ATIQAH

ATIQAH
Bab 29 : Gadis Sederhana


__ADS_3

Lala menghampiri Ardi di ruang Osis saat jam istirahat. Meskipun Ardi dan Atiqah sudah tidak pernah bersama, hanya ketua Osis itu saja yang ada dipikiran Lala. Ia ingin menanyakan perihal absennya Atiqah hari ini.


Lala mengetuk pintu ruangan yang terbuka. Ardi sedang duduk berhadapan dengan Topan, mendiskusikan sesuatu. Ketua dan wakil menoleh bersamaan.


"Lala...kenapa?" Ardi bangkit. Lala berjalan menghampiri.


"Aku mau tanya soal Atiqah" ucap Lala.


Ardi menatap Topan. "Bisa tinggalin kita berdua? diskusinya lanjut entar istirahat kedua" ucapnya pada Topan. Karena kejadian kemarin hanyalah dirinya, beberapa guru dan satpam sekolah saja yang tahu.


"Serius amat...sampe gak boleh ikutan nimbrung" Topan tetap beranjak dari kursinya, keluar ruangan. Ardi dan Lala masih melihat Topan hingga menghilang dibalik pintu.


"Duduk La!" Ardi kembali duduk di kursinya, sedangkan Lala menduduki kursi Topan tadi.


"Atiqah kenapa kak? kakak tau kenapa dia gak masuk hari ini?" Ardi mengangguk.


"Iya, aku tau. Emm...gini La. Berhubung ini rahasia dan cuma aku, pak Musri, bu Maya, bu Lia juga pak Imron yang tau. Aku mohon jangan sampe ada yang tau lagi selain kamu" Lala semakin penasaran.


"Iya...terus apa dong? jangan lama-lama, bentar lagi bel masuk. Langsung ke intinya aja kak" Lala mengetuk jam tangannya, memperingatkan soal waktu yang sedikit.


"Intinya Atiqah di lecehin lagi sama Putra. Putra sekarang masih di tahan di polsek. Atiqah ada dirumah sakit Medistra" Ardi mengatakannya dengan cepat dan jelas. Lala menutup mulutnya, syok.


"Maksudnya lagi? apa Putra pernah begitu juga sebelumnya? Atiqah gak ada bilang apa-apa" Lala merasa menjadi sahabat yang bodoh, tidak peka pada Atiqah.


"Waktu jam pulang sekolah, mereka piket bareng waktu itu. Mungkin Atiqah gak mau bikin nama Putra buruk. Jadi dia gak cerita ke siapapun, kecuali aku karna aku sendiri liat Atiqah nangis di lobby sekolah" terang Ardi. Lala semakin syok mendengar penjelasan Ardi.


"Siang ini kakak pasti mau ke rumah sakit kan? aku ikut, boleh?" Lala ingin segera menjenguk sahabatnya.


"Oke, tapi bareng eyang. Gak papa kan? eyang mau jenguk sekalian kenalan sama Atiqah" ucap Ardi sambil merapihkan beberapa barang diatas meja.


"Eyang?" tanya Lala, menduga-duga apakah benar kakek Subroto pengusaha terkenal itu.


"Iya, kakekku" Ardi menjawabnya santai.


"Oke...yaudah, aku balik kelas dulu kak. Nanti kita ketemu di lobby" Lala keluar ruangan Osis, buru-buru ia menaiki anak tangga. Bel masuk sudah berbunyi.


Sekitar pukul dua siang, Ardi sudah menunggu Lala di lobby sekolah. Siswa siswi lainnya masih terlihat lalu lalang disekitar sekolah.


"Kak...maaf. Udah nunggu lama?" Lala berlarian ke arah Ardi yang berdiri menyandar tembok.


"Enggak, baru aja. Ayok?!" Ardi melihat mobil yang membawa kakeknya masuk ke dalam halaman sekolah. Lala mengikuti sambil terus melihat ke arah mobil sedan mewah berwarna hitam itu.


Keren banget mobilnya. Atiqah beruntung bisa pacaran sama cucu konglomerat. Batin Lala terus berjalan mengikuti Ardi.


"Kamu didepan atau dibelakang?" tanya Ardi saat mereka sudah berada tepat didepan pintu mobil.

__ADS_1


"Emm...aku depan aja kak" Lala langsung memutari mobil, membuka pintu depan. Ardi sudah masuk terlebih dulu di kursi belakang.


"Eyang...ini Lala, sahabatnya Atiqah. Dia mau ikut jenguk juga" Ardi memperkenalkan Lala pada kakeknya. Pilihan tepat bagi Lala, tentu saja kakek Ardi duduk dikursi belakang. Lala merasa canggung jika harus duduk berdampingan.


"Halo eyang...salam kenal" sapa Lala, duduknya menyamping menolehkan kepalanya.


"Iya iya...jalan pak!" ucap kakek Ardi pada sopir.


Lala mengerucutkan bibir, membenarkan posisi duduknya menghadap lurus ke depan. Gi**la...serem banget. gumam Lala.


"Ini apa eyang?" tanya Ardi melihat paperbag dengan logo bakery kenamaan.


"Kue buat pacarmu" jawab Subroto lugas.


"Ohh..." Ardi manggut-manggut lalu merogoh ponselnya didalam saku celana. Ponselnya berhasil ia dapatkan berkat sang kakek sebelum sarapan tadi pagi. Ardi mengusap layar, membuka beberapa pesan dari Atiqah. Ekspresi wajahnya berubah seketika.


📩 Atiqahku


Mau kesini gak? udah siang banget tapi belum dateng juga. Gak jadi kesini ya? yaudah...


Arti pesan ngambeknya Atiqah benar-benar tersampaikan. Ardi mengerti kekasihnya itu sedang kesal.


📩 Ardi


Segitu kangennya kamu sama aku?


📩 Atiqahku


Ishh...kepedean. Gede kepala. Yaudah kalo gak jadi kesini, gak papa. Sore ini aku pulang sama ibu. Dijemput mas Fajar aja.


Ardi seperti tersengat saat Atiqah menyebut nama Fajar dalam pesannya.


📩 Ardi


Awas aja kalo sampe berani pulang sama laki-laki itu! bentar lagi aku sampe. Tunggu! jangan kemana-mana!


Ardi mengetikkan pesannya cepat lalu mengetuk-ngetukan jarinya pada arm rest pada jok mobil.


"Ono opo? (ada apa)" Subroto melihat kecemasan cucunya. Ia hafal betul gesture Ardi ketika sedang cemas, gugup dan stres.


"Hah? Mmm...enggak eyang. Gak papa" Ardi terkejut lalu menggerakkan kelima jarinya tanda tidak ada apa-apa.


Bunyi notifikasi ponselnya terdengar nyaring. Subroto dapat melihat pesan dari Atiqah lalu tersenyum. "Atiqahku" ucapnya lirih, meledek cucunya. Ardi meringis, menggaruk belakang kepala.


📩 Atiqahku

__ADS_1


Gak usah cemburu. Kalo gak bisa dateng, gak usah dipaksain. Aku bisa pulang sendiri.


Balasan lain dari Atiqah menambah terbakarnya hati Ardi. Bisa-bisanya Atiqah tidak membutuhkannya. Ia anggap apa Ardi.


📩 Ardi


Iya aku cemburu. Makanya tunggu dikamar. Kamu selamat karna ada ibu. Kalo gak ada, udah aku habisin kamu Yang.


Ardi menerbitkan senyuman mesum saat membalas pesan Atiqah. Ardi benar-bemar ingin ******* bibir Atiqah.


📩 Atiqahku


Dasar mesum!!


Ardi masih tersenyum lalu menggigit bibir bawahnya. Membayangkan bibirnya bertemu dengan bibir Atiqah.


"Wes tekan (sudah sampai)...ayo?! ojo mesam-mesem wae (jangan senyum-senyum terus). Turun!" celetuk Subroto pada Ardi. Mobil berhenti didepan lobby rumah sakit. Lala yang sedari tadi hanya diam, langsung membuka pintu mobil. Menunggu Subroto dan Ardi.


Ardi berjalan disamping kakeknya sambil menenteng paperbag berisi kue, sedangkan Lala mengikuti langkah keduanya dari belakang.


Ardi mengetuk pintu kamar, suara sahutan dari dalam terdengar. Suara bu Asri dan Atiqah bersamaan.


"Nak Ardi, ma-suk" awalnya bu Asri bersemangat menyambut Ardi tapi sosok berikutnya yang masuk, membuatnya gugup.


"Atiqah..." Lala menyerobot masuk, mengeraskan suaranya menyambut sahabatnya yang duduk menyandar kepala ranjang.


"Lala??" Atiqah senang kedatangan Lala tapi matanya masih menangkap sosok yang asing dimatanya.


Ardi masuk bersama Subroto. "Bu, ini eyang saya. Eyang Subroto" Ardi memperkenalkan kakeknya. Bu Asri dan Subroto berjabat tangan.


"Saya Asri, ibunya Atiqah"


"Saya Subroto"


Atiqah mencium punggung tangan kakek Ardi. Subroto membelai kepalanya lembut seraya tersenyum.


"Gadis yang sederhana, tenan mirip utimu le (memang mirip nenekmu)" Ardi dan Subroto sama-sama tersenyum. Atiqah tidak tahu maksud dari ucapan Subroto. Bu Asri yang berasal dari Magelang hanya melempar tatapan bergantian pada Atiqah, Ardi dan juga Subroto.


Bersambung....


*****


Maap banget 🙏🙏🙏 baru bisa up. Lagi badmood parah. Ketambahan senin besok anak ujian PTS. Emaknya yang deg2an.


Jangan lupa rate bintang 5, like, komen sama giftnya ya sayang-sayangku semua 😘😘😘

__ADS_1


Matur nuwun 🙏😊😁


__ADS_2