
Hari sabtu pagi Atiqah pergi ke apartemen. Ardi masih tidur di kamarnya. Ia membawa beberapa sayur dan lauk dari rumah. Ayahnya bekerja shift pagi dan ibunya berjualan, sedangkan Robi adiknya bermain dengan teman sebaya di lingkungan rumahnya.
Selagi Ardi masih tertidur, ia membereskan beberapa barang yang tergeletak di atas meja ruang santai. Laptop yang dibiarkan terbuka. Atiqah menyentuh mouse, memastikan laptop sudah mati. Ternyata laptop itu masih menyala dan menampilkan sebuah video dirinya dan Ardi saat di Jogja waktu itu. Atiqah menutup mulutnya. Tangannya gemetaran, ia menekan kursor ke layar, memutar video. Lalu memencetnya lagi, karna ia tidak mau melihat adegan berikutnya.
Buru-buru Atiqah menutup video dan menghapusnya. Berikut dengan beberapa video lain yang Ardi simpan untuk mengancamnya.
Atiqah menutup laptop dan ia kembali meletakkan barang-barang yang diambilnya tadi agar terlihat masih berantakan seperti semula. Atiqah akan berpura-pura baru datang.
Ia beranjak dari sana, memilih menata sayur dan lauk beserta nasi ke atas meja.
"Kamu dateng dari kapan?" suara Ardi di depan pintu. Pacarnya itu baru saja bangun.
Atiqah sedang membuatkan teh manis panas memunggungi Ardi. Tangannya gemetaran lagi. Atiqah sangat gugup.
"Yang...bikin apa sih? kok diem aja? fokus banget" Ardi melingkarkan tangannya ke perut Atiqah, memeluknya dari belakang. Atiqah terkejut dan menumpahkan sedikit teh yang sedang ia aduk.
"Ah...aduh aduh. panas panas" punggung tangan kiri Atiqah terkena teh panas.
"Maaf...maaf Yang. kesini..." Ardi menuntun Atiqah ke wastafel. Membasuh tangan dengan air dingin.
"Maaf...aku bikin kaget kamu ya?" masih memegang tangan kiri kekasihnya.
Atiqah mengangguk "Iya, aku kaget. Tadi aku gak tau kalo kamu udah bangun" ia beralasan.
"Kamu ngelamun? ngelamunin apa? sampe aku tanya gak dijawab" Ardi menyelipkan rambut Atiqah ke belakang telinga.
"Hah?? enggak...gak ada. Tadi aku emang gak denger. Serius" Atiqah berusaha meyakinkan Ardi sekaligus berusaha menenangkan hatinya.
"Masih sakit?" tanya Ardi.
"Lumayan, gak terlalu" Atiqah mematikan keran lalu menyambar beberapa lembar tisu, mengeringkan tangannya perlahan.
"Kamu bawa makanan?" Ardi melihat sayur dan lauk yang sudah tertata sambil membawa dua gelas teh yang dibuat Atiqah tadi ke atas meja makan.
"Iya. Aku bawa dari rumah. Tadi ibu masak lumayan banyak, jadi aku bawa kesini. Aku laper, aku belum sarapan. Aku pengen sarapan bareng kamu" Atiqah merangkul lengan kiri Ardi, bergelayut manja. Ardi mengusap puncak kepala lalu mengecup kening.
"Yaudah, ayok kita sarapan" menarik kursi untuk Atiqah lalu untuknya sendiri.
"Kamu belum cuci muka sama gosok gigi" ucap Atiqah. Ardi meringis sambil menggaruk kepala.
__ADS_1
"Aku lupa. Aku ke kamar mandi dulu. Sebentar aja kok. Oke?" mengecup pipi Atiqah lalu berlari ke kamar mandi.
"Ih jorok banget" Atiqah mengusap pipi bekas ciuman Ardi. Ardi tergelak dari dalam kamar mandi.
Atiqah menyendokkan nasi, sayur dan lauk ke atas piring untuk Ardi dan untuknya.
"Cepet kan?" ucap Ardi duduk di sebelah Atiqah.
"Iya cepet banget. Ayok makan?!" Atiqah mengangkat sendoknya. Ardi melakukan hal yang sama.
"Masakan ibu kamu emang gak pernah gak enak. Aku bisa nambah terus ini" ucap Ardi dengan mulut penuh.
"Dikunyah dulu baru ngomong. Entar kesedak" ucap Atiqah, mengangkat gelas meminum tehnya.
Ardi manggut-manggut sambil terus mengunyah, menghabiskan makanan di atas piring.
Selesai makan, Atiqah mencuci piring dan gelas. Sedangkan Ardi mandi. Siang ini mereka akan kencan ke bioskop.
"Yang, tolong ambilin handuk di rak dong. Aku lupa bawa" Ardi mengeluarkan kepalanya sedikit dari pintu kamar mandi.
"Rak mana?" tanya Atiqah sambil membilas piring terakhir.
"Oke oke...sebentar" Atiqah mengelap tangannya dengan tisu lalu masuk ke dalam kamar.
Brakk...Atiqah menyenggol lampu tidur saat menarik handuk dari tumpukan. Satu benda kecil berwarna hitam jatuh disebelah lampu. Atiqah mengambilnya.
"Astaga" Atiqah terkejut, menutup mulutnya. Benda itu kamera mini yang sama persis dengan yang Ardi tunjukkan saat di Jogja. "Jadi selama ini..." Atiqah menggelengkan kepalanya.
"Yang...mana handuknya? aku kedinginan" Ardi kembali berteriak dari dalam kamar mandi.
"Iya..iya sebentar" Atiqah memasukkan kamera mini ke dalam sakunya sambil berjalan keluar kamar. "Ini handuknya" menjulurkan handuk ke dalam kamar mandi.
Atiqah bingung harus melakukan apa. Jantungnya masih berdegup tak beraturan. Ia mondar mandir didepan televisi.
"Kamu kenapa Yang?" Ardi keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.
Atiqah terlonjak memegangi dadanya "Astaga".
"Apa sih Yang? sampe kaget gitu" Ardi berlalu meninggalkan kekasihnya yang masih diam mematung disana. Ia masuk ke kamar, memakai bajunya.
__ADS_1
Atiqah mengambil air minum didalam lemari pendingin. Berusaha untuk meredam kegugupannya.
Ardi melihat lampu tidur yang bergeser dan kabelnya terlepas. Ia langsung mengingat soal kamera mini yang diletakkan disana.
"Sial!" Ardi menatap ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Ia berjalan keluar kamar lalu meneliti letak laptop yang terutup. Seingatnya, semalam ia tinggalkan laptop begitu saja tanpa mematikan dan menutupnya.
"Aku udah siap" ucap Ardi, ia berpura-pura tidak curiga pada kekasihnya.
Atiqah meletakkan gelas lalu berbalik "Aku ke toilet dulu" ucapnya berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Oke..." jawab Ardi santai. Kesempatan bagi Ardi untuk mengecek laptopnya.
Ardi mengepalkan tangannya. Dua video yang ia simpan telah raib. Ardi membuka CCTV yang terhubung dengan ponselnya. Ia semakin geram melihat Atiqah mengutak atik laptop miliknya serta menghapus video itu.
"Aku udah selesai. Mau berangkat sekarang?" Atiqah keluar dari kamar mandi. Merapihkan dengan menepuk nepuk dressnya.
Ardi meremas ponselnya lalu bangkit dan menyeret Atiqah masuk ke dalam kamar. Atiqah bingung dengan sikap Ardi yang tiba-tiba marah.
"Kamu kenapa? pelan-pelan" ucap Atiqah terus mengikuti langkah Ardi yang terus menyeretnya lalu menghempaskannya ke atas ranjang.
"Kamu ngapain laptopku?" tanya Ardi dengan nada berteriak. Atiqah terperangah, menggeser badannya ke kiri. Ia sungguh takut dengan kemarahan Ardi. Atiqah ingin kabur, keluar dari apartemen itu.
"Jawab Atiqah!!" Ardi kembali berteriak. Mencondongkan tubuhnya dan meremas kedua bahu Atiqah.
Atiqah meringis menahan sakit dari remasan Ardi. Kilatan mata yang tajam, deru nafas yang memburu seakan akan emosinya akan siap meledak saat ini juga. Atiqah menggelengkan kepalanya, tubuhnya gemetaran.
"Kamu gak punya mulut? Hah?? jawab Atiqah!! kamu ngapain laptopku? kamu gak bisa ngΓ©lak lagi. Aku liat semua dari CCTV" Ardi mencengkeram pipi Atiqah, terus berteriak didepan wajah.
"Ma-af...Ma-afin a-ku Ardi" hanya kata maaf yang bisa Atiqah ucapkan. Ia terlalu ceroboh. Tidak menyadari adanya CCTV di ruangan itu.
Bersambung...
*****
Maaf telat update. Kebetulan lagi gak mood. Pengen rehat sebentar. Semoga jadi makin penasaran ya πππ
Rate bintang 5nya ya sayang2ku π like, komen dan giftnya juga jangan lupa. Sangat berarti untuk othor. Biar Atiqah makin banyak yang baca π
Terimakasih banyak πππ
__ADS_1