
Atiqah mengantar Ardi sampai di bandara. Sepanjang perjalanan ia menangis. Entah kenapa Atiqah berubah menjadi manja dan sensitif.
"Udah dong Yang ... jangan nangis terus. Empat bulan lagi aku kesini" Ardi memeluk Atiqah, menepuk-nepuk punggungnya.
"Empat bulan masih lama" ucapnya sambil menangis, menenggelamkan wajahnya ke dada Ardi.
"Enggak, bentar aja. Sabar ya" Ardi terus berusaha menenangkan Atiqah. Subroto dan Guntur diam, memberikan waktu untuk mereka berdua. Sesekali Subroto berdehem. Guntur masih fokus menatap jalan.
Sore itu hujan kembali mengguyur kota Jogja. Guntur kembali teringat suara Atiqah dan Ardi kemarin.
"Tur, ojo ngelamun. Lampu ijo" (Guntur, jangan melamun. Lampu sudah hijau). Subroto menepuk bahu Guntur. Lampu lalu lintas sudah berubah tapi Guntur masih diam.
"Ngapunten Eyang" (maaf Eyang). Guntur menganggukkan kepala dan kembali melajukan mobil.
Sesekali Guntur mencuri pandang ke barisan tengah, terlihat Atiqah bersandar di bahu Ardi.
Ardi berdehem. "Nyetirnya yang fokus mas Guntur".
"Iya Mas" Guntur mengangguk. Guntur tertangkap basah karena ulahnya tadi.
Ardi mengusap rambut Atiqah lalu mengecupi punggung tangan yang digenggamnya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil sedan hitam mewah itu sudah berhenti di depan pintu keberangkatan domestik. Atiqah ikut keluar lalu memeluk erat Ardi.
"Jangan nangis terus --menyeka sudut mata Atiqah-- aku berangkat ya. Baik-baik, jaga kesehatan. Aku sayang kamu" Ardi menangkup wajah Atiqah, mengecup kening lama-lama. Atiqah mengangguk sambil terus menahan tangisannya.
Subroto mendekat. "Wes wes, ojo nangis wae (sudah sudah, jangan menangis terus) --mengusap bahu Atiqah-- masuk, nanti terlambat" Subroto mengibaskan tangannya pada Ardi.
"Yaudah, aku berangkat dulu --memeluk Atiqah sekali lagi-- Ardi berangkat Eyang" beralih mencium punggung tangan kakeknya lalu berjabat tangan dengan Guntur. "Jangan macam-macam sama istriku!" suaranya menekankan dengan tegas.
"Inggih Mas" jawab Guntur.
Ardi melangkah masuk dengan tas ransel hitam di punggungnya. Atiqah tetap setia menunggu Ardi sampai hilang dari pandangannya. Sedangkan Subroto sudah masuk ke dalam mobil bersama Guntur.
__ADS_1
Atiqah menyeka sudut matanya lalu hidungnya yang berair.
"Nduk ... wes to. Reneo mlebu! Ardi wes ra ketok. Ndang muleh" (Nak ... sudahlah. Kesini masuk! Ardi sudah nggak terlihat. Ayo pulang). Ucap Subroto dari jendela mobil yang ia buka.
Atiqah menoleh lalu mengangguk, ia berjalan memutari mobil masuk ke dalam.
"Arep mangan opo cah ayu?" (Mau makan apa anak cantik?). Subroto bertanya pada Atiqah. Ia tahu cucu menantunya itu pasti sudah lapar.
"Atiqah nggak laper Eyang" jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Ojo ngono to nduk (jangan seperti itu nak) ... anakmu butuh asupan makanan. Wes manut karo Eyang (sudah patuh sama Eyang) -- menepuk pundak Guntur-- Maring restorane Gombloh (ke restorannya Gombloh)" perintahnya pada Guntur.
"Inggih Eyang" Guntur mengangguk lalu menginjak pedal gas menuju restoran milik kerabat yang memiliki nama panggilan Gombloh.
Restoran bergaya Jawa sangat kental dan khas. Ornamen serba kayu yang umurnya terlihat tua dan bangunan restoran itu berbentuk pendopo dengan semua sisinya terbuka di kelilingi halaman luas rerumputan hijau, juga pohon-pohon besar.
Udara terasa sejuk setelah hujan berhenti turun. Sore itu sedikit menghibur Atiqah yang sedih ditinggal Ardi kembali ke Jakarta.
"Eyang sowan to. Kalih sinten?" (Rupanya Eyang datang. Dengan siapa?). Tanya seorang perempuan berusia sekitar 45 tahunan berpakaian kebaya dan bawahan jarik.
"Aku mrene karo bojone Ardi (aku kesini dengan istrinya Ardi). Cah ayu, salim sek. Ini Lastri, istri Gombloh" ucap Subroto. Atiqah berdiri mencium punggung tangan wanita itu.
"Garwonipun Ardi? menopo Ardi sampun lulus?" (istrinya Ardi? Apakah Ardi sudah lulus?). Tanya Lastri, menarik kursi duduk disamping Subroto. Bergantian menatap Atiqah juga Subroto. Atiqah menunduk malu ditatap seperti itu.
"Iyo bojone Ardi. Ayu to? (iya istrinya Ardi. Cantik kan?) --mengusap bahu, Atiqah mengangkat wajahnya tersenyum-- Ardi durung lulus, nembe kelas telu. Sek taun ngarep luluse" (Ardi belum lulus, baru kelas tiga. Taun depan lulusnya). Ungkap Subroto. Lastri semakin penasaran dengan perkataan Subroto. Pandangannya beralih lagi ke Atiqah.
"Kolo menopo emah-emah? mboten di pestaaken?" (kapan nikahnya? enggak di rayakan?). Tanya Lastri lagi. Atiqah semakin tersudut.
"Wes to ... aku mrene arep madang. Putuku iki lagi meteng. Wes paham saiki?" (sudah lah. Aku kesini mau makan. Cucuku ini sedang hamil. Sudah paham sekarang?). Ucapan pamungkas Subroto membungkam mulut Lastri yang ingin terus bertanya lebih jauh lagi.
"Oh ... sampun mbobot (oh sudah hamil) -- melirik Atiqah lalu turun ke bawah melihat perut-- Inggih, kulo sampun ngertos Eyang. Kulo ajeng teng wingking rumiyin" (Baiklah, saya sudah mengerti Eyang. Saya mau ke belakang dulu). Lastri menganggukan kepalanya lalu pergi meninggalkan meja dimana Subroto, Atiqah dan Guntur duduk.
Hari mulai merangkak malam. Atiqah baru saja masuk ke dalam kamar. Suasana sepi dan hening. Atiqah duduk di tepi ranjang lalu merogoh dalam tasnya karena getaran ponsel.
__ADS_1
Nama Ardi beserta fotonya muncul di layar. Senyum lebar mengembang, rasa bahagia menyelimuti.
"Halo ... udah sampai ya?" sapa Atiqah setelah menggeser tombol hijau ke kanan.
"Udah, baru aja sampai apartemen. Kamu lagi apa Yang?" tanya Ardi dari seberang sana. Ardi sedang menutup pintu kulkas setelah mengambil botol minum air mineral.
"Baru sampai rumah juga. Tadi mampir dulu ke restoran. Eyang yang ajakin. Kamu udah makan?" tanya Atiqah lagi. Atiqah sudah rindu.
"Udah tadi di bandara. Restoran? Restoran mana?" Ardi menenggak air mineral itu sambil menunggu jawaban Atiqah.
"Nama Restorannya unik, kaya nama orang gitu. Gom ... Gomloh kalau enggak salah" Atiqah sambil mengingat-ingat lagi.
"Restoran Lek Gombloh? kamu kesana? ketemu sama Lek Lastri?" Ardi menebak.
"Iya ... iya bener. Kok kamu tau? tadi ada ibu-ibu gitu namanya Lastri. Aku takut. Ibu itu tanya macam-macam sama Eyang terus ngeliatin aku kaya nggak suka gitu. Aku risih" Atiqah berkeluh kesah pada suaminya.
"Terus dia tau kamu istriku?" Ardi merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
"Iya"
"Wah ... bakal gempar sih ini. Lek Lastri itu anak dari adiknya Eyang. Dia deket sama Mama juga keluarga yang lain" terang Ardi.
"Hah?? pantesan dia syok gitu. Juga jutek sama aku" Atiqah memeluk guling.
"Gak perlu dipikirin. Biar aja semua tau. Kamu fokus sama anak kita aja. Jangan mikir yang lain-lain" nasehat Ardi.
"Iya ... tapi, aku kangen ..." Atiqah kembali ingin menangis. Baru beberapa jam berpisah dengan Ardi, ia sudah rindu.
"Aku juga Yang. Sabar ya? empat bulan sebentar aja kok. Kamu jaga kesehatan. I love you" Ardi memberikan kecupan di layar ponselnya.
"He em ... I love you too"
Bersambung...
__ADS_1