
Ponsel Sigit bergetar dalam sakunya. Ia sedang duduk bersama Anne di meja bundar khusus keluarga. Atiqah dan Ardi sedang meracik bumbu rujak. Acara tujuh bulanan sudah hampir pada akhir acara.
"Ada telfon dari Bowo," ucap Sigit pada Anne lalu pergi masuk ke dalam rumah.
Sigit menoleh ke kanan dan kiri, melihat situasi di sekitar. Dirasa aman, Sigit mengangkat panggilan itu.
"Halo sayang," sapanya pertama kali.
"Mas, sampai kapan di Jogja?," tanya seseorang dari sebrang sana.
"Besok Mas sudah pulang. Mas langsung ke rumah. Inara masih demam?" ucap Sigit pada Priska lewat sambungan telefon.
"Janji ya Mas. Kasian Inara panggil-panggil kamu terus," ucap Priska, wanita simpanan Sigit yang pertama. Si Barista Kopi.
"Iya, Mas janji. Yaudah, masih banyak keluarga. Acara belum selesai, nanti mereka curiga," ucap Sigit dengan suara lirih seperti berbisik.
"Beneran ya mas nggak lama di Jogja? aku sebenernya marah sama Mas. Acara 7 bulanan menantu dibela-belain banget datang. Padahal Inara udah pengen ketemu Mas dari minggu lalu," Priska merajuk.
"Beneran Mas janji. Udah ya, Mas mau ke depan dulu. Nanti malam kalau ada waktu, Mas telfon kamu lagi," janji Sigit. Ia mematikan telefonnya lalu kembali ke halaman depan. Tanpa sadar, Subroto mendengar semua.
"Tur, telfonono Bimo (Guntur, telfonkan Bimo)," titah Subroto setelah dirinya baru saja kembali dari dalam. Subroto melirik Sigit.
"Mas Bimo? untuk apa Eyang?" tanya Guntur merasa heran. Bimo adalah orang kepercayaannya di Jakarta.
"Wes pokoke telfonken saiki (Sudah pokoknya telfonkan sekarang)," titah Subroto lagi. Guntur merogoh ponselnya dari dalam saku celana.
Guntur menghubungi Bimo. Pada dering pertama, laki-laki yang usianya lebih tua 3 tahun dari Guntur itu menjawab panggilannya.
"Halo Mas Bimo ... pripun kabare sampean? (Bagaimana kabarmu?)," sapa Guntur.
"Kabarku apik. Piye? ono opo? tumben kowe nelfon aku (Kabarku baik. Gimana? ada apa? tumben kamu telfon aku)," tanya Bimo heran.
"Iki Mas, Eyang mau ngomong sama sampeyan," ujar Guntur lalu memberikan ponselnya pada Subroto.
"Monggoh Eyang (Silahkan Eyang)," Subroto menerima ponsel Guntur lalu menempelkannya pada telinga kanan, berjalan menjauh dari meja Sigit dan Anne berada.
"Mo, kowe kan wes suwe ning perusahaanku. Kowe pasti ngerti ono opo wae ning kono. Laporken saiki, aku arep ngerti. Ojo ngapusi (Bimo, kamu kan sudah lama di perusahaanku. Kamu pasti tau ada apa saja di sana. Laporkan sekarang, aku mau tahu. Jangan berbohong)," ucap Subroto, nadanya pelan tapi penuh dengan penekanan.
__ADS_1
"Kulo mboten ngertos menopo-menopo. Saestu ... kulo mboten ngapusi. Sedoyo sae sae mawon, Eyang (Saya tidak tahu apa-apa. Benar ... saya tidak berbohong. Semua baik-baik saja, Eyang)," ucapan Bimo terdengar serius, apa adanya, tidak terbata.
"Tak cekel omonganmu. Nek nganti kowe ngapusi, ra bakal suwe kowe ning perusahaanku. Dong? (Aku pegang omonganmu. Kalau sampai kamu bohong, nggak akan lama kamu di perusahaanku. Paham?)," Subroto kesal pada Bimo. Pasalnya Bimo sudah dipercaya untuk menjadi mata-mata di perusahaan Danurdara. Segala gerak gerik Sigit dan seluruh direksi, semua dipercayakan pada Bimo.
Dengan jelas Subroto mendengar suara Sigit yang sedang berbicara dengan seorang wanita lewat sambungan telefon tadi. Tapi Bimo justru mengatakan semua baik-baik saja. Subroto tidak dengan mudah percaya.
"Ampun Eyang ... saestu kulo mboten ngapusi. Eyang sakedahipun pitados kulo. (ampun Eyang ... benar saya tidak berbohong. Eyang harus percaya saya)," Bimo berusaha meyakinkan Subroto.
"Ora susah kokehan omong (nggak perlu banyak bicara)," Subroto mematikan telfon itu. Rasanya sungguh kesal.
"Sampun Eyang? (sudah Eyang?)," tanya Guntur saat menerima ponselnya. Terlihat jelas Subroto tidak puas dengan jawaban Bimo.
"Wes ... mangkel aku. Bimo wes ora iso dipercoyo (Sudah .... jengkel aku. Bimo sudah tidak bisa dipercaya)," jawab Subroto pergi berlalu, menghampiri Ardi dan Atiqah yang sudah bersiap memotong tumpeng.
Mulai saat itu, Subroto terus memikirkan nasib perusahaannya. Putranya sendiri bermain api. Bisa-bisa perusahaannya bangkrut jika Sigit berfoya-foya. Untuk apa lagi wanita menjalin hubungan dengan seorang pria kaya beristri, kalau bukan harta.
Subroto mendapati Bimo menerima sejumlah uang cukup besar dari Sigit dan direksi-direksi disana. Jantungnya berpacu cepat, rasa kesalnya memuncak.
"Mbok ... mbok," Subroto memanggil Mbok Jum dari ruang tengah. Hari itu ia tidak kemana-mana. Atiqah sedang pergi bersama Guntur membeli kekurangan perlengkapan bayi di Mall. Kehamilannya sudah menginjak sembilan bulan.
"Inggih Eyang ..." Mbok Jum berlari dari arah dapur.
"Pelan-pelan --memegangi gelas, membantu Subroto meminum obatnya-- Eyang istirahat. Saya bantu ke kamar," mbok Jum memapah Subroto ke kamarnya.
"Suwon yo mbok (Terimakasih mbok)," ucap Subroto setelah berbaring di ranjang besarnya.
"Inggih Eyang," mbok Jum pergi meninggalkan Subroto di kamar agar dapat beristirahat.
Sepeninggal mbok Jum, Subroto beristirahat sebentar lalu tak lama ponselnya berbunyi. Notifikasi pesan dari orang suruhannya.
📩 Mr. X
Selamat sore pak Subroto. Semua laporan sudah saya kirimkan ke email bapak. Silahkan bapak periksa. Semua sesuai dengan kejadian di lapangan.
Pesan itu langsung dibaca Subroto. Ia segera turun dari ranjang menuju meja di sudut kamar. Laptopnya ada di atas meja.
Subroto duduk lalu menekan tombol power. Laptop menyala dalam hitungan detik. Ia langsung membuka email lalu menelitinya satu per satu.
__ADS_1
File-file berisi keterangan tentang wanita simpanan Sigit dan juga bukti transfer setiap harinya yang jumlahnya sangat besar.
Subroto memijat keningnya, saat tahu Sigit memiliki beberapa anak dari wanita-wanita simpanannya.
"Wong gendeng! A*su," Subroto mengumpat. Meraih gelas berisi air mineral. Kepalanya terasa ingin meledak.
Lalu Subroto membuka layar ponselnya.
"Halo, sudah saya buka semua. Kerja anda bagus. Saya transfer sekarang juga untuk sisanya plus bonus. Terimakasih banyak," ucap Subroto pada Mr. X dari sambungan telefon.
"Sama-sama pak. Saya siap membantu bapak. Kapan pun saya bisa," jawab Mr.X.
Subroto mengakhiri telefonnya lalu beranjak ke kamar mandi. Saat akan keluar tiba-tiba kepalanya terasa berputar dan menggelap. Dan kejadian itu terjadi, Subroto pingsan.
Mbok Jum mendengar suara benda jatuh cukup keras, ia mencari ke semua sudut rumah lalu ia baru teringat soal Subroto yang tadi tiba-tiba sakit dan meminta obat.
"Mang ... Mang ..." mbok Jum berlari keluar dari kamar Subroto. Memanggil dua penjaga yang berada di pos depan.
"Ono opo mbok? (ada apa mbok?)," tanya salah satu penjaga.
"Eyang tibo ning kamar mandi. Ewangi aku, cepet! (Eyang jatuh di kamar mandi. Bantu aku, cepat!)," seru mbok Jum. Mereka langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Di lain tempat, Atiqah dan Guntur sedang makan Tengkleng Gajah.
"Mbak sebentar, ada telfon dari rumah," Guntur menyeka tangannya dengan tisu lalu mengangkat telfon itu.
"Halo ..." sapanya.
"Tur, Eyang ... Eyang" suara mbok Jum bergetar.
"Ono opo mbok? (ada apa mbok?) Eyang kenapa?" tanya Guntur, ia panik tapi mencoba tenang. Atiqah meletakkan tulang yang tadi sedang di sesapnya.
"Eyang tibo neng kamar mandi. Semaput. Cepet mulih saiki! (Eyang jatuh di kamar mandi. Pingsan. Cepat pulang sekarang!)" ujar mbok Jum. Guntur menegakkan badannya lalu ikut membantu Atiqah berdiri.
"Mbok, telfon dokter. Aku pulang sekarang," Guntur langsung mematikan telfonnya.
"Apa mas? kenapa Eyang?" Atiqah memegang tangan Guntur, mengikuti langkah kaki perlahan menuruni anak tangga saung.
__ADS_1
"Eyang pingsan mbak. Jatuh di kamar mandi. Kita pulang sekarang nggak papa ya?" pertanyaan bodoh Guntur. Sudah jelas Atiqah akan pulang. Pria tua yang sudah dianggapnya seperti kakeknya sendiri, tidak mungkin Atiqah tidak khawatir.
Bersambung...