
Kemarin saat Atiqah dan Lala sedang didapur bersama mbok Jum, Ardi mengendap-endap masuk ke kamar Atiqah. Meletakkan beberapa kamera kecil di tempat-tempat yang tidak dapat Atiqah duga dan tak terlihat. Dan malamnya, Ardi melancarkan rencananya, memberi obat tidur pada minuman Lala.
"Astaga..." Atiqah terkejut saat membuka pintu kamar. Pagi itu dia akan ke perkebunan bersama Lala. Atiqah baru saja keluar dari kamar sahabatnya untuk berganti pakaian.
"Kamu sengaja tidur di kamar Lala?" Ardi yang tadinya duduk di sofa menatapnya tajam, bangkit mendekati Atiqah. Seperti ada paku yang menancap kakinya, ia tak bisa bergerak. Berdiri mematung saking takutnya Ardi marah.
"Jawab Atiqah!" menarik pinggang, meraba dahi lalu turun ke pipi, menyingkirkan helaian rambut ke arah kiri lalu menggigit leher Atiqah. Jeritan lirih terdengar.
"Aku...Lala yang minta aku tidur di kamarnya. Maaf" Atiqah memejamkan mata saat tangan Ardi bermain puncak dadanya. Mengatupkan mulutnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara.
"Jangan bohong sama aku!" mencengkeram belakang kepala kekasihnya.
"Sakit Ardi...Maaf, aku minta maaf. Nanti malam aku janji tidur di kamar. Emm...kasih aku waktu untuk istirahat. Itu aku masih sakit" Atiqah menghiba, memohon pada Ardi.
"Oke, aku kasih kamu waktu buat istirahat. Tapi nanti malem aku tidur disini sama kamu" Atiqah mengangguk.
"Iya...iya"
"Atiqah...udah belum? ayok buruan ke kebon. Entar keburu siang" teriak Lala dari ruang santai.
"Iya...bentar La. Aku lagi ganti baju" jawab Atiqah dengan teriakan juga. Ardi mengangkat baju tidur Atiqah sampai melewati kepala.
"Ardi! Aku udah ditunggu Lala" Ardi mencumbunya lagi. Membenamkan lidahnya bermain-main di puncak dadanya.
"Aku pengen Yang. Main cepet ya?" Ardi membopong Atiqah masuk ke dalam kamar mandi.
"Ardi. Ta-di ka-mu bi-lang ka-sih a-ku waktu istirahat. Ta-pi..." Ardi sudah melesakkan miliknya setelah membasahi inti tubuh Atiqah.
Memojokkan Atiqah ke tembok, melilitkan satu kaki ke pinggangnya. Memompa dengan gerakan cepat sambil menciumi leher jenjang Atiqah.
"Emm...Ardi. Ardi. Aku"
"Lepasin aja Yang, aku juga bentar lagi"
Keduanya berebutan mengambil nafas setelah pelepasan pagi ini mereka rasakan kembali. Ardi luar biasa, batin Atiqah. Kemarin sudah menggempurnya berkali-kali tapi hari ini lagi. Atiqah menarik Ardi, menciumnya cukup lama. Ardi sudah pasti senang mendapati Atiqah berinisiatif terlebih dulu.
"Atiqah..." tok tok tok. Lala mengetuk pintu kamar mandi. Ciuman itu berakhir karna suara Lala tepat didepan pintu.
"Iya La...perutku sakit. Bentar ya. Maaf" Atiqah menutup mulutnya saat akan menjerit, karna Ardi mengecup punggungnya.
"Makan apa sih sampe sakit gitu? yaudah, jangan lama-lama" suara pintu kamar ditutup.
"Ardi...udah. Lala udah nungguin" Ardi masih menciuminya.
__ADS_1
"Aku masih pengen Yang. Kita dikamar aja ya? biarin Lala nungguin. Entar juga ketiduran dia" Ardi mencium puncak dada dan menye*sapnya.
Atiqah merasakan desakan itu lagi. Ardi membawanya keluar kamar mandi, merebahkan Atiqah ke atas kasur. "Sstt...diam" Ardi berjalan perlahan lalu memutar kunci kamar.
"Aku capek" Atiqah merengek.
"Bentar aja Yang. Pegang!" menarik tangan Atiqah, mengusap miliknya yang sudah menegak.
Ardi membuka kaki Atiqah, melilitkannya ke pinggang. "Peluk" ucap Atiqah. Rasanya ia saat ini mulai gila karena menikmati apa yang Ardi lakukan. Mau bagaimana lagi, tubuhnya sudah jadi tawanan seorang Ardi. Toh Ardi sangat mencintainya.
Ardi memeluk Atiqah erat dan langsung bergerak. Membungkam bibir kekasihnya agar tidak terdengar pekikan.
"Suka Yang?" Atiqah menjawabnya dengan bergumam. Rasanya ingin meledak lagi.
Ardi mengusap perut Atiqah, mencium kening lalu menghempaskan tubuhnya ke samping. Menarik selimut, kembali tidur. Dan Lala tertidur dikamarnya, menunggu Atiqah yang tidak juga keluar kamar.
*****
Lala kesal dengan Atiqah, menggedor kamar sahabatnya itu. Keduanya yang masih terlelap berpelukan tanpa mengenakan apapun terlonjak dari atas kasur.
"Lala...Lala. Gimana ini?"
"Pakai baju. Aku ke kamar mandi" Ardi lari terbirit birit ke kamar mandi, sedangkan Atiqah mencomot pakaiannya yang berserakan.
"Aw...sakit banget" Atiqah berjalan terpincang.
"Atiqah, ya ampun...aku tungguin sampe ketiduran. Kamu tidur?" Atiqah meringis sambil mengangguk.
"Maaf La. Perutku sakit banget, jadi tadi aku istirahat. Kayaknya mau dapet deh" memang perutnya terasa sakit.
"Yaudah deh...lagian udah siang. Panas" Lala duduk di sofa. "Kamu ngapain berdiri terus? katanya sakit" Atiqah bingung kenapa Lala malah duduk.
"Emm..La, aku minta tolong. Bilangin ke mbok Jum bikinin bubur buat aku. Perutku beneran sakit" perutnya tiba-tiba merasakan nyeri dan keram.
"Hah?? perutmu sakit banget? --Atiqah mengangguk sambil memegangi perut, Lala memapahnya ke kasur-- oke oke...kamu tiduran lagi aja. Aku ke dapur dulu" Lala berlari keluar kamar. Ardi mengintip dari balik pintu kamar mandi, melihat keadaan aman ia keluar.
"Yang...kamu beneran sakit?" Ardi melihat Atiqah yang meringkuk.
"Iya...sakit banget" keringat mengucur di dahinya.
"Kamu demam. Aku panggilin dokter keluarga ya" Ardi kembali ke kamarnya, mengambil ponsel menghubungi dokter keluarga.
"Sabar Yang, bentar lagi dokter Amel dateng" menyeka peluh yang bercucuran.
__ADS_1
Lala datang membawa bubur bersamaan dengan dokter Amel. Lala bergumam dalam hati, siapa yang memanggil dokter. Setaunya tadi hanya mereka berdua didalam paviliun.
"Ini buburnya" Lala meletakkan bubur ke atas nakas di samping kasur.
"Kalian tunggu di luar" dokter Amel berkata pada Ardi dan Lala.
"Baik dok"
Dokter memeriksa kondisi Atiqah. Tatapan mereka bertemu dan terkunci. Seakan tahu apa isi pikiran masing-masing.
"Dok..." ucap Atiqah ingin menanyakan sakit apa dia.
"Berapa usia kamu?" dokter Amel hanya memastikan dugaannya.
"16 tahun dok, bulan depan 17" jawaban Atiqah disambut dengan gelengan kepala dokter itu.
"Kamu masih sangat muda. Lalu kenapa melakukan hubungan **** dini? dengan Ardi?" Atiqah diam.
"Kamu diam artinya ucapan saya benar. Kamu tau apa yang kamu lakukan ini salah dan berbahaya?" Atiqah mengangguk.
"Bagaimana kalau terjadi infeksi atau parahnya kamu hamil? masa depan kamu? sudah pasti berantakan. Saya mohon jangan ulangi lagi. Hamil di usia muda sangat beresiko. Ngerti?" Atiqah kembali mengangguk.
"Oke...saya harap kamu benar-benar melakukan apa yang saya katakan tadi. Jaga diri dan ingat orangtua. Mereka akan sedih melihat putrinya seperti ini" Atiqah diam, air matanya menggenang.
"Ini resep obat yang harus ditebus di apotik. Berikan pada Ardi. Saya permisi" dokter Amel mengangkat tasnya lalu pergi keluar.
"Bagaimana dok?" tanya Ardi sambil berjalan mengantar dokter Amel ke halaman depan.
"Anak nakal! gimana kalau eyang tau? gimana kalau tante sama om juga tau? kamu gak bisa sebebas itu berhubungan ****. Kamu masih muda. Kamu calon pewaris keluarga. Kalau dia sampai hamil, masa depanmu hancur" dokter Amel kesal. Baginya Ardi sudah seperti seorang adik.
"Aku bakal tanggung jawab. Aku nikahin Atiqah" jawab Ardi santai.
"Bodoh!! gak sesimple itu Ardi. Apa yang kamu rasain sekarang itu bukan cinta tapi ***** karena jiwa remajamu sedang berapi-api. Bukan hanya masa depanmu tapi masa depan pacarmu itu juga akan kacau. Hamil, melahirkan lalu merawat bayi tidak semudah itu Ardi. Sangat sulit" Ardi memang sangat sulit untuk diberi pengertian.
"Aku bisa urus semuanya. Dokter hanya cukup diam, jangan sampai semua tau apa yang terjadi hari ini" Ardi membukakan pintu mobil dokter Amel. Mengusirnya secara halus.
Bersambung...
*****
Kalau diomongin begini nih, bebal.
Yowes rate bintang 5nya jangan lupa. Like, komen juga giftnya ya 😘
__ADS_1
Matur nuwun 🙏🙏🙏