
Tatapan mata Atiqah beradu dengan Ardi saat langkah kaki baru saja memasuki gerbang sekolah. Ardi yang turun dari mobil lalu dikawal dua bodyguard di sebelah kanan dan kirinya. Atiqah melemparkan senyum, berusaha tegar. Ia tunjukkan kalau semua baik-baik saja. Tapi tidak dengan Ardi, tatapannya tajam.
Atiqah masuk ke dalam sekolah melewati Ardi yang masih diam terus menatapnya. Bisik-bisik terdengar dari beberapa siswa siswi lainnya.
"Ardi sama siapa tuh?"
"Ada masalah? sampai dikawal gitu"
"Orang kaya mah bebas. Sekolah bawa bodyguard. Tapi gak pas aja sih. Ini sekolah negri cuy bukan internasional"
"Eh..eh. Itu Atiqah jalan sendiri. Biasanya mereka bareng"
"Lagi marahan kali. Hahaha"
"Doain aja mereka putus, jadi ada kesempatan buat aku kan. Hihihihi"
"Huh...dasar. Makanya dari dulu pepet tuh Ketos, diem-diem bae"
Atiqah tetap pergi ke kelasnya. Hatinya memang terasa sakit. Tapi ia coba untuk meredam dan juga bersikap normal seperti biasanya. Lala yang sudah berdiri didepan kelas dengan kedua tangannya terlipat didepan dada menunggu kedatangan sahabatnya.
"La, ngapain berdiri didepan pintu? tumben banget. Biasa kamu lagi kerjain tugas" Atiqah mendekati Lala, bersikap biasa tapi sahabatnya itu tau ada sesuatu yang tidak beres. Lala melihat pemandangan yang tidak biasanya. Atiqah berjalan mendahului Ardi, sedangkan Ardi berjalan dibelakangnya dengan dua pengawal.
"Atiqah...kamu baik-baik aja kan?" Lala tidak menjawab pertanyaan Atiqah tapi ia justru bertanya.
"Maksudnya?" Atiqah memeriksa badannya, semua normal tidak ada yang aneh.
"Bukan itu tapi kamu sama kak Ardi" langsung saja Atiqah melemparkan tatapannya ke lain arah. Dan bel sekolah berbunyi.
"Bel La, yuk masuk?! jangan berdiri disini terus. Mau jadi penjaga kelas?" Atiqah masuk ke dalam kelas, meninggalkan Lala yang menggerutu.
"Pasti ada sesuatu, udah jelas" gerutuan Lala.
Jam pelajaranpun berlalu dengan cepat. Atiqah dan Lala sudah duduk di kantin dengan dua porsi mie ayam didepan mereka.
"Jadi kamu gak mau cerita sama aku? aku sahabatmu Atiqah. Pensi kemarin kalian baik-baik aja tapi kenapa sekarang jauh-jauhan? lagi marahan?" Lala terus mencecar Atiqah dengan rasa keingintahuannya tentang hubungan sahabatnya itu dengan Ardi.
__ADS_1
"Enggak...gak lagi marahan" kembali menyeruput mie dengan sumpit. Atiqah tidak mau mengangkat kepalanya. Karena Ardi tepat duduk tak jauh darinya dan terus menatap tajam. Ardi duduk sendiri, dua pengawalnya setia berdiri dibelakang.
Lagi-lagi semua murid bergunjing melihat Ardi dan Atiqah yang tidak bersama. Duduk berjauhan.
"Cerita dong Atiqah. Kalian berdua ada apa? aku bisa mati penasaran" Lala kesal, Atiqah tetap diam menikmati mie ayamnya. "Atiqah...." suara Lala sedikit keras. Sahabatnya itu langsung meletakkan sumpit lalu meminum air mineral dingin.
"Kamu udah tau La. Semua orang juga tau, aku sama Ardi lagi gak baik-baik aja. Aku terpaksa menjauh. Papanya datang kerumahku. Ngancam juga ngehina keluargaku. Kami udah selesai" Atiqah bangkit lalu pergi meninggalkan Lala. Ardi yang melihat Atiqah seperti itu reflek bangkit dan akan mengejar tapi bahu kanan kirinya ditahan oleh pengawalnya.
"Atiqah...tunggu!" Lala ikut mengejar sahabatnya.
Sedangkan Ardi mengepalkan kedua tangan, marah. "Lepas!" ucapnya dengan nada penekanan. Ardi kembali duduk, meremas rambutnya. Ia tak perduli dengan semua tatapan ke arahnya.
"Atiqah...tungguin" Lala mensejajarkan jalannya dengan Atiqah pada anak tangga. "Maaf Atiqah...maafin aku. Jangan marah gitu dong" Lala mencoba bermaafan dengan Atiqah tapi sahabatnya itu justru memeluknya, menangis.
"Iya...aku ngerti. Nangis aja biar kamu puas. Jangan dipendem sendiri. Gak baik. Ada aku, sahabatmu" Lala mengusap punggung Atiqah yang bergetar karena menangis.
"Aku sayang Ardi. Kamu tau kan, kami baru berapa hari jadian. Aku awalnya ragu tapi Ardi terus usaha ngeluluhin dan berhasil. Justru sekarang aku yang susah buat lepasin dia. Aku udah terlanjur sayang sama Ardi, La. Aku harus gimana? orangtuanya gak suka sama aku, bapak sama ibu juga ngelarang aku buat nerusin semua. Kami dipaksa buat stop, kami dipaksa buat gak nerusin hubungan ini. La...aku sedih banget" Atiqah menumpahkan semua rasa kalutnya pada Lala, sahabatnya.
Saat Atiqah masih memeluk Lala dan menangis, terdengar suara langkah kaki cepat menaiki anak tangga. Menarik tangannya kuat dan cepat lalu memeluknya.
"Ardi?!!" ucapnya terkejut.
"Ingat Atiqah! kita gak putus. Aku usahain semua biar kita bisa sama-sama lagi. Aku lagi cari jalan keluarnya. Aku sayang kamu Atiqah" suara teriakan Ardi menggema di tangga sekolah. Lala memeluk Atiqah. Sahabatnya itu terus menatap Ardi dan mengangguk berkali-kali.
Mereka menjadi tontonan gratis para siswa yang kebetulan ada di sekitar lorong tangga. Seperti menonton drama korea tentang percintaan anak SMA.
*****
"Atiqah, aku anterin pulang ya?" ucap Putra mendekati Atiqah yang baru saja selesai membersihkan kelas. Hari ini jadwal piketnya bersama Putra dan satu temannya yang lain.
"Gak usah. Aku pulang naik angkot aja" Atiqah meraih tas ranselnya dan berjalan melewati Putra.
Brakk
Putra menarik Atiqah dan mendorongnya ke tembok, mengurungnya dengan cengkraman kuat dikedua bahunya.
__ADS_1
"Apa apaan kamu Putra?!" Atiqah menahan dada Putra yang semakin merapat dan memiringkan kepala siap menciumnya.
"Aku pengen cium kamu" suara lirih Putra. Wajahnya semakin dekat, hembusan nafasnyapun sudah dapat Atiqah rasakan.
Duakk
Atiqah membenturkan dahinya ke dahi Putra. Temannya itu limbung dan terjatuh, memegangi keningnya yang berdenyut. Begitu juga dengan kening Atiqah. "Aw...sakit" Atiqah mengusap keningnya.
"Brengsek kamu Atiqah!!" Putra kembali menahan Atiqah dan menciumi lehernya secara paksa.
"Jangan! Jangan!" Atiqah menahan kepala Putra.
"Aku juga pengen ngrasain apa yang mantan pacarmu itu lakuin" Atiqah membulatkan kedua matanya. Putra mencengkeram kedua pipinya. "Kamu kaget? aku liat gimana Ardi nikmatin kamu diruang Osis. Ternyata kamu cewek gampangan" Putra berdecak mengejek.
Saat itu Putra kembali masuk ke dalam sekolah untuk mengambil barang yang tertinggal di kelas di lantai 3 tapi matanya justru menangkap Atiqah dan Ardi masuk ke ruang Osis. Putra menghiraukan, ia tetap naik ke lantai 3. Lalu saat turun kembali, Putra ingin memastikan soal Atiqah dan Ardi di ruang Osis. Dan Putra melihat semuanya.
Atiqah meludahi Putra saat temannya itu akan mencium bibirnya. Plakk...Putra menampar Atiqah, sudut bibirnya berdarah.
"Sok jual mahal!!" menarik Atiqah sampai terjatuh dan keningnya membentur kursi.
Atiqah memegang kepalanya yang terasa pening. Dahinya lebam dan terdapat goresan. Putra kembali akan memaksa, dengan sisa tenaganya Atiqah menendang area sensitif milik Putra. Temannya itu mengaduh kesakitan, lalu Atiqah bangkit dan berlari meraih tasnya yang teronggok di lantai sebelah pintu kelas.
Nafasnya terengah-engah menuruni anak tangga. "Aahh..." Brukk. Atiqah terjatuh di anak tangga terakhir, kakinya terkilir. Sangat sakit.
Mencari pertolongan tapi naas, sekolah sudah sepi dan satpam sekolah pasti ada di posnya. Atiqah mencoba berdiri dengan berpegangan apa saja. Berjalan tertatih tatih. Kakinya sakit, dahinya berdenyut, sudut bibirnya terdapat bekas darah yang mengering.
Pertahanannya goyah, tenaganya melemah habis terkuras. Atiqah duduk dilantai di lobby sekolah. Menangis, memeluk kedua kakinya.
"Atiqah?!" Atiqah mengangkat kepalanya, tangisannya pecah.
Bersambung....
*****
Kira-kira siapa yang manggil Atiqah?
__ADS_1
Jangan lupa rate bintang 5nya, like, komen sama giftnya.
Makasih cinta2nya aku 😘😘😘