
"Saya Ardi Danurdara. Pada tanggal 13 Juni, saya menginap di Resort X. Bisa anda cek daftar nama disana. Saya minta kirimkan rekaman CCTV di sekitar kamar 001, 002 dan 003 area pool. Kirim ke email saya. Secepatnya!" ucap Ardi saat menghubungi resepsionis pihak Resort X Gunungkidul Yogyakarta.
Akhirnya Ardi memilih mendengarkan Lala yaitu menyelidiki kejadian apa yang terjadi saat mereka berlibur bersama.
Karena koneksinya, Ardi mendapatkan rekaman itu dalam waktu cepat. Ardi membanting laptop setelah melihat rekaman CCTV. Ardi melihat Atiqah berciuman dengan Guntur. Ardi pikir Guntur yang memaksa Atiqah tapi nyatanya Atiqah menerima ciuman itu sambil memejamkan mata.
"Breng*sek!! Anj*ing!!" Ardi menendang meja.
Baru beberapa hari ia kembali ke Jakarta setelah acara Mitoni di Jogja, Ardi sudah menerima kenyataan seperti itu. Ia merasa di khianati. Meskipun saat itu mereka masih berpacaran dan Atiqah di ancamnya, baginya ini adalah penghianatan.
Ardi semakin gelap mata. Ia menghubungi penjaga rumah Subroto. Ia meminta untuk selalu mengirimkan rekaman CCTV di seluruh rumah dan juga menyuruh orang untuk mengikuti kemana pun Atiqah dan Guntur pergi.
"Aduh," suara Atiqah mengaduh kesakitan sambil berpegangan tembok. Saat itu Atiqah akan kembali ke kamar setelah makan siang bersama Subroto dan juga Guntur.
"Nduk kenapa?" tanya Subroto, mendekati Atiqah. Guntur yang baru saja meletakkan piring ke dalam wastafel menoleh lalu cepat-cepat menangkap tubuh Atiqah.
"Mbak kenapa?" tanya Guntur.
"Kakiku keram," Atiqah meringis menahan sakit.
"Tur, pijetono (Guntur, pijatkan)," titah Subroto.
Guntur mendudukan Atiqah ke bangku panjang lalu memijatnya perlahan.
"Masih sakit mbak?" Atiqah masih meringis sambil menganggukkan kepala.
"Sabar nduk, diluk kas mari (Sabar nak, sebentar lagi sembuh)," Subroto mengusap punggung Atiqah.
Guntur terus memijati sampai keram itu hilang.
"Gendongen maring kamar, Tur. (Gendongkan ke kamar, Guntur)," Subroto kembali memberikan perintahnya. Kakek tua itu tidak tega melihat cucu menantunya berjalan tertatih-tatih.
"Inggih Eyang," meski ragu-ragu Guntur membopong Atiqah. Atiqah merangkul leher Guntur erat, ia takut terjatuh. Dan kejadian itu terekam CCTV yang mengarah ke kolam renang dan teras paviliun. Ardi melihatnya dengan pikiran yang berbeda. Ia pikir Atiqah dan Guntur bermain api di belakangnya.
__ADS_1
Kedekatan Atiqah dan Guntur harus terjalin karena hanya laki-laki itu yang dipercayai Subroto untuk menjaga Atiqah dan calon cicitnya.
Karena kesalahan sebelumnya membuat Ardi gelap mata dan semua baginya adalah perselingkuhan.
Sejak saat itu Ardi berubah, tidak lagi sering bertukar kabar atau pun menghubungi Atiqah. Rasa cintanya yang teramat berubah menjadi rasa benci dan dendam.
Ardi menutupi rasa kesalnya pada Atiqah. Ia hanya memikirkan anak di dalam perut istrinya itu. Sebuah rencana besar sudah ia rancang sedemikian rupa. Rencana yang akan menjerat Atiqah dan membuat istrinya itu tidak berkutik dan tidak akan pernah berani meninggalkannya.
"Ma, Ardi mohon bantuan Mama. Cuma Mama yang bisa bantu Ardi," ucap Ardi pada Anne. Ia pulang ke rumah setelah sekian lama.
"Kamu dateng-dateng langsung minta tolong Mama. Kamu udah sadar? Mama yakin kamu ditipu perempuan itu," ucap Anne di teras belakang.
"Mama nggak perlu ngomong gitu ke Ardi. Ardi cuma mau bantuan Mama. Nggak usah bahas yang lain," Ardi merasa tersindir dengan ucapan ibunya. Iya, ia ditipu oleh perempuan yang dibelanya mati-matian. Pikir Ardi.
"Bantuan apa?" tanya Anne sambil menyemprot vitamin pada daun tanaman-tanamannya.
"Gini Ma ..." Ardi membisikkan rencananya pada Anne. Mamanya itu mengangguk-angguk mengerti.
"Karena Mama udah mau bantu Ardi. Ardi kasih satu rahasia yang harus Mama tau," Ardi duduk mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Anne.
"Apa? rahasia apa?" Anne mendekatkan telinganya.
"Ini soal Papa," bisik Ardi. Sigit hari itu ada dirumah.
"Cepetan ngomong!" Anne ingin segera tahu rahasia apa tentang suaminya.
"Mama tau kenapa sekertaris Papa menghilang?" tanya Ardi, Anne menggelengkan kepala.
"Kenapa Narnia?" tanya Anne.
"Dia hamil anak Papa. Tiga bulan yang lalu melahirkan. Anak laki-laki, Ma." bisikan Ardi membuat Anne geram. Bukan hanya putranya yang ditipu tapi dirinya juga.
"Apa??" Anne berkata keras lalu Ardi meminta ibunya untuk diam.
__ADS_1
"Jangan teriak-teriak, Ma. Nanti Papa denger. Saran Ardi, Mama amanin semua aset atas nama Papa. Ubah semua atas nama Mama. Jangan sampai Papa curiga. Satu lagi ..." Ardi kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Anne.
"Bukan sekertaris itu aja, Ma. Ada tiga perempuan lagi yang jadi simpanan Papa. Dua diantaranya punya anak masing-masing satu. Papa udah bohongi Mama lama," Ardi puas membeberkan semua rahasia Papanya.
Anne membelalakan kedua matanya. Mengepalkan tangan sekuat tenaga. Anne benar-benar marah sekaligus kecewa. Selama ini ia ditipu mentah-mentah oleh suaminya.
*****
Ardi membopong Atiqah masuk ke dalam mobil. Membawa istrinya ke rumah sakit dimana Subroto di rawat.
Atiqah merintih kesakitan, memegangi perutnya sambil meremas lengan kiri Ardi yang sedang menyetir di pagi dini hari.
"Sakittt ... sakit banget. Aku nggak kuat. Ini sakit banget," Atiqah terus berkata seperti itu.
Ardi yang tegang dan ikut panik, membentak Atiqah. "Bisa diem gak? aku lagi nyetir, aku nggak fokus jadinya. Tahan!" Ardi meringis merasakan lengannya diremas Atiqah.
"Kamu nggak ngrasain gimana sakitnya. Aku kesakitannn ..." Atiqah meneriaki Ardi. Sedang merasakan sakit tapi justru ia dibentak.
"Aku lebih sakit. Asal kamu tau! kamu udah hianatin aku! aku udah bilang, jangan bohong! jangan bohong! tapi apa? kamu lakuin semua itu waktu aku nggak ada, waktu aku jauh. Istri macam apa kamu?" Ardi berbalik memaki Atiqah.
Atiqah beralih meremas kerah baju Ardi. Ingin rasanya memukul wajah suaminya itu. Ingin menjelaskan semua tapi percuma, sia-sia. Ardi tidak akan mendengarkannya.
"Aku kesakitan. Aku sedang berjuang untuk anak kita. Jangan bahas yang lain dulu. Kita omongin lagi nanti kalau semua udah beres. Aku cuma mau kamu kasih perhatian ke aku, kasih dukungan buat aku. Aku cinta kamu, cuma kamu," Atiqah mengucapkannya sambil menahan sakit dan menangis. Rasanya ia sudah tidak sanggup merasakan gelombang cinta dari sang bayi yang ingin segera lahir ke dunia.
Mobil memasuki lobby rumah sakit. Ardi keluar lalu berteriak meminta pertolongan. Ia membopong Atiqah. Darah segar keluar dari celah paha.
"Bawa masuk, cepat! kamu hubungi dokter Arista" titah dokter jaga saat itu. Mereka masuk ke dalam ruang bersalin.
Atiqah terus menggenggam tangan Ardi. "Mas Ardi, istri anda harus segera di operasi. Keadaannya tidak baik. Ini demi keselamatan ibu dan anak," ucap dokter Arista yang baru saja selesai memeriksa.
"Baik dok," Ardi mengangguk, begitu juga Atiqah.
Bersambung...
__ADS_1