ATIQAH

ATIQAH
Bab 47 : Lapas


__ADS_3

Mobil jemputan sudah menunggu Atiqah, Ardi dan Lala di pintu kedatangan domestik. Selama dipesawat Lala memilih tidur, sedangkan Ardi dan Atiqah membicarakan banyak hal termasuk rencana Ardi mengunjungi Putra ke Lapas.


"Aku kasian sama Putra. Masa depannya masih panjang. Apa bisa dia dibebasin bersyarat?" tanya Atiqah. Bagaimanapun Putra dulu adalah temannya.


"Buat apa kasian sama dia. Dia udah ngelecehin kamu Yang. Aku gak bisa terima gitu aja" Ardi menolak keras. Atiqah diam.


Kamu lebih mengerikan dari Putra. Batin Atiqah.


"Aku udah lupain masalah itu. Kamu jangan matiin masa depannya. Aku mohon" Atiqah serius dengan ucapannya. Masa depan Putra masih panjang. Ardi diam. Atiqah berusaha merayu, mengusap lengan Ardi, menggenggam erat tangan lalu mengecup punggung tangan kekasihnya itu.


"Oke, nanti sore aku ke Lapas --Ardi mengeluarkan ponselnya mengetik sesuatu-- Balasannya, besok pulang sekolah ke apartemenku" mengedipkan satu matanya. Deg...Atiqah menelan ludahnya setelah membaca ketikan Ardi di ponsel. Ardi meminta balas budi atas permintaannya membebaskan Putra dan sudah pasti ia menginginkan tubuhnya.


"Tapi...pake pengaman" balas ketikan pada ponsel Ardi. Mereka tidak mau kalau Lala mendengarnya, meski Lala masih tertidur.


"Oke" Ardi mencubit gemas pipi Atiqah.


Mobil yang di kendarai sopir berhenti di depan gang kecil rumah Lala. Sahabatnya itu hanya berkata "Bye". Membuka pintu dan masuk ke dalam gang rumahnya tanpa menoleh ke belakang.


"Lala aneh banget dari kemaren. Kalian berantem?" Ardi sudah berpindah, duduk disamping Atiqah.


"Gak ada. Aku juga gak tau kenapa dia gitu" Atiqah masih bingung dengan perubahan sikap Lala. Baru kali ini Lala mendiamkannya. Sahabatnya yang selalu ceria dan banyak omong, seketika lenyap, hilang.


"Yaudah gak usah dipikirin. Besok juga udah baikan lagi. Mau makan dulu?" Ardi merangkul bahunya tapi Atiqah berusaha menghindar. Ia sungkan dengan sopir Ardi.


"Kenapa?" tanya Ardi. Atiqah melirik ke arah sopir didepan mereka. "Pak Yoyo fokus ke depan" titahnya pada sopir.


"Baik mas" menganggukkan kepala.


Ardi turun mengantarkan Atiqah sampai didepan teras. Bertemu dengan pak Bondan dan bu Asri.


"Siang pak, bu. Saya antar Atiqah sehat, selamat" seloroh Ardi pada orangtua Atiqah. Mereka tertawa.


"Mas Ardi...oleh-oleh buat aku mana?" Robi berteriak sambil berlari keluar rumah.


"Dek"


"Robi"


Atiqah menegur adiknya, begitu juga dengan orangtuanya. Robi masih mengulurkan tangannya pada Ardi.

__ADS_1


"Ada di mba Atiqah. Minta aja nanti" jawab Ardi sambil mengacak rambut Robi.


"Mana mba?" Robi langsung menagih.


"Sabar. Mba baru juga sampe" Robi memanyunkan bibir.


"Saya pamit dulu pak, bu" Ardi berpamitan, menganggukan kepala dengan sopan.


"Terimakasih nak Ardi" ucap Bondan dan Asri bersamaan.


"Sama-sama" Ardi berbalik, masuk ke dalam mobil.


Ttin....Suara klakson tanda mobil pergi meninggalkan rumah Atiqah.


"Mana mba oleh-oleh buat aku?" Robi langsung menarik koper milik Atiqah.


"Sabar dek. Awas entar berantakan semua" Atiqah menarik kembali kopernya, membawa masuk ke dalam kamar lalu ia keluar menenteng dua paperbag.


"Yeay..." Robi bersorak, melihat oleh-oleh apa untuknya.


"Ini untuk bapak sama ibu" satu paperbag berwarna hitam Atiqah berikan pada orangtuanya. Satu kemeja batik untuk ayahnya senada dengan dress batik untuk ibunya.


*****


"Saya temui Putra dulu pak" ucapnya pada pengacara tepat didepan ruangan kepala Lapas.


"Baik mas Ardi, silahkan" jawabnya lalu mengetuk pintu ruangan. Sedangkan Ardi menuju ruang kunjungan.


Sambil menunggu, Ardi mengirimkan pesan pada Atiqah bahwa saat ini ia ada di Lapas mengurus pembebasan Putra. Saat sedang asyik mengutak atik ponselnya, pintu terbuka menampilkan sosok Putra. Tampilannya masih terlihat rapih, hanya saja ada luka memar di sudut bibir dan pelipis.


"Habis digebukin?" pertanyaan Ardi ditanggapi dengan senyuman remeh dari Putra.


"Ngapain kesini?" Putra balik bertanya, menarik kursi duduk dihadapan Ardi.


"Gak usah nyolot gitu. Harusnya berterimakasih sama aku. Aku kesini mau bebasin kamu. Atiqah yang minta" ucap Ardi, melipatkan dua tangannya ke depan dada.


"Hah??" Putra terkejut karena Atiqah ingin ia bebas.


"Tapi aku ingetin satu hal. Pergi jauh dari Jakarta, kalau perlu ke luar negri. Aku gak mau kamu hubungi Atiqah. Aku udah dapetin semua. Atiqah milikku! Mungkin bentar lagi dia hamil" dengan entengnya Ardi berkata seperti itu. Putra membulatkan matanya.

__ADS_1


"Mak-sudnya?" Putra ingin tahu lebih jelasnya.


"Ya...you know lah. Kami udah ngapain aja sampe dia bisa hamil. Yang pasti...Atiqah enak banget" tersenyum mengejek sambil memperagakan bagaimana Ardi menghentak kekasihnya.


"Bangsat!!" Putra menggebrak meja, menarik baju Ardi bersiap meninju tapi petugas Lapas segera menahannya. Ardi melepas paksa cengkraman tangan Putra, menepuk-nepuk bajunya.


"Emang aku bangsat. Lebih bangsat! --Putra meronta ingin melepaskan diri dan menghajar Ardi-- Ah satu lagi...thanks buat videonya. Bakal aku jadiin koleksi" membalikkan badan, pergi keluar ruang kunjungan. Teriakan Putra terdengar sangat keras dan mengganggu penjenguk narapidana lainnya.


"Gimana pak? udah beres?" tanya Ardi pada pengacara keluarga yang baru saja keluar dari ruangan kepala Lapas.


"Sudah mas. Segera diurus semua data-data dan besok siang sudah bisa bebas" terangnya. Ardi manggut-manggut.


"Oke...kalo gitu, saya duluan pak. Terimakasih" Ardi pergi terlebih dulu. Wajahnya sangat puas saat memamerkan soal Atiqah di hadapan Putra tadi. Dan rasanya ingin melakukannya dengan Atiqah saat ini.


Sembari mengusap miliknya yang masih terbalut celana chinos cream, Ardi mengetikkan pesan pada Atiqah. Ia baru saja menutup pintu mobil.


📩 Ardi


Yang...urusan Putra udah beres. Besok siang udah bebas bersyarat. Kamu lagi apa? soal upah bebasin Putra, aku tagih sore ini. Aku tunggu di Apartemen Casa de Parco tower 2 lantai 10 nomor 105. Bawa baju yang aku kasih waktu itu. Yang renda putih belum sempet dipake 😉. Jangan lama-lama Yang, aku udah pengen banget 😘.


Ardi tidak sabar menunggu balasan Atiqah. 15 menit berlalu belum ada tanda-tanda balasan. Ardi memutuskan menelpon.


"Halo Yang...lagi ngapain sih? aku kirim pesan tapi gak dibales-bales" cerocos Ardi. Kesal karna menunggu lama. Ia masih di parkiran Lapas.


"Aku baru selesai mandi. Pesan apa emangnya?" tanya Atiqah diseberang sana, mengeringkan rambut menghadap kipas.


"Aku tagih janji sore ini. Buka pesanku. Aku tunggu! Jangan lama-lama! NOW!!" ucapan Ardi sangat keras, sampai Atiqah mengusap telinganya.


"Iya...iya" jawab Atiqah. Ardi menutup teleponnya.


"Huft..." Atiqah menghela nafasnya sambil membuka pesan Ardi.


"Gila! sinting! aku harus bikin alesan apa? bilangnya besok kenapa jadi sekarang? Argh..." Atiqah mengacak rambutnya yang belum mengering sempurna.


Bersambung....


*****


Selalu rate bintang 5nya ya, like, komen juga giftnya 😁😁😁 malak

__ADS_1


Matur tengkyu 🙏🙏🙏


__ADS_2