
Ardi memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu lift basement. Mengeluarkan beberapa koper besar. Atiqah membawa satu koper dan satu tas jinjing berisi buku-buku, ia letakkan diatas koper lalu menariknya.
"Banyak banget barang-barangnya. Ini sih beneran niat pindah" ucap Atiqah sambil menyeret koper masuk ke dalam lift.
"Ya emang beneran pindah. Biar bisa gampang buat kita pacaran" bisik Ardi. Pintu lift tertutup.
"Mesum" Atiqah mengedikkan bahu agar wajah Ardi menjauh. Ardi tertawa setelah mengecup pipi Atiqah.
tting...pintu lift terbuka. Mereka berdua kembali menyeret koper sampai di depan pintu apartemen.
"Huft..." Atiqah mendaratkan bokongnya ke atas sofa.
"Capek?" Ardi memberikan satu gelas air mineral sambil menyeka keringat didahi Atiqah.
"Makasih" menerima lalu meminumnya sampai habis. "Ah segernya. Narik koper ternyata secapek ini" merebahkan badannya. Ardi mengangkat kedua kaki Atiqah, meletakkannya ke pangkuan.
"Aku pijitin --mengulurkan tangan-- gimana? enak pijitan aku?" tanya Ardi. Atiqah tersenyum sembari mengangguk. Atiqah suka Ardi yang seperti ini. Perhatian dan lembut.
"Aku jadi ngantuk. Hoam...--menguap-- beresinnya nanti gak papa kan? aku ngantuk banget" Atiqah memasang wajah sayu.
"Ganti baju dulu Yang. Pake bajuku. Tidur di kamar aja" menarik Atiqah masuk ke dalam kamar. Ardi membuka lemari, meraih satu kaos oblong dan celana pendek "Pakai ini. Pakai disini aja Yang. Aku mau liat" memberikan pada Atiqah. Ardi duduk diatas ranjang, melihat kekasihnya membuka baju seragam dan berganti memakai baju miliknya.
"Sini" Ardi menepuk kasur, Atiqah menurut menaiki ranjang. "Tidur sini, aku peluk" Ardi berbaring, merentangkan tangannya untuk bantalan kepala Atiqah.
"Aku juga ngantuk. Kita tidur" Atiqah mengangguk dibawah dagunya.
Mereka terlelap sampai pukul 12.00 siang. Ardi masuk ke dalam kaos besarnya yang dipakai Atiqah, mengecupi perut lalu beranjak naik mengecup dada. Atiqah yang masih terlelap merasa ada sesuatu yang menggelitik perut lalu menguluum puncak dadanya.
"Emm..." Atiqah membuka matanya. Melihat kepala Ardi yang sudah masuk ke dalam kaos yang ia pakai. "Ardi..." meremas seprai, menggigit bibir bawahnya. Ardi sedang asik menikmati dua gundukan miliknya.
"Yang...udah bangun?" suara Ardi dari dalam kaos.
"Heem..." Atiqah menjawabnya dengan gumaman.
"Aku pengen Yang" Ardi mencari tepian celana pendek Atiqah. Kaki Atiqah menekuk agar Ardi mudah meloloskan celana pendek beserta underware yang dipakainya.
Ardi melorot turun ke inti tubuh kekasihnya. "Ahh Ardi" Atiqah merasakan degup jantungnya bergerak cepat saat bertatapan dengan Ardi. Kekasihnya sudah berada di antara dua pahanya.
"Udah basah Yang" ucapannya terdengar sangat mesum bagi Atiqah. Seketika Ardi sudah menjulurkan lidahnya disana dan ********** hingga berdecak. Atiqah meremas rambut Ardi, mendessah menyebut nama kekasihnya. Begitu sensual terdengar.
Tidak butuh waktu lama, Atiqah sudah mengejang dua kali. Usia Ardi yang terbilang masih muda tapi pengalaman bercintanya sangat mumpuni. Atiqah dapat berkali kali merasakan miliknya berdenyut.
__ADS_1
"Yang...udah" Atiqah menarik Ardi untuk menyudahi gempuran lidahnya. "Cium aku" Atiqah meminta ciuman yang memabukkan seorang Ardi.
Dengan senang hati, Ardi mencium lalu melummat dengan gerakan kasar dan rakus. Bibir Atiqah di lahapnya.
"Yang...sekarang ya?" tanyanya setelah melepas ciuman panas di teriknya siang hari.
"Lakuin sekarang!" Atiqah menggenggam milik Ardi lalu membuka pahanya.
"Yang...kamu cantik banget" mengusap bibir Atiqah dengan jempolnya. Perlahan memasukkan miliknya dan Atiqah mengaitkan kedua kaki ke pinggang Ardi.
"Ahh..." mulut Atiqah menganga saat Ardi menembusnya sampai bagian terdalam.
"Sakit?" tanya Ardi, Atiqah menggelengkan kepala.
Kecupan lembut mendarat ke dahi, mata, pipi lalu bibir. "Aku mulai sekarang ya?" untuk kedua kalinya Ardi bersikap normal dan lembut pada Atiqah. Rasanya Atiqah dengan senang hati memberikan segalanya pada Ardi.
Ardi mulai bergerak sambil menciumi leher Atiqah, menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher. Memompa dan terus memompa sampai Atiqah kembali merasakan tubuhnya kembali melayang, seluruh tubuhnya meluruh lemas.
"Capek?" Atiqah mengangguk, memejamkan mata. "Jangan merem dulu Yang, aku belum" berbaring disebelah Atiqah lalu memiringkan kekasihnya itu memunggungi.
Satu kaki Atiqah ia angkat tinggi lalu Ardi menekan miliknya seraya meremas dada dan menciumi punggung telanjang kekasihnya.
"Ahh...Ardi" Atiqah kembali tersadar, membuka matanya lebar saat Ardi menghujamnya lagi. Dua tangannya di pegang erat oleh Ardi ke atas.
"I love you"..."I love you too"
*****
Satu jam berselang Atiqah merengek pada Ardi setelah menyelesaikan kegiatan panas di siang bolong itu. "Aku laper" ucap Atiqah, masih berada di pelukan Ardi.
"Mau makan apa?" Ardi meraih ponselnya di samping lampu tidur. Menscroll beberapa menu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menjadi bantalan kepala Atiqah.
"Aku lagi pengen sop kaki kambing sama satenya juga" Atiqah meringis.
"Oke, aku pesanin sekarang" Ardi mencubit hidung Atiqah gemas. Tangannya lincah memesan beberapa porsi untuk makan siang mereka.
"Bersihin dulu yuk?!" ajak Ardi, tapi Atiqah justru semakin membenamkan wajahnya ke dada Ardi, memeluknya erat.
"Aku masih pengen peluk" Ardi mengernyitkan alisnya. Atiqah semakin manja dan penurut.
"Katanya laper? entar abang go foodnya dateng trus kita masih begini, gimana?" ucap Ardi sambil melihat tubuhnya dan Atiqah yang masih polos.
__ADS_1
"Pake tisu basah aja. Aku masih pengen peluk" bergumam sambil memeluk dan mengendus aroma dada Ardi.
"Kamu kenapa sih Yang?" Ardi memundurkan tubuhnya sedikit lalu menarik dagu Atiqah agar mendongak menatapnya.
"Kenapa apanya?" Atiqah balik bertanya sambil berkedip tidak tahu maksud pertanyaan Ardi.
"Kamu jadi manja banget hari ini" merapihkan rambut yang sedikit menutupi dahi Atiqah.
"Masa sih? justru kamu yang beda. Kamu manis banget hari ini. Jujur aku suka pacarku yang begini. Perhatian juga lembut" tangannya merayapi garis rahang Ardi.
Ardi menangkap tangan Atiqah. "Oh ya? --mencium punggung tangan-- jangan bilang kamu masih pengen" mengecup bibir Atiqah sekilas.
"Kalo iya?" Atiqah menantang Ardi.
"Mmm...nanti, habis kita makan sop kambing. Biar makin setrong" menggelitik pinggang sambil menciumi leher Atiqah.
"Hahaha...ampun...ampun. Geli. Yang sumpah geli" Atiqah berteriak kegelian, bergerak kesana kemari seperti ulat.
tting ttong...suara bel menghentikkan tawa mereka.
"Makanannya udah sampe" Ardi turun dari ranjang, mencomot tisu basah dan memberikan sisanya pada Atiqah. Ardi terburu-buru memakai bajunya sampai terjatuh dan terpentok pintu. Atiqah melihatnya sambil tertawa.
Ardi membawa satu kantong makanan berisi 2 porsi sop kaki kambing dan sate kambing. "Yang...sini. Makan dulu" Ardi berteriak dari arah dapur.
"Iya, lagi pake baju" jawab Atiqah sambil berteriak juga.
Ardi menata makanan tadi ke atas meja lalu menuang air mineral dingin ke dalam gelas.
"Kok air mineral dingin? aku pengen teh tawar anget" Atiqah keluar dari kamar melihat Ardi yang sedang menuangkan air minum.
"Hah?? kamu aneh-aneh aja deh Yang. Mana bisa aku bikin teh. Udah ini aja. Lagian gak ada teh. Dapurku kosong. Isi kulkas juga cuma air dingin doang" Ardi meremas botol minum lalu membuangnya ke tempat sampah.
Atiqah cemberut, menarik kursi dan duduk di hadapan Ardi.
"Jangan cemberut gitu dong Yang. Nanti aku belanja deh. Aku isi penuh kulkasnya. Makan dulu" Ardi mengecup puncak kepala Atiqah saat memeluknya, merayu. "Kamu seksi banget. Gak pake daleman ya?" Ardi merasakan gesekan puncak dada Atiqah.
"Hemm..." Atiqah membalasnya dengan deheman lalu memukul tangan Ardi yang mengusap pahanya. "Katanya mau makan? Aku udah laper".
"Eh iya..oke oke kita makan" Ardi menyeruput kuah sop setelah meniupnya.
"Ahh...seger banget" mata Atiqah berbinar, rasanya sangat senang menyantap makanan yang ia mau.
__ADS_1
Bersambung...