. Syifa nggak mikirin apa - apa kok." sahut Syifa.
" Habis ini kita mau kemana?" tanya Sony.
" Syifa pengen ke kebun binatang, kak. Boleh ya?" rengek Syifa seperti anak kecil.
" Mau ngapain ke kebun binatang? Kita bukan anak kecil lagi, Dek." kata Sony.
" Jangan salah, disana ada pacarnya bang Ardan loh..." kata Syifa.
Ardan dan Sony saling pandang. Pasalnya, saat ini Ardan sedang tidak menjalin hubungan special dengan siapapun. Di kebun binatang juga tidak ada yang Ardan kenal.
" Siapa, Dek?"
Syifa membisikkan sesuatu pada Sony yang membuat mereka langsung tertawa. Membayangkannya saja Sony langsung yakin jika Ardan pasti marah bila tahu maksud dari perkataan Syifa.
" Apa?" tanya Ardan.
" Tidak, ayo pergi! Mau sampai kita disini, yang ada diusir sama pemilik Cafe karena berisik." sahut Syifa agar Ardan tak bertanya lagi.
" Jadi ke kebun binatang? Panas loh sekarang, nggak nungguin nanti aja habis Ashar." kata Ardan.
" Abang ganteng, please...? Syifa pengen sekarang aja." rengek Syifa.
" Perasaan adikku nggak terlalu manja seperti ini." Ardan mengacak rambut Syifa gemas.
" Biarin, memangnya kenapa kalau manja?" sahut Syifa.
Kini mereka bertiga sedang berjalan menuju ke tempat parkir dimana Sony memarkirkan mobilnya. Syifa berjalan di tengah - tengah mereka sambil menggandeng lengan dua pria gagah di samping kanan kirinya.
" Dan, kayaknya kita salah deh kalau seperti ini." kata Sony dengan tampang serius.
" Salah apanya?" tanya Ardan heran.
Mereka menghentikan langkahnya di depan mobil Sony. Syifa menatap Sony dengan penuh tanda tanya.
" Coba kau lihat! Semua orang memperhatikan kita karena ada Syifa disini." kata Sony.
" Memangnya kenapa, kak? Perasaan Syifa tidak berbuat ulah yang membuat rugi orang lain?"
Sony tersenyum lalu merangkul bahu adiknya dengan mesra. Tatapan orang - orang masih tertuju pada mereka bertiga.
__ADS_1
" Mereka pasti mengira kau memiliki dua kekasih, jalan ditengah dengan menggandeng dua pria sekaligus. Seharusnya kami yang menggandeng dua wanita bukan sebaliknya."
" Oh iya, Syifa lupa..." ucap Syifa nyengir lalu melepaskan pegangan tangannya di lengan Ardan.
" Kalau buat Syifa, abang rela jadi yang ke sepuluh sekalipun." sahut Ardan.
" Ngaco ngomongnya!"
Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan Cafe. Sesuai permintaan Syifa, mereka pergi ke kebun binatang. Sepertinya gadis itu sangat antusias untuk mengunjungi tempat itu. Ada binar bahagia dari sorot mata gdis cantik dan imut itu.
" Sepertinya kau sangat ingin ke tempat itu, Fa?" ujar Ardan.
" Tempat itu adalah kenanganku bersama kedua orangtuaku. Kami bertiga datang kesini saat umurku sepuluh tahun. Kami sangat bahagia saat itu. Kami hanya sekali ke tempat itu namun meninggalkan kenangan manis di dalamnya."
" Mulai sekarang, jika kau mau pergi kemanapun yang kau inginkan... jangan pernah sungkan pada kami berdua. Selama Reyhan diluar negeri, kau adalah tanggung jawab kami." kata Sony.
" Terimakasih, Syifa beruntung memiliki sahabat sekaligus saudara seperti kakak dan abang." seru Syifa.
Sampai di kebun binatang, waktu sudah menunjukkan saatnya sholat dhuhur. Mereka bertiga mencari Mushola terdekat sebelum memasuki kawasan wisata.
Ardan sebenarnya sangat malas harus mengunjungi tempat wisata seperti ini karena kebanyakan anak kecil. Penampilannya yang membuat semua kaum hawa terpukau itu kini hanya dinikmati hewan - hewan di dalam kandang.
" Fa, memangnya tidak ada tempat lain yang lebih kau sukai?" keluh Ardan.
" Ini tempat terindah buat Syifa, Bang..." sahut Syifa sambil menggandeng lengan Sony seperti anak kecil agar tidak hilang di tengah kerumunan.
" Begini saja, Fa. Kau boleh memilih ke negara manapun yang kau suka untuk wisata, asalkan jangan ke tempat ini lagi." kata Ardan.
" Kenapa sih abang dari tadi ngeluh terus! Syifa kan pengennya datang kesini." sungut Syifa.
" Udah, tidak usah berantem. Setelah dari sini, kakak yang menentukan tujuan kita selanjutnya." ujar Sony.
" Ok! Syifa setuju usul kak Sony." kata Syifa.
" Terserah, aku ikut saja." sahut Ardan datar.
Syifa merangkul bahu Ardan lalu tersenyum. Dia mengambil tissu dari dalam tasnya lalu mengelap keringat di wajah Ardan.
" Kasihan... Abangku sampai keringat begini, maaf ya? Lain kali Syifa perginya sendiri saja jika ingin pergi ke tempat ini. Maaf sudah membuat abangku yang ganteng ini merasa tidak nyaman disini." ucap Syifa pelan tanpa menatap mata Ardan yang sedari tadi menatapnya.
" Apa kau marah?" tanya Ardan merasa telah membuat gadis itu bersedih.
" Tidak, untuk apa aku marah. Syifa tidak punya hak apapun untuk marah sama abang."
" Apa kau kecewa karena abang mengeluh?"
" Tidak, Syifa tidak ada alasan untuk kecewa. Ayo pulang, pasti abang lelah."
Syifa melepaskan rangkulannya lalu berjalan mencari arah keluar area wisata. Ardan hanya bisa menatapnya dengan perasaan bersalah.
" Ada apa?" tanya Sony melihat kedua sahabatnya diam.
" Maaf, kurasa aku telah membuat kesalahan besar." kata Ardan.
" Apa yang kalian bicarakan?"
" Tidak tahu, tolong bujuk dia supaya tidak pulang."
" Hah... kalian berdua aneh!"
Sony sedikit berlari mengejar Syifa yang sudah jauh di depan. Entah apa yang membuat gadis itu seketika diam hanya dalam waktu sekejap.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1