
Atiqah menggandeng lengan Ardi, berjalan menuju lift. Subroto dan Guntur sudah berjalan di depan mereka. Rencana untuk mengunjungi dokter spesialis kandungan sedikit terlambat karena Atiqah masih ingin menghabiskan makanan yang dibawa Subroto tadi.
"Kamu nggak ada kenyang-kenyangnya Yang," Ardi mengusap perut Atiqah. Istrinya itu sedang mengunyah cemilan sambil memangku keresek berlogo minimarket terkenal, berisi jajanan rasa coklat.
"Mau gimana lagi, aku masih laper," kata Atiqah tidak begitu jelas karena mulutnya sedang mengunyah.
"Wes to (sudahlah), biarin aja. Sek penting ayem. Anakmu yo seneng (yang penting tenang. Anakmu juga senang)," Subroto berkomentar. Ia duduk di sebelah Guntur. Atiqah dan Ardi ada di kursi belakang.
Atiqah tersenyum lalu mencubit pipi Ardi. "Jangan cemberut, dia seneng banget. Sini pegang," Atiqah menarik tangan Ardi. Meletakkan ke atas perutnya. Gerakan terasa di tangan Ardi. Wajahnya begitu senang.
"Gerak Yang ... dia gerak," Ardi semakin antusias mengusap perut Atiqah. "Baby, ini Ayah," ucapnya lalu menunduk, mengecup perut yang menonjol. Sepertinya itu kaki si bayi.
Atiqah terus tersenyum, membelai kepala Ardi yang masih menciumi perutnya. Guntur penasaran apa yang terjadi di kursi belakang. Ia mencuri pandang dari spion tengah. Melihat kebahagiaan kecil itu membuat hatinya nyeri. Atiqah terlihat begitu bahagia.
"Andai kita bertemu terlebih dulu. Aku ada di posisi itu sekarang. Kamu jadi pendamping hidupku. Aku nggak akan pernah kasar kaya dia (Ardi)," batin Guntur.
Subroto melirik lalu berdehem. Guntur fokus kembali ke arah depan.
Perjalanan menuju rumah sakit berjalan lancar tanpa kendala macet. Jalanan cukup lengang. Ardi menggandeng Atiqah diikuti Subroto dan juga Guntur dibelakangnya.
"Kamu duduk disini, aku ke pendaftaran dulu," Ardi menyuruh Atiqah duduk di kursi tunggu.
"Iya," jawabnya.
Subroto ternyata bertemu dengan kawan lamanya yang juga kepala di Rumah Sakit itu.
"Eyang ngobrol sebentar. Nanti telfon Eyang saja kalau sudah mau masuk," ucapnya pada Atiqah.
"Kowe rene wae, kancani putuku (kamu disini saja, temani cucuku)," ucapnya lagi pada Guntur.
Subroto pergi bersama temannya ke lantai dua.
"Mbak Atiqah, ada yang mau dibeli? biar saya yang ke kantin," tanya Guntur, duduk di sebelah Atiqah menunggu Ardi yang masih mengantri.
"Beneran nggak papa Mas? aku pengen jus Mangga, tapi esnya yang banyak ya?" Atiqah tersenyum manis. Jantung Guntur berdegup kencang.
"Astaga mbak. Manis banget. Aku makin jatuh cinta" ucap Guntur dalam hati.
"Mas ... Mas Guntur kok diem aja? keberatan ya?" Atiqah menggerakkan tangan Guntur yang masih melamun.
__ADS_1
"Hah?? apa mbak?" Guntur terkejut lalu beralih melihat tangan Atiqah yang sedang memegang tangannya.
"Aku pengen jus mangga, esnya yang banyak. Bisa?" tanyanya, mengulang lagi.
"Ah ... iya iya mbak, bisa bisa," Guntur mengangguk lalu berdiri meninggalkan Atiqah duduk sendiri.
Atiqah beralih pada ponselnya, lalu Ardi datang. "Kok sendiri, yang lain kemana?" tanya Ardi sambil mengulurkan tangan untuk pegangan Atiqah saat berdiri.
"Eyang ketemuan dulu sama temennya. Kayaknya orang penting dirumah sakit ini. Kalau mas Guntur ke kantin, aku minta belikan jus mangga," jawab Atiqah. Mereka berjalan ke arah lorong di sebelah kanan.
Ruang praktek dokter Arman ada di ujung. Atiqah dan Ardi duduk menghadap pintu.
"Ibu Atiqah ..." seorang perawat memanggil namanya. Atiqah berdiri lalu mendekat.
Seperti biasa, ibu hamil sebelumnya akan diperiksa tekanan darah dan berat badan.
"Normal bu, berat badannya juga naik dari terakhir kemarin cek. Bagus semua. Nanti asisten di dalam yang akan memanggil ibu sesuai nomor antrian. Silahkan tunggu dulu," ucap perawat itu. Atiqah mengangguk, kembali duduk di sebelah Ardi.
"Gimana? bagus semua kan?" tanya Ardi sambil mengusap perut istrinya.
"Iya, normal kok. Berat badan aku lumayan naik, setengah kilo. Hihihihi," Atiqah menutup mulutnya dan pandangan mereka tertuju pada pintu yang terbuka.
Sigitpun sama diamnya, saling bertatapan. Kemudian pergi tanpa menyapa sambil merangkul pinggang Narnia.
Atiqah dan Ardi masih diam. Suara asisten yang membuka pintu tadi membuyarkan kebisuan mereka.
"Ibu Atiqah ... Ibu setelah ini ya," ucapnya. Atiqah hanya mengangguk.
Ternyata Guntur menyaksikan situasi tadi. Dia sama diamnya. Berdiri memegang jus mangga di tangan kanannya.
"Ehem ... mbak, ini jusnya," Guntur menyodorkan jus mangga itu pada Atiqah. Atiqah dan Ardi mendongak.
"Makasih mas," menerimanya lalu berusaha menusuk sedotan tapi selalu gagal.
"Sini, aku aja," Ardi mengambil jus dan sedotan dari tangan Atiqah. "Aku udah tau. Soal tadi, nanti aku ceritain semua," menyodorkan lagi jus pada Atiqah setelah Ardi menancapkan sedotan.
"Emm ... iya," jawabnya, menyeruput jus mangga.
"Mas Guntur mending diem aja. Biar ini jadi urusanku. Belum saatnya Eyang tau. Bisa syok nanti," ucap Ardi, menegakkan badannya menoleh pada Guntur yang duduk di sisi kiri Atiqah.
__ADS_1
"Baik Mas," jawab Guntur sambil mengangguk.
"Oh iya, kata Eyang tadi kalau udah mau masuk suruh telfon. Biar Eyang cepet kesini. Katanya mau lihat cicit kan?" Atiqah menyampaikan pesan Subroto pada Ardi.
"Biar saya aja mas yang jemput Eyang," Guntur sudah bangkit.
"Oke," Ardi setuju.
Berselang sepuluh menit, asisten kembali membuka pintu mengantar keluar pasien sebelumnya. "Ibu Atiqah, silahkan masuk," Atiqah berdiri dibantu Ardi. Subroto muncul tepat waktu.
"Saya diluar saja Eyang," kata Guntur. Subroto mengangguk "Yo,".
Ketiganya masuk. Mereka berjabat tangan lalu menyapa satu sama lain. Tatapan dokter sedikit aneh.
"Baru aja bapaknya yang kesini. Kebetulan sekali," ucap Arman dalam hati. Siapa yang tak kenal Sigit Danurdara. Nama belakang Ardi pun sama. Arman diminta untuk tutup mulut soal kedatangannya bersama Narnia. Karena Sigit tahu, kepala Rumah Sakit itu adalah teman ayahnya Subroto.
"Baik ... mba Atiqah silahkan naik ke atas kasur," ucap dokter Arman setelah berbincang sebentar.
Untuk pertama kalinya Subroto melihat cicitnya dari layar USG. Bibirnya tak berhenti mengoceh. Semua pertanyaan ia lontarkan pada dokter Arman. Sedangkan Ardi hanya tersenyum sambil mengusap kepala Atiqah. Sesekali ia mengecupnya.
"Semuanya bagus, sehat, normal. Tapi mungkin mba Atiqah jangan terlalu banyak pikiran. Banyak-banyak istirahat. Tolong di support istrinya ya mas Ardi," ucapan dokter Arman membuat Atiqah bingung. Pasalnya ia sudah merasa santai, aktivitasnya hanya makan dan tidur.
"Baik dok," jawab Ardi.
Subroto mengantarkan Atiqah dan Ardi sampai di lobby apartemen.
"Besok sore Eyang jemput," ucap Subroto. Ia mengajak Atiqah dan Ardi makan malam di restoran mewah.
"Iya Eyang ... hati-hati di jalan. Makasih juga buat mas Guntur," ucap Atiqah. Melambaikan tangannya. Ardi merangkul pinggang istrinya.
"Kamu hutang penjelasan soal tadi," Atiqah menunjuk hidung Ardi.
"Penjelasan apa?" Ardi berpura-pura lupa.
"Soal Papa,"
"Ehem ... iya, nanti aku jelasin. Tapi aku haus, pengen minum susu," Ardi meremas dada kanan Atiqah di dalam lift yang sepi.
Bersambung...
__ADS_1