ATIQAH

ATIQAH
FLASHBACK (5)


__ADS_3

Dua minggu setelah menjalin hubungan, Aziel berkunjung ke Seoul bersama Melda, Ryan dan Gea. Rasa rindunya pada sang Ibu tak dapat ia bendung lagi.


Dan hari itu sangat tepat untuk mengenalkan Fajar sebagai kekasihnya pada Aziel.


Atiqah dan Fajar membawa Aziel ke sebuah taman di pinggir sungai Han. Mereka duduk beralaskan tikar yang memang Atiqah sengaja bawa dari rumah. Mereka bertiga seperti pergi bertamasya. Perbekalan pun sangat cukup.


"Jadi begini rasanya hidup di Korea," -memasukkan kimbap ke dalam mulut- "apa Ibu bahagia? apa Ibu betah disini?" tanya Aziel.


"Memangnya rasanya hidup di Korea, apa? bagi Ibu sama saja. Di Indonesia dan dimana pun. Ibu selalu berjauhan denganmu," balas Atiqah.


Aziel merasa tersentil. "Tapi Ibu tahu kalau Ziel di Amerika sekolah. Ziel lakukan semua demi Ibu," elaknya.


"Demi Ibu? Ibu tidak membutuhkan apa pun. Ibu hanya butuh Aziel bersama Ibu. Itu sudah cukup," timpal Atiqah.


Fajar diam, tidak mau mencoba memasuki perdebatan antara ibu dan anak yang sudah lama terpisah jarak. Keduanya sama-sama saling rindu. Tapi entah kenapa selalu saja terjadi perdebatan jika keduanya bertemu.


"Om, benar kan apa kataku? semua aku lakukan untuk Ibu. Supaya Ibu bangga sama aku. Iya kan, Om?" tanya Aziel pada Fajar. Fajar mengangguk cepat sambil memasukkan satu apel yang dipotong dadu.


"Lihat, Bu. Om Fajar juga setuju apa kata Ziel," imbuhnya dengan menunjuk ke arah Fajar.


Atiqah menatap sinis Fajar, dua tangannya ia taruh di pinggang kanan dan kiri. Fajar meringis lalu mengusap lengan Atiqah.


"Sabar. Aku cuma menjawab apa yang Ziel tanya. Dan itu emang bener," Fajar kembali meringis lalu menutup wajahnya karena Atiqah melayangkan pukulan.


Aziel melipatkan kedua tangannya kedepan dada. Memperhatikan kelakuan Ibunya bersama Fajar.


"Sepertinya ada yang disembunyikan dari aku," celetuknya sambil mengetuk-ngetuk dagunya sendiri.


Atiqah menghentikan pukulannya pada Fajar. "Apa? apa yang harus Ibu sembunyikan dari putra Ibu?" tanya Atiqah.


"Ibu dan Om bukan teman," -menunjuk- "kalian berdua seperti sepasang kekasih," tuduhnya langsung tanpa berbasa-basi.


Atiqah terbatuk lalu menerima satu kaleng minuman yang diberikan Fajar.

__ADS_1


"Enggak."


"Iya."


Jawaban Fajar dan Atiqah berbeda. Atiqah menjawab tidak, sedangkan Fajar menjawab iya. Aziel semakin penasaran.


"Jawaban kalian tidak kompak. Fix memang kalian berdua pacaran. Iya kan? jangan membohongiku, Bu!" Aziel berkata tegas. Ia memang tipe anak yang tidak suka dibohongi.


Atiqah bertanya pada Fajar dengan gerakan mata dan kode dari bibirnya. Fajar mengangguk.


"Kalau Om memang ada apa-apa dengan Ibu kamu, kamu setuju?" tanya Fajar.


Aziel tidak langsung menjawab. Ia menatap balik Ibunya. Aziel ingin melihat sorot mata Atiqah. Apa Ibunya bahagia dan benar-benar jatuh cinta dengan pria di hadapannya kini?


Jawabannya iya. Sangat berbeda saat bersama dengan Ayahnya dulu. Ibunya justru terlihat menderita dan begitu membenci Ardi.


"Apapun jika Ibu bahagia, Aziel juga bahagia," ucapannya begitu mengharukan bagi Atiqah. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Ibu tidak perlu menangis seperti itu. Ziel senang lihat Ibu bahagia dengan Om Fajar. Aziel setuju, Bu," ucapnya lalu menerima uluran tangan Atiqah. Aziel mendekat dan memeluk Ibunya.


Fajar mengusap lembut punggung Atiqah. Ternyata tidak sulit untuk mengatakan kebenaran tentang hubungannya bersama Atiqah. Aziel yang akan menjadi putranya itu sangat dewasa di usianya yang masih sangat muda.


"Kapan Om jadi Papa ku?" pertanyaan tiba-tiba dari Aziel. Fajar terdiam terpaku. Secepat itu ia bertanya.


"Kalau Om, kapanpun siap. Ya tinggal bagaimana Ibu kamu. Ibu kamu ini yang banyak mikir. Padahal nikah itu gampang. Ibu kamu yang mempersulit. Om bisa apa?" setelah mengucapkan itu, Atiqah memukul lagi lengan Fajar.


"Aku juga siap kapanpun, Mas. Tapi jangan sekarang. Aku harus minta restu dulu dari Ibu juga pakdhe dan budhe," ujar Atiqah.


"Untuk urusan nenek Asri juga calon kakek dan nenek, biar Aziel yang urus. Semua pasti beres," paparnya tanpa gentar. Fajar tertawa keras.


"Hebat banget kamu. Anak bapak memang harus begitu. Pantang menyerah," Fajar mengacak rambut Aziel. Atiqah mencibir lalu mencubit pinggang Fajar.


"Bapak? oke, mulai sekarang Ziel panggil Om, Bapak." ucapnya. Rasanya sangat bahagia. Aziel seperti menemukan sosok Ayah yang dirindukannya.

__ADS_1


"Oke, tidak masalah. Bapak suka dengarnya," balas Fajar sama bahagianya.


Sedangkan Atiqah menggelengkan kepalanya. "Tapi Ibu belum mau menikah dengan Om Fajar. Jadi jangan panggil dengan sebutan itu. Ibu butuh waktu yang banyak."


"Waktu apa lagi, Bu? Bapak udah cocok sekali dengan Ibu. Aziel suka. Aziel setuju. Kita pulang ke Indonesia saja sekarang. Aziel yang akan meminta restu dengan Nenek Asri dan Kakek Nenek baru. Yeay ... Aziel punya Papa baru. Aziel punya Bapak sekarang," Aziel bangkit lalu berlari mengelilingi Atiqah dan Fajar sambil terus menyerukan kata-kata itu.


"Nggak apa-apa. Aziel aja udah setuju. Lihat! dia seneng banget mau punya Papa baru. Dia seneng aku jadi Bapaknya. Kamu juga harusnya seneng, aku akan jadi suamimu," ujar Fajar, merangkul bahu kiri Atiqah sambil terus melihat Aziel berlarian kesana kemari.


"Aku mohon, beri aku waktu Mas. Jangan dalam waktu dekat ini. Beri aku waktu, please!" Atiqah memohon. Fajar lagi lagi mengalah.


"Oke, Mas tunggu sampai kamu siap. Jangan kecewakan Mas, juga Aziel." ucap Fajar lalu mengecup pipi Atiqah.


"Ish ... jangan cium-cium! ada Aziel, nggak baik!" tegur Atiqah.


"Jadi kalau nggak ada Aziel, Mas boleh cium dong," bisik Fajar. Pipi Atoqah merona.


"Nggak boleh juga!" melepaskan rangkulan lalu mengambil topi, untuk menutupi wajah Fajar.


"Kenapa nggak boleh? kemarin malam kita baru aja ciuman. Mas mau lagi," Fajar terus meledek Atiqah. Aziel berlari mendekat.


"Ssshhh ... ada Aziel, jangan ngomong yang enggak-enggak!" menutup bibirnya tanda peringatan untuk Fajar.


"Tapi, Mas tetep dapet ciuman kan?" bisik Fajar lagi.


"Dasar!" Atiqah menutup lagi wajah Fajar dengan topi.


Sore itu berlalu sangat cepat. Atiqah bersama Aziel sudah sampai di apartemen. Sedangkan kakak iparnya berada di hotel. Melda memberikan waktu banyak untuk Atiqah dan Aziel.


"Terimakasih anak Ibu sudah mau menerima Om Fajar. Maafkan Ibu juga," ujar Atiqah sambil memeluk Aziel di atas ranjang. Mereka berdua sudah memakai piyama. Piyama yang sama. Atiqah yang membelinya saat Festival musim gugur di Korea.


"Harusnya Aziel yang berterima kasih sama Ibu. Ibu adalah Ibu yang terhebat yang Aziel punya. Satu-satunya. Aziel sangat bahagia saat tahu Om Fajar akan jadi Papa baru Ziel," ungkapan jujurnya.


"Oh ... anakku. Aziel anak Ibu," mendekap erat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2