
"Rumah sakit? siapa yang sakit bu?" Atiqah penasaran dan selama perjalanan ia disibukkan dengan banyak dugaan. Dugaan yang ia yakini, mengenai perkelahiannya dengan Echa dkk kemarin.
"Nanti kamu tau. Kita ke ruang ICU dulu ya?!" bu Indri menggandeng tangan Atiqah. Sopir menunggu di luar.
Keduanya masuk perlahan ke ruang ICU, langkah Atiqah terhenti saat melihat Ardi yang duduk di kursi panjang disebelah ibunya, bu Asri. Tak jauh dari sana ada sesosok laki laki seumuran dengan ayahnya, terus menunduk.
"Bu..." ucap Atiqah pada bu Indri. Guru BKnya itu menoleh lalu mengangguk, membawa Atiqah kembali mendekati bu Asri dan Ardi.
"Atiqah" ucap Ardi saat melihat Atiqah yang sedang berjalan ke arahnya. Bu Asri menoleh lalu bangkit dan berlari, langsung memeluk putri sulungnya. Tangisan itu pecah, Atiqah yang masih belum tau jelas apa yang sedang terjadi, hanya diam terpaku.
"Bu...ada apa? siapa yang sakit?" suara Atiqah terdengar bergetar, debaran jantungnya semakin cepat.
"Bapakmu...bapakmu kecelakaan mba. Masih belum sadar, kritis" bu Asri lemas dan terjatuh. Atiqah dan bu Indri ikut menangkap tubuh bu Asri yang ternyata pingsan. Ardi berlari berusaha membantu tapi Atiqah mendorongnya.
"Jangan kemari!!" bentak Atiqah, matanya menatap tajam Ardi. Pikirnya Ardilah yang menyebabkan ayahnya sampai seperti sekarang. Atiqah melihat dari noda darah di baju dan celana seragam putih abu-abu Ardi.
"Aku mau bantu ibu kamu Atiqah" Ardi mendekati Atiqah lagi sesaat tadi ia terjatuh karena dorongan.
"Suster...suster. Tolonggg...tolong" suara teriakan Atiqah menggema di lorong di depan ruang ICU.
"Sabar Atiqah" bu Indri mengusap punggung Atiqah yang bergetar, berteriak seperti itu sambil menangis. Ia teringat kejadian tadi pagi, pigura dimana foto ayah dan ibunya berada di dalamnya tersenggol dan terjatuh.
Ardi masih tetap disana, menatap iba pada Atiqah. Bu Asri di rebahkan di brankar kosong, di sudut ruangan IGD.
"Bu, saya bisa minta tolong? temani ibu saya sebentar saja. Ada yang harus saya selesaikan sebentar" Atiqah memegang tangan bu Indri yang berdiri disamping ranjang.
"Baik, ibu akan jaga ibu kamu. Tapi...jangan salah sangka dengan Ardi. Bicarakan dengan baik-baik" bu Indri tahu apa yang akan dilakukan Atiqah. Anggukan kembali Atiqah lakukan sebagai jawaban atas ucapan bu Indri.
Nasehat dari bu Indri seakan menguap hilang entah kemana. Emosinya sudah berada di ubun-ubun. Langkah kakinya begitu cepat dan langsung menarik lengan Ardi agar berdiri. Tamparan keras mendarat di pipi kiri Ardi.
Plak...
__ADS_1
Ardi dan juga laki laki yang sedari tadi menunduk, ikut terkejut dengan tindakan Atiqah.
"Anak orang kaya sombong, belagu!! gara-gara kamu, bapakku seperti itu! kamu jahat Ardi...kamu jahat!!" memukuli dada Ardi keras. Ardi bergeming, membiarkan Atiqah memukulinya sampai puas.
"Nak...maaf" akhirnya laki-laki itu bersuara, menginterupsi tindakan Atiqah. Atiqah menangis, meraung di depan ruang ICU. "Nak Ardi tidak salah, saya yang salah. Saya tidak sengaja menabrak pak Bondan. Saya minta maaf, saya buru-buru ngantar anak ke sekolah. Maaf..." bapak itu menangkupkan kedua tangannya, memohon ampunan pada Atiqah.
Atiqah menghentikan tangisannya, kedua tangannya digenggam Ardi. Matanya sembap oleh air mata. Ardi mengangguk saat kedua matanya bersitatap dengan Atiqah. "Tenang, sabar" ucap Ardi lirih. Atiqah menoleh ke arah bapak yang mengaku telah menabrak ayahnya.
"Maafkan saya...saya benar-benar tidak sengaja" Atiqah mengedarkan pandangannya pada bapak itu dari atas sampai bawah. Satu stel seragam sopir pribadi berwarna hitam dengan nametag Hartono.
"Apa bapak sopir Ardi?" tanya Atiqah. Pak Hartono menggelengkan kepalanya.
"Bukan, nak Ardi yang membantu saya membawa pak Bondan ke rumah sakit ini" jawabnya sesekali menatap Ardi. Atiqah memejamkan matanya sebentar, ia salah menduga. Ardi justru telah menolong ayahnya.
"Duduk dulu" Ardi meraih pundak Atiqah, menekannya perlahan agar adik kelasnya itu duduk.
"Saya mohon jangan masukkan saya ke penjara. Saya benar tidak sengaja. Anak saya masih sekolah dan istri saya sedang sakit. Saya mohon ampun" bersimpuh didepan Atiqah.
"Saya maafkan bapak. Saya tau ini semua tidak disengaja dan juga memang sudah takdir bapak saya mengalami musibah ini" meskipun ucapannya terdengar tegar tapi Atiqah kembali meneteskan air matanya.
Pintu ruang ICU terbuka, dokter keluar memanggil perwakilan keluarga pak Bondan. Atiqah langsung berdiri dan mendekat. Ardi dan pak Hartono mengikuti.
"Saya anaknya dok. Bagaimana bapak saya?" hatinya berdebar menunggu jawaban dokter laki laki berkacamata didepannya.
"Pak Bondan sudah melewati masa kritisnya. Saat ini masih belum sadar. Kita tunggu sampai beliau sadar, baru kami pindahkan ke ruang rawat inap" ucapan dokter melegakan hati Atiqah.
"Terimakasih banyak dok, terimakasih" Atiqah memegang kedua tangan dokter itu. Senyumnya merekah dengan diiringi tangisan haru bahagia atas keselamatan ayahnya.
Ardi menerima pelukan Atiqah yang tiba-tiba. Atiqah terlalu bahagia dan lupa dengan apa yang saat ini ia lakukan, memeluk Ardi. Ardi mengusap punggung Atiqah sembari tersenyum.
Pak Hartono kembali duduk dan juga merasa lega. Orang yang ditabraknya tadi telah melewati masa kritis. Satu beban di hatinya berkurang.
__ADS_1
"Maaf. Aku gak sengaja" Atiqah melepas pelukannya pada Ardi. Ia baru sadar dan saat ini merasa malu.
"Gak papa kok. Aku juga seneng kalo bapak kamu udah lebih baik sekarang. Udah jangan nangis lagi. Berdoa terus biar bapak cepet siuman" Atiqah mengangguk.
"Maaf soal tadi. Mmm...juga makasih banyak udah bantuin bapak kesini" mereka berdua sama-sama tersenyum.
"Bapak pulang aja. Biar semua urusan saya" ucap Ardi lirih pada pak Hartono, agar Atiqah tidak mendengarnya.
"Tapi nak Ardi..."
"Udah pak, gak papa. Saya ikhlas bantu bapak" menepuk bahu pak Hartono.
"Terimakasih...terimakasih nak Ardi" memegang kedua tangan Ardi. Rasa syukurnya karena bebannya kembali berkurang. Bagaimana bisa ia membayar biaya rumah sakit pak Bondan, uangnya saja pas-pasan untuk makan keluarganya dan juga biaya sekolah kedua anaknya.
"Sama-sama pak"
Ardi kembali mendekati Atiqah. "Kita ke IGD, temui ibu kamu. Mungkin sudah siuman"
"Iya, ibu harus tau kabar bahagia ini" keduanya berjalan bersama ke ruang IGD dimana ibu Asri berada.
Sedangkan Pak Hartono pergi meninggalkan rumah sakit karena ia harus kembali bekerja. Entah apa yang akan diterimanya saat datang ke rumah bosnya, ia sudah sangat terlambat.
"Mereka satu sekolah dengan putriku?" gumam pak Hartono saat keluar menuju mobil yang terparkir didepan lobby. Bet nama sekolah di lengan kanan seragam Ardi juga Atiqah.
Bersambung...
*****
Maaf ya lama lagi updatenya 🙏 semoga mengobati penasaran soal siapa yang masuk rumah sakit 😊
Jangan lupa selalu kasih bintang 5 dulu, like juga komen buat Atiqah. Apapun komennya, author terima. Insya Allah dibalas satu-satu 😁
__ADS_1