
Suara mesin mobil berhenti di depan rumah Atiqah. Atiqah yang sedang berpakaian, mendengar Robi adiknya berteriak memanggilnya berulang kali. Buru-buru Atiqah memakai seragamnya. Hari ini acara pentas seni, perayaan ulang tahun SMAN 60, sekolah mereka. Kemeja batik dan rok pramuka menjadi dresscode para siswa siswi.
"Mba...mas pacar udah dateng nih. Cepetan!" teriakan Robi dari teras rumah.
"Iya iya...suruh tunggu bentar lagi" seraya tangannya meraih botol parfum diatas meja belajar miliknya, menyemprotkan ke pergelangan tangan lalu ia usapkan ke belakang telinga. "Sempurna" ucapnya sendiri didepan cermin.
Atiqah menyambar tasnya, ia letakkan ke atas meja sebelah televisi lalu menghampiri Ardi yang sudah duduk di kursi teras. Robi sudah berangkat ke sekolah.
"Udah sarapan?" tanya Atiqah, melongok ke teras.
Ardi terkejut seraya memegang dadanya. "Astaga...aku pikir hantu" Atiqah mendengkus kesal disangka hantu.
"Jahat banget ngatain aku hantu. Udah sarapan belum? aku mau sarapan dulu" Atiqah berdiri di gawang pintu.
"Tadi udah sarapan. Yaudah kamu sarapan dulu. Aku temenin aja" Ardi bangkit dari duduknya, mendekati Atiqah. Membalikkan badan pacarnya lalu ia dorong masuk ke ruang makan.
"Beneran nih aku sarapan sendiri?" ledeknya sambil menyendok nasi goreng dari wadah ke atas piringnya.
"Iya beneran, tadi bik Narti bikin nasi goreng juga" Ardi berkata jujur.
"Oh...tapi pasti nasi gorengnya lebih enak dari masakan aku ini" menunjuk nasi goreng di piringnya dengan sendok yang ia pegang.
"Coba sini aku cicip" menarik sendok milik Atiqah. Melahapnya lalu mengunyah perlahan.
"Gimana...gimana? enak masakan aku atau masakan bik Narti?" Atiqah menunggu jawaban Ardi, tapi pacarnya itu justru kembali memasukkan satu sendok ke mulutnya. "Ih malah makan terus, katanya nyicip aja? kenapa jadi makan lagi?" menggoyangkan bahu Ardi yang masih mengunyah. Ekspresi wajahnya susah ditebak.
"Cepetan Ardi. Jawab! masakan siapa yang lebih enak?" Atiqah semakin tidak sabar. Dengan santainya Ardi masih memasukkan lagi satu sendok nasi goreng ke mulutnya.
Mulut Ardi penuh, ucapannya tidak jelas. Bergumam.
"Nih minumnya. Kunyah dulu baru ngomong" Atiqah menyerobot sendok di tangan Ardi, agar tidak kembali memakan nasi gorengnya.
Ardi selesai mengunyah lalu meminum air putih yang Atiqah berikan. Gluk gluk....satu gelas langsung tandas diteguknya.
"Masakan kamu juarak yang..." mengacungkan kedua jempolnya. "Lebih enak dari masakan bik Narti. Serius" Ardi menekankan pada Atiqah, apa yang dikatakannya memang jujur.
"Beneran? yaudah, makan lagi!" menyodorkan sendoknya.
Ardi menggelengkan kepala. "Aku udah kenyang".
"Yakin? yaudah" Atiqah mengedikkan bahunya, kembali memakan nasi goreng sampai habis.
Karna hari ini diadakan pensi, semua siswa dan siswi berangkat sedikit lebih siang. Acara dimulai pukul 09.00 wib. Ardi dan Atiqah masih dalam perjalanan menuju sekolah.
Mobil SUV hitam itu masuk ke parkiran halaman sekolah. Beberapa mobil terlihat sudah memenuhi lahan parkir. Ardi menggandeng Atiqah masuk ke dalam sekolah. Sudah bukan rahasia lagi kalau mereka saat ini dikenal sebagai pasangan. Banyak yang memandang iri pada Atiqah. Semua tahu seberapa kayanya Ardi dan juga nama besar keluarganya.
__ADS_1
Bisik-bisik tak jelas tentang Atiqah, ia dengar tapi sikap cueknya itu membuat geram siswi yang iri padanya. Hanya Lala yang masih setia bersama Atiqah. Mereka berdua dan dua temannya lagi, menjaga stan aksesoris yang dibuatnya bersama.
Terlihat Lala, Winda dan Putra sedang bersiap di stan. Ardi masih menggandeng pacarnya itu melewati beberapa stan yang kesemuanya terus menatap Ardi dan Atiqah.
"Nanti makan siang, aku kesini lagi" ucap Ardi pada Atiqah tepat didepan stannya. Atiqah mengangguk, melepaskan genggaman tangan Ardi. Ardi mengusap puncak kepala Atiqah dan pergi menuju ruang Osis.
"Ehem...ehem. Cie cie" ledekan Lala berhasil membuat Atiqah tersipu malu.
"Ssttt...udah ah. Ayok beres-beres lagi. Bentaran udah mau mulai acaranya" Atiqah mengajak ke tiga temannya.
Acara pensi sekolah sudah dimulai setengah jam yang lalu. Pidato pembukaan dilakukan oleh kepala sekolah dan Ardi sebagai ketua Osis merangkap ketua panitia pensi tahun ini.
Pendengaran Atiqah berdengung saat mendengar nama lengkap Ardi disebut oleh MC acara, Echa.
"Ardi Danurdara...." Atiqah membulatkan ledua matanya, menutup mulutnya lalu menatap Ardi yang sedang menaiki panggung.
"La, kamu denger tadi? aku gak salah denger kan?" tanya Atiqah pada Lala yang berdiri disamping kanannya.
"Denger apaan?" tangan Lala sibuk menata lagi aksesoris didepannya.
"Itu nama belakang Ardi" Atiqah menoleh pada Lala, meminta atensi sahabatnya itu.
"Apa? Danurdara?" Atiqah mengangguk perlahan. "Terus kenapa?" tanya Lala heran dengan wajah Atiqah.
"Nama itu cuma ada satu atau banyak sih? tapi kayaknya nama itu bukan nama yang pasaran. Itu nama besar keluarga kan?" dalam sudut hatinya berharap bahwa nama belakang Ardi hanya kebetulan sama dengan nama belakang pemilik pabrik ayahnya yang baru ia temui kemarin di rumah sakit.
"Jangan becanda kamu La!" menyenggol lengan Lala dengan sikunya.
"Beneran, ngapain aku boong. Nih liat!" Lala menunjukkan foto keluarga Danurdara. Disana ada kedua Eyang Ardi, Sigit dan Anne istrinya, juga Ardi dan kakaknya Melda. Atiqah kembali menutup mulutnya. Bos ayahnya itu memang benar ayahnya Ardi.
Tapi kenapa kemarin mereka diam dan gak saling sapa?. Pertanyaan muncul didalam kepala Atiqah.
"Makanya banyak yang jealous (cemburu) sama kamu Atiq" ucap Lala.
"Bener Atiqah. Mereka tuh iri liat kamu jadian sama kak Ardi. Tadinya aku pikir kamu udah tau, makanya mau pacaran sama dia. Maaf ya Atiqah, aku juga udah salah duga soal kamu" celetuk Winda disamping kirinya. Putra tak mau ambil pusing. Teman sekelas Atiqah itu sudah lama menyukainya tapi ia pendam. Putra tetap diam, mendengar setiap pembicaraan ketiga siswi dalam timnya.
Aku juga kaya Atiqah, ya...meskipun keluarganya memang lebih kaya dari keluargaku. Ucap Putra dalam hati.
Atiqah berencana akan membicarakan ini sepulang sekolah nanti dengan Ardi.
Acara demi acara telah berjalan dan sampai pada puncaknya, pengumuman pemenang lomba. Sekolah mengadakan perlombaan baca puisi, dance, singing, basket dan futsal. Tim futsal Ardi memenangkan juara satu. Ardi mengedipkan matanya pada Atiqah saat mengangkat hadiah dan berfoto.
"Uhuuuiiii...." ledek Lala. Sahabatnya itu masih saja ikut memperhatikan kemana pandangan Atiqah.
"Lalaaa...." Lala meringis.
__ADS_1
"Udah selesai nih, beres-beres yuk?!" ajak Winda.
Semua siswa siswi membereskan masing-masing stan setelah penutupan acara dengan doa.
"Aku duluan ya?" ucap Lala dan Winda. Mereka tau Atiqah pulang bersama Ardi.
"Oke...hati-hati. Kamu juga Putra. Bye..." melambaikan tangannya. Putra tersenyum manis dan membalas lambaian tangan Atiqah.
Cantik banget kamu Atiqah. Andai aja....batin Putra bergejolak sambil terus melambaikan tangannya.
"Ehemm...ikut aku bentar ke ruang Osis. Tasku masih disana" Ardi tiba-tiba datang mengagetkan Atiqah.
"Kamu ih...bikin aku kaget tau gak?" Atiqah memakai tas ranselnya lalu mengikuti Ardi ke ruang Osis.
"Astaga...pada gak bener banget. Belum beres, udah pada main pulang aja" Ardi berdecak kesal. Ruangan Osis masih berantakan.
"Aku bantuin beresin" Atiqah langsung memunguti beberapa perlengkapan dan memasukkannya ke kardus.
Butuh waktu setengah jam mereka berdua membereskan kekacauan ruangan.
"Huhh...akhirnya selesai juga" Atiqah mendaratkan bokongnya ke kursi panjang.
"Nih, minum dulu!" Ardi memberikan satu botol air mineral dingin di dalam kulkas kecil di pojok ruangan.
"Makasih" Atiqah meneguknya hingga setengah. "Segerrr banget" menyeka bibir. Ardi terus menatapnya. Leher pacarnya itu basah saat minum tadi. Rambut yang terikat tinggi, menampakkan leher jenjang Atiqah yang pernah ia kecup.
Tiba-tiba Ardi mengecup leher sebelah kiri Atiqah. "Ardi!!" bentak Atiqah, ia langsung menutup leher yang baru saja mendapatkan kecupan.
"Habisnya kamu iket gitu. Aku gemes liatnya" tersenyum menampilkan lesung di kedua pipi.
"Kan tadi beres-beres, jadi gerah. Aku iket" jawab Atiqah kesal dengan sikap Ardi. Pasalnya mereka masih di lingkungan sekolah.
"Atiqah..."
"Hemm...apa??" saat menoleh ke arah Ardi, laki-laki itu langsung menarik tengkuknya. Menciumnya rakus. Atiqah memukul-mukul dada Ardi. Tapi Ardi mencengkeram pinggannya kuat, melekatkan tubuh keduanya tanpa jarak.
"Emmm...Ar-di" ucap Atiqah meminta Ardi untuk berhenti menciumnya. Ia takut ada yang melihat.
"Stop Ardi!! eugh..." Ardi mengecup leher Atiqah keras sampai berwarna kebiruan. "Ardi...cukup! kita di sekolah" suara Atiqah lirih seperti ******* memohon untuk berhenti. Bibirnya kembali dibungkam Ardi dengan ciuman.
Bersambung....
****
Hai hai...Atiqah datang lagi 😊🤗 emang bikin candu, makanya jangan coba2 guys 🙅♀️🙅♀️🙅♀️
__ADS_1
Jangan lupa kasih rate bintang limanya, like, komen dan giftnya teman-teman.
I lope you pull 😘😘😘