
Hari berganti hari, bulan pun berganti. Usia kehamilan Atiqah sudah memasuki bulan ke sembilan. Perut yang semakin membesar sedikit menghambat aktifitasnya. Guntur selalu membantunya untuk segala hal. Orang berpikir Guntur adalah suaminya.
"Mas pinter cari istri. Masih muda, cantik lagi," ujar seorang wanita yang tengah hamil besar seperti Atiqah. Ledekan itu saat Guntur menemani Atiqah berbelanja perlengkapan bayi di salah satu Mall besar di Yogyakarta.
"Tapi bu," Guntur mencoba mengelak tapi Atiqah justru bersandiwara di depan wanita itu.
"Terimakasih untuk pujiannya bu. Justru saya yang beruntung dapat suami yang perhatian seperti ini," Atiqah merangkul lengan kiri Guntur. Guntur terlihat kikuk, ia tersenyum kaku sambil mengangguk.
"Aku dadi meri. Mesaake aku to mas? Blonjo akeeh koyo ngene, aku dewean. Jo bojo, bojo ku cen mangkeli tenan. Pas gawe sregep, eh jebul wes meteng koyo ngene di tinggal lungo. Semprul (Aku jadi iri. Kasihan kan aku mas? Belanja banyak seperti ini, aku sendirian. Suamiku memang menyebalkan. Waktu berbuat semangat, eh udah hamil begini malah di tinggal pergi. Sialan)," ujar wanita itu dengan berapi-api mengingat suaminya yang entah kemana.
Guntur masih tersenyum kaku. Atiqah mengerti dari nada bicara wanita itu, ada permasalahan dengan suaminya. Atiqah hanya memberikan tatapan turut bersedih.
"Yang sabar ya bu," Atiqah mengusap bahu wanita itu lalu pergi menuju kasir. Tangannya yang menggandeng Guntur masih berada disana.
Atiqah melakukan itu karna ia juga kecewa dengan Ardi. Ia ingin merasakan bagaimana diantar kesana kemari oleh suaminya sendiri, bukan laki-laki lain.
"Maaf ya mas Guntur, aku nggak ada maksud apa-apa. Aku juga ngrasain apa yang ibu tadi rasain. Aku kangen suamiku," Atiqah menyeka sudut matanya.
"Iya mbak, saya ngerti," ucap Guntur sambil membantu Atiqah memakaikan seatbelt.
"Makasih mas," ucapnya lalu membuka layar ponsel. Memeriksa apakah ada pesan dari suaminya.
"Kenapa mbak?" tanya Guntur setelah mendengar helaan nafas Atiqah.
"Hp ku kaya kuburan, sepi. Dia sama sekali nggak ada hubungin aku. Padahal aku udah hamil sebesar ini. Tinggal tunggu tanggalnya aja, tapi dia nggak ada khawatirnya sama aku," keluh kesah Atiqah.
"Mungkin mas Ardi sibuk mbak," ucapan Guntur terdengar menyebalkan di telinga Atiqah.
"Kemungkinan macam apa itu mas? kalau mau hibur aku pakai kata-kata yang masuk akal. Memangnya Ardi sibuk kaya presiden? dia masih sekolah. Ah udah lah, makin sebel jadinya," suasana hati Atiqah kembali buruk.
Guntur menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang selama ini Guntur lebih banyakmenghabiskan waktu bersama Atiqah, sudah terbiasa dengan mood swing ibu hamil itu tapi Guntur akan selalu kalah.
"Mampir dulu ke warung pak Sukir. Aku pengen tengkleng gajah," celetuk Atiqah saat mobil yang dikendarai Guntur ke arah pulang. Mobil baru saja sampai di Jalan Kaliurang Km 7.
__ADS_1
*Tengkleng gajah disini bukan hewan gajah sesungguhnya. Hanya istilah untuk porsi yang besar.
"Itu porsinya banyak sekali lho mbak. Mbak Atiqah yakin mau makan itu?" tanya Guntur.
"Kan ada mas Guntur. Kita habisin berdua," Atiqah menatap Guntur sambil tersenyum tanpa berdosa. Sudah pasti Guntur akan luluh.
Mobil memasuki pekarangan luas yang disulap sebagai lahan parkir. Guntur membantu Atiqah membuka pintu dan seatbelt.
"Mau duduk dimana mbak?" tanya Guntur. Mereka berdua mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang nyaman.
"Disana aja mas," tunjuk Atiqah pada sebuah saung kecil di sisi kanan.
Hari itu memang tidak terlalu ramai, Atiqah lebih leluasa. Pesanan pun tidak menunggu waktu yang lama. Satu porsi tengkleng gajah pedas tersaji dengan dua porsi nasi putih dan juga dua gelas es teh manis.
Mata Atiqah berbinar. Rasanya ingin cepat-cepat menghabiskan makanan yang ada di hadapannya itu.
"Mbak, pelan-pelan makannya. Ini pedes banget," ucap Guntur, ia baru saja mencicipi sedikit kuahnya.
"Iya iya," Atiqah langsung mengambil potongan besar yang ia pindahkan ke atas piring nasi.
"Mbak sebentar, ada telfon dari rumah," Guntur menyeka tangannya dengan tisu lalu mengangkat telfon itu.
"Halo ..." sapanya.
"Tur, Eyang ... Eyang" suara mbok Jum bergetar.
"Ono opo mbok? (ada apa mbok?) Eyang kenapa?" tanya Guntur, ia panik tapi mencoba tenang. Atiqah meletakkan tulang yang tadi sedang di sesapnya.
"Eyang tibo neng kamar mandi. Semaput. Cepet mulih saiki! (Eyang jatuh di kamar mandi. Pingsan. Cepat pulang sekarang!)" ujar mbok Jum. Guntur menegakkan badannya lalu ikut membantu Atiqah berdiri.
"Mbok, telfon dokter. Aku pulang sekarang," Guntur langsung mematikan telfonnya.
"Apa mas? kenapa Eyang?" Atiqah memegang tangan Guntur, mengikuti langkah kaki perlahan menuruni anak tangga saung.
__ADS_1
"Eyang pingsan mbak. Jatuh di kamar mandi. Kita pulang sekarang nggak papa ya?" pertanyaan bodoh Guntur. Sudah jelas Atiqah akan pulang. Pria tua yang sudah dianggapnya seperti kakeknya sendiri, tidak mungkin Atiqah tidak khawatir.
Atiqah dan Guntur tidak banyak bicara selama diperjalanan menuju pulang. Beruntung jarak warung tadi tidak terlalu jauh dari rumah.
"Pelan-pelan aja jalannya mbak --memapah Atiqah turun dari mobil-- Mbok ... Tolong bantu mbak Atiqah," Guntur memanggil mbok Jum yang sudah berdiri menanti mereka.
Guntur langsung pergi ke kamar Subroto. Disana sudah ada dua penjaga rumah yang membantu mengangkat Subroto ke atas ranjang.
"Gimana Eyang mbok?" tanya Atiqah sambil berjalan ke dalam.
"Mbok nggak tau mbak. Mbok takut," ucap mbok Jum. Tangannya gemetaran, Atiqah merasakannya karena mbok Jum memegang lengannya membantu berjalan.
"Yasudah. Kita doakan semoga Eyang baik-baik aja mbok. Mbok jangan panik," Atiqah mengusap tangan mbok Jum.
Atiqah duduk di sofa di sebelah ranjang Subroto sambil menunggu dokter selesai memeriksa.
"Mas Guntur, sebaiknya kita bawa pak Subroto ke rumah sakit. Beliau terkena stroke. Ini sudah kedua kalinya. Kita harus memeriksa kondisi pastinya seperti apa," penjelasan dokter sangat mengguncang Atiqah. Ia langsung bangkit memegangi perutnya.
"Baik dok, lebih cepat lebih baik," ucap Guntur menyetujui.
"Mas ..." Atiqah memegang lengan Guntur.
"Iya mbak?" Guntur menoleh. Dokter bersama asisten dan dua penjaga rumah membantu memindahkan Subroto ke ranjang ambulance (ambulance stretcher).
"Eyang udah pernah kena stroke?" tanya Atiqah. Guntur mengangguk. Lelehan air mata itu tidak bisa Atiqah bendung.
"Jangan khawatir mbak. Jangan sedih gini. Kita doakan Eyang sembuh," Guntur mengusap bahu Atiqah lalu memeluknya.
Brankar rumah sakit didorong cepat oleh petugas medis. Subroto dibawa ke ruang ICU. Atiqah dirumah bersama mbok Jum. Guntur memintanya untuk dirumah saja. Kondisi kehamilannya justru membuat Guntur khawatir jika terlalu lelah.
"Kamu di telfon susah banget --menangis sesenggukan-- Kamu jahat! aku disini lagi hamil besar tapi kamu nggak ada kabar sama sekali. Kamu udah nggak sayang lagi sama aku? iya? --menyeka hidung dengan tisu-- Eyang kena stroke, sekarang di rumah sakit. Aku sama mbok Jum dirumah. Aku takut, aku bingung," ucap Atiqah panjang lebar saat telfonnya diangkat oleh Ardi.
"Eyang sakit? oke, aku kesana sekarang juga," tanpa basa basi Ardi langsung menyambar jaket dan dompet diatas meja.
__ADS_1
Atiqah senang tapi juga kesal. Ardi sama sekali tidak minta maaf dan menanyakan kabarnya.
Bersambung...