ATIQAH

ATIQAH
Bab 98 : Aku Kalah


__ADS_3

"Dokter Arman," ucap Atiqah lirih. Brankar sedang di dorong ke ruang ICU.


"Apa mbak?" tanya Guntur, mendekatkan telinganya.


"Dokter Arman," ucapnya lagi lalu tidak sadarkan diri. Aziel menangis, Guntur memeluknya.


"Kita tunggu ibu disini," ucap Guntur pada Aziel. Duduk di kursi tunggu di depan ruang ICU.


Guntur belum mengerti apa maksud perkataan Atiqah tadi. Ia masih menenangkan Aziel yang terus menangis. Sampai ponselnya berdering. Ani istrinya menelfon.


"Halo, dik. Ada apa?" tanya Guntur.


"Mas, wetengku wes mules mules. Koyoe aku wes arep lahiran. Ndang mulih mas (Mas, perutku sudah mules mules. Kayaknya aku udah mau melahirkan. Cepet pulang mas)," rintih Ani. Seharusnya masih akhir minggu tapi hari ini sudah merasakan kontraksi. Guntur bingung harus bagaimana. Atiqah sedang kritis, Ziel sendiri.


"Njaluk tulung mbak Mik karo mas Didot sek, dik. Mbak Atiqah kritis, iki aku karo Ziel ning JIH. Reneo! Mas tunggu (Minta tolong mbak Mik dan mas Didot dulu, dek. Mbak Atiqah kritis, ini aku sama Ziel di JIH)," ujar Guntur. Satu-satunya jalan seperti itu.


"Yo, yowes mas (ya, yasudah mas)," Ani tidak bisa bertanya soal Atiqah. Rasa sakitnya sudah tak tertahankan.


Ziel lelah menangis, anak kecil itu tidur di pangkuan Guntur memeluknya. Bersamaan dengan kabar istrinya sudah sampai di rumah sakit, mbok Jum datang.


"Matur nuwun mbok. Aku titip Ziel. Bojoku wes arep brojol. Mengko kabari aku yo mbok! (Terimakasih mbok. Aku titip Ziel. Istriku sudah mau melahirkan. Nanti beri kabar aku ya mbok!)," pesan Guntur. Mbok Jum mengangguk. Guntur pergi ke ruang bersalin di rumah sakit yang sama.


Mbok Jum datang ke rumah sakit setelah ikut membawa Ardi ke kantor polisi. Ardi di tahan sementara disana. Petugas akan olah TKP sore ini disaksikan Guntur dan mbok Jum. Mereka adalah saksi kunci, kecuali Aziel yang masih kecil dan masih terpukul melihat kejadian tadi.


Lama menunggu, lampu ruang ICU belum juga padam.


"Nek, kenapa ibu lama sekali?" tanya Ziel pada mbok Jum.


"Sabar ya, sebentar lagi. Sebentar lagi," jawabnya sambil mengusap punggun Aziel.


"Ibu pasti baik-baik saja kan, Nek?" tanya Ziel lagi.


"Pasti, pasti baik-baik saja. Ibumu perempuan yang kuat. Ziel banyak berdoa," ujar mbok Jum meyakinkan Ziel.


"Ziel janji tidak akan membuat ibu sedih lagi. Ziel janji, Nek." ucapan Ziel itu membuat mbok Jum bingung.


"Ndak to (tidak). Kamu ini sumber kebahagiaan juga kekuatan ibumu. Ibu ndak pernah sedih karena Ziel. Aziel kesayangannya ibu," tutur mbok Jum. Aziel menyeka air matanya lalu tersenyum.


Lampu ruang ICU padam tepat dua jam. Atiqah belum sadarkan diri. Rambutnya di cukur habis, bekas jahitan melintang di atas kepalanya. Wajahnya terdapat beberapa luka lecet yang sudah mengering. Tapi bagian mata kanannya masih membiru oleh pukulan Ardi.


"Ibu ..." Aziel berlari ke arah Atiqah yang masih terbaring di atas brankar. Atiqah dipindah ke ruang observasi.


"Aziel ..." Mbok Jum ikut menghampiri lalu memegangi Ziel.


"Sampai di depan ruangan aja ya," ucap suster yang akan mendorong brankar. Aziel mengangguk, ikut berjalan sambil terus memegangi tangan ibunya.


Atiqah kembali masuk ke ruang observasi. Aziel dan mbok Jum menunggu di luar. Anak kecil itu duduk diam melamun di sebelah mbok Jum.


Hingga sore menjelang, Atiqah belum sadarkan diri. Mbok Jum membawa Aziel pulang bersama Mang Pardi. Guntur masih menemani istrinya yang sore itu sudah pembukaan lengkap. Sebentar lagi, Guntur akan resmi menjadi seorang Ayah.


"Ziel sementara tidur di kamar Eyang buyut ya? nanti nenek temani. Sekarang nenek mau bertemu dengan petugas dulu. Ziel tetap disini. Oke?" pesan mbok Jum. Ziel mengangguk.


Mbok Jum memberikan semua keterangan yang ia ketahui. Lalu Guntur datang. Anaknya sudah lahir dan ia buru-buru pulang ke rumah dan akan kembali lagi ke rumah sakit.


"Mbok, wes rampung? saiki giliranku? (mbok, sudah selesai? sekarang giliranku?)," tanyanya.


"Iyo, yowes ... aku tak ndelok Ziel sek. Mesaake durung maem (iya, yasudah ... aku mau lihat Ziel dulu. Kasihan dia belum makan)," jawab mbok Jum.


Begitu juga dengan Guntur, ia memberikan kesaksiannya pada petugas. Kabar Ardi yang di tahan karena kekerasan dalam rumah tangga, terendus media. Baru satu minggu menjabat sebagai penerus perusahaan Danurdara, Ardi terkena masalah. Status single dan belum memiliki anak itu menjadi pembahasan panas.

__ADS_1


Ardi di tuduh sudah membohongi para direksi dan publik. Image pewaris muda yang berbakat dan pintar, seketika hancur. Kediaman Anne di kerumuni awak media.


"Ini salah Mama sudah menekan Ardi. Kalau Ardi jujur sejak awal, hal ini nggak mungkin terjadi. Ardi sama seperti Mama. Temperamen!" Sigit menyalahkan Anne.


"Diam kamu! kamu nggak ada hak bersuara disini! kamu bukan suamiku lagi. Jadi jangan panggil aku dengan sebutan itu! Kamu cuma tukang kebun. Laki-laki kere!" bentak Anne sambil mencibir.


"Tapi Ardi anakku! aku berhak kasih dia nasehat," timpal Sigit.


"Nasehat macam apa yang bisa kamu kasih ke anakmu? tips-tips banyak simpanan?" Anne menyindir mantan suaminya itu.


"Terserah! dari dulu memang kita nggak cocok," sungut Sigit, pergi ke taman belakang. Anne menyentakkan kakinya lalu masuk ke dalam kamar.


Malam harinya, Guntur kembali ke rumah sakit. Dan ia teringat soal ucapan Atiqah tentang dokter Arman. Ia menghubungi rumah sakit dimana dokter Arman bekerja dulu. Dan syukur, dokter Arman masih membuka prakteknya disana.


"Halo, dok. Saya Guntur, asisten bapak Subroto Danurdara. Ini mengenai mbak Atiqah," ucapnya langsung tanpa berbasa basi.


"Ah iya, bagaimana mas Guntur? ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dari sambungan telefon.


"Sejujurnya saya juga tidak tau apa yang mau disampaikan. Pesan mbak Atiqah hanya menyebut dokter Arman berkali kali. Mungkin dokter tau maksudnya," papar Guntur. Ia bingung.


"Mbak Atiqah terluka lagi?" tanya dokter Arman.


Guntur mengangguk,"Iya, dok," jawabnya.


"Baik, saya akan siapkan semua data-data. Saya juga minta bantuan mas Guntur, bisa?" tanya dokter Arman.


"Bantuan apa dok?" Guntur berbalik bertanya.


"Lakukan visum. Semua keterangan dari dokter disana, kirim via email ke saya. Akan saya gabungkan. Dan siapkan pengacara. Saya bantu mengurusnya disini," terang dokter Arman.


"Baik, dok. Saya mengerti. Akan saya kirim secepatnya," ujar Guntur. Dia sekarang tahu apa maksud ucapan Atiqah.


Ardi meringkuk di sel tahanan sementara. Tidak ada keluarga yang mengunjungi atau menelfonnya malam itu.


Sifat egoisnya itu tetap tidak menginginkan perpisahan dirinya dengan Atiqah juga putranya. Meski pun Atiqah sangat membencinya.


Dan sampai akhirnya, pengacara Anne datang mewakili untuk membantu mengeluarkan Ardi. Ardi bebas dan berita tentang Ardi semua hilang. Anne mengurusnya.


"Aku mau sama ibu. Uncle jahat! ibu masih belum sadar. Aku tidak mau ikut uncle!" Aziel terus menolak, tidak mau meninggalkan Atiqah.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu! aku Ayahmu!" tegas Ardi, memegang lengan Ziel yang terus ingin dilepaskan.


"Kamu bukan Ayahku! sampai kapan pun! Ayahku bukan kriminal!" Ziel menyentak tangan Ardi lalu berlari masuk ke kamar Subroto dan menguncinya. Ardi mengamuk. Mbok Jum berdiri diam terus menatap Ardi penuh kebencian.


"Bojone tesih durung sadar, deweke wis iso bebas (istrinya masih belum sadar, dia sudah bebas)," gerutu mbok Jum.


Ardi masih menggedor pintu, membujuk Aziel. Sampai telefon rumah berdering. Atiqah sudah sadar. Aziel membuka pintu. Dan itu menjadi peluang untuk Ardi membawa Ziel pergi.


"Tidak! aku tidak mau ikut uncle. Aku mau ketemu ibu. Ibu sudah sadar. Lepaskan aku! Nenek ... nenek ..." Aziel berteriak meminta pertolongan mbok Jum.


"Mbok Jum diam! Jangan ikut campur!" Ardi mengancam.


"Tapi den ... tolong biarkan Ziel bertemu ibunya dulu. Kasihan," pinta mbok Jum. Atiqah juga pasti ingin bertemu putranya.


Lalu Ardi berjongkok dan membisikkan sesuatu pada putranya. Aziel menganggukkan kepalanya lalu menangis.


Aziel menatap mbok Jum haru dan ia mau pergi ke Jakarta bersama Ardi.


"Aziel, Ziel ... " rintih Atiqah. Guntur bangkit, mendekat.

__ADS_1


"Iya mbak, ada apa? mbak mau ketemu Ziel?" tanya Guntur. Atiqah mengangguk lemah. "Sebentar lagi pasti Ziel kemari mbak. Sabar, ya," mengusap tangan.


Pintu diketuk, mbok Jum datang sendirian tanpa Ziel. Tatapannya beradu dengan Guntur. Mbok Jum menggelengkan kepalanya.


"Simbok seneng, mbak Atiqah sudah sadar," ujar mbok Jum.


Atiqah mencari sosok putranya, lalu mengerti tanpa harus diberi tahu dimana Ziel saat ini. Atiqah tersenyum. Ia sudah terbiasa menderita seperti ini. Ia berpisah lagi dengan putranya.


*****


Satu bulan kemudian, Ardi menerima amplop coklat besar dari Pengadilan Agama. Atiqah mengajukan gugatan perceraian. Semua bukti visum dari 8 tahun yang lalu dan kejadian ia terluka kembali, sudah diserahkan ke pihak berwenang. Ardi sudah menduganya. Atiqah benar-benar ingin segera meninggalkannya.


Tapi satu hal yang membuat wajah Ardi berubah, yakni pengajuan hak asuh anak. Ardi sudah pasti kalah telak. Ia terbukti melakukan tindak kekerasan. Dan hak asuh anak akan jatuh di tangan Atiqah.


Ardi menelfon Atiqah. Ardi tahu Atiqah ada di Jakarta. Ardi memintanya untuk datang ke perusahaan.


"Aku udah datang. Apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Atiqah, tanpa basa basi. Ia tidak mau berlama-lama bertemu Ardi.


"Kamu cantik juga pakai wig," ucap Ardi, berjalan mendekati Atiqah. Atiqah mundur satu langkah. "Kamu nggak mau kasih tanda perpisahan untuk aku?" tanya Ardi, semakin mendekat.


"Apa maksud kamu?" tanya Atiqah memundurkan lagi langkahnya.


"Sebelum kita benar-benar berpisah. Beri aku satu kenangan terindah," bisik Ardi lalu mengecup cuping telinga. Atiqah meremang, memejamkan mata lalu mendorong Ardi.


"Jangan macam macam! aku nggak mau!" tegas Atiqah.


"Jangan munafik! kamu udah lama nggak aku sentuh. Kamu pasti merindukanku," Ardi semakin dekat lalu memaksa mencium bibir Atiqah. Atiqah berontak, mendorong kembali. Menyeka mulutnya.


"Kamu udah nggak ada hak atas tubuhku!" sentak Atiqah. Lalu Ardi memeluk Atiqah.


"Jangan tinggalkan aku! aku mohon. Aku sangat mencintaimu. Dari dulu aku selalu setia. Aku terlalu mencintaimu. Maafkan aku. Maafkan aku," ucap Ardi. Atiqah membeku, Ardi seperti memiliki dua kepribadian.


"Lepas! aku nggak mau sama kamu lagi. Terlalu banyak luka yang udah kamu kasih ke aku. Itu bukan cinta! sepertinya kamu butuh psikiater," ucap Atiqah, melepaskan pelukan Ardi.


Ardi merasa tersinggung mendengarnya. "Kamu pikir aku gila?" bentak Ardi.


"Iya, kamu gila! aku juga hampir gila kalau aku harus sama kamu terus. Aku nggak bahagia. Lepasin aku, biar aku hidup tenang bersama Ziel," timpal Atiqah.


"Kamu yakin Ziel mau sama kamu?" tanya Ardi.


Atiqah mengangguk mantap,"Iya!".


Ardi tersenyum sarkas. "Oke, kita ketemu di pengadilan. Kita lihat, siapa yang akhirnya menderita dan meminta untuk kembali!" ucap Ardi percaya diri.


"Oke!" Atiqah langsung pergi keluar.


Tidak seperti dugaan Atiqah selama ini, semua berjalan lancar. Ardi selalu datang dan tidak mempersulit keinginan Atiqah untuk bercerai. Hingga saat putusan tiba. Atiqah dan Ardi resmi bercerai, tapi tidak soal hak asuh anak.


Aziel menolak bersama Atiqah maupun Ardi. Ziel tetap bersama Melda dan Ryan di Canada.


Aziel muncul di sidang putusan. Atiqah mendekap putranya. "Kamu tidak mau bersama ibu?" tanyanya menangkup wajah putranya. Aziel menggelengkan kepala.


"Ziel tetap bersama Mommy, Daddy dan Gea. Ziel tidak mau menjadi penyebab ketidakbahagiaan ibu dan ayah. Pergilah bu. Cari kebahagiaan ibu." ujar Ziel. Atiqah menangis. Ia berhasil lepas dari Ardi tapi ia tetap berpisah dengan putranya.


"Jangan menangis bu. Ibu masih tetap bisa bertemu denganku," ucap Aziel, menyeka air mata Atiqah.


"Apa Ayah mengancammu?" tanya Atiqah. Aziel menggelengkan kepalanya.


Kalau kamu mau ibu kamu bahagia, ikut Ayah ke Jakarta sekarang. Ayah akan melepaskan ibu mu. Perkataan Ardi saat Aziel ingin bertemu Atiqah setelah siuman. Aziel memilih ikut bersama Ardi ke Jakarta.

__ADS_1


Atiqah mendekap erat putranya. Ardi masih berdiri melihat keduanya, tangannya mengepal. Ia merasa kalah, tidak mendapatkan keduanya.


Bersambung....


__ADS_2