ATIQAH

ATIQAH
Bab 45 : Last Yogyakarta (9)


__ADS_3

Lusa Atiqah, Ardi dan Lala kembali ke Jakarta. Hari senin sekolah sudah dimulai. Atiqah cukup lega karena Ardi akan sulit mencari kesempatan untuk memaksanya lagi. Tapi masih ada dua malam tersisa, Ardi pasti memiliki rencananya sendiri.


"Nanti malam tidur sama aku ya?" Ardi menoleh ke arah kanan, Atiqah dirangkulnya sambil berjalan kembali ke resort setelah melihat sunset.


"Gak bisa, ada Lala" Atiqah memakai Lala untuk tamengnya.


"Kalo soal Lala gampang. Itu urusanku" Atiqah mengernyitkan alisnya.


"Kamu mau apain Lala?" Atiqah menghentikan langkahnya.


"Kasih obat tidur" Ardi meringis seolah itu hal yang wajar.


"Apa?? kamu gila Ardi --melepaskan rangkulan, berjalan meninggalkan Ardi-- sinting! stupid! crazy!" Ardi mengejar, menarik tangan dan meremasnya dengan kuat.


"Kamu bilang aku gila? sinting? stupid? crazy?" mengeraskan rahang.


"Kalo ada apa-apa sama Lala gimana? --menatap Ardi lekat. Atiqah tidak mau ambil resiko -- atau jangan-jangan kemarin itu..." Atiqah menutup mulutnya tak percaya Ardi melakukan hal itu pada Lala. "Sinting!!" cukup dengan diamnya Ardi, Atiqah tau apa jawabannya.


"Tunggu Yang..." Ardi mengejarnya lagi.


"Kenapa nih? berantem lagi?" ucap Lala saat melihat Atiqah berjalan cepat melewatinya yang sedang duduk di teras kamar. Ardi mengikuti masuk ke dalam. "Buset dikacangin. Pasangan aneh. Bentar ribut bentar lengket kaya prangko" gerutu Lala.


Blam...suara debumam keras pintu connecting door ditutup keras. Ardi menarik Atiqah masuk ke kamarnya lalu menguncinya.


Bug...Ardi mendorong Atiqah sampai jatuh terjerembab ke atas kasur. Ardi menindihnya dari belakang, menarik rambut. "Ahh...sakit" Atiqah merasakan kulit kepalanya perih.


"Kenapa susah banget bikin kamu nurut sama aku?" Ardi berteriak, semakin menguatkan tarikan pada rambut Atiqah.


"Ahh...sakit, sakit. Lepasin Ardi" berusaha melepas tangan Ardi di kepalanya.


"Diam!!" mencekal dua tangan Atiqah, sedangkan kepalanya terangkat menengadah karena Ardi masih menjambak rambutnya.


"Ampun...ampun Ardi. Aku minta maaf. Oke, lakuin apa yang mau kamu lakuin. Semua terserah kamu. Tapi lepasin, sakit Ardi" Atiqah meringis kesakitan, sambil memohon.


Ardi melepasnya dengan kesal, menendang ranjang. Atiqah beringsut, mengusap belakang kepalanya dan juga dua pergelangan tangan yang ditekan Ardi.


"Arghh...." Brakk...Ardi menendang pintu. Atiqah terlonjak, lalu terdengar suara ketukan pintu dari connecting door.


"Atiqah...Atiqah. Kenapa? buka pintunya! kalo berantem jangan kunci pintu gini. Omongin baik-baik" Lala menggedor pintu sambil terus berceloteh, mengakhawatirkan sahabatnya.


"Gak papa La. Aku gak papa. Bentar ya" suara Atiqah bergetar, memaksakan dirinya baik-baik saja.


"Kak Ardi buka pintunya! jangan gini. Atau aku panggilin mas Guntur aja?" Lala mencari cara agar pintu itu dibuka.


Rencana Lala berhasil. Kunci pintu diputar Ardi. Lala langsung menerobos mendorong Ardi, masuk mencari keberadaan Atiqah.


"Kamu gak papa?" memeriksa dari atas kepala sampai kaki Atiqah. "Masih mulus" ucap Lala setelah selesai memeriksa.


"Aku bilang gak papa. Kami cuma berdebat aja La" Atiqah kembali berbohong. Ardi berkacak pinggang melihat Lala dan Atiqah.


"Kalo berantem jangan gitu dong kak Ardi. Aku kan takut dengernya. Aku pikir tadi Atiqah kenapa-kenapa" Lala merangkulnya, mengusap lengan Atiqah. Ardi diam, membalikkan badannya menghadap jendela kaca besar ke arah kolam renang. Matanya bersitatap dengan Guntur. Asisten kakeknya itu melihat semua perlakuan Ardi pada Atiqah tadi.


"Ehemm...kita makan malam di restoran. Aku tunggu diluar" Ardi menggeser pintu kaca tanpa menoleh ke belakang, menghampiri Guntur.

__ADS_1


"Aku ganti baju dulu" ucap Lala.


"Aku ikut" Atiqah ikut Lala ke kamarnya.


Suasana mendadak tegang. Ardi dan Guntur saling berhadapan. "Mas Guntur mau laporin aku ke eyang?" tanya Ardi sambil tersenyum remeh.


"Enggak! bukan urusan saya. Tapi saya gak suka kalo liat perempuan dikasarin" balas Guntur menatap tajam Ardi.


"Kalo gak suka, gak perlu diliat" ucapan Ardi begitu sombong. Guntur menahan diri. "Dia pacarku, jadi suka-suka aku mau aku apain. Stop liatin pacarku. Dia milikku!" Ardi pergi meninggalkan Guntur, menarik tangan Atiqah setelah kekasihnya itu keluar dari kamar bersama Lala.


"Mas Guntur gak ikut makan malam?" tanya Lala, kembali menatap Atiqah yang sudah berjalan cukup jauh bersama Ardi menuju restoran.


"Enggak mbak. Saya makan disini saja. Silahkan kalo mbak Lala mau ke restoran" Guntur memundurkan badannya, menggerakkan tangan kanan mempersilahkan Lala.


"Enggak ah. Aku temenin mas Guntur aja. Males juga jadi nyamuk disana" Lala mendaratkan bokongnya di kursi santai pool.


"Saya pesankan dulu makanannya kalau gitu. Mbak Lala mau makan apa?" tanya Guntur.


"Apa aja deh, tapi aku pengen yang berkuah mas"


"Oke mbak" Guntur mengangguk, pergi masuk ke dalam memesan makan malam lewat telepon kamar.


Mereka makan malam secara terpisah. Atiqah dan Ardi di restoran, sedangkan Guntur dan Lala di teras kamar.


*****


"Aku aja yang kasih minumannya ke Lala" ucap Atiqah, mengangkat gelas berisi air putih yang sudah di campur obat tidur.


"Oke, aku mau mandi. Jangan lama-lama, aku tunggu" mengecup pipi Atiqah, masuk ke dalam kamar mandi.


"Udah selesai makan malamnya? udah gak berantem kan?" tanya Lala saat membuka pintu.


"Udah" jawabnya singkat.


"Mau kemana lagi?" Lala heran pada Atiqah yang terlihat bingung sambil memegang gelas minum.


"Hah?? gak papa...aku ke kamar Ardi bentar, kayaknya handphoneku ketinggalan" Atiqah masuk kembali ke kamar Ardi, mengendap-endap. Melihat ke arah pintu kamar mandi, ia takut Ardi tiba-tiba keluar.


"Huft...aman" meletakkan gelas minum yang tadinya untuk Lala ke atas meja televisi. Atiqah kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Udah ketemu?" tanya Lala. Atiqah memamerkan ponselnya sambil menutup pelan connecting door.


Tanpa perlu meminum obat tidur, nyatanya Lala sudah tertidur pulas. Sepertinya karena kekenyangan. Dan sudah tengah malam Atiqah masih terjaga. Rasa ingin tahunya soal rencananya pada Ardi berhasil atau tidak, Atiqah membuka pintu kamar yang terhubung perlahan. Melongokkan wajahnya mencari sosok Ardi.


"Huh...berhasil" Atiqah lega melihat Ardi yang tidur nyenyak memeluk bantal. Mungkin Ardi pikir yang dipeluknya adalah Atiqah. Rencananya berhasil.


Menutup kembali pintu dan menguncinya. Atiqah menyambar cardigan yang menyampir di kursi. Ia memilih keluar, mencari udara segar. Sepertinya duduk dipinggir kolam bukan ide yang salah, pikirnya.


"Ehem..." Guntur berdehem.


Atiqah menoleh ke belakang. "Mas Guntur".


"Boleh duduk disini?" tanyanya.

__ADS_1


"Boleh...boleh. Silahkan mas" Atiqah mengangguk, membersihkan lantai kosong disebelahnya.


"Udah malem, udaranya juga dingin. Kenapa belum tidur?" Guntur menatap Atiqah disampingnya.


Atiqah menunduk. "Gak papa mas. Kebetulan gak bisa tidur. Mas Guntur sendiri juga belum tidur. Kenapa?" kini mata mereka saling bertemu. Tapi Atiqah buru-buru mengalihkan pandangannya.


"Memang belum mau tidur" jawabnya sambil bermain air, ikut mencelupkan kakinya ke dalam kolam. Atiqah manggut-manggut.


Suasana hening, keduanya terdiam. Hanya suara tepukan air dari kaki mereka yang bergerak di dalam kolam.


"Mas"


"Mbak"


Ucap Atiqah dan Guntur bersamaan, lalu tertawa.


"Mas Guntur dulu" Atiqah memberikan kesempatan untuk Guntur berbicara terlebih dulu.


"Ladies first" ucap Guntur.


"Hemm...oke. Jadi, aku dulu ya? --Guntur mengangguk-- Mas Guntur sudah berapa lama kerja sama eyang Subroto?" memiringkan kepala, menoleh ke arah Guntur. Menantikan jawaban.


"Sudah 3 tahun mbak. Sejak bapak saya jatuh sakit, saya yang menggantikan beliau" terang Guntur.


"Oh...sekarang gimana keadaan bapaknya mas Guntur? sudah sembuh?" pertanyaan Atiqah dibalas dengan gelengan kepala.


"Bapak sudah meninggal tahun lalu mbak" meski suaranya biasa saja tapi terselip nada kesedihan di dalamnya.


"Maaf mas Guntur. Aku gak tau" Atiqah merasa salah bertanya.


"Gak papa mbak. Memang sudah jalannya seperti ini. Beliau sudah tidak merasakan sakit lagi" Guntur tersenyum.


"Betul mas. Bapak mas Guntur sudah enak disana" mengangguk membalas senyuman Guntur.


"Sudah pertanyaannya? giliran saya, boleh?"


"Iya mas. Boleh boleh" Atiqah cukup cemas menanti apa yang akan ditanyakan Guntur padanya.


"Mbak Atiqah udah lama jadi pacar mas Ardi?" tanya Guntur.


"Emm...belum lama mas. Sebulanan kalo gak salah. Aku lupa pastinya tanggal berapa. Kenapa mas?" jawab Atiqah, memandang kolam renang dikeremangan cahaya.


"Maaf sebelumnya. Bukan saya mau ikut campur. Tapi tadi saya gak sengaja lihat mbak Atiqah diperlakukan kasar sama mas Ardi --berhenti sejenak, melihat reaksi Atiqah. Ternyata reaksinya diluar dugaan Guntur. Atiqah tersenyum-- Saya gak suka kalau ada perempuan yang diperlakukan seperti itu" Guntur mengulurkan tangannya mengusap kepala Atiqah.


Atiqah menoleh, menatap Guntur yang sedang membelai rambutnya. "Aku gak papa kok mas Guntur. Aku baik-baik aja. Aku tau Ardi seperti apa. Mas Guntur gak usah khawatir".


Guntur iba pada gadis remaja dihadapannya, masih terlalu muda tapi diperlakukan seperti itu. Guntur memegang kedua pipi Atiqah lalu menempelkan bibirnya. Karena suasana yang sunyi dan bagi Atiqah, Guntur laki-laki dewasa yang baik seperti Fajar, ia ikut memejamkan mata menerima ciuman 10 detik itu.


Bersambung....


*****


Tuh kan mas Guntur selama ini suka curi-curi pandang sama Atiqah. Ternyata doi memendam rasa, ceileh....

__ADS_1


Rate bintang 5nya, like, komen juga giftnya. seikhlasnya aja sayang. Tidak memaksa 😁


Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2