
"Papa..." ucap Ardi lirih. Terkejut melihat mata Papanya yang mengisyaratkan sesuatu. Papanya tidak suka melihat Ardi dekat dengan Atiqah, anak dari karyawannya sendiri. Levelnya tidak sebanding dengannya, Sigit Danurdara.
Sigit mengetatkan rahangnya, melihat putranya datang bersama anak karyawan pabrik miliknya. Ardi sudah menjatuhkan harga dirinya.
"Mba, ini pemilik pabrik ditempat bapak kerja. Namanya pak Sigit Danurdara" ucap pak Bondan ketika Atiqah berjalan masuk mendekatinya. Ardi bergeming, tak bergeser sedikitpun dari bibir pintu.
Pikiran Atiqah melayang sesaat, mendengar nama belakang pemilik pabrik itu. Nama yang pernah ia dengar. Danurdara??.
Sigit dan asistennya mengacuhkan Ardi, berpura-pura tidak mengenal. Harga dirinya tidak boleh jatuh secara terang-terangan didepan karyawannya. Sangat memalukan, batin Sigit.
"Selamat sore pak. Terimakasih sudah menjenguk bapak saya. Saya Atiqah, anak perempuan pak Bondan" mengulurkan tangan untuk berjabat tangan tapi Sigit tetap diam, tidak menanggapi ajakan berjabat tangan yang Atiqah berikan. Ardi mengepalkan tangan kirinya. Papanya sudah sungguh keterlaluan. Angkuh dan sombong.
"Sore..." jawab asisten Sigit. Ia yang membalas jabat tangan Atiqah. Bondan dan Asri saling bertatapan sebentar, lalu kembali ke arah Atiqah dan Sigit.
"Lho nak Ardi kok diam aja. Sini nak, duduk disini" seru bu Asri. Mengayunkan tangannya, mengajak Ardi mendekat dan duduk di kursi dekat ranjang.
"Hah?? ah...iya bu" Ardi tersentak. Matanya sekilas ke arah Sigit lalu beralih ke bu Asri. Ardi mengangguk, berjalan mendekat kemudian duduk. Sigit dan Asistennya tetap berdiri, mereka enggan duduk berlama-lama. Tidak mau berbasa basi.
"Waktu saya sudah habis. Saya hanya ingin memberikan..." melirik Bowo, asistennya. Bowo mengerti lalu mengeluarkan cek sebesar 20 juta untuk kompensasi kecelakaan yang dialami pak Bondan. Memang kecelakaan itu bukanlah kesalahannya tapi sebagai pemilik perusahaan, Sigit memberikan bantuan. Semua karena desakan Ardi.
"Papa sebagai pemilik pabrik, seorang pemilik perusahaan yang baik dan bertanggung jawab. Seharusnya papa perhatian sama karyawan-karyawan papa. Eyang kakung sendiri yang bilang. Kita harus menghargai kerja keras para karyawan. Mereka yang membantu pabrik tetap berjalan pa. Buka hati dan pikiran papa!" kata-kata yang keluar dari mulut Ardi saat berbicara pada papanya setelah pulang dari Bangkok, Thailand. Menampar keras secara langsung. Karena tidak mau dianggap putranya sebagai bos yang lalai, Sigit terpaksa datang kerumah sakit. Seperti saat ini.
Pak Bondan dan Bu Asri saling pandang. Atiqah juga menatap kedua orangtuanya. Lalu mengangguk tanda agar orangtuanya menerima bantuan itu.
"Terimakasih banyak atas bantuannya pak. Saya sangat terbantu" ucap Bondan lirih. Ia sungguh-sungguh berterimakasih pada Sigit. Sangat terharu dengan perhatian yang diberikan oleh pemilik pabrik. Baru kali ini juga, Bondan bertatap muka dengan Sigit. Kapan lagi ia bisa bertemu dengan Bos besar. Bos yang disegani sekaligus ditakuti.
__ADS_1
Sigit diam tak menjawab ucapan terimakasih Bondan. Ia langsung pergi meninggalkan kamar inap yang tidak terlalu luas itu. Ardi memicingkan matanya, kesal dengan sikap angkuh Papanya. Jujur Ardi malu pada pak Bondan dan bu Asri, juga Atiqah. Seandainya mereka tahu siapa laki-laki yang baru saja pergi melenggang tanpa pamit.
"Nak Ardi gak perlu repot-repot bawa segala macam makanan. Gak perlu sungkan seperti itu" suara pak Bondan membuyarkan lamunan Ardi. Ardi masih memikirkan sikap papanya.
"Enggak repot kok pak" Ardi tersenyum pada pak Bondan dan juga bu Asri.
"Besok bapak udah bisa pulang. Nak Ardi gak perlu anter Atiqah kesini lagi. Kasian nak Ardi bolak balik anterin Atiqah" ucap bu Asri, menepuk punggung tangan putrinya yang sedang merangkulnya. Hatinya senang, suaminya sudah lebih baik.
*****
Sigit Danurdara sudah duduk di ruang kerjanya dengan menahan kekesalan di hatinya. Menunggu putranya pulang. Perintah darinya pada satpam rumah jika Ardi sudah pulang, segera menghadap ke ruangannya.
"Pa, ada apa sih? kok pulang-pulang mukanya tegang gitu?" tanya Anne istrinya, mengusap dada suaminya.
"Papa lagi marah sama Ardi. Bisa-bisanya dia dateng sama anak buruh pabrik itu ke rumah sakit. Untung aja mereka gak tau kalo Ardi anak Papa. Bisa malu Papa, Ma" Anne menegakkan tubuhnya.
"Papa harus bikin perhitungan sama Ardi. Dia harus menjauhi anak buruh itu" kembali merengkuh istrinya. Mereka duduk di sofa ruang kerja, masih menunggu kedatangan Ardi.
"Tapi Pa...kita jangan terlalu keras sama Ardi. Papa tau sendiri gimana tabiat anak kita. Semakin dilarang, dia semakin jauh dan membangkang" Anne tau persis seperti apa watak putra satu-satunya. Berbeda dengan putrinya yang saat ini masih berlibur di pulau Bali bersama menantunya. Putrinya penurut dan juga pintar dalam pergaulan. Pergaulan yang selevel dengan keluarga mereka. Berbeda dengan Ardi. Ardi sangat mirip dengan Eyangnya, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan berteman dengan siapapun. Sigit dan Anne tidak suka. Baginya hal yang sia-sia dan merugikan diri sendiri.
"Lalu? kita biarin gitu aja? gak bisa Ma. Gimana nanti kalo ada yang tau. Papa malu" setelah ucapannya itu, terdengar suara ketukan pintu. Ardi sudah pulang. "Duduk!" titah Sigit pada Ardi. Sikapnya santai, langsung mendaratkan bokongnya duduk di sofa bersebrangan dengan Papa dan Mamanya.
"Kalau Papa cuma mau bahas soal tadi, aku jelasin sekarang juga" Ardi menatap lurus pada Sigit. Tatapan yang sama, mereka bagai pinang dibelah dua. Ardi mewarisi wajah, tinggi badan dan warna kulit seperti Sigit. "Aku sama Atiqah pacaran" Anne menegakkan badannya, merasa tidak terima dengan pengakuan putranya.
"Ardi!!" Anne membentak. Ardi tersenyum sinis.
__ADS_1
"Aku gak peduli Papa sama Mama menentang hubunganku dengan Atiqah. Satu yang pasti...kalau Mama sama Papa ngelakuin sesuatu dibelakangku, aku bisa nekat hamilin Atiqah!" bagai petir di siang bolong, Anne mendadak kepalanya berat. Limbung. Sigit merengkuh istrinya itu. Sigit menatap sengit putranya, menggelengkan kepalanya berkali kali sembari lalu melewati Ardi. Membawa istrinya masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Apa yang dikatakan istrinya sangat benar. Percuma saja melarang Ardi. Putranya akan mengibarkan bendera perang jika keinginannya dilarang ataupun dibatasi. Sigit tidak ingin gegabah. Ardi putra lekaki satu-satunya yang ia miliki, yang akan meneruskan perusahaan keluarga.
"Huhh..." Ardi menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Tepat dugaannya, sesampainya dirumah sudah pasti ayahnya akan membahas soal kedekatannya dengan Atiqah.
Ponselnya bergetar di dalam saku celana sekolahnya. Ardi merogoh kantong. Nama Atiqah muncul di ponselnya yang berkedip-kedip.
"Halo...iya yang, kenapa?" tanya Ardi saat tersambung dengan panggilan video dari Atiqah.
"Udah dirumah kan? gak papa, aku takut kamu masih diluar. Nanti Mama kamu marah lagi" tanya Atiqah, melihat dimana Ardi sekarang.
"Udah...nih di kamar" Ardi memindah kamera ponselnya ke arah sebaliknya agar Atiqah dapat melihat kamarnya. "Bener kan?" tanya Ardi membalikkan kameranya lagi.
Atiqah mengangguk sambil tersenyum lega. "Iya, aku percaya. Besok jemput lagi?" tanya Atiqah, menelungkupkan badannya ke atas ranjang. Sama-sama di dalam kamar.
"Iya, besok aku jemput lagi. Aku juga pengen cium kamu lagi" senyum jahilnya terbit.
"Ah gak mau, kamu sukanya lebih dari itu. Cukup kemarin dan tadi aja. Aku takut kebablasan" Atiqah tidak mau mengulangi kesalahan mereka.
"Beneran gak mau? di bibir gak mau tapi kalo udah aku cium terus ikutan keenakan" Ardi kembali menggoda.
"Enggak! beneran. Aku gak mau lagi. Yaudah, aku mau kerjain tugas dulu dari bu Ambar. Dah...met malam Ardi" Ardi mengernyitkan keningnya. Atiqah bersungguh-sungguh tidak mau diciumnya lagi. Terbesit rasa kecewa. Pikir Ardi, ciuman itu sebagai tanda ungkapan rasa sayang.
"Ardi....kok diem? marah?" Ardi tetap diam, enggan menatap Atiqah. "Ardi please...jangan marah gitu. Aku masih dan tetap sayang kamu. Kamu masih boleh peluk aku" Atiqah mencoba merayu Ardi.
__ADS_1
"Tapi- oke..." jawab Ardi mengambang.
Bersambung....