
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu
Musisi jalanan mulai beraksi
Merintih sendiri
Ditelan deru
~Kla Project~
Lagu khas tentang kota Jogja mengalun merdu di dalam mobil sedan mewah yang menjemput Ardi, Atiqah dan Lala. Ardi duduk di samping asisten kakeknya yang bernama Guntur. Usianya masih cukup muda, 30 tahun.
"Jadi mas Guntur gantiin bapaknya?" Lala tertarik saat pertama kali bertemu tadi di bandara. Asisten Subroto yang perawakan dan parasnya khas laki-laki jawa tulen mampu membuat Lala kesemsem.
"Inggih mbak...leres (iya mba, benar)" suaranya terdengar merdu. Lala mencondongkan tubuhnya ke sela-sela baris depan, memiringkan kepalanya ke arah kanan dimana Guntur sedang menyetir.
"Ya ampun Lala" Atiqah berdecih melihat tingkah sahabatnya.
"Ssttt..." meletakkan jari telunjuknya ke bibir.
"Dari pada gitu kepalamu sakit, mending kamu pindah depan aja La. Biar aku sama Atiqah dibelakang" Ardi risih dengan ulah sahabat kekasihnya. Sekaligus aji mumpung bisa duduk berdekatan dengan Atiqah.
"Emang boleh? serius nih? mau...mau. Mas Guntur stop dulu. Iya, minggir dulu di situ" titah Lala. Ardi bersorak dalam hati.
Atiqah memutar matanya jengah, berbeda dengan Ardi dan Lala. Keduanya sama-sama senang.
"Yang..." panggilan Ardi dengan berbisik ditelinga kekasihnya. Atiqah mendorong Ardi agar tidak dekat-dekat. Tak sengaja Atiqah bersitatap dengan Guntur dari spion tengah lalu sama-sama mengalihkan pandangan. Atiqah sungkan dengan asisten kakek Ardi.
"Jangan ganggu. Aku ngantuk" Atiqah beralasan. Menyandarkan kepalanya ke kepala kursi.
"Nyender di bahuku aja sini" Ardi menawarkan bahunya, Atiqah menolak secara halus. "Kamu juga capek, istirahat ya?!" Atiqah menepuk-nepuk punggung tangan Ardi, sambil memejamkan mata. Memang Atiqah merasa lelah, ingin segera sampai lalu merebahkan tubuhnya.
Rindu kasur 😩😩😩. batin Atiqah.
Guntur yang ramah selalu menjawab semua pertanyaan Lala. Dari makanan kesukaan, hobi, hari lahir dan juga berujung ke primbon.
"Wah mas Guntur emang lelaki jawa tulen --memberikan dua jempolnya-- semua tau soal Jogja. Ah aku makin suka jadinya. Eh..." Guntur mengernyitkan alis.
__ADS_1
"Maksudnya suka sama kota Jogja mas, hehehe" Lala tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang memang gatal karna sudah dua hari tidak keramas. Ardi mencibir tapi Atiqah tidak perduli dengan ulah sahabatnya yang sedang ingin mengenal jauh seorang Guntur. Tetap memejamkan mata.
Ponsel Guntur berdering. "Halo eyang"
"......."
"Inggih eyang, sampun (iya eyang, sudah). Sudah hampir sampai"
"......."
"Inggih eyang" Guntur memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Eyang ngomong apa mas?" tanya Ardi, tangannya sedang menggenggam tangan kiri Atiqah yang masih tertidur.
"Eyang tanya sudah ketemu sama mas Ardi belum. Saya jawab sudah. Kata eyang makan malam sudah siap" terang Guntur sambil sesekali menoleh ke spion tengah berbicara pada Ardi.
"Oh..."
Mobil melaju membelah jalanan kota Jogja. Ardi ingat jelas rumah eyangnya berada di atas kota di daerah jalan Kaliurang kabupaten Sleman.
"Wah kita naik ini mas? rumah eyang Subroto di atas? dingin dong ya?" Lala terus mengoceh didepan. Guntur dengan ramahnya menjawab semua pertanyaan Lala tanpa terkecuali.
"Inggih mbak Lala. Kalau sudah malam begini sama besok pagi hawanya dingin. Beda sekali dengan di ibu kota" jawab Guntur lalu mencuri lihat ke arah baris belakang dimana Atiqah yang masih tertidur dengan sandaran di bahu kanan Ardi. Ardi merangkulnya, mengecupi puncak kepala Atiqah.
"Mas Guntur fokus aja ke depan" sindir Ardi. Ia tahu Guntur mengamati dari awal menjemput tadi.
"Baik mas"
Lala yang tidak mengerti kembali berceloteh. "Dari tadi emang fokus nyetir. Kak Ardi aja yang mesra-mesraan terus sama Atiqah. Untung ada mas Guntur, aku gak jadi nyamuk" mengusap lengan Guntur sambil tersenyum manis.
Ardi menendang kursi belakang Lala. "Iya iya maaf kak Ardi. Aku diem" menggerakkan jarinya tanda mengunci mulut.
"Bagus..." masih menciumi puncak kepala Atiqah. Atiqah menggeliat lalu memeluk pinggang Ardi, mencari tempat ternyaman. Tanpa ia sadar ada Lala dan Guntur.
"Sssttt..." Lala memberi kode pada Guntur untuk tetap diam dan kembali fokus menyetir.
Gerbang besar tinggi berbahan kayu dan besi berwarna hitam terbuka setelah Guntur membunyikan klakson mobil. Lala terperangah melihat rumah kakek Ardi yang begitu besar dan luas, meski hanya satu lantai. Halaman hijau dengan rindangnya pepohonan menyambut mereka.
Ardi berdecih mendengar ocehan Lala. Sedangkan Guntur terus tersenyum. Lala yang manis juga ekspresif.
"Yang...bangun. Kita udah sampe" mengusap pipi.
"Hemm" Atiqah hanya bergumam dan menggerak-gerakan kepalanya, mengendus aroma tubuh Ardi.
"Yang...jangan disini. Entar aja dikamar" bisik Ardi. Beruntung Lala dan Guntur sudah keluar dari mobil, sibuk menurunkan barang-barang.
"Hah??" Atiqah membuka matanya tepat saat kepalanya menengadah ke wajah Ardi. Kesempatan kecil yang tak boleh terlewatkan, pikir Ardi. Ia membenamkan bibirnya, menahan belakang kepala Atiqah yang mencoba menghindar. ********** dengan cepat.
tok...tok...tok
"Gak turun?" teriakan Lala membuyarkan ciuman Ardi pada Atiqah.
"Kalo eyang liat gimana? kamu curi-curi kesempatan" Atiqah kesal lalu membuka pintu mobil.
"Lama banget, ngapain sih?" Lala menarik tangan Atiqah.
"Aku masih tidur tadi. Ngantuk banget La" berdusta, sambil melirik Ardi yang juga turun.
"Silahkan masuk mas, mbak" Guntur membuka pintu dan membantu membawakan barang-barang.
"Eyang dimana?" tanya Ardi berjalan melewati lorong yang kanan kirinya terdapat kolam ikan. Rumah itu lebih mirip dengan sebuah vila tradisional yang asri.
"Ada diruang makan mas" jawab Guntur masih terus berjalan lalu menuruni beberapa anak tangga. Ruang makan yang terdapat di sebuah pendopo cukup besar. Di sisi kirinya dapur bersih terbuka bergaya industrial.
"Eyang..." memeluk Subroto yang sudah berdiri menyambut Ardi, Atiqah dan Lala.
"Duduk...duduk. Makan malam sudah siap, ayo langsung makan" ucap Subroto.
"Mas Guntur gak gabung?" celetuk Lala saat melihat Guntur akan berbalik entah mau pergi kemana.
__ADS_1
"Hah? em..maaf. Saya mau ke belakang dulu mbak" Guntur menundukkan kepalanya berpamitan.
"Makan sini dulu Gun. Urusan belakang biar diurus nanti" ucap Subroto sambil menggerakkan tangan agar Guntur ikut bergabung.
"Inggih eyang" Guntur patuh.
Saat akan menarik kursi di sebelah Atiqah, Ardi tidak suka. "Mas Guntur di sebelah Lala" tunjuk Ardi pada Lala dengan nada ketus. Subroto tertawa lirih melihat kekonyolan cucunya. Ardi cemburu karena mendapati Guntur mencuri pandang pada kekasihnya.
"Baik mas" Guntur memutari meja, duduk di sebelah Lala.
Yes...kak Ardi emang pro banget sama aku. Kalo gini kan aku jadi seneng. Batin Lala bersorak gembira.
Menu makan malam masakan khas jogja tersedia di atas meja makan. Dari cok genem, sambel krecek dan juga gudeg.
"Eyang, aku baru pertama kali makan ini. Ini apa namanya?" tanya Lala yang tidak malu-malu dan apa adanya itu.
"Ini namanya cok genem. Ini makanan favoritnya raja. Olahan daging sapi giling" jawab Subroto.
"Rasanya unik, enak banget" Lala memasukkan satu bulatan daging lalu mengunyahnya.
"Pelan-pelan La" Atiqah memperhatikan sahabatnya yang makan dengan lahap.
"Atiqah suka ndak?" Subroto mengalihkan pandangannya dari Lala ke Atiqah.
"Suka eyang" menganggukan kepala.
"Makan yang banyak" ucap Subroto lagi.
"Ardi gak ditanyain?" ledek Ardi pada kakeknya.
"Kamu sudah sering makan makanan ini. Wes dihabiskan terus istirahat" titah Subroto.
Ardi berjalan dibelakang Atiqah dan Lala, Sedangkan Guntur berjalan di depan menunjukkan dimana kamar Lala dan Atiqah.
"Wow, ini sih bukan kamar. Ini rumah" Lala masuk ke dalam paviliun yang terletak di seberang kolam renang, bersebrangan dengan kamar Ardi dan Guntur. Ya, Guntur memang tinggal dirumah Subroto. Memudahkannya mengurusi segala keperluan Tuan Besar.
"Biasanya Mama Papa, kak Melda juga kak Rian tidur di paviliun ini. Kamu bebas pilih kamar mana" ucap Ardi di samping Atiqah. Tangannya berusaha mnerangkul pinggang tapi Atiqah selalu bergeser, Guntur memilih diam.
"Kalo gitu, aku pilih kamar yang ini. Kamu yang itu aja Atiq. Aku masuk dulu ya, bye mas Guntur..." Lala masuk ke dalam kamarnya sambil mendorong koper miliknya.
"Ehem...mas Guntur balik aja ke kamar, aku bantuin Atiqah masukin koper" Ardi mengusir secara halus asisten kakeknya itu.
"Baik Mas...saya permisi. Selamat istirahat" Guntur menganggukan kepala pada Ardi lalu menatap Atiqah dan pergi.
"Gak usah diliat terus! aku kesel sama dia. Curi kesempatan liatin kamu dari awal di bandara tadi" menarik Atiqah masuk ke dalam kamar.
"Hah? itu cuma pikiran buruk kamu aja. Mas Guntur baik gitu kok. Ramah" sambil berjalan masuk mengikuti Ardi.
"Kopernya aku taruh disini. Oh iya, ini buat kamu. Jangan lupa besok malem pake ya Yang" mengedipkan satu matanya, merangkul pinggang Atiqah. Merapatkan tubuhnya.
"Ardi...jangan macem-macem! Ini rumah Eyang" Atiqah menahan dada Ardi yang terus mencondongkan tubuhnya.
"Makanya nurut sama aku. Pakai baju itu besok malam. Jangan tidur dulu, tunggu aku!" memiringkan kepala, menekan punggung Atiqah, kembali mendaratkan bibirnya.
Ardi mencium Atiqah lama dan dalam. Memiringkan kepalanya ke kanan lalu berpindah ke kiri. Deru nafas keduanya saling beradu.
"Aku tunggu besok malam" mengusap bibir bawah Atiqah dengan jempolnya.
Atiqah masih terpaku melihat isi paperbag yang Ardi berikan. Dua set pakaian seksi dari outlet Mall kemarin.
Ardi keluar dari paviliun memutari kolam untuk sampai di depan kamar. Raut wajahnya cerah, tak sabar menanti esok malam.
Bersambung...
*****
Ah kangen Jogja 😍😍😍 aku kasih panjang bab ini. 1500an kata. Jarang-jarang 😁😁😁
Guys jangan lupa rate bintang 5nya ya, like, komen juga giftnya.
__ADS_1
Thankyou 🙏