
Selesai menyantap sop dan sate kambing, Atiqah membawa piring-piring lalu mencucinya. Ardi diam menatap tubuh Atiqah dari belakang.
"Seksi banget" Ardi bergumam dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya, mengusap dagu.
Saat Atiqah fokus mencuci piring, Ardi mendekatinya secepat kilat lalu mengangkat bagian belakang kaos Atiqah. Menampar dan meremas bokong polos tak terbalut apapun.
"Aw...Aku lagi cuci piring" Atiqah menggeliat saat Ardi membelasi garis bokongnya.
"Aku tunggu kamu cuci piring" bisik Ardi, memeluknya. Dua tangan nakalnya meremas dua dada Atiqah yang bergelayutan tanpa bra. Mengapit puncaknya diantara jari telunjuk dan jari tengah.
"Emm..." Atiqah menahannya, mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Kamu seksi banget Yang" Ardi kembali berbisik, menggigit cuping telinga. Atiqah memiringkan kepalanya, memudahkan Ardi menyerbu lehernya.
"*It's fi*nished" ucap Atiqah seraya mengelap tangannya yang basah.
"Balik sini" Ardi memutarkan tubuh kekasihnya. Memiringkan kepala, kembali memberikan ciuman yang memabukkan. Atiqah menerimanya dengan senang hati. Ia mengalungkan tangannya ke leher Ardi.
Ardi melepas ciumannya lalu mengangkat kaos hingga melewati kepala Atiqah. Menyerbu dada yang selalu ia sukai. Ujungnya yang terlihat kemerahan terasa pedih karena Ardi terus menyesappnya.
Desaahan itu kembali lolos dari bibir Atiqah. Rasanya inti tubuh dibawah sana sudah banjir. Atiqah tak sanggup harus menahannya.
"Udah Yang. Aku mau lebih" suara Atiqah terdengar seperti rengekan mengiba pada kekasihnya untuk melakukan hal yang lebih spektakuler lagi.
Ardi meluruh duduk lalu mengangkat satu kaki Atiqah. Ia letakkan diatas bahu kanan. Atiqah menggelengkan kepala bukan tanda tak mau tapi rasanya melihat wajah Ardi yang siap menyerbu miliknya, membuat Atiqah ingin menekan kepala Ardi dalam-dalam.
Atiqah mendongakkan kepala, kedua sikunya menempel di pinggiran wastafel, menahan bobot tubuhnya. Liukan lidah Ardi terasa sangat menggelitik. Atiqah terus menganga dan meremas kepala Ardi. Menekannya dalam-dalam.
"Ahh...Ardi. Aku...aku" Atiqah berpegangan kuat dan mengejang. Ardi tersenyum dan langsung bangkit, meluumat bibir kekasihnya.
"Giliran aku Yang" membalikkan tubuh Atiqah, menciumi leher, bahu, garis punggung lalu menyesapp dua bokong. "Pegangan yang kuat" menggenggam tangan Atiqah di pinggiran kitchen set. Satu tangan membuka paha Atiqah dan mengusap miliknya dengan cairan terlebih dulu lalu menuntun masuk ke inti tubuh kekasihnya yang sudah bergumam ingin dipuaskan.
"Ahh..." Atiqah merasakan milik Ardi masuk lebih dalam dan ia sangat suka saat posisi seperti itu.
Ardi masih diam, membelasi garis punggung lalu meremas bokong dan menamparnya. Atiqah tak sabar, ia menggoyangkan pinggulnya. "Kok diem aja sih Yang. Gerak dong" rengek Atiqah. Ardi dibelakang hanya tersenyum melihat kekasihnya yang tidak sabaran.
"Kamu sekarang liar banget Yang. Aku suka, emm...iya terus goyang" Ardi masih diam, menikmati gerakan Atiqah. Lalu tanpa Atiqah duga, Ardi dengan gerakan cepatnya menghujamnya belingsatan.
__ADS_1
"Kamu suka yang gini Yang? hemm? iya?" terus bergerak sampai Atiqah berteriak memenuhi apartemen.
"Aku suka dikasarin. Kamu jantan banget" jawaban Atiqah semakin membuat Ardi jumawa dan terus memompa tubuhnya.
Hari itu terasa hari yang panas dan bergairah bagi Atiqah dan Ardi. Mereka lewati dengan peluh bercucuran hingga sore menjelang.
Ardi mengantar Atiqah pulang sebelum orangtuanya dirumah.
"Besok siang aku mau ke apartemen kamu lagi --mendekatkan bibirnya ke telinga Ardi-- mau pakai yang warna apa? merah lagi?" bisik Atiqah. Mereka masih di dalam mobil. Ardi senang bukan main mendengar penawaran yang diberikan kekasihnya. Ia sudah tidak perlu memaksa Atiqah lagi.
"Aku suka kamu gak pake apa-apa" balas Ardi berbisik.
"Ooo...jadi langsung aja gitu dibuka semua?" Atiqah mengusap paha Ardi.
Ardi mengangguk sambil menggigit bibirnya. Ardi sangat suka dengan perubahan Atiqah yang agresif seperti ini.
"Oke, aku turun" mengecup pipi lalu membuka pintu mobil. Melambaikan tangan pada Ardi.
Ardi memundurkan mobilnya lalu membunyikan klakson dan hilang dari pandangan.
Ardi menjenguk Mamanya sebentar. Kakaknya Melda menelpon dan memintanya untuk datang. Anne syok saat tahu Ardi keluar dari rumah dan pindah ke apartemen. Kondisinya kembali menurun.
"Apa yang kamu pikirin sampai berani keluar dari rumah? kamu gak sayang Mama? kamu lebih milih perempuan itu dari pada Mama yang udah ngelahirin kamu. Mama kecewa sama kamu Ardi" Anne menangis.
"Ma..." Melda menyeka air mata Mamanya.
"Kenapa kamu diam? jawab Mama, Ardi!" Anne masih berurai air mata.
"Jawaban Ardi masih sama dan gak akan pernah berubah Ma. Memang Mama yang ngelahirin Ardi tapi Ardi berhak memilih masa depan sendiri. Perempuan yang Mama benci akan tetap jadi menantu Mama. Lulus nanti Ardi mau nikahin Atiqah" Ardi mengatakannya dengan mantap.
"Goblok kamu! kamu udah dibodohin sama perempuan itu. Dia cuma mau harta kamu aja. Buka mata kamu Ardi! Mama gak mau punya menantu gak selevel dengan keluarga kita. Mau ditaruh mana muka Mama Papa?" Anne masih saja menolak. Melda hanya diam sambil mengusap lengan Mamanya.
"Ardi memang bodoh Ma. Ardi cinta banget sama Atiqah. Dia perempuan sederhana yang Ardi mau. Atiqah gak seperti apa yang Mama pikir. Mama terlalu memikirkan apa kata orang. Ardi tau, Mama gak bisa banggain gimana hebatnya menantu Mama ke teman-teman sosialita Mama kan? Ardi tau itu. Dan satu hal yang harus Mama tau. Papa setuju dengan keputusan Ardi nikahin Atiqah" seperti petir di siang bolong, Anne membulatkan matanya. Kepalanya terasa berputar lagi.
"Ma..Mama tenang Ma. Jangan emosi gini" Melda memencet tombol di sebelah ranjang. Suster datang setelahnya.
"Mama saya kambuh lagi sus" ucap Melda. Ardi diam, melipatkan kedua tangannya didepan dada.
__ADS_1
"Saya panggil dokter dulu" suster itu keluar.
"Baiknya kamu sekarang pulang aja. Kondisi Mama gak stabil. Kamu cuma bikin Mama makin tertekan. Kak Mel gak melarang kamu sama Atiqah tapi jangan kasar sama Mama" ucap Melda. Ardi mengangguk lalu keluar, ia kembali ke apartemen.
Melda memang lebih bijak dibanding dengan Anne dan Sigit. Ia putri yang penurut tapi tidak memandang rendah orang lain. Melda tidak mengkotak-kotakkan orang untuk dapat berteman dengannya. Semua baginya sama.
Ardi memukul setirnya berkali kali saat dirinya masih berdiam di dalam mobil yang terparkir di basement rumah sakit.
Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari Atiqah.
📩 Atiqahku
Udah sampe di apartemen?
Ardi langsung membalasnya.
📩 Ardi
Aku di rumah sakit. Habis jenguk Mama.
Tanda centang biru dua terlihat dan Atiqah sedang mengetik...balasan untuknya.
📩 Atiqahku
Mama kamu udah baikan? aku pengen jenguk juga tapi aku takut bikin Mama kamu makin sakit lagi. Maafin aku 😞.
📩 Ardi
Udah baikan kok. Gak usah minta maaf gitu. Kamu gak salah. Aku sayang kamu ❤
📩 Atiqahku
Aku juga sayang kamu ❤❤❤
Ardi tersenyum melihat tiga tanda cinta yang diberikan Atiqah.
Bersambung...
__ADS_1