
Pak Bondan dan Bu Asri begitu terkejut mendengar suara putrinya dari depan rumah. Buru-buru mereka keluar dan menghampiri Atiqah.
"Ibu seneng banget lihat mba pulang" merangkul putrinya sambil mengelus perut.
"Mba juga bu. Seneeeenggg banget" Atiqah membalas merangkul pinggang ibunya sambil mendaratkan kepalanya ke bahu kanan bu Asri.
"Nak Ardi" pak Bondan menyapa Ardi. Mengulurkan tangan bersalaman dengan menantu satu-satunya. "Ayok ... masuk?! Udaranya dingin, nggak baik buat cucu bapak" pak Bondan mengajak semuanya masuk ke dalam.
Robi yang baru saja selesai mandi, begitu terkejut melihat kakaknya pulang. "Mba ..." Robi memeluk Atiqah.
"Gimana sekolah kamu dek?" tanya Atiqah pada Robi.
"Lancar mba" jawab Robi menguraikan pelukan. "Bentar lagi aku mau punya keponakan. Tapi aku nggak mau dipanggil om ah. Aku kan masih kecil, masa dipanggil om" celoteh Robi anak SD kelas 4.
"Trus maunya dipanggil apa? kakak? nggak bisa dong. Tetep om, om kecil" Atiqah mencubit pipi Robi.
"Ish ..." Robi mengusap pipinya, masih belum menerima panggilan barunya nanti. Mereka tergelak.
Malam harinya bu Asri menyiapkan beberapa menu makanan untuk makan malam bersama. Orangtua Atiqah sangat senang mendapat kabar putrinya akan tinggal sementara disana selama dua bulan.
"Kalau gitu, ibu tutup warung dulu selama dua bulan. Ibu mau nemenin mba aja. Nggak baik ibu hamil sendirian di rumah. Nanti kalau ada apa-apa nggak ada yang tau" ucap bu Asri di sela-sela makan malam bersama.
"Jangan dong bu. Dua bulan cukup lama. Kasian pelanggan-pelanggan ibu. Mba ikut aja ke warung, gimana bu? --menatap ibunya-- Boleh kan Yang? --beralih menatap suaminya. Ardi mengangguk-- Boleh ya bu?" Atiqah menatap kembali ibunya.
"Asal kamu nggak capek aja" Ardi mengusap punggung Atiqah.
"Iya ... kamu duduk aja di warung. Jangan capek-capek" pak Bondan menanggapi. Bu Asri mengangguk setuju.
"Pokoknya kamu duduk aja. Nggak usah bantuin ibu ngelayanin pembeli" bu Asri menambahkan lagi ucapannya.
"Iya bu ... iya"
Dan akhirnya dua hari setelahnya, Atiqah dan bu Asri sudah sampai di warung diantar oleh Ardi sebelum berangkat ke sekolah.
"Hati-hati ... jaga anak kita. Jangan capek-capek! aku berangkat sekolah dulu" Ardi mengusap kepala Atiqah lalu masuk kembali ke dalam mobil.
Jarak warung nasi milik bu Asri tidak terlalu jauh dari sekolah. Ardi sampai tepat pukul 06.55 wib. Lima menit lagi bel sekolah berbunyi.
Ardi berpapasan dengan Lala di lobby sekolah. Saling bertatapan lalu Ardi berjalan mendahului.
"Kak tunggu!" Lala berjalan cepat mendekati Ardi.
"Apa?" Ardi menganggap Lala bukanlah sahabat Atiqah lagi. Dia malas untuk sekedar berbasa basi.
__ADS_1
"Aku mau tanya soal Atiqah" ucap Lala sambil terus berjalan ke arah tangga.
"Buat apa kamu tanya soal Atiqah? bukannya kamu udah nggak peduli lagi?" Ardi secara terang-terangan, berkata dengan ketusnya.
"Emm ... aku ... aku pengen tau aja Atiqah dimana? Kenapa dia nggak sekolah lagi?" Lala menunduk. Tatapan Ardi benar-benar mengintimidasi.
"Bukan urusan kamu sekarang dia ada dimana dan kenapa dia keluar dari sekolah" Ardi melenggang naik ke lantai atas, menuju kelasnya. Meninggalkan Lala yang diam melongo mendengar ucapan sinis Ardi.
*****
Siang hari setelah jam sekolah berakhir. Ardi datang menjemput Atiqah ke warung. Tanpa ia sadari, Lala mengikutinya dari sekolah. Lala menyetop ojek di pangkalan seberang sekolah.
"Udah siang. Pulang dulu. Kamu pasti capek" Ardi mengusap puncak kepala Atiqah. Istrinya itu sedang duduk di ruang kecil yang tersekat dinding triplek.
"Iya ... mba pulang aja dulu. Nanti bapak yang jemput ibu. Istirahat di rumah" bu Asri ikut masuk ke dalam setelah mendengar perkataan menantunya.
"Saya mau bawa Atiqah ke apartemen dulu nggak apa-apa bu? ada barang saya yang tertinggal" Ardi berkata jujur. Buku catatan kegiatan Osis miliknya ada di rak buku.
"Yaudah ... nggak papa. Istirahat aja dulu disana mba" bu Asri membelai rambut Atiqah.
"Iya bu. Mba pamit dulu" Atiqah mencium punggung tangan ibunya, begitu juga dengan Ardi. Melakukan hal yang sama.
Di kejauhan Lala masih memantau pergerakan Ardi. Dan seketika, Lala menutup mulutnya. Ia sangat terkejut melihat penampilan Atiqah. Memakai dress berwarna kuning selutut dan menampakan perut buncitnya, meskipun belum terlalu besar.
"Gila ... gila. Ini sih udah kebablasan. Nggak nyangka Atiqah bakal ngelakuin hal itu sampe hamil. Gampangan, munafik, murahan. Cuih ..." Lala ilfeel, meludah ke arah kiri.
"Oh ... jadi, mereka tinggal disini. Ini sih berita yang spektakuler. Bener-bener diluar dugaan. Cewek murahan" Lala diam-diam mengabadikan momen saat Ardi merangkul pinggang Atiqah masuk ke dalam lobby apartemen.
Siang itu Atiqah kelelahan dan langsung tertidur setelah mendapatkan layanan pijat dari Ardi. Ponsel Ardi berbunyi, tanda notifikasi pesan.
Setelah membuka pesan itu, ia menggenggam erat ponselnya. Raut wajahnya berubah masam.
📩 Lala
Kakak yakin itu anak kakak? aku kok nggak yakin ya. Kakak pasti nggak tau ada hubungan apa antara Atiqah sama mas Guntur.
Ardi belum sempat membalas, Lala sudah mengirimkan pesan lainnya lagi.
📩 Lala
Cinta boleh tapi nggak bodoh juga kak. Dikibulin sama pacar sendiri.
📩 Ardi
__ADS_1
Maksud kamu apa? nggak usah bikin cerita yang enggak-enggak. Urus urusanmu sendiri. Jangan ganggu aku sama Atiqah! Kami udah bahagia.
Ardi melempar ponselnya ke sofa tunggal di dalam kamarnya. Berdiri menatap Atiqah yang terlelap. Ada rasa curiga setelah membaca pesan dari Lala.
"Sampai kamu khianatin aku, habislah kalian berdua. Aku nggak segan-segan bikin kamu sengsara!" gumam Ardi lalu pergi keluar kamar, membuka lemari pendingin. Menenggak satu botol air mineral dingin.
Ardi menelfon mertuanya bahwa mereka tidak kembali ke rumah malam itu. Ia berjanji langsung mengantar Atiqah ke warung esok hari.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ardi, memeluk Atiqah di atas kasur. Istrinya itu masih malas-malasan.
"Nggak tau. Aku lagi nggak pengen apa-apa" Atiqah membenamkan wajahnya ke ceruk leher Ardi.
"Aku udah bilang ke bapak sama ibu, malam ini kita tidur disini. Besok pagi aku anter ke warung lagi" ucap Ardi, membelai belakang rambut Atiqah.
"Kenapa? kamu pengen mesra-mesraan? kamu takut nggak bisa bebas dirumah?" tanya Atiqah, mendongak menatap suaminya sambil tersenyum meledek.
"Kalo iya, kenapa?" Ardi menyerbu leher Atiqah. Istrinya itu berteriak dan tertawa kegelian.
"Dasar ... mesum. Hahaha ... ampun, ampun" Atiqah dan Ardi tertawa bersama-sama tanpa tahu sesuatu menanti mereka besok pagi.
*****
Ardi mengantar Atiqah masuk ke dalam warung. Bu Asri sudah ada di dalam. Sedang mempersiapkan beberapa masakan ke lemari kaca.
"Bu ... saya ke sekolah dulu. Titip Atiqah ya bu" Ardi berpamitan pada ibu mertuanya.
"Iya nak Ardi. Belajar yang giat. Hati-hati di jalan" mengulurkan tangannya pada Ardi. Menantunya mencium punggung tangan.
"Aku berangkat dulu. Kalau ada apa-apa telfon aku" Ardi mencium kening Atiqah lalu membelai perut buncit istrinya.
Hanya berjarak beberapa blok saja, Ardi sudah sampai di sekolah. Baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam. Semua siswa siswi menatapnya dengan bermacam ekspresi.
"Ardi ..." Topan berlari dan langsung membisikkan sesuatu pada Ardi.
"Hah??" Ardi terkejut dengan ucapan Topan. Ia langsung berlari ke arah mading sekolah.
"Minggir ... minggir!" Ardi menyingkirkan beberapa siswa siswi yang mengerubungi papan mading.
Ada 10 foto yang terpajang disana. Foto dirinya bersama Atiqah. 3 foto di warung nasi milik bu Asri dan 7 foto di lobby apartemen. Perut Atiqah yang membuncit itu menjadi bahan pembicaraan satu sekolah.
"Brengsek!!" Ardi mengumpat lalu menarik paksa satu per satu foto di dinding mading.
Bersambung...
__ADS_1
****
Pelakunya udah bisa ketebak 😎