
Hujan turun deras tepat setelah Atiqah dan Ardi sampai di dalam mobil. Atiqah duduk diam, menyisir rambutnya yang terkena rintik hujan. Lalu menepuk-nepuk baju juga celananya. Ardi melakukan hal yang sama.
Hujanpun semakin deras dan jarak pandang sangat pendek.
"Kita tunggu sampai hujan reda" ucap Ardi, Atiqah mengangguk setuju. Karena beresiko jika mereka menerjang jalanan yang licin dan berkabut.
Ardi mengutak atik ponselnya, berselancar di dunia maya. Membuka laman media sosialnya. Atiqah melirik sekilas dan kembali terdiam. Sejujurnya ia merasakan lapar tapi hujan masih turun sangat deras. Dan keduanya masih terlibat pertengkaran tadi.
"Masih marah?" ucap Ardi meletakkan ponselnya ke atas dashboard. Menarik bahu Atiqah agar menghadapnya. "Lihat aku. Yang..." Atiqah menatap Ardi.
"Maaf Yang, aku minta maaf soal tadi. Aku cuma..."
"Terlalu sayang sama aku?" Atiqah melanjutkan perkataan Ardi.
Ardi mengangguk "Iya...aku sayang banget sama kamu" mencium kedua tangan Atiqah.
"Iya, aku tau itu"
"Jangan marahan lagi. Kita baikan, oke?" menyunggingkan senyuman.
"Iya.." Ardi memeluk Atiqah. "Jangan marah-marah lagi ya? aku gak bisa kalo kamu diem gitu" lalu menangkup pipi dan kembali membenamkan bibirnya disana. Mereka kembali berciuman. Ardi memagut bibir Atiqah yang setengah terbuka.
"Udah..." menahan dada Ardi yang masih menyesap bibirnya. Ardi mundur, duduk menyandar pada jok dibelakang kemudi. Menghela nafasnya berat. Hawa dingin dan ciuman tadi membangkitkan rasa inginnya lagi.
"Kamu marah?" Atiqah menggenggam tangan Ardi. Melihat raut wajah kekasihnya yang kecewa. Atiqah tahu, Ardi ingin lebih dari sekedar berciuman.
Ardi enggan menatap Atiqah. "Ardi..." Atiqah memanggilnya lagi. "Aku harus gimana biar kamu gak marah lagi? aku harus telanjang? terus kita ulangin kejadian semalem? gitu mau kamu?" Ardi menoleh, tatapannya tajam. Ardi berdecih seolah-olah mengejek.
"Gak perlu ngomong gitu. Kamu gak akan mau. Kita jalan sekarang. Aku anter pulang!" sambil menahan amarah, Ardi menekan tombol start engine. Mesin mobil menyala, wiper bergerak ke atas bawah membersihkan titik-titik hujan pada kaca depan.
"Childish (kekanak-kanakan)" umpat Atiqah. Ardi tidak terima, emosinya tersulut. Menggebrak setir. Atiqah tersentak lalu memeluk tasnya.
"Kamu bilang aku childish?" mencengkeram pipi Atiqah, Ardi geram. Matanya memerah.
__ADS_1
"Terus apa kalo bukan childish?" gumam Atiqah, pipinya semakin dicengkeram. Atiqah mendorong Ardi. "Sakittt!!! kamu udah nyakitin aku!"
"Arghh...." Ardi meremas rambutnya. "Aku cinta kamu Atiqah. Kamu masih gak percaya juga kalo aku bakal tanggung jawab? kurang serius apa aku sama kamu? Hah???" Ardi kembali membentak.
"Gak usah teriak-teriak! Itu bukan cinta tapi obsesi dan *****! kamu cuma mau tubuhku aja" Atiqah mengepalkan kedua tangannya.
"APA??" Ardi meremas rambut belakang Atiqah, mendekatkan wajahnya. "Obsesi? *****? cuma mau tubuhmu aja?" rahangnya mengeras, satu tangannya meringsek masuk ke dalam baju Atiqah berwarna kuning. Meremas keras lalu memainkan puncak dada dengan jarinya. Ardi melakukannya dengan kasar.
"Ahh...Ar-di" Ardi masih meremas rambut belakang Atiqah sambil meciumi leher dan tangan kanannya masih bergerak liar. "See...kamu nikmatin apa yang aku lakuin sekarang"
"Ahh...Ar-di. U-dah, cu-kup. Emmphh" Ardi me****** bibirnya dengan tergesa-gesa.
"Sok-sok an bilang gak mau? heuh? nyatanya kamu keenakan" Atiqah meringis, ujung dadanya terasa pedih karena Ardi melakukannya dengan kasar.
Ardi tersenyum remeh. "Buka!!" bentaknya. Tangan kirinya masih meremas rambut Atiqah, menggenggamnya kuat.
"Enggak...aku gak mau" menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Atiqah menurut, membuka kancing celana jeansnya lalu menurunkan retsleting. "Turunin!!" Atiqah kembali menurut menurunkan celananya sampai sebatas lutut. Ardi meraba dan langsung memasukkan jarinya ke dalam inti tubuh kekasihnya. Atiqah menggelengkan kepalanya, air matanya jatuh. Ini lebih sakit dari apa yang dilakukan oleh Putra waktu itu. Ardi lebih menakutkan berkali kali lipat.
"Buat apa kamu nangis? enak kan?" memainkan jarinya dengan cepat. Atiqah memekik, berpegangan pada dashboard dan lengan Ardi. "Enak Yang? Hemm?" terus menggerakkan sampai Atiqah me*lenguh panjang dan terengah-engah. Ardi akan mencium Atiqah tapi Atiqah menolaknya, menoleh ke kiri.
"Kamu gak ada hak buat marah dan nolak aku Atiqah. Udah berapa kali aku bilang. Kamu milikku! semuanya milikku termasuk ini" kembali memacu dengan jarinya.
"Ahh...am-pun. Am-pun Ardi. Aku mo-hon. Ber-henti" tubuhnya lemas tapi Ardi membangkitkan rasa gelenyar aneh itu lagi.
Ardi bergerak belingsatan dan kembali Atiqah merasakan pelepasannya yang kedua. Ardi melepaskan remasan pada rambut Atiqah lalu meraih tisu basah untuk membersihkan jarinya.
"Munafik!!" Ucapan Ardi yang tiba-tiba dan sangat jelas ditelinga. Atiqah merasa tertampar dengan ucapan Ardi. Ia kembali menangis seraya memakai celananya lagi dan merapihkan bajunya. Duduk diam menatap keluar jendela, air matanya tumpah. Menangis tanpa suara. Hujan masih turun deras.
"Kenapa? sakit hati sama ucapanku barusan? kamu bilang aku childish. Aku bilang kamu munafik. Impas kan? apa aku salah?" Atiqah menggelengkan kepalanya masih menatap keluar jendela membelakangi Ardi.
"Lihat aku!!" menarik tangan Atiqah. Lelehan air matanya begitu deras mengalir. Rasanya sungguh menyakitkan. Begitu mudahnya Ardi mengangkatnya melayang ke udara lalu melemparkannya ke tanah tanpa ragu.
__ADS_1
"Apa lagi? kamu udah lakuin apa yang kamu mau. Iya...aku munafik. Puas?? kamu puas??" air matanya terus mengalir tanpa bisa ia bendung.
"Yang...." Ardi merasa iba melihat tampilan Atiqah saat ini.
"Ya ampun Yang...aku minta maaf. Aku minta maaf. Aku salah, aku salah. Maafin aku Yang" menangkup dua tangan Atiqah menundukkan kepalanya. Ardi ikut menangis.
Atiqah terkejut dengan perubahan sikap Ardi secepat itu. Kekasihnya ikut menangis.
Kepalanya terasa pening. Ardi membolak balikkan perasaannya. Atiqah memang sayang dan cinta Ardi tapi sekaligus ada rasa takut disana. Cinta Ardi membuatnya takut. Sangat berlebihan.
"Maaf Yang...Maafin aku. Aku salah. Harusnya aku gak gitu. Maafin aku" mengecup kening Atiqah dalam-dalam. Memeluk erat, mengusap punggung kekasihnya yang bergetar. Masih menangis.
"Liburan sekolah kita ke Jogja ya? Aku gak mau ngecewain Eyang kalo kamu nolak kesana. Kamu bisa ajak Lala. Aku gak masalah kita liburan bertiga" Ardi membujuk dan merayu Atiqah. Mengajak Lala bukan ide yang buruk tapi sedikit mengganggu, pikir Ardi. Ia mengatakan itu agar Atiqah mau berlibur bersama. Ardi sudah merencanakan beberapa hal saat mereka liburan nanti.
"Ajak Lala?"
"Iya...ajak aja Lala" Ardi senang. Rencananya pasti akan berhasil. Soal Lala, hal yang mudah untuk ia tangani.
Bersambung...
*****
Sikap Ardi ini cukup banyak disekitar kita lho. Sinopsis Atiqah udah jelas di deskripsi ya. Tentang Toxic Relathionship (hubungan gak sehat). Dampaknya ke kesehatan mental. Serangan bisa secara fisik, psikologis atau emosional.
Pasti banyak yang berfikir, kenapa sih gak tinggalin aja? kenapa gak bla bla bla bla?
Karena Cinta dan ada sesuatu. Background keluarga Ardi yang orang konglomerat, bakal bikin ribet, jlimet.
Di bab liburan ke Jogja nanti ada satu sebab yang Atiqah gak bisa mutusin Ardi. Satu sebab ya...nanti ada sebab-sebab yang lainnya.
Yowes kasih rate bintang 5, like, komen sama giftnya buat othor kesayangan 😄 malak terus.
Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1