
Bu Asri mendapat telepon dari pak Musri selaku pihak sekolah. Dengan terburu-buru bu Asri menutup warungnya di pasar. Suaminya pak Bondan yang sudah mulai bekerja, mengharuskannya ke rumah sakit seorang diri.
"Bulek, kenapa ditutup? bulek mau kemana?" tanya Fajar yang saat itu memang akan mampir ke warung bu Asri.
"Eh nak Fajar. Mau beli lauk ya? maaf banget. Bulek harus tutup warung dulu" sambil memutar kunci pintu warung berwarna hijau bertuliskan Warung Asri.
"Mau makan sih, tapi gak papa lain kali aja. Bulek mau kemana? buru-buru banget" Fajar masih berdiri didepan warung.
"Mau ke Rumah Sakit. Atiqah luka-luka kata gurunya. Yowes, bulek ke Rumah Sakit dulu. Besok kesini lagi aja yo?" Bu Asri hendak berjalan keluar pasar ke pangkalan ojek. Tapi Fajar menawarkan diri mengantarnya.
"Saya anter bulek. Sekalian mau tau juga keadaan Atiqah. Kok bisa luka-luka ya? gurunya tadi bilang sebabnya apa?" Fajar menyalakan motornya, bu Asri berpegangan pundak lalu naik dengan posisi miring.
"Gak bilang apa-apa lagi. Katanya nanti dikasih tau kalo udah disana. Mudah-mudahan gak serius. Baru sekarang Atiqah kaya gini" suara bu Asri terdengar cemas.
"Amin...bulek tenang, jangan panik" Fajar melajukan motor maticnya ke arah Rumah Sakit dimana Atiqah dirawat.
Bu Asri dan Fajar berjalan beriringan dengan langkah cepat. "Ruangan IGDnya dimana ya? bulek baru pertama kali masuk ke sini. Ini Rumah Sakit mahal. Kenapa dibawa kesini? masih ada Rumah Sakit yang lebih deket dari sekolah" bu Asri berkeliling menatap sekitar, mencari petunjuk arah.
"Kesana bulek" tunjuk Fajar ke arah kiri. Lantas mereka jalan menyusuri lorong yang langsung terhubung dengan bagian samping IGD.
"Duh jadi muter-muter gini. Ternyata pintunya disana" bu Asri kembali memutari taman dan terlihat beberapa guru, Putra juga Ardi duduk menunggu di kursi panjang. Sedangkan dua pengawal Ardi duduk sedikit menjauh dari Tuannya.
Fajar menatap Ardi. Laki-laki yang memaksa Atiqah di taman Mall bulan lalu, pikirnya.
"Bu Asri" Ardi bangkit dan akan mendekati tapi ditahan oleh Pak Musri.
"Kamu duduk! Biar saya aja" pak Musri bangkit lalu menyalami bu Asri.
"Bagaimana Atiqah anak saya pak? sebenarnya ada apa? kenapa anak saya sampai masuk rumah sakit?" bu Asri langsung mencecar banyak pertanyaan pada pak Musri.
"Emm...begini bu--" belum sempat pak Musri menjawab, dua petugas dari kepolisian datang.
__ADS_1
"Siang pak...menurut panggilan tadi, apa benar anda bapak Musri guru sekolah SMAN 60?" satu petugas bertanya.
"Iya, betul. Saya Musri. Sesuai laporan saya tadi, silahkan bapak bawa murid saya yang bernama Putra Anggoro" menunjuk Putra yang duduk menunduk. Sudah tidak ada jalan keluar lagi baginya. Putra memejamkan mata, masa depannya hancur begitu saja.
"Baik, saya akan bawa ke kantor dan memeriksanya. Untuk saksi silahkan ikut juga bersama kami" Ardi bangkit dari duduknya, mendekati polisi. Begitu juga dengan dua pengawalnya.
"Saya saksi dan siap untuk bersaksi atas tindakan pelecehan yang dilakukan olehnya" ucapan Ardi membuat bu Asri dan Fajar terkejut.
"Pelecehan?" gumam bu Asri yang masih berdiri disamping pak Musri. "Apa yang kamu lakuin ke anak gadis saya? APA??" bu Asri histeris, menarik baju Putra yang sudah di borgol.
Keributan didepan ruang IGDpun terjadi. Bu Asri menangis, membayangkan putrinya yang tidak-tidak.
"Bulek, sabar...sabar bulek" Fajar menahan bahu bu Asri yang masih meronta, menangis. Ardi akan menenangkan ibu kekasihnya tapi Fajar sudah lebih dulu melakukannya.
Putra dibawa oleh kedua petugas, Ardi dan pengawalnya ikut serta ke kantor polisi untuk memberikan keterangan sebagai saksi.
"Maaf atas kelalaian sekolah kami bu. Semua terjadi begitu cepat. Kami mengetahuinya saat Ardi dan Putra berkelahi di lorong kelas. Dan Atiqah sudah pingsan" pak Musri sedikit bercerita tentang kejadian tadi.
Dokter keluar dari ruang IGD, mengabarkan jika Atiqah sudah bisa dipindah ke ruang rawat inap. Brankar dimana Atiqah masih terpejam berbaring, didorong oleh dua perawat menuju kamar kelas VVIP. Ardi yang mengurusnya semua sebelum bu Asri datang.
"Pak, apa benar dikamar yang ini? ini pasti mahal sekali. Saya, saya tidak punya uang sebanyak itu. Biar anak saya di kamar yang biasa aja pak" ucap bu Asri pada pak Musri saat baru saja masuk ke kamar VVIP itu. Bu Lia dan bu Maya sudah berpamitan pulang, selebihnya pak Musri yang mengurus.
"Kamarnya benar ini bu. Ardi yang mengurus semuanya tadi. Jadi ibu tidak perlu khawatir" ucap pak Musri, duduk di kursi samping ranjang.
"Nak Ardi?" bu Asri kembali merasa sungkan pada Ardi. Bagaimana nanti kalau orangtua Ardi sampai tahu. Sudah jelas akan menambah masalah baru untuk keluarganya.
"Iya bu" pak Musri membenarkan ucapannya.
Fajar yang sejak tadi diam tak bersuara, masih berpikir dan mencerna soal pelecehan yang dialami Atiqah dan juga Ardi. Ardi begitu loyal dan perhatian pada Atiqah.
Apa mereka ada sesuatu? atau Ardi sedang melakukan pendekatan? mustahil dia melakukan semua tanpa ada sesuatu dibalik kebaikannya. Pertanyaan dan spekulasi timbul dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Nak Fajar pulang aja. Bulek bisa jagain Atiqah. Tapi bulek minta tolong sampein ke paklek kalau Atiqah masuk rumah sakit. Gak perlu kesini. Biar paklek jagain Robi dirumah. Makasih banyak ya nak Fajar udah nganter bulek kesini" bu Asri baru sadar akan keberadaan Fajar. Menyuruhnya untuk pulang dan berterimakasih.
"Gak papa bulek? Fajar aja yang nungguin Atiqah. Bulek dirumah. Kasian capek dari pagi ngurus warung" memang wajah bu Asri terlihat lelah. Pagi buta sudah bangun menyiapkan masakan untuk warungnya di pasar, lalu berjualan hingga siang tadi.
"Bulek yang gak enak sama nak Fajar. Baru pulang dari Bandung tapi malah mau nungguin Atiqah" bu Asri bingung. Suaminya belum sembuh benar tapi sudah harus bekerja, masih butuh perawatan darinya.
"Memangnya gak papa? aduh, bulek minta maaf banget ya nak Fajar. Bulek ngrepotin semalam aja. Besok pagi bulek kesini yang jagain Atiqah" bu Asri memegang tangan Fajar, mengucapkan rasa terimakasihnya.
"Iya bulek gak papa. Gak usah khawatir. Fajar jagain Atiqah. Bulek pulang, istirahat" bu Asri mengangguk sambil tersenyum.
"Bu Asri saya antar saja. Sekalian saya mau ke kantor polisi untuk mengecek kelanjutan laporan tadi" pak Musri bangkit, berdiri memakai tas ranselnya.
"Terimakasih banyak pak Guru" bu Asri dan pak Musri pergi meninggalkan Fajar dan Atiqah.
Atiqah masih tertidur. Dokter sengaja memberikannya obat tidur untuk memulihkan kondisinya. Fajar menggeser kursi lebih dekat dengan Atiqah yang berbaring. Merapihkan helaian rambut di dahi. Mata Atiqah lebam, bibir bawahnya bengkak dan terdapat luka.
"Kenapa bisa gini? aku sedih liatnya" memegang tangan Atiqah.
"Padahal sore ini aku mau ajak kamu makan dirumah. Aku mau kasih kabar soal hubunganku sama Sherly. Bulan depan aku mau tunangan sama dia. Setelah aku lulus, kami mau nikah. Kamu seneng kan dengernya? ibuk juga udah gak marah lagi soal Sherly. Ini berkat semangat yang kamu kasih ke aku. Makasih ya" Fajar bercerita sambil menunduk tanpa tahu kalau Atiqah sudah membuka matanya. Ada rasa sesak di hati Atiqah. Padahal sejak adanya Ardi, Atiqah sudah bisa melupakan sosok Fajar cinta pertamanya.
"Selamat ya mas" ucap Atiqah lirih. Fajar mengangkat kepalanya.
Bersambung....
******
Lagi sakit, lemes eh denger kabar doi mau tunangan trus mau nikah. Sabar Atiqah...
Eits jangan lupa rate bintang 5nya sayang2nya aku 😁 like, komen juga giftnya 😁 nodong alus.
Matur tengkyu sadayana 🙏😘😘😘
__ADS_1