
"Maksud Papa apa? --membuka pintu ruang kerja-- siapa yang menikah?" Anne berjalan mendekati suaminya.
Sigit menggerutu "Ardi ... Ardi! sialan!" mendengar bunyi bbip, telefon dimatikan sepihak oleh putranya. Sigit membalikkan badan, memunggungi Anne. Ia sedang berpikir, apa yang akan ia katakan pada istrinya. Posisinya terjepit.
"Pa ... Jawab!" Anne menarik lengan suaminya.
"Perempuan itu hamil anak Ardi. Besok mereka akan menikah" Sigit mau tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada Anne.
"APA?? nggak mungkin, ini nggak mungkin. Itu pasti bukan anak Ardi. Mama yakin Ardi dijebak" Anne menghempaskan tubuhnya ke sofa, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak mau menerima kenyataan.
Sigit duduk kembali di kursinya, memijat pelipis. Putranya benar-benar nekat. Anak laki-laki satu-satunya diluar kendali, sangat susah diatur.
"Mama nggak setuju. Mama nggak mau Ardi menikah dengan perempuan itu. Ardi belum lulus Pa" Anne kembali mengutarakan ketidaksukaannya.
"Mau bagaimana lagi Ma? Papa nggak bisa berbuat apa-apa. Anak Mama itu dari dulu nggak pernah mau dengar ucapan kita" Sigit menatap Anne dengan raut wajah pasrah.
"Pokoknya Mama nggak setuju. Awas aja kalau sampai Papa bawa Ardi kesana!" Anne keluar dari ruang kerja suaminya. Sigit semakin bingung. Kalau ia pergi bersama Ardi, istrinya marah besar tapi jika ia tidak menepati janjinya untuk menjemput Ardi, sudah pasti anak itu akan berbuat nekat.
"Arghh ...." Sigit meremas kepalanya.
*****
Sore itu Ardi hanya sendiri di apartemennya. Ia sudah rindu dengan Atiqah. Dalam pikirannya membayangkan bagaimana hidup berdua bersama kekasihnya itu sebagai suami dan istri. Meskipun usia mereka masih sangatlah muda.
"Besok kita nikah Yang" ucap Ardi. Ia menelpon Atiqah.
"Iya ... tapi aku deg-deg an" jawab Atiqah, sedang duduk menyandar di kepala ranjang sambil mengolesi minyak kayu putih ke belakang telinga dan menghirup aromanya. Atiqah sedang mual.
"Kenapa deg-deg an? aku pasti tepati janjiku" Ardi menegakkan tubuhnya.
"Aku takut kamu nggak dateng. Kalau kamu tinggalin aku, terus aku sama bayi ini nasibnya gimana? Bapak pasti ngusir aku" Atiqah bergidik ngeri jika itu terjadi.
__ADS_1
"Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Aku pasti dateng. Kita hidup sama-sama. Kamu jangan kawatir" Ardi rasanya ingin memeluk Atiqah.
"Aku pegang janji kamu" Atiqah kembali menghirup minyak kayu putih. Rasa pusingnya kembali datang.
"Iya Yang ... aku janji" ucapnya penuh keyakinan.
"Yaudah, aku istirahat dulu. Kepalaku pusing" Atiqah merubah posisinya, berbaring miring ke kanan memeluk guling.
"Aku kangen Yang. Apa aku kerumah sekarang?" Ardi bangkit.
"Kamu bisa diusir bapak. Disuruh datengnya kan besok" Atiqah sesekali memejamkan mata, kepalanya masih pusing.
"Belum juga di coba. Aku nggak bisa biarin kamu pusing sendirian. Kalo kamu disini, aku bisa pijit juga peluk. Tapi kamu dirumah. Aku kawatir" Ardi masuk ke dalam kamar mengambil jaketnya yang tergantung.
"Terserah kamu aja" Atiqah tidak mau berdebat lagi. Rasanya kepalanya ingin meledak.
Ardi menyambar kunci mobil. Ia nekat datang ke rumah Atiqah sore menjelang maghrib.
Kepadatan jalan menuju rumah Atiqah membuat Ardi sampai disana jam 7 malam. Tanpa ragu Ardi menghentikkan mobilnya tepat didepan pagar rumah. Ternyata calon mertuanya sudah berdiri tegap di ambang pintu.
"Saya kawatir dengan Atiqah pak. Dia sedang hamil muda. Saya ingin bertemu sebentar saja" Ardi mengutarakan isi hatinya.
"Nggak bisa! saya bilang besok ya besok!" Bondan menghalangi pintu, perkataannya sangat tegas.
"Tapi pak ... Atiqah sedang mengandung anak saya. Saya hanya ingin melihatnya saja. Atiqah sedang mabuk berat" Ardi masih mencoba untuk merayu Bondan.
"Semua gara-gara kamu, anak saya seperti ini! sudah sudah, pulang aja kamu!" Bondan mengusir Ardi, mengibaskan tangannya berkali kali.
"Tapi pak, sebentar saja. Saya ingin lihat Atiqah" Ardi bersikeras untuk bertemu. Asri keluar setelah menyimak dari dalam rumah. Atiqah membuka pintu kamarnya. Ia juga rindu, ingin dimanja ayah calon bayinya.
"Pak ... sudah pak. Kasih waktu sebentar. Anak kita sedang hamil, dia juga pasti pengen ketemu" Asri mengusap punggung suaminya lalu menatap Ardi, menganggukkan kepala tanda mempersilahkan masuk untuk bertemu Atiqah.
__ADS_1
"Terimakasih bu, terimakasih pak" Ardi mengangguk, membungkukkan badan melewati Bondan dan Asri.
Ardi menatap Atiqah haru. Atiqah menangis merentangkan tangannya ingin dipeluk. "Aku tepati janjiku, aku dateng" Ardi memeluk, mengusap kepala Atiqah.
"Iya aku percaya. Kamu super nekat" Ardi melepaskan pelukannya, menangkup wajah Atiqah.
"Jangan nangis" menyeka air mata di pipi. Mereka masuk ke dalam kamar, menutup pintu.
Bondan dan Asri duduk di teras, memberikan waktu untuk putrinya dan calon menantunya.
"Bapak inget kan gimana dulu waktu ibu hamil Atiqah. Ibu manja, ibu juga mabuk. Yang dibutuhkan ibu hamil ya pelukan suami, perhatian suami. Sama persis apa yang dirasakan anak kita pak" Asri kembali mengingat saat-saat mengandung dulu.
"Hemm ...." Bondan hanya berdeham. Benar apa kata istrinya tapi rasa kesalnya pada Ardi terlalu besar. Masa depan putrinya berantakan.
"Jangan terlalu keras pak. Anak itu tekatnya kuat, berani datang ke rumah kita meskipun dia tau kalau bapak pasti marah. Dia laki-laki yang baik untuk putri kita. Dia mau bertanggung jawab" Asri mencoba melunakkan hati suaminya.
"Jangan terlalu memuji bu. Kita juga nggak tau besok bagaimana. Bisa jadi dia kabur nggak mau tanggung jawab. Dia anak orang kaya, dan ibu lihat sendiri gimana orangtuanya tidak suka dengan keluarga kita" Bondan menerawang menatap taman kecil di depan terasnya.
"Amit-amit jangan sampai pak. Bapak nggak boleh ngomong gitu. Nanti beneran kejadian. Ibu nggak mau mikir yang jelek-jelek. Besok pasti mereka menikah" tukas Asri, tapi di dalam hatinya ia juga cemas.
Disaat Bondan dan Asri sedikit berdebat di teras, Ardi sedang mengusap perut Atiqah. "Masih mual?" tanyanya sambil menyelipkan rambut Atiqah ke telinga.
Atiqah menggelengkan kepala. "Udah enggak ... kayaknya dia kangen sama Papanya" Atiqah ikut mengusap perutnya.
"Ooo gitu. Jadi aku Papa ya?" Atiqah mengangguk sambil tersenyum. "Papa juga kangen, tapi lebih kangen ke Mamanya" mencuri kecupan di bibir.
"Ih ... gombal" Atiqah memukul lengan Ardi.
"Enggak, aku jujur. Makanya aku kesini" memegang dua tangan Atiqah, menggenggamnya.
"Besok kita nikah. Setelahnya kamu ikut aku. Untuk urusan sekolah, semua aku yang urus. Kamu bisa kejar paket C. Aku ijinin kamu kuliah kejar cita-cita kamu jadi dokter" Ardi menatap Atiqah lekat, ucapannya serius.
__ADS_1
"Aku bisa kuliah? --Ardi mengangguk-- aku bisa ambil jurusan kedokteran? --Ardi mengangguk-- Makasih, makasih Yang" Atiqah begitu senang, langsung memeluk Ardi.
Bersambung...