
Dua bulan lamanya Atiqah belum sadarkan diri. Kesehatan Subroto pun menurun. Guntur masih merahasiakan kondisi Atiqah pada Bondan dan Asri di Jakarta.
Selama dua bulan itu, Guntur menemani Atiqah. Dan terus berharap ada keajaiban.
"Mbak, sudah dua bulan mbak Atiqah tidur. Ayok bangun?! sudah saatnya mbak Atiqah bangkit. Kejar cita-cita, jadi perempuan sukses yang bisa dibanggakan Aziel --mengusap kepala lalu merogoh kantong celana-- mbak, ini video waktu mbak sama Aziel," memperlihatkan video itu ke hadapan Atiqah, meski matanya masih terpejam.
Ani memberikan saran pada Guntur untuk selalu memutar video Atiqah dan Aziel. Dan sudah satu bulan ini, Guntur lakukan. Namun kondisi Atiqah masih tetap sama.
Suara ketukan pintu terdengar. Mbok Jum datang.
"Mbok kesini sama siapa?" tanya Guntur.
"Di terke Pardi, deweke sekalian arep mulih ngomah. Jere simbokne tibo (di antar Pardi, dia sekalian mau pulang ke rumah. Katanya ibunya jatuh)," jawab Mbok Jum lalu menyodorkan tas kecil.
"Opo iki mbok? (apa ini mbok?)," tanya Guntur melihat tas yang diberikan padanya.
"Klambine Ziel. Sopo ngerti mbak Atiqah tangi. Ambune Ziel pasti ndeke ngerti. Jalen! (Bajunya Ziel. Siapa tahu mbak Atiqah sadar. Baunya Ziel pasti dia tahu. Coba aja!)," desak mbok Jum.
Apa salahnya mencoba, pikir Guntur. Toh siapa tahu apa yang ia usahakan kali ini dapat membuahkan hasil.
Guntur mengeluarkan satu baju Aziel, lalu meletakkan baju itu ke dada agar Atiqah dapat memeluknya. Kemudian Guntur meletakkan satu mainan Aziel yang biasa Atiqah mainkan ke genggaman tangan yang terpasang infus.
"Ini baju sama mainan Aziel, mbak. Mbak Atiqah tau kan? Ayok, mbak Atiqah bangun. Buka matanya," ujar Guntur. Terus mencoba, mengajak Atiqah berbicara.
"Eh ... eh, Tur iku deloken! Alise mau kedut-kedut. Jalen meneh! (Eh ... eh, Guntur lihat itu! Alisnya tadi berkedut. Coba lagi!)." Usul mbok Jum. Ia sangat antusias.
"Iyo mbok," Guntur melakukan hal lain. Meletakkan boneka yang sudah mbok Jum beri cologne baby, bau khas Aziel. Alis Atiqah berkedut lagi sebanyak tiga kali.
Lalu tangannya bergerak meremas mainan Aziel yang berada di genggaman.
"Tur, kuwi gerak neh. Saiki tangane (Guntur, itu bergerak lagi. Sekarang tangannya)," seru mbok Jum sambil menunjuk-nunjuk ke arah tangan Atiqah.
"Iyo mbok," Guntur turut menyaksikan dan turut senang. Kemajuan yang sangat pesat dibanding dengan dua bulan sebelumnya.
__ADS_1
Guntur mencoba lagi dengan memutar video Atiqah bersama Aziel. Di dekatkannya bagian speaker ke telinga kiri Atiqah.
Atiqah yang sedang menciumi Ziel dan Ziel mengoceh. Bayi itu merasa kegelian.
"Ziel ... " Atiqah terbangun dan langsung terduduk. Matanya terbuka lebar, terengah-engah.
Guntur dan mbok Jum terlonjak kaget melihat Atiqah seperti itu. Rasa terkejut dan bersyukur bercampur.
Guntur langsung memencet tombol di samping ranjang. Lalu menahan tubuh Atiqah yang tiba-tiba saja lemah. Bayangan peristiwa itu kembali di ingatnya.
"Mbak, jangan tidur lagi. Tetap seperti ini, jangan merem mbak!" Guntur menepul-nepuk pipi Atiqah, agar terus sadar. Guntur takut Atiqah kembali koma.
"Zi el ... " ucap Atiqah lirih nyaris berbisik. Guntur mendengarnya.
"Iya mbak. Ziel baik-baik aja. Mbak Atiqah juga harus berjuang. Ziel juga rindu ibunya," balas Guntur.
Dokter datang, Guntur dan mbok Jum menunggu di luar.
"Syukur, mbak Atiqah sudah siuman. Baik mas, saya sampaikan kabar bahagia ini ke bapak. Biar bapak juga semangat untuk sembuh," sahut Ani.
"Terimakasih ya," ujar Guntur.
"Sama-sama mas." jawab Ani lalu langsung mematikan panggilan.
"Mas Guntur," panggil dokter.
"Iya dok ... Bagaiman kondisi mbak Atiqah?" tanya Guntur ingin tahu.
"Bu Atiqah sudah membaik, hanya saja syoknya masih ada. Presentasenya masih cukup tinggi. Kami akan lakukan beberapa terapi untuk memulihkan kesehatan jiwanya," terang dokter Arumi.
"Baik, dok. Terimakasih banyak," Guntur mengulurkan tangan lalu berjabat tangan.
Mbok Jum sudah masuk ke dalam terlebih dulu, diikuti Guntur. Mbok Jum memeluk Atiqah.
__ADS_1
"Mbok ..." panggilnya lalu terisak.
"Ho oh mbak ... simbok ngerti. Wes to, ra sah di omongke meneh. Saiki kudu kuat, kudu nrimo. Sing sabar yo nduk (iya mbak ... mbok paham. Sudah ya, jangan di bicarakan lagi. Sekarang harus kuat, harus menerima. Yang sabar ya nak)," ujar mbok Jum. Mbok Jum berusaha untuk menguatkan Atiqah.
Atiqah tidak bisa berkata-kata lagi. Ia ingin menangis melepaskan rasa kesedihan dan kesesakan dadanya. Memeluk boneka, baju juga mainan Aziel.
*****
Di belahan dunia lain, tepatnya di benua Amerika, negara bagian yang terletak di paling utara yaitu Canada. Dan Ottawa nama ibu kotanya.
Melda tinggal di Alberta. Salah satu provinsi di Canada.
Aziel bersama baby sitternya yang bernama Amber, duduk di mobil barisan tengah. Sedangkan Melda dan Ryan di barisan depan. Mereka akan pergi ke Mall terbesar di Amerika Utara dan juga Mall terbesar ke-5 di seluruh dunia. West Edmonton Mall, terletak di Edmonton, Alberta.
Semua kebutuhan Aziel terpenuhi. Mulai dari pakaian, mainan, susu, popok dan bermacam-macam perlengkapan lainnya. Dan sudah pasti semua barang dengan harga yang cukup mahal.
Melda dan Ryan memperlakukan Aziel selayaknya putra kandung mereka. Meski awal kebersamaan mereka terlampau sulit, namun saat ini Aziel sudah mulai nyaman dengan Mommy dan Daddy nya. Panggilan untuk Melda dan Ryan.
"Ziel, Mommy mau belikan kamu pakaian baru. Because autumn is coming soon (karena musim gugur akan datang sebentar lagi)," ujar Melda menciumi pipi Aziel yang kemerahan.
Melda mengabadikan setiap momen kebersamaan dirinya dengan Aziel. Lalu mengunggahnya ke laman media sosial. Namun Atiqah tidak dapat mengakses akun Melda. Semua ia blokir atas perintah Ardi.
Di saat keluarga kecil Melda pergi ke Mall, Ardi sibuk mempersiapkan kuliahnya di University of British Columbia jurusan Bisnis dan Manajemen, terletak di kota Vancouver.
Vancouver daerah metropolitan terbesar di Canada bagian barat, Provinsi British Columbia.
Karena jarak yang cukup jauh dari Alberta yakni 12 jam 56 menit melalui jalur darat, Ardi memilih menyewa sebuah apartemen kecil. Cukup untuk dirinya sendiri sambil terus memantau pergerakan Atiqah di Indonesia.
Ardi tahu Atiqah mengalami koma selama dua bulan terakhir, tapi ia tetap pada rencananya. Ardi tidak akan pernah kembali bersama Ziel sebelum ia lulus study. Dan juga semua tergantung dengan sikap Atiqah disana.
"Sudah siuman? oke ... bonus langsung saya transfer," ucap Ardi pada seseorang di balik telefonnya. "Ah, satu lagi. Tetap ikuti istriku kemana pun dia pergi!" imbuh Ardi.
Bersambung...
__ADS_1