ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 85


__ADS_3

Setelah memastikan bahwa Syifa sudah lelap dalam tidurnya, Reyhan kembali membuka laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Reyhan adalah seorang pekerja keras tak kenal lelah.


Saat ini Reyhan sedang membangun bisnis baru yaitu pasar tradisional dengan gaya modern. Dia membangun pasar itu tak jauh dari rumah lama Syifa karena pasar yang biasanya lumayan jauh jika di jangkau dengan berjalan kaki.


Tak lama, pintu Apartemen Reyhan di ketuk oleh seseorang dari luar. Reyhan segera beranjak untuk melihat siapa yang datang.


" Selamat siang, Boss. Saya mengantar dokumen untuk proyek pasar tradisional." ucap Rendi.


" Kapan tempat itu selesai?" tanya Reyhan.


" Target kami bulan depan, Boss. Jika semuanya lancar, setelah pernikahan Anda, kita bisa cari waktu yaang tepat untuk peresmian tempatnya."


" Kau atur saja semuanya, saya sedang sibuk dengan urusan pernikahan nanti."


" Apa Boss perlu bantuan saya?"


" Tidak, duduklah dulu."


" Terimakasih, Boss."


Reyhan menatap wajah Rendi yang kini duduk di hadapannya. Ingin bertanya sesuatu nampak ragu.


" Ren... boleh saya tanya sesuatu?"


" Silahkan, Boss. Mau tanya soal apa?"


" Mmm... apakah menikah itu ribet?"


" Ribet? Maksud Boss ribet apanya?"


" Ya... kita harus mempersiapkan sesuatu secara detail, gedung, pakaian, undangan dan masih banyak lagi."


" Kalau itu tergantung yang punya hajat, Boss."


" Maksudnya?"


" Ya tergantung, kita mau pernikahan sederhana atau mewah. Kalau mewah itu ya harus memiliki dana yang cukup, mengundang banyak orang, menyediakan fasilitas untuk para tamu agar mereka merasa nyaman, makanan yang enak. Untuk pengantinnya sendiri harus mempersiapkan pakaian yang bagus karena harapan setiap orang adalah menikah sekali seumur hidup."


Reyhan berpikir ulang untuk mengadakan pesta pernikahan seperti itu. Ini adalah moment sekali seumur hidup untuknya.


" Kalau pernikahan sederhana gimana?"


" Kalau itu gampang, Boss. Undang saja tetangga dekat dan saudara, akad nikah lalu selesai deh tinggal malam pertama." ucap Rendi nyengir.


" Ish... itu saja yang kau pikirkan!"


" Hehehee... ada lagi pernikahan yang lebih sederhana, Boss."


" Apa...?"


" Datang aja ke KUA, akad nikah langsung selesai deh. Tidak perlu banyak biaya."


" Hah... kau kira saya miskin sampai tidak bisa mendatangkan penghulu ke rumah?"


" Kan biar cepet dan tidak capek, Boss."


" Kau benar juga."

__ADS_1


Saat mereka asyik membahas soal pernikahan, tanpa mereka sadari Syifa sudah berdiri di depan pintu kamar.


" Sekalian aja tidak usah menikah jika tak mau ribet!" ketus Syifa.


Reyhan dan Rendi langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka tidak menyangka gadis itu sudah terbangun dari tidurnya.


" Sayang, kok sudah bangun? Mau Mas temani tidur?" ucap Reyhan gugup.


" Boss, saya pulang dulu ya? Tadi istri saya ngidam pengen makan rujak soalnya. Permisi, assalamu'alaikum."


Rendi langsung berlari keluar Apartemen sebelum Reyhan sempat membalas salamnya.


" Wa'alaikumsalam." jawab Syifa.


Reyhan mengumpat dalam hati karena Rendi meninggalkannya begitu saja. Dia harus menghadapi tatapan tajam gadisnya.


" Sayang, Mas cuma_..."


" Cuma apa? Mas maunya apa!"


" Tidak, ayo kembali ke kamar. Kamu pasti lelah, biar Mas pijitin lagi?" bujuk Reyhan.


" Syifa lapar, Mas."


" Yaudah, Mas pesan makanan dulu. Kamu mau makan apa, sayang?"


" Nasi padang aja,"


" Ok, tunggu sebentar sambil mandi sana."


# # #


Reyhan merasa sangat nyaman tinggal di rumah kecil ini. Tempat dimana ia merasakan kasih sayang yang tulus dari orangtua Syifa. Reyhan menatap lekat foto pak Suryana dan bu Aisyah. Ada rasa rindu di dalam hatinya mengingat betapa dekatnya mereka dulu.


" Ayah... Ibu... Reyhan janji akan menjaga Syifa, menyayangi dan mencintainya setulus hati seperti kalian yang sangat tulus menyayangi Reyhan dan Syifa. Kenapa kalian harus pergi secepat ini, Reyhan belum sempat membuat ayah dan ibu bahagia." gumam Reyhan.


Reyhan meletakkan kembali foto orangtua Syifa di dinding lalu masuk ke dalam kamar Syifa untuk beristirahat. Saat berbaring, Reyhan jadi teringat dengan Syifa. Ingin sekali menghubungi kekasihnya namun takut ketahuan ibunya.


" Sayang, aku merindukanmu." gumam Reyhan.


Reyhan dan Syifa memang tidak boleh bertemu hingga hari pernikahan tiba kecuali saat bersama ibunya. Reyhan sampai frustasi dan uring - uringan di kantornya jika sedang merindukan kekasihnya. Rendi yang tidak tahu apa - apa selalu menjadi pelampiasan amarahnya.


Reyhan memandangi foto kekasihnya yang ada di wallpaper ponselnya. Rindunya semakin dalam saat melihat foto kebersamaan mereka. Reyhan mencoba peruntungan dengan mengirim pesan kepada calon istrinya.


" Sayang, Mas sangat merindukanmu." ( pesan dikirim )


Sampai lima menit menunggu, pesan hanya terkirim namun belum dibaca. Reyhan semakin gelisah karena gadisnya tidak merespon pesannya.


" Sayang, kamu kemana sih?" lirih Reyhan.


Reyhan mencoba untuk memejamkan matanya namun sangat sulit. Bayangan Syifa berputar - putar di pikirannya membuat dia semakin frustasi.


" Syifaaa...! Kau membuatku gila...!" teriak Reyhan.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, harusnya Syifa sudah ada di dalam kamarnya. Reyhan mencoba menghubungi kekasihnya itu namun nomor sang gadis tidak aktif.


Reyhan menghubungi Ardan dan Sony supaya mereka datang dan menginap bersamanya. Semoga saja kedua sahabatnya itu bisa memberikan solusi atas masalahnya.

__ADS_1


# # #


Sony dan Ardan datang satu jam kemudian. Mereka kini pada tiduran di depan tv sambil menonton sepak bola.


" Rey, kenapa nyuruh kita kesini?" tanya Ardan.


" Lagi suntuk aja sendirian disini." jawab Reyhan asal.


" Ish... bilang aja dari tadi kalau minta ditemenin." sahut Sony.


" Aku butuh bantuan kalian." kata Reyhan.


" Bantuan apa?"


" Syifa tidak bisa dihubungi, pesanku juga tidak terbaca. Apa mungkin nomorku di blokir?"


" Tadi siang kami masih berkirim pesan Rey, aku aja main ke kantornya." kata Ardan.


" Ngapain?" tanya Reyhan.


" Biasa, Rey. Ardan lagi mengejar cinta Clarissa." sahut Sony.


" Wahh... cepet juga cari mangsa, nggak seperti Sony." ledek Reyhan.


" Aku udah punya satu dan tidak akan tergantikan. Kalian mengenalnya tapi belum waktunya bertemu." ujar Sony dengan senyum yang mengembang.


" Siapa? Perasaan tidak pernah lihat kamu jalan sama cewek." kata Reyhan.


" Nanti kalau sudah waktunya juga kalian bertemu dengan dia." ucap Sony membuat dua sahabatnya penasaran.


" Sialan...! Pake rahasia segala." umpat Ardan.


Sony hanya tersenyum sambil menatap dua sahabatnya yang kesal. Pasalnya mereka tidak pernah melihat dirinya jalan sama seorang gadis selain Syifa.


" Dan, coba kau telfon Syifa mungkin aja bisa." pinta Reyhan.


" Bukannya nggak boleh sama tante Salma?" sahut Ardan.


" Sekali ini aja, aku sangat merindukannya." rengek Reyhan.


" Aku tidak berani, Rey. Nanti bisa diamuk tante kalau ketahuan."


" Please, sekali ini saja."


Ardan merasa kasihan dengan Reyhan namun dia juga takut dengan tante Salma.


" Ya sudah, tapi sekali ini saja." kata Ardan.


Ardan meraih ponselnya di atas meja dan mencari kontak Syifa. Dengan mengucap bismillah, Ardan menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.


[ " Hallo..." ]


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2