
"Atiqah nggak perlu hadiah Eyang" ucap Atiqah.
"Ora popo nduk. Eyang sing pengen ngekei koe hadiah. Kudu diterimo, ojo di tolak ora elok (Nggak papa nak. Eyang yang mau beri kamu hadiah. Harus diterima, jangan ditolak nggak baik)" tukas Subroto.
Atiqah pasrah. Ardi mengusap punggung istrinya. "Terima aja. Buat kamu".
Atiqah menatap mata Ardi. "Iya" ucapnya.
Percakapan soal hadiah itu sudah berganti dengan pembahasan calon bayi jagoan mereka. Subroto sangat senang. Pasalnya ini adalah cicit pertama baginya. Melda dan Rian yang sudah menikah hampir 3 tahun, belum juga dikaruniai seorang anak. Subroto keinginannya sangat besar walaupun hanya sekedar melihat cicitnya dan mengawasi saat bermain nanti.
"Eyang manut karo koe podo. Sing penting jeneng keluargo Danurdara ojo lali (Eyang ikut sama kalian. Yang terpenting nama keluarga Danurdara jangan lupa)" Subroto menekankan akhir kalimatnya.
"Itu udah pasti Eyang" ucap Ardi sambil menggenggam tangan Atiqah di atas meja.
"Yowes, saiki istirahat. Sesuk siap-siap melu Guntur (yasudah, sekarang istirahat. Besok siap-siap ikut Guntur)" Subroto memundurkan kursinya, bangkit lalu pergi meninggalkan Atiqah, Ardi dan Guntur.
Ardi menggandeng Atiqah masuk ke dalam paviliun, sedangkan Guntur ikut membantu membereskan meja makan.
"Emangnya mau kemana sih besok? aku nggak enak kalau sampe di kasih hadiah segala. Aku ikhlas hamil anak kamu. Ini juga anakku" Atiqah mengusap perutnya.
"Kita liat besok aja. Sekarang, aku mau lihat anakku lagi" Ardi mengangkat daster sampe ke pinggang, memasukkan kepalanya sambil menciumi perut. Atiqah kegelian.
"Tadi udah. Masih kurang? jangan lagi. Aku mau tidur. Kata Eyang tadi aku harus istirahat" Atiqah menahan kepala Ardi yang terus menggesekkan dagunya.
"Kalau lagi, nggak masalah kan?" Ardi tersenyum mesum langsung menarik celana dalaam Atiqah. Menyergapnya dengan sapuan lidahnya.
Awalnya Atiqah terus menahan kepala Ardi, menjauhkannya tetapi rasa geli bercampur nikmat itu datang. Atiqah mengeluarkan suara merdunya. Ardi tersenyum miring.
Malam itu mereka kembali merasakan surga dunia. Suara rintihan mengiba ingin terus dan terus terdengar dari bibir Atiqah. Hanya beberapa menit saja mereka sudah mencapai puncaknya.
Ardi melingkarkan tangannya ke perut Atiqah, memeluknya dari belakang sambil mengendus aroma percintaan yang cukup sengit tadi.
"Makasih Yang, udah mau hamil anak aku" bisik Ardi mencium puncak kepala Atiqah. Jawaban anggukan yang didapatnya. Atiqah sudah sangat lelah, matanya terpejam. Ardi sangat bahagia.
Sikap temperamental, egois dan pemaksa sedikit demi sedikit menghilang. Atiqah semakin jatuh cinta pada Ardi. Meskipun usia yang sangat muda, Ardi seperti laki-laki dewasa yang siap dengan segala resiko. Ardi laki-laki yang Atiqah anggap sangat gentle dan bertanggung jawab.
__ADS_1
*****
Pagi harinya Atiqah dan Ardi sudah berpakaian rapih, duduk di ruang makan. Sarapan bersama dengan Subroto dan Guntur. Menu sarapan yang cukup menggugah selera bagi Atiqah. Ia sampai menghabiskan dua porsi lontong sayur.
"Pelan-pelan aja makannya. Masih ada satu porsi lagi kalau kamu mau lagi Yang" Ardi mengusap punggung Atiqah yang sedang menekuni piring berisi lontong sayur.
"Boleh? nggak papa kalau aku nambah lagi?" Atiqah meringis, ia malu lalu menatap Subroto.
"Boleh nduk. Habiskan" ucap Subroto sambil tersenyum. Atiqah kembali menyendokkan kuah ke atas potongan lontong.
Guntur menatap Atiqah lekat-lekat, Ardi berdehem. "Kita berangkat sekarang?" tanya Ardi memandang Atiqah lalu beralih pada Guntur.
"Gimana Mas Guntur?" Atiqah bertanya pada Guntur.
Guntur gugup ditatap seperti itu oleh Atiqah. "i iya ... iya mbak. Kita berangkat sekarang" Guntur bangkit memundurkan kursinya.
"Ati-ati ... semoga suka sama hadiah dari Eyang yo" ucap Subroto mengusap punggung Atiqah.
Ardi menggandeng istrinya berjalan keluar rumah. Mereka pergi bertiga saja. Guntur dengan cekatan menuju mobil dan menghampiri pasangan itu di lobby rumah.
"Silahkan Mas, Mbak" Guntur membukakan pintu untuk keduanya. Ardi melindungi kepala Atiqah agar tidak terkantuk atap mobil sedan mewah itu.
"Ke showroom mobil?" tanya Atiqah pada Ardi. Ardi yang tidak tahu apa apa hanya mengedikkan bahunya.
Mobil yang dikendarai Guntur memasuki showroom mobil mewah berasal dari Jerman dengan lambang bintang tiga ciri khasnya.
Guntur menghentikkan mobil lalu membuka pintu untuk Ardi dan Atiqah. Mempersilahkan untuk masuk dengan menerima sambutan dari pemilik showroom dan kepala manager.
"Sesuai dengan perintah Bapak Subroto Danurdara" ucap Guntur pada kedua orang yang berdiri didepan mereka setelah berjabat tangan.
"Selamat datang Mas Ardi dan Mbak Atiqah" ucap pemilik showroom lalu mempersilahkan masuk.
Kepala manager berjalan paling depan mengantarkan mereka pada sebuah mobil MPV mewah berwarna hitam. Atiqah menahan lengan Ardi.
"Kenapa?" tanya Ardi, ikut menghentikkan langkahnya.
__ADS_1
"Jangan bilang mobil itu untuk aku!" ucap Atiqah lirih. Ardi tersenyum.
"Kita lihat aja dulu" kembali menggenggam tangan, mendekati Guntur dan pemilik showroom beserta Kepala Manager.
"Ini tipe yang paling terbaru. Semua sesuai dengan permintaan Bapak Subroto. Mas Ardi dan Mbak Atiqah bisa cek bagian dalamnya. Silahkan" Kepala Manager bernama Mirna membuka pintu bagian tengah dimana inti dari mobil jenis MPV itu.
Ardi dan Atiqah masuk, melihat-lihat sambil merasakan kenyamanan kursi. Atiqah mengedarkan pandangannya dengan teliti ke setiap sudut interior.
"Kamu suka?" tanya Ardi merangkul Atiqah.
"Jangan gini, ada orang yang lihat. Aku malu --menurunkan tangan Ardi di pundak sebelah kanan-- aku suka mobilnya" Atiqah mengangguk pada Ardi lalu beralih pada Guntur.
"Sepertinya Mbak Atiqah juga suka dengan pilihan Eyang Subroto" ucap Guntur pada dua orang penting disampingnya.
"Baik Mas Guntur. Sore ini kami langsung kirim ke kediaman Bapak Subroto" kata David si pemilik showroom.
Pagi itu tidak hanya sampai disana saja. Ada beberapa kejutan lain yang sudah Subroto rencanakan.
Satu gedung berlantai 4 di dekat sebuah perbelanjaan milik keluarga Danurdara menjadi milik Atiqah. Gedung itu bisa disewakan atau juga nantinya dijadikan tempat praktik Atiqah setelah lulus menjadi dokter kecantikan atau dokter estetika.
Atiqah kembali takjub dengan hadiah yang diberikan Subroto untuknya. Ia seperti layaknya di cerita drama. Gadis biasa yang dinikahi konglomerat dan mendadak jadi kaya raya.
"Ini terlalu banyak Eyang. Atiqah nggak bisa terima ini semua. Atiqah ikhlas mengandung anak Ardi. Atiqah nggak mau merasa terbebani" Atiqah kembali melihat sertifikat rumah di tangannya. Rumah yang atas namanya sedang diurus menjadi namanya. Rumah besar kediaman Subroto, diserahkan padanya sepenuhnya. Termasuk kebun yang luasnya berhektar-hektar itu.
"Ini untuk cicit Eyang juga. Diterima yo nduk. Eyang rasanya lega kalau sudah memberikan semua yang bisa Eyang berikan untuk kamu. Istri dari cucu kesayanganku, Ardi" ucap Subroto. Mereka duduk diruang keluarga. Atiqah bangkit dari duduknya kemudian bersimpuh di hadapan Subroto.
"Eyang terlalu baik. Atiqah cuma anak dari orang biasa. Atiqah malu Eyang. Atiqah takut banyak orang yang tidak suka dengan semua yang Eyang berikan untuk Atiqah. Atiqah takut dituduh yang enggak-enggak. Atiqah cinta Ardi bukan karena apa-apa. Atiqah tulus" Air matanya turun. Ardi ikut duduk disamping Atiqah, merangkul lalu menyeka pipi istrinya yang basah.
"Percaya sama Eyang! kalau ada yang berani berucap seperti itu, Eyang akan membelamu. Eyang pasang badan. Jangan kuwatir. Terima semua pemberian Eyang, jaga cicit Eyang juga sayangi cucu Eyang" Subroto mengusap kepala Atiqah.
Bersambung...
*****
Maaf satu minggu lebih baru nongol lagi. Habis mudik dadakan ke Jogja. Bab ini juga udah di cicil dikit2 per harinya tapi emang lagi gak fokus.
__ADS_1
Tetep dukung Atiqah ya 😊 Insya Allah di akhir Bab nanti ada give away buat temen2 yang ada di podium 1, 2 dan 3 kecuali admin ya 😄
Terimakasih 🙏🙏🙏