ATIQAH

ATIQAH
Bab 28 : Eyang Kakung


__ADS_3

Ardi baru saja masuk ke dalam rumah. Hari sudah berganti malam. Langkahnya terhenti saat melihat kedua orangtuanya dan juga kakeknya sedang duduk di ruang keluarga.


"Eyang..." Ardi menyambut kakeknya dengan pelukan hangat.


"Dari mana? sudah malam baru pulang. Kamu gak bolos sekolah kan?" tanya kakek Ardi setelah menepuk ruang disebelahnya untuk cucunya duduk.


"Ada masalah di sekolah eyang. Ardi ngurus dulu sebentar. Maaf, Ardi pulang terlambat" begitulah Ardi dengan sang kakek. Sopan dan lembut. Papa Mamanya masih tetap diam tak bersuara tapi tatapan mereka tajam. Mereka tau kemana putranya pergi.


"Kapan eyang dateng?" tanya Ardi, karena kakeknya sudah kembali tinggal di kampung halaman di Jogja 3 tahun yang lalu. Semua perusahaan diurus oleh sang Papa, Sigit Danurdara.


"Tadi siang. Eyang tunggu kamu pulang sekolah tapi ndak pulang-pulang. Atau kamu udah punya pacar? siapa namanya?" kakeknya memang seakrab itu dengan Ardi.


Ardi menatap kedua orangtuanya. Sigit dan Anne sudah memberikan kode agar Ardi diam, tidak membahas Atiqah. Tetapi sikap keras kepala yang Ardi miliki membuatnya enggan menggubris maksud dari tatapan Sigit dan Anne.


"Atiqah...namanya Atiqah eyang" Sigit dan Anne melotot.


"Ardi!!" Anne berucap lirih dengan penekanan.


Kakek Ardi hanya ingin mendengar cerita cucunya. "Atiqah? namanya bagus. Satu sekolah?" Ardi mengangguk mantap dengan senyuman.


"Iya eyang...Atiqah adik kelas Ardi di sekolah. Dia cantik dan satu yang pasti, Eyang akan langsung suka kalau liat Atiqah. Dia sederhana banget kaya eyang uti" Anne mencibir mendengar putranya menyanjung Atiqah. Sedangkan Sigit berdecih.


Sederhana? namanya orang miskin ya gayanya cuma begitu itu. Gak level. Batin Anne.


"Moso? (Jawa(masa))" Ardi mengangguk cepat.


"Bener eyang...nanti Ardi kenalin ke eyang. Eyang sampai kapan di Jakarta?" kebetulan sekali kakeknya datang, Ardi tidak perlu bersusah payah menemui kakeknya ke Jawa.


"Mungkin satu minggu. Eyang penasaran sama pacar kamu. Besok eyang jemput ke sekolah aja yo?" Kakeknya itu excited ingin bertemu dan berkenalan dengan pacar cucunya.


"Atiqah gak sekolah eyang. Lagi dirawat dirumah sakit. Ardi pulang malem karna ke rumah sakit, jengukin Atiqah" Anne dan Sigit semakin geram mendengar obrolan keduanya.


"Papi istirahat dulu, udah malem" Anne menginterupsi obrolan beda generasi itu.

__ADS_1


"Iya Pi...udah malem. Dari nyampe tadi, papi belum istirahat. Ngobrolnya dilanjut besok lagi" Sigit ikut membujuk ayahnya.


"Oke...Eyang tidur dikamar Ardi. Ayok kita masuk kamar?!" kakek tua itu bangkit dengan bertumpu pada tongkatnya dibantu Ardi.


"Bye Mama Papa..." mengedipkan satu mata, mengejek Anne dan Sigit. Ardi merasa menang dengan kedatangan kakeknya.


Ardi membantu kakeknya menaiki anak tangga satu per satu menuju kamarnya dilantai dua.


"Kakek mau denger kelanjutan soal pacar kamu. Eyang siap pasang kuping sampai pagi" seloroh kakek tua itu.


"Siap eyang, tapi...jangan sampai pagi juga. Besok Ardi sekolah. Minggu depan ujian eyang" Ardi membuka pintu kamarnya, mempersilahkan kakeknya masuk ke dalam.


Lain hal dengan Anne dan Sigit yang saat ini sudah masuk juga ke dalam kamar, membicarakan putranya yang siap merayu kakeknya. Dua manusia beda generasi yang memang memiliki kedekatan lebih dan selalu menjadi sekutu.


"Papa liat sendiri kan, gimana Ardi minta dukungan Papi secara halus. Dasar anak nakal! Mama kesel banget. Mereka berdua itu sama. Kita harus gimana Pa?" Anne mengutarakan kegelisahan hatinya.


"Kita liat besok aja gimana. Mama juga udah ngerti kalau Papi dan juga Ardi klop" Sigit dan Anne sangat tahu sifat anak dan juga ayahnya.


"Udah malem ma, tidur. Kita butuh banyak energi buat ngadepin kakek tua itu dan cucunya besok" Mematikan lampu utama lalu menyalakan lampu tidur dengan remote. Sigit sudah menarik selimutnya sampai dada.


"Oke...oke. Good nite Pap" Anne melakukan hal yang sama. Mereka berdua memang tidur berbeda ranjang. Anne di sisi kiri sedangkan Sigit di sisi kanan.


"Good nite Ma"


Kedua orangtua Ardi sudah menjemput mimpi, berbeda dengan dirinya dan kakeknya. Mereka masih asik mengobrol. Segala hal dibicarakan, terutama soal Atiqah.


"Oh jadi Papa Mamamu gak suka sama Atiqah karena cuma anak karyawan pabrik?" Ardi mengangguk. "Picik" kesal dengan sikap anak dan menantunya.


"Papa ke rumah Atiqah mempermalukan keluarganya eyang. Jadi tontonan tetangga. Papa juga ngancam mereka. Bapak dan ibunya gak bolehin kami punya hubungan, semua gara-gara Papa" Ardi mengadukan kelakuan Papanya. Rencananya sudah ia mulai dari obrolan pertama saat bertemu kakek di ruang keluarga tadi. Jalan satu-satunya hanyalah kakeknya.


"Tenang...untuk urusan Papa dan Mamamu biar jadi urusan eyang. Besok siang eyang jemput. Kita sama-sama ke Rumah Sakit jenguk Atiqah. Eyang mau buktikan sendiri, apa benar ucapanmu soal pacarmu itu mirip dengan eyang uti" Kakek tua itu membayangkan istrinya yang sudah tiada.


"Siap eyang. Terimakasih. Ardi sayang eyang kakung" memeluk kakeknya.

__ADS_1


*****


"Nanti siang eyang jemput. Kita jenguk Atiqah" ucap kakek Ardi saat sarapan bersama.


"Papi..." Anne menyela. Bapak mertuanya itu langsung menatapnya tidak suka.


"Opo? (Apa)...w**es (sudah), kalian berdua ndak perlu ikut campur. Aku yang mau kenal sama pacar Ardi. Durung ketemu nanging wes ngomong ora seneng (belum kenalan tapi udah bilang gak suka)" gerutu kakek tua itu, sambil menyantap bubur ayam. Anne mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Menyikut lengan suaminya.


"Tapi Pi..." Sigit mencoba untuk berbicara.


"Opo meneh? (apa lagi). Aku ndak mau denger ribut-ribut soal pacar Ardi. Anakmu remaja, ojo dielingi (biar saja). Nikmati masa remajamu yo le" mengusap lengan Ardi. Ardi mengangguk tersenyum lalu melirik ke arah Anne dan Sigit.


Anne dan Sigit kalah telak kalau sudah berhadapan dengan Subroto, Ayah sekaligus mertua mereka.


"Udah waktunya Ardi berangkat eyang. Nanti jangan telat jemput Ardi ya?" Ardi memundurkan kursinya, berpamitan dengan mencium punggung tangan lalu mencium pipi kedua orangtuanya.


"Eh...kamu berdua. Diam disini! Tugas kalian sudah selesai. Jangan ikuti cucuku. Biar Ardi diantar sopir" Broto menunjuk ke arah dua pengawal yang biasanya mengikuti Ardi ke sekolah.


"Tapi Pi..." Anne protes.


"Udah kamu diem! Jangan kekang cucuku. Biar dia bebas bergaul dengan siapapun. Ardi bukan anak presiden yang harus dikawal kemana-mana" Anne langsung menutup mulutnya, nyalinya ciut.


"Terserah Papi. Aku berangkat" Sigit ikut kesal, masih sepagi ini sudah mendengar ocehan ayahnya.


"Pa..." rengek Anne. Menyusul suaminya ke teras rumah.


"Ikuti apa kata Papi. Mama juga harus berangkat, urus salon Mama. Daripada dirumah, makin pusing denger ocehan kakek tua itu" bisik Sigit lalu masuk ke dalam mobilnya.


Bersambung...


*****


Like, komen, gift + rate bintang 5 buat Atiqah sayang2ku 🤭😘😘

__ADS_1


__ADS_2