ATIQAH

ATIQAH
Bab 44 : Yogyakarta (8)


__ADS_3

"Minum obatnya! Jangan sampe yang lain tau apa kata dokter Amel!" Ardi meletakkan obat dan satu gelas air putih. Ardi sudah menebus obat itu di apotik terdekat.


"Tapi..." air mata Atiqah menetes. Sejujurnya ia sangat malu pada dokter Amel.


"Tapi apa? --Ardi duduk berhadapan dengan Atiqah di atas kasur, menyeka air mata-- kenapa nangis?"


"Aku malu" terus menangis.


"Gak perlu malu. Aku gak bakal tinggalin kamu. Aku disini. Siap bertanggung jawab. Aku sayang banget sama kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu" membelai dahi lalu turun ke pipi.


"Jangan tinggalin aku" Ardi memeluk Atiqah, ia takut dicampakkan. "Aku bener-bener sayang kamu" Atiqah membalas pelukan Ardi.


"Iya, aku tau...aku ngerti" mengusap punggung Ardi. Pacar mesumnya itu menangis.


*****


Deretan pepohonan dan jalan yang terus menanjak berkelok-kelok, menjadi pemandangan perjalanan yang dilalui menuju pantai di daerah Gunungkidul.


Guntur mengajak mereka ke pantai atas perintah Subroto. Memberi waktu liburan setelah dua hari Subroto dan Guntur ke luar kota.


"Serem banget jalannya, kelak kelok gini mas Guntur. Aku jadi mual pengen muntah" Lala menutup mulutnya lalu merogoh tas mencari keresek plastik yang sudah ia siapkan dari rumah. Lala tahu jalan yang bagaimana yang akan mereka lalui lewat internet.


"Maaf mbak Lala, sabar ya. Bentar aja kok" jawab Guntur fokus menyetir.


"Tadi katanya aman, tenang aja. Sekarang mau muntah" Ardi mencibir.


"Ssttt --Atiqah menyuruh Ardi diam-- nih aku ada minyak, olesin ke hidung sama perut. Aku bawa obat anti mual. Langsung minum aja" memberikan minyak pada Lala.


"Percuma Yang, harusnya minumnya tadi sebelum berangkat. Sekarang udah gak ngaruh. Muntahin aja gih" Ardi sangat cerewet pikir Atiqah, berisik. Atiqah memicingkan matanya saat Ardi terus berceloteh menoleh ke bangku belakang.


"Diem Yang!" Ardi langsung kembali duduk, melipat tangannya kedepan dada. Guntur tersenyum kecil mendengar Ardi dimarahi Atiqah.


"Keluarin aja La, aku bantu" Atiqah memijat tengkuk Lala dan sooorrrrr...Lala mengeluarkan isi perutnya, sarapan tadi pagi terasa sia-sia. Nasi kuning lengkap buatan mbok Jum tumpah ruah bercampur air ke dalam keresek hitam.


"Ah...Gila. Buang buang. Aku gak kuat cium baunya. Lala jorok banget" Ardi kembali menggerutu sambil menutup hidung.


"Ardi diem deh. Lala lagi gini tapi kamu cerewet banget" Atiqah menepuk bahu Ardi karena kesal mendengar celotehan kekasihnya itu.


"Iya aku diem tapi buang dulu itu. Bau banget Yang" masih menutup hidung.


"Sebentar mas, didepan udah sampai resort" Guntur menunjuk arah depan. Plang bertuliskan resort terkenal layaknya di pulau Bali.

__ADS_1


"Syukur deh --menghela nafas-- udah mau sampe La. Mending kamu istirahat dulu" Atiqah menyeka keringat Lala dengan tisu.


Hamparan samudera luas membentang tepat didepan kamar yang mereka sewa. Tiga kamar menghadap kolam renang. Atiqah bersama Lala sedangkan Ardi tidak mau satu kamar dengan Guntur. Memilih kamar terpisah.



"Aku temenin Lala istirahat" ucapnya pada Ardi. Ardi mengijinkan karena ada Guntur disebelahnya. Tidak mungkin ia memaksa didepan asisten Subroto.


Atiqah memapah Lala yang lemas, isi perutnya terkuras habis. Mulutnya pahit.


"Kamu mau makan apa La? perutmu kosong, entar tambah sakit" Lala menggelengkan kepala, menutup matanya dengan lengan.


"Aku mau tidur. Kamu kalo mau sama kak Ardi keluar aja. Aku gak papa" ucapnya lemah.


"Enggak ah, aku disini aja" Atiqah mendaratkan bokongnya ke sofa tunggal menghadap kolam renang.


Byurrr....suara orang menceburkan diri ke dalam kolam. Ternyata Guntur. Atiqah membulatkan matanya melihat Guntur bertelanjang dada.


"Astaga" Atiqah menutup matanya lalu mengintip sedikit dari celah jarinya. "Bagus banget badannya" gumamnya.


Ponsel Atiqah bergetar. Ardi mengirimkan pesan padanya.


📩 Ardi


Atiqah menghela nafasnya kasar setelah membaca pesan Ardi. Tanpa membalas pesan itu, Atiqah mengetuk connecting door. Ardi membukanya lalu menarik Atiqah cepat, mengunci pintu itu.


Ardi melucuti pakaiannya juga Atiqah. Membawa kekasihnya berendam dalam bathup. Memeluk erat lalu meremas, meraba inti tubuh. Atiqah melingkarkan tangannya ke belakang leher, semakin menempelkan punggungnya pada dada Ardi.


Atiqah melenguh, jarinya terus bermain disana. "Udah?" tanya Ardi berbisik. Hanya anggukan kepala. "Bangun" menarik untuk berdiri dibawah guyuran shower.


Menekannya dalam-dalam dan untuk kesekian kalinya Ardi tidak menggunakan pengaman. Ribet dan terlalu lama harus memakainya terlebih dulu, pikir Ardi. Toh dia akan bertanggung jawab atas semua perlakuannya pada Atiqah. Ardi memiliki bermacam cara untuk menjerat Atiqah kekasihnya agar tidak meninggalkannya.


"Sini" Ardi menepuk ruang kosong diranjangnya. Atiqah merangkak naik menyambut rentangan tangan Ardi.


"Capek?" anggukan kepala Atiqah terasa di dadanya juga menyentuh dagunya.


"Laper gak?" tanya Ardi lagi.


"Iya, aku laper" Atiqah semakin mengeratkan pelukannya. Ardi tersenyum sambil mengusap-usap punggung.


"Mau makan apa? aku pesenin. Kita makan di kamar aja" Ardi meraih telpon hotel. Memencet angka lalu memesan beberapa menu setelah menanyakan pada Atiqah disampingnya.

__ADS_1


"Mas Guntur sama Lala gimana? mereka belum makan" tanya Atiqah saat pesanan baru saja datang.


"Mereka udah gede sayang. Bisa pesan sendiri. Habis ini kita jalan-jalan ke pantai" Ardi melahap menu paket nasi merah.


"Kayaknya enak" Atiqah melihat satu set menu milik Ardi.


"Aku suapin" Ardi menyendokkan nasi merah dengan sayur lombok ijo khas daerah Gunungkidul. "Enak? pedes gak?"


"Emm...enak enak. Pedes dikit" Atiqah kembali menikmati makanan di atas piringnya.


"Tadi aku liat mas Guntur lagi berenang. Badannya bagus" Atiqah keceplosan lalu menutup mulutnya dan sekarang ia cegukan. Ardi meletakkan sendok garpunya sedikit keras.


"Minum!" memberikan minum. Atiqah menerimanya lalu meminumnya perlahan sambil matanya menatap Ardi. Rahangnya terlihat mengeras.


"Maaf...aku gak ada maksud apa-apa. Jangan marah ya? kita habisin makanannya terus ke pantai. Tadi kamu yang bilang mau ajak aku jalan-jalan. Bentar lagi sunset, pasti bagus banget" Atiqah merayu Ardi, mengusap lengan lalu mengecup pipi. Sebenarnya ia geli melakukan hal itu tapi mau bagaimana lagi, hanya itu caranya meredam amarah Ardi.


"Oke"


*****


Pasir putih bersih nan lembut berpadu dengan batas air, membasahi kaki Atiqah dan Ardi yang sedang berjalan menyusuri pinggir pantai sambil bergenggaman tangan.


Pantai dalam kondisi sepi pengunjung karena bukan akhir minggu. Ardi bebas merangkul, memeluk dan mencium Atiqah.


"Kenapa?" Ardi mundur saat didorong tiba-tiba oleh Atiqah.


"Mas Guntur" ucapnya melihat Guntur yang berdiri tidak jauh dari mereka. Rasanya sangat malu.


"Biarin aja" kembali merangkul.


"Aku gak enak. Mas Guntur bisa nglaporin kita ke eyang" Atiqah menatap Ardi yang masih merangkulnya.


"Biar aja. Cuma ciuman bibir aja, gak lebih. Eyang gak bakal marah" menggeser Atiqah berdiri didepannya lalu memeluknya dari belakang.


Langit berubah warna menjadi jingga, matahari kian tenggelam masuk ke dalam peraduan. Guntur kembali ke resort saat Ardi mencium Atiqah lagi, lagi dan lagi.


Bersambung...


*****


Kenapa sih kok Atiqah sekarang mau-mau aja? ya trus dia mau gimana? dia udah jadi milik Ardi, tawanannya Ardi. Dia juga cinta sama Ardi. Atiqah berusaha untuk memahami Ardi.

__ADS_1


Othor gak ada capeknya kalo suruh ngingetin ngerate bintang 5, like, komen sama giftnya 😁😁😁


Makasih byk ya 🙏🙏🙏 Bab Yogyakarta tertinggal satu bab lagi. Mereka balik ke ibukota dan yang terjadi terjadilah 😊


__ADS_2