
Pagi telah menyongsong, Atiqah kali ini bangun tepat waktu, malah lebih pagi dari biasanya. Ia membantu ibunya bersiap membawa beberapa sayuran dan lauk yang sudah matang. Karena ayahnya masuk sift malam, Atiqahlah yang bergantian mengantar bu Asri ke pasar.
"Mba, gak usah anter ibu. Tadi malem kang Sepri bilang mau anter ibu ke warung. Mba dirumah aja. Bangunin Robi jangan sampe telat berangkat sekolah. Ini uang sakunya buat mba sama adek" bu Asri meletakkan uang saku 50 ribu ke atas meja makan. 40 ribu untuknya, 10 ribu untuk Robi.
"Iya bu. Tumben kang Sepri bisa? biasanya dia anter mbok Yah belanja ke pasar" tangannya ikut bergerak memasukkan beberapa masakan ke kantong besar.
"Katanya mbok Yah buru buru pulang kampung. Suaminya sakit" bu Asri sama sibuknya memasukkan kotak kotak. "Yowes, ibu berangkat dulu. Kang Sepri udah siap" mendengar suara bajaj yang baru saja di starter. Kang Sepri yang merupakan tetangga mereka, seorang sopir bajaj biasa mengantar mbok Yah berbelanja sayuran untuk warungnya dirumah.
"Iya bu...Kang hati hati dijalan, jangan ngebut ya? aku titip ibu" suara Atiqah keras beradu dengan suara nyaring bajaj.
"Siap!!" jawab kang Sepri.
Suara bajaj yang memekakan telinga perlahan suaranya semakin menjauh, menghilang. Atiqah kembali masuk ke dalam rumah, memasukkan beberapa buku ke dalam tas sekolahnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Dek...bangun! sekolah. Nanti telat" menggoyangkan badan Robi yang masih bergelung dibawah selimut dan memeluk gulingnya. Atiqah sudah bersiap, pakaian putih abu abunya terpakai rapih.
"Mmm..." Robi hanya menggerakkan badannya berbalik terlentang tapi matanya masih terpejam.
"Dek...ya ampun. Susah banget dibangunininnya. Nanti telat dek" masih menggoyangkan badan Robi. Adiknya itu kembali menggerakkan tangan dan kakinya. Kemarin Atiqah yang sulit dibangunkan, sekarang adiknya.
"Sabar mba...aku kumpulin nyawaku dulu" sambil meregangkan badannya.
"Mba tungguin! Kamu biasanya merem lagi" beralih ke meja belajar Robi yang masih berantakan. "Dek, kamu belum siapin buku ke dalem tas? ini berantakan banget" sambil merapihkan buku adiknya.
"Bener kan merem lagi. Dek bangun..." pantas saja tidak terdengar suara Robi, nyatanya bocah itu kembali memejamkan mata. Atiqah ke dapur mengambil satu gelas air lalu kembali masuk ke kamar adiknya.
Satu cipratan air ke wajah Robi tidak membuat anak SD kelas 3 itu membuka matanya. Satu cipratan kembali Atiqah lakukan. "Iya iya mba, aku bangun" Robi menyeka wajahnya dengan baju tidurnya bergambar pahlawan superhero yang ia sukai, iron man.
"Untung cuma cipratan doang. Kalau gak bangun juga, tadinya mau mba siram langsung ke muka kamu. Udah bangun! mandi trus masukin bukunya ke dalem tas" masih berdiri di samping ranjang, menunggu Robi benar benar bangun dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Sarapan dulu, masih ada waktu. Ini bekelnya mba masukin ke dalam tas, ini juga uang saku dari ibu tadi" memasukkan satu tempat bekal ke dalam tas adiknya, juga uang 10 ribu ke dalam saku Robi.
__ADS_1
"Iya mba, makasih" Robi sambil memakan sarapannya, roti tawar coklat dan satu gelas susu putih.
Kakak beradik itu menikmati sarapan bersama dalam diam. Setelahnya keluar bersama berjalan ke jalan raya yang tidak jauh dari rumah.
"Belajar yang rajin di sekolah. Jangan bandel, jangan berantem. Jangan lupa juga dimakan bekelnya" mengusap kepala adiknya didepan pintu gerbang sekolah dasar, sekolah Robi.
"Iya iya. Yaudah aku masuk dulu. Mba cepetan berangkat juga" melambaikan tangannya, berlari masuk ke dalam sekolah.
Tak lama Atiqah masuk ke dalam angkot, duduk di pinggir pintu karena angkot yang sudah penuh. Dia tidak bisa menunggu angkot lain, bisa terlambat pikirnya.
"Ssuuttt...ssuttt" suara itu tertuju untuk Atiqah. Angkot sedang berhenti di lampu merah.
"Mba mba..." seorang ibu yang duduk didepan Atiqah menepuk lututnya.
"Maaf bu, ada apa?" tanya Atiqah.
"Itu dipanggil masnya" menunjuk ke arah laki laki dengan motor gede dan helm full face. Atiqah menengok ke arah tunjuk si ibu.
"Turun! bareng aja sama aku. Udah mau masuk nih. Gak keburu nanti" ucap Ardi membuka kaca helmnya. Atiqah melihat jam dipergelangan tangannya, waktu kurang 10 menit lagi. Benar kata Ardi, kalau dia terus naik angkot sampai sekolah, sudah pasti terlambat.
"Mas, aku turun sini. Ini uangnya" Atiqah memberikan uang pada sopir angkot lalu turun. Ardi tersenyum di balik helmnya, lalu menurunkan footstep untuk Atiqah.
"Aku mau bareng ke sekolah karna gak ada pilihan lain. Tapi aku masih marah soal semalem" ucap Atiqah sambil naik ke atas motor gede milik Ardi.
"Iya...pegangan" Ardi ingin Atiqah memeluknya tapi kenyataannya, Atiqah justru memegang pundaknya. Ardi menghela nafasnya.
Motor kembali Ardi tarik pedal gasnya cukup cepat menuju sekolah. Didepan gerbang, Echa dan gengnya berpapasan dengan motor Ardi. Menatap tajam ke arah Atiqah.
"Makasih buat tumpangannya" Atiqah turun, merapihkan baju dan roknya lalu mengikat rambutnya tinggi tinggi.
"Tunggu sebentar!" menahan tangan Atiqah yang akan pergi masuk ke dalam sekolah lewat pintu parkir.
__ADS_1
"Apa lagi?" Atiqah ingin cepat cepat masuk ke kelas.
"Aku minta maaf soal kejadian semalem. Aku bener bener gak tau apa yang bikin aku bisa gitu. Bisa sampein permintaan maafku buat tetangga kamu?" ucap Ardi, wajahnya memang menunjukkan keseriusannya meminta maaf. Menyesali perbuatannya.
"Iya, aku maafin. Nanti aku sampein ke mas Fajar. Udah kan? aku masuk dulu"
"Tunggu dulu! ini..." Ardi mengeluarkan satu box coklat mahal dari dalam tasnya. Atiqah menatap box itu. "Kakakku dari Canada, ini oleh oleh. Bisa kamu makan bareng Lala" menyodorkan kotak itu.
"Oke, aku terima" Atiqah menerima, memasukkannya ke dalam tas lalu masuk ke dalam sekolah meninggalkan Ardi yang masih memandang Atiqah dari belakang sambil tersenyum.
Di lorong menuju kelasnya. Ikat rambut Atiqah ditarik Sofi, siswi bertubuh gemuk teman satu geng Echa. "Apa lagi sih? kak...tolong jangan dulu. Bel masuk udah bunyi" meminta ikat rambutnya yang dipegang Sofi.
"Kalo gak mau, kamu mau apa?" tantang Sofi.
"Oke...aku gak mau apa apa. Iket rambutnya simpan aja" Atiqah melangkahkan kakinya ke arah kelas melewati Sofi. Echa dan dua temannya lagi terbengong mendengar ucapan Atiqah, sedangkan Sofi semakin geram lalu menarik tas ransel yang masih menempel di punggung Atiqah sampai terjatuh. Lala yang baru saja datang, memapah Atiqah untuk berdiri.
"Aku udah bilang jangan sekarang! bisa kan nanti waktu jam istirahat?!" bentak Atiqah.
"Bubar bubar...Pak Rudi udah ditangga" suara Rizki menggelegar di lorong kelas. Semua berhamburan masuk ke dalam kelas. Begitu juga dengan Echa dan geng.
"Kita lanjutin nanti!!" Echa menunjuk kedua mata Atiqah dari jarak 3 meter.
"Oke!!" jawab Atiqah.
Bersambung...
*****
Besok udah senin, jangan lupa votenya buat Atiqah ya 😊
Selalu like, komen dan kasih gift juga. Makasih all 🙏😊
__ADS_1
Kecup dikit sinih 😁😘😘😘