ATIQAH

ATIQAH
Bab 54 : Rencana Anne


__ADS_3

"Ma-af ... Ma-afin a-ku Ardi" hanya kata maaf yang bisa Atiqah ucapkan. Ia terlalu ceroboh. Tidak menyadari adanya CCTV di ruangan itu.


"Kamu mau kabur dari aku? iya?? kamu hapus semua video kita, biar kamu bebas? Jawab aku Atiqah!!" Ardi mencengkeram leher, menekannya kuat. Atiqah berusaha melepaskan cengkeraman Ardi di lehernya. Kakinya susah bergerak karena ditindih.


Wajah Ardi merah padam, emosinya meledak. Atiqah kesusahan bernafas, air matanya mengalir.


Aku mati ... aku mati. Batin Atiqah, pasrah.


"Uhuk uhuk" Atiqah terbatuk setelah Ardi melepaskan cengkeraman di lehernya.


Ardi melihat kedua tangannya lalu melihat Atiqah yang terbatuk-batuk memegangi leher.


"Arghh ...." Ardi meremas rambutnya, meninju tembok lalu membenturkan dahinya berkali kali.


"Ka-mu ngapain Ardi ... uhuk uhuk" Atiqah terduduk dan masih terbatuk sambil menyaksikan Ardi melukai dirinya sendiri karena sudah berbuat kasar dan akan mencelakainya.


"Maaf ... maafin aku. Maaf Atiqah. Maafin aku Yang. Aku hilang kendali. Aku emosi. Maaf ... maaf" Ardi berlari bersujud di kaki Atiqah. Tangan dan dahinya lebam mengeluarkan darah.


Atiqah merosot, duduk berhadapan dengan Ardi. "Aku yang salah. Aku yang lancang sentuh laptop kamu. Aku ... aku cuma jijik lihat kita ada di dalam video itu. Maaf ... Maaf" memegangi bahu kanan dan kiri Ardi.


Ardi mengangkat wajahnya, menangkup pipi Atiqah. "Aku sayang kamu. Aku nggak mau kamu pergi. Jangan tinggalin aku. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Kamu masa depanku".


"Aku nggak pergi. Aku nggak kemana-mana. Aku disini" Atiqah memeluk Ardi. Mereka berdua menangis bersama.


Dan siang itu mereka hanya di apartemen. Rencana untuk ke bioskop mereka tunda.


"Aku obati lukamu dulu" Atiqah bergeser lalu berjalan ke arah nakas, mengambil satu kotak p3k. Ardi terus menatap kemana Atiqah bergerak.


"Duduk disini --menepuk kasur-- lukanya dibersihin dulu, baru pakai plester" Atiqah mengeluarkan alkohol, kapas dan plester.


Ardi bangkit, mendekat. "Yang, aku ...."


"Iya ... iya. Aku tau" ucapan Atiqah langsung membungkam mulut Ardi. Ia menurut lalu duduk dihadapan kekasihnya.


"Sakit ..." rengek Ardi.


"Sebentar aja, tahan dulu" membersihkan luka dengan alkohol sambil meniup.


"Udah?" tanya Ardi.

__ADS_1


"Udah" jawab Atiqah sambil merapihkan kotak p3k lalu membuang kapas ke tempat sampah di sudut kamar. Ardi masih memandangnya dengan raut wajah menyesal.


"Kenapa ngeliatnya gitu?" Atiqah baru saja memasukan kotak p3k ke dalam laci.


"Maaf, kita nggak jadi nonton" Ardi menatap Atiqah yang berjalan mendekatinya.


"Nggak papa, masih banyak waktu" Atiqah duduk di samping Ardi, menyandarkan kepala ke bahu kekasihnya.


Ardi menarik tangan kanan Atiqah, menggenggamnya. "Aku sayang kamu. Jangan pergi" ucapnya kesekian kali. Atiqah mengangguk. Anggukan kekasihnya itu terasa di bahunya.


Ardi mengecup puncak kepala, mengendus wangi sampo yang menguar. "Kamu wangi banget. Aku suka".


"Masa sih?" Atiqah memang keramas tadi pagi sebelum datang ke apartemen.


"Iya, serius. Wangi banget" Ardi kembali mengendus puncak kepala Atiqah. Atiqah tersenyum sambil memandangi tangan kananya digenggam Ardi.


Hubungannya bersama Ardi memang naik turun. Terkadang kekasihnya itu sangat lemah lembut, romantis tapi bisa sewaktu-waktu berubah menjadi seperti orang lain. Atiqah menganggapnya suatu hal yang wajar dalam suatu hubungan. Ia masih bisa mentolerir sikap Ardi.


"Kamu yakin sama ucapan kamu minggu lalu?" tanya Atiqah masih menatap genggaman tangan Ardi.


"Ucapan yang mana?" Ardi bertanya kembali karna memang ia tidak tahu ucapan yang mana.


"Yang ... serius aku lupa" Ardi menahan tangan, Atiqah berbalik.


"Yaudah .... nggak perlu dibahas. Kamunya juga lupa" menyingkirkan tangan Ardi di lengan.


"Yang ...." Ardi memeluk Atiqah dari belakang. "Soal aku mau nikahin kamu?" ucap Ardi. Atiqah menggigit bibirnya lalu mengangguk.


"Astaga. Ngomong gitu aja harus pake acara ngambek-ngambek" membalikkan badan Atiqah.


"Ya habisnya kamu lupa. Aku jadi sangsi. Kamu nggak serius" Atiqah masih cemberut.


"Aku serius. Aku nggak akan ingkar janji" Ardi memegang dua bahu Atiqah.


"Tapi aku belum lulus. Bapak gak akan bolehin" Atiqah gusar.


"Pasti bolehin --mengusap pipi lalu mendaratkan kecupan lembut di kening, mata, hidung dan bibir. Memberikan sedikit lummatan-- Aku pengen Yang ...." bisik Ardi, nafasnya memburu.


Belum Atiqah menjawab, Ardi sudah kembali melummat bibir kekasihnya. Ciuman menuntut.

__ADS_1


Entah sejak kapan, pakaian keduanya sudah berserakan di lantai kamar. Atiqah dan Ardi sedang menyatukan tubuh di atas ranjang. Suara desaahan dan eraangan menjadi nada yang merdu terdengar di telinga. Membangkitkan rasa ingin lebih dan lebih lagi.


"Yang ... aku bentar lagi" ucapan Ardi menyadarkan Atiqah yang sedang bergerak di atas sambil meliuk-liukkan tubuhnya erotiis.


"Pengaman" ucap Atiqah membuka laci, meraih satu bungkus persegi berwarna biru bergambar buah anggur. "Pake dulu" Atiqah menyodorkannya pada Ardi.


Tanpa Atiqah tahu, Ardi sudah membalikkan tubuhnya. "Kelamaan Yang, aku udah nggak tahan" melesakkan miliknya sambil meremas pinggang Atiqah.


"Emm...Ahh...Ahh" Atiqah mendongak lalu Ardi menariknya agar sejajar. Menarik dagu, menolehkan kepala dan menciumnya sambil terus bergerak maju mundur.


"Maaf Yang, di dalem lagi. Kamu minum pilnya, ada di laci tadi" ucap Ardi masih mengatur nafasnya.


Atiqah melepaskan diri, mendorong Ardi dan ia kembali bergerak di atas. "Aku belum Yang. Aku masih pengen" Atiqah merasa hari itu belum merasa cukup. Sudah satu minggu ini memang sikapnya berubah. Menjadi manja dan rasanya ingin memuaskan hasrat.


"Hah??" Ardi terkejut, sedetik kemudian terhanyut karena gerakan Atiqah yang liar.


*****


Dua hari sebelumnya, hari Kamis sore di kediaman Sigit Danurdara. Anne marah besar pada suaminya soal perkataan Ardi bahwa Sigit menyetujui pernikahan putranya dengan Atiqah.


"Apa maksud ucapan Ardi soal Papa setuju dia mau nikahin perempuan itu?" tanya Anne dengan nada keras. Melda dan suaminya memilih pergi ke rumah orangtua Rian di Jakarta Utara. Melda sudah memprediksi hal itu setelah kepulangan Mamanya dari rumah sakit.


Sigit mengatupkan bibirnya, matanya bergerak kesana kemari. Ia sedang mencari alasan yang tepat agar istrinya tidak curiga.


"Emm ... kita nggak pernah tau nantinya gimana Ma. Ardi bilang setelah lulus SMA, tapi ... siapa tau mereka putus sebelum Ardi lulus. Mama tau sendiri gimana keras kepalanya Ardi. Papa bilang begitu supaya Ardi diam. Papa pusing sama ulahnya. Mama juga kan? buktinya sampe masuk rumah sakit" ujar Sigit panjang lebar. Ia berharap ucapannya bisa diterima oleh Anne.


"Papa yakin nggak ada yang disembunyikan dari Mama?" Anne terus mengikuti arah mata dan mengamati gerak gerik suaminya. Sigit yang duduk di kursi kerjanya terlihat gelisah.


"Nggak ada yang pernah Papa sembunyikan. Papa selalu jujur dan terbuka sama Mama" ucap Sigit.


"Oke ... Mama percaya tapi Mama mau setelah Ardi lulus, kirim dia ke Canada. Jauhkan dari perempuan itu. Mama nggak mau perempuan itu jadi menantu kita!" ucap Anne tegas, menggebrak meja lalu pergi dari ruangan kerja suaminya. Sigit menggaruk pelipisnya. Bagaimana bisa ia mengirim putranya ke Canada sedangkan Ardi memiliki semua bukti.


Bersambung...


*****


Maaf banget baru bisa update 🙏 kebetulan moodnya lagi gak bagus, badan juga kurang fit. Semoga bisa sedikit mengobati ya 😊


Jangan lupa rate bintang 5, like, komen sama giftnya. Terimakasih 🙏🙏🙏😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2