ATIQAH

ATIQAH
Bab 67 : Obat Rindu


__ADS_3

Usia kehamilan Atiqah sudah melewati trimester pertama. Masa mual itu benar-benar sudah pergi. Kali ini berganti dengan nafsuu makannya yang begitu besar.


"Iya bu ... Mba sehat. Nanti sore jadwal ke dokter kandungan" ucap Atiqah di telefon dengan Asri, ibunya.


"Syukurlah mba ... ibu seneng dengernya. Kemarin nak Ardi ke rumah. Kasih mainan buat Robi, juga cemilan" ucap Asri begitu senang memiliki menantu yang perhatian pada keluarganya.


"Masa sih bu? Ardi nggak bilang apa-apa ke mba" Atiqah memang tidak tahu perihal itu. Ardi hanya menanyakan kabarnya saja.


"Huss ... nak Ardi udah jadi suamimu mba. Ganti panggilan yang lebih sopan. Jangan nama" Asri menasehati putrinya. Entah kenapa Atiqah canggung untuk memanggil Ardi dengan panggilan Mas atau lainnya.


"Mba belum terbiasa bu" jawab Atiqah jujur.


"Yo dibiasakan ... Lama-lama terbiasa" ucap Asri.


"Iya bu. Bapak mana bu?" tanyanya karena tidak mendengar suara Bondan.


"Bapak masuk pagi. Ibu nggak buka warung. Dapet pesenan dari Mak Cuplis, lumayan banyak" terang Asri pada Atiqah.


"Nggak ada yang bantu-bantu bu? coba kalau mba dirumah, mba bantuin bu" Atiqah sedih, matanya sudah berkaca-kaca.


"Ibu udah biasa mba. Nggak perlu mikirin ibu. Fokus sama kesehatanmu juga cucu ibu. Udah keliatan belum cucu ibu cowok atau cewek?" Asri antusias ingin mendengarnya.


"Belum bu. Sore ini kan baru ke dokter. Nanti kalau udah keliatan, Mba telfon ibu lagi" ucap Atiqah, menyeka sudut matanya.


"Yowes ... yowes. Sehat-sehat anak cucu ibu. Makan yang bergizi, jangan capek-capek. Banyak istirahat mba" Asri juga rindu putrinya. Rasanya ingin memeluk.


"Iya bu. Ibu, bapak, Robi juga jaga kesehatan. Nanti jengukin Mba kalau udah lahiran ya bu?" Atiqah menahan tangisnya.


"Iyo mba. Salam buat Eyang" Atiqah mengangguk sambil menutup mulutnya, agar isakan itu tidak terdengar ibunya.


Sambungan telefon singkat itu sudah berakhir. Atiqah memeluk guling, menangis. Rasa rindu kepada orangtua dan adiknya terasa menyiksa.


****


Tanpa memberi kabar pada Atiqah, sore harinya Ardi terbang ke Jogja. Sesuai janjinya untuk datang. Setau Atiqah, Ardi ke Jogja bulan depan. Ardi ingin memberikan surprise pada istrinya.


"Mas Guntur, aku masuk dulu ya?" ucap Atiqah pada Guntur saat akan masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan.


Seperti biasa, Guntur yang selalu mengantarnya ke rumah sakit. Orang-orang mengira Gunturlah Ayah dari bayi yang sedang di kandungnya. Atiqah dan Guntur menanggapinya dengan senyuman.

__ADS_1


"Untuk jenis kelaminnya sudah bisa terlihat dok?" tanya Atiqah pada dokter Ambar.


"Sebentar ya" dokter Ambar menggerakkan alat USG di bagian perut bawah. Perut Atiqah sudah sedikit menonjol di usia kehamilan 17 minggu.


Atiqah mengamati dengan teliti pada layar di hadapannya.


"Nah ini ... keliatan deh. Ada monasnya mba Atiqah. Selamat ya ... jenis kelaminnya laki-laki" dokter Ambar mengatakannya penuh suka cita. Memberikan ucapan selamat dengan tulus. Perawat di sampingnya pun ikut senang.


"Laki-laki dok?" dokter Ambar mengangguk cepat dan mantap.


"Iya mba Atiqah. Jagoan" mengacungkan jempolnya. Atiqah menangis haru.


Sejujurnya bagi Atiqah mau itu perempuan, ia juga akan tetap senang. Karena ini adalah kehamilannya yang pertama dan keturunan seorang Ardi Danurdara, sudah sangat pasti putranya inilah yang akan mewarisi semua milik Ardi.


Subroto dan Ardi akan senang mendengarnya. Atiqah membayangkan raut wajah Ardi yang sangat bahagia saat tau nanti.


"Gimana mba Atiqah? semua baik-baik saja kan?" tanya Guntur saat Atiqah menutup pintu ruangan dokter Ambar.


"Iya mas, semua baik-baik aja. Ini resep yang harus ditebus" Atiqah memberikan secarik kertas tulisan dokter Ambar, berisi beberapa obat dan vitamin.


"Baik mba" Guntur menerima lalu berjalan beriringan ke bagian farmasi.


"Mba Atiqah mau makan sesuatu? udah malem ternyata mba. Pasti udah laper lagi" tanya Guntur dan dugaannya juga benar.


Atiqah meringis. "Mas Guntur tau banget kalau aku udah laper lagi".


"Yaudah, mba Atiqah mau makan apa?" tanyanya lagi sambil membuka pintu mobil.


"Apa ya mas? sebenernya lagi nggak ada yang aki penginin sih. Aku terserah mas Guntur aja. Pasti aku makan kok" ucapnya sambil memasang seatbelt dengan sedikit bantuan dari Guntur.


"Apa ya? emm ... yang sehat buat ibu hamil ya?" Guntur memikirkan makanan apa yang baik untuk Atiqah.


"Iya mas. Tapi yang penting yang nggak dibakar sama yang harus mateng. Jangan mentah atau setengah mateng" terang Atiqah.


"Oke ... oke. Ada ... ada. Kita jalan sekarang" Guntur memberi tanda oke pada Atiqah lalu melajukan mobilnya ke tempat makan yang dirasa pas untuk ibu hamil.


Atiqah tidak tahu Ardi sudah sampai dirumah. Ardi menunggunya cukup lama. Eyang menahannya saat akan menyusul Atiqah.


"Wes menengo ning omah wae. Jere arep ngekei surprise, tapi awakmu ora sabaran ngono. Sabar ... sabar" (Sudah diam dirumah saja. Katanya mau kasih kejutan, tapi kamu nggak sabaran gitu). Subroto menahan Ardi yang akan menyusul Atiqah ke rumah sakit.

__ADS_1


"Tapi udah jam berapa ini Eyang? --melihat jam di pergelangan tangan kirinya-- kata Eyang jam 7 udah dirumah, tapi ini udah jam 1/2 9 belum juga pulang. Ardi takut Atiqah kenapa-kenapa" kegelisahan Ardi ditanggapi Subroto dengan pukulan di kepalanya.


"Bocah ... diomongi angel men --Ardi mengusap kepalanya yang dipukul-- Bojomu lagi meteng, yo pastine lagi madang sek. Sitek-sitek ngeleh. Wes mlebu kono. Enteni ning njero. Brisik"


(Bocah diberitahu susah sekali. Istrimu lagi hamil, ya pastinya sedang makan dulu. Sedikit-sedikit lapar. Sudah masuk sana. Tunggu di dalam. Berisik). Subroto menunjuk-nunjuk paviliun. Menyuruh Ardi masuk dan menunggu Atiqah di dalam.


Ardi dengan lesu menuruti ucapan Subroto. Ardi masuk ke dalam kamar. Menunggu Atiqah yang belum juga pulang. Dan tubuhnya lelah perjalanan udara Jakarta Jogja. Ardi tertidur menelungkup memeluk bantal wangi tubuh Atiqah.


Atiqah dan Guntur baru saja sampai rumah. "Makasih mas" ucap Atiqah masuk terlebih dulu ke dalam rumah.


"Sama-sama mba. Saya antar sampai paviliun" Guntur sedikit berlari mensejajarkan jalannya disamping Atiqah.


"Eyang belum tidur?" tanya Atiqah, melihat Subroto sedang duduk di ruang makan dengan secangkir kopi pahit diatas meja.


"Belum. Makan apa diluar tadi nduk?" tanya Subroto.


"Maaf Eyang, Atiqah pulang terlambat. Atiqah makan Ayam suwir di tempat langganan mas Guntur. Eyang sudah makan?" Atiqah tidak enak hati pada Subroto karena menunggunya pulang.


"Sudah. Yowes rono mlebu. Istirahat" (Yasudah sana masuk. Istirahat). Titah Subroto.


"Iya Eyang. Atiqah masuk dulu" Atiqah menundukkan kepala. Berjalan perlahan di antar Guntur.


"Selamat istirahat mba" ucap Guntur, membalikkan badan menuju kamarnya sendiri.


"Terimakasih mas" membuka pintu lalu menutupnya lagi.


Atiqah berjalan ke arah kamarnya. Pintunya tertutup tidak rapat. Masih ada celah sedikit.


Atiqah membulatkan matanya saat melihat Ardi suaminya tertidur di atas ranjang.


"Kamu dateng? kok nggak kasih kabar? katanya bulan depan?" Atiqah bertanya pada Ardi yang terlelap. Atiqah bahagia melihat Ardi. Sudah berbulan-bulan lamanya tidak bertemu. Hanya lewat layar ponsel.


Atiqah berganti pakaian dengan pakaian tipis juga seksi yang dibelinya beberapa hari yang lalu di Mall. Ia sengaja membelinya untuk memberikan surprise pada Ardi. Dan malam ini justru Ardi yang akan terkejut saat melihat tampilan istrinya.


Atiqah menyibakkan selimut. Tidur di samping Ardi, memeluk punggung dan mengecupi kepala belakang suaminya.


"Aku kangen banget. Wangi rambutmu nggak pernah berubah Yah" panggilan baru untuk Ardi. Ayah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2