
Hampir dua minggu Atiqah dan Ardi hanya bertemu sekilas saja di sekolah. Kesibukan dalam persiapan ujian kenaikan kelas, menyita waktu keduanya. Ardi yang masih di kawal, tidak leluasa mendekati Atiqah. Ponsel Ardipun masih disita oleh orangtuanya.
"Atiqah, bisa kita ngomong berdua aja?" Putra mendekati dan berdiri disebelah Atiqah. Bel istirahat baru saja berbunyi. Dan Atiqah sudah ingin segera ke kantin, menyantap bakso kuah pedas mang Salim.
"Ngomong apa?" Atiqah menjaga jarak, ia tidak mau hal yang lalu terulang lagi. Hari ini Lala ijin tidak masuk sekolah. Atiqah duduk sendiri. Beberapa teman sekelasnya pun sudah menghilang, tertinggal empat orang saja termasuk Putra dan juga Atiqah.
"Emm...tentang kita" Putra berucap lirih.
"Tentang kita?" mengerutkan kedua alisnya.
"Iya...Mmm, ini soal waktu itu" Putra memang merasa sangat bersalah pada Atiqah. Ia ingin memperbaiki hubungan.
"Lupain. Aku gak mau bahas soal itu" Atiqah bangkit, bersiap meninggalkan Putra. Atiqah ingin segera ke kantin. Perutnya sangat lapar.
"Tunggu! ah...maaf" Putra menahan lengan Atiqah lalu melepasnya lagi. Atiqah menampakkan wajah tidak sukanya.
"Kalo kamu cuma mau bilang maaf, aku udah maafin tapi Putra...kita gak bisa temenan kaya dulu lagi. Maaf. Aku mau ke kantin" Atiqah melewati Putra dengan memiringkan tubuhnya lalu berjalan ke luar kelas. Putra mengeram lalu mengusap wajahnya.
"Dia gangguin kamu lagi?" Atiqah tersentak dengan suara tiba-tiba Ardi dari balik tembok dekat tangga. Ardi beralasan pergi ke toilet pada dua pengawalnya. Ardi hanya ingin menemui Atiqah, kekasihnya.
Ardi melihat Putra dan Atiqah berbicara di dalam kelas. Kedua tangannya mengepal, Ardi emosi dan ingin sekali memukul Putra. Tapi ia sadar, saat ini mereka masih berada di lingkungan sekolah.
"Ngagetin tau gak?! dia cuma bilang maaf. Yaudah, aku mau ke kantin. Jaga jarak! entar bodyguard kamu liat" mendorong Ardi menjauh.
"Aku kangen" menahan tangan Atiqah.
"Gak usah aneh-aneh, banyak yang ngeliat. Aku duluan" melepas genggaman tangan Ardi lalu turun ke lantai dasar, menuju kantin.
Ardi merana. Ia rindu tapi Atiqah justru acuh.
*****
Putra kembali menahan Atiqah saat di lobby sekolah. Ardi menahan pengawalnya yang sudah akan menginjak pedal gas.
"Tunggu! jangan jalan dulu!". Pengawalnya itu menuruti perintah Ardi. Toh selama ini Ardi kooperatif dan tidak berbuat diluar batas. Selama tidak menyebabkan mereka dimarahi oleh Tuan Besar, mereka menuruti apa perintah Ardi.
__ADS_1
"Apa lagi sih? aku tadi udah bilang, aku udah maafin kamu. Mau apa lagi Putra?" seperti kembali hilang akal, Putra menarik Atiqah masuk kembali ke dalam sekolah. Menyeret Atiqah ke ruangan kosong di pojok kelas.
"Lepas Putra! kamu mau apa lagi? jangan macam-macam!" Atiqah meronta, mencoba melepaskan genggaman kuat ditangannya.
Brakk...
"Emphhh..." Putra mendorong dan mengunci dua tangan Atiqah. Mencium bibir temannya itu dengan brutal. Putra ingin memperbaiki hubungan pertemanannya tapi justru yang ia dapatkan adalah penolakan Atiqah.
Putra menggigit bibir bawah Atiqah sampai terluka. Satu tangan Putra berhasil mengangkat rok. Atiqah membalas gigitan Putra. Hanya cara itu yang bisa ia lakukan agar Putra berhenti melecehkannya.
"Aw...." Putra melepas ciumannya, memegangi bibirnya yang berdarah. Atiqah mencoba kabur tapi Putra menarik rambutnya sampai tubuhnya terhuyung ke belakang.
Brakk...Atiqah terjatuh. Putra menarik kerah Atiqah dan siap membuka paksa baju seragam putih itu. Atiqah meludahi wajah Putra. Putra geram dan langsung meninju Atiqah. Mata kiri Atiqah lebam, membiru.
Kepalanya terasa berputar, pandangannya kabur. Kesempatan untuk Putra karena Atiqah sudah tak berdaya. Saat tangannya akan kembali membuka baju, Ardi menarik bahu Putra lalu meninju berkali kali.
Ardi dan Putra terlibat perkelahian sengit. Berguling-guling di lantai lorong sekolah. Tak tau keberadaan satpam sekolah yang entah kemana. Pengawal Ardipun masih stay di parkiran. Ardi menyuruh mereka untuk menunggu sebentar. Ardi beralasan akan ke toilet.
Keributan yang terjadi terdengar sampai ke ruang guru. Ternyata masih ada beberapa guru disana.
"Pak Musri...itu--itu" Bu Maya menunjuk ke arah pojokan.
"Saya urus ini, bu Maya yang kesana" Pak Musri menarik bahu Putra yang sedang duduk diatas perut, meninju Ardi.
"Tapi pak..." bu Maya ragu-ragu, ia takut mendekati sosok yang tergeletak itu. Pak Musri tak menghiraukan rekannya, ia masih terus berusaha menarik Putra.
"Saya bilang berhenti!" menarik kuat baju lalu menampar pipi Putra. Pak Musri geram karena tidak ada yang mau mengalah.
Ardi terkapar, begitu juga dengan Putra. Sedangkan bu Maya histeris melihat Atiqah pingsan.
"Pak...ini Atiqah" bu Maya berteriak pada pak Musri. Guru laki-laki itu jelas terkejut.
"Kalian disini, jangan bergerak! jangan berantem lagi! kalian harus jelasin ke saya nanti! ingat itu!!" menunjuk-nunjuk wajah Putra dan Ardi yang masih terkulai di lantai.
Bu Lia, Pak Imron dan dua pengawal Ardi berlarian masuk ke dalam sekolah. Melihat Tuannya yang terkapar dengan luka lebam di wajah, kedua pengawal itu memapah Ardi.
__ADS_1
"Atiqah...Atiqah...aku mau dia dibawa ke rumah sakit, sama-sama" ucap Ardi lemah kepada kedua pengawalnya.
"Tapi Tuan..." Ardi kesal lalu mendorong, berjalan sempoyongan ke arah Atiqah yang akan digendong oleh pak Musri.
"Pak...Pak Musri, biar saya yang bawa Atiqah ke rumah sakit. Bapak urus saja Putra. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia yang udah bikin Atiqah kayak gini" Ardi masih geram. Melihat Atiqah tak berdaya.
"Hah?? Putra? oke...tapi dia dibawa ke rumah sakit juga" Pak Musri menatap Putra yang sekarang di papah pak Imron.
"Terserah bapak aja" Ardi kembali di papah ke luar sekolah, menuju mobilnya. Pak Musri menggendong Atiqah dibantu Bu Lia dan Bu Maya.
"Beberapa minggu yang lalu kaya gini juga pak. Ini biang keroknya gak kapok juga" celetuk pak Imron pada Pak Musri sambil memapah Putra masuk ke dalam mobil sekolah.
"Kenapa pak Imron gak laporan sama pihak sekolah?" tanyanya.
"Kata mas Ardi, dia yang urus semuanya. Jadi saya diam" Pak Imron mengatakan hal sejujurnya.
"Bisa tamat riwayatnya, bentar lagi ujian kenaikan kelas. Mau jadi apa kamu Putra?!" pak Musri menggelengkan kepalanya, masuk ke dalam mobil sekolah bersama bu Lia dan bu Maya juga Putra ke rumah sakit. Mengikuti mobil Ardi dari belakang.
Ardi dengan lemahnya memangku Atiqah yang masih pingsan. Menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah. "Gini akibatnya...kalian ngehalangin aku buat deket sama Atiqah. Dia jadi gini! Semua gara-gara kalian dan juga Papa!"
Dua pengawalnya saling melirik. "Maaf Tuan, tapi kami hanya melaksanakan sesuai perintah Tuan Besar".
"Diam!! aku gak butuh jawaban kalian!" Ardi kecewa, menyalahkan Papanya. Dia tidak akan tinggal diam lagi. Dia akan melakukan rencananya sendiri.
Bersambung....
*****
Maaf baru update teman2. Othor habis vaksin, ketambahan ngurus anak2 trus gak mood udahannya. Ini juga nyicilnya lumayan lama. Bener-bener perjuangan buat nyelesein satu bab 😪
Semoga terobati ya. Met malem semua 😊
Jangan lupa rate bintang 5 selalu, buat naikin pamor Atiqah 😁. Kasih like, komen sama giftnya kalo bisa 😄
Terimakasih 🙏
__ADS_1