ATIQAH

ATIQAH
Bab 23 : Disaat yang Tepat


__ADS_3

"Ada yang mau saya diskusikan dengan anggota Osis lainnya. Tunggu disini!" ucap Ardi pada dua pengawalnya. Ardi berjalan masuk ke ruang Osis dimana semua sudah duduk menunggunya. Dua bodyguard menunggu didepan pintu.


"Bener-bener anak konglomerat. Kudu dijagain bodyguard" ledek Topan, wakil ketua Osis. Ardi menunjuk wajahnya untuk diam. Ardi sedang tidak berminat bersenda gurau dengan teman-temannya.


Rapat Osis itu berlangsung selama satu jam. Seperti biasa, Ardi pulang paling akhir diantara anggota lainnya. Entah kenapa perasaannya tidak nyaman, terlintas tentang Atiqah.


"Dia pasti udah pulang. Aku kangen kamu Atiqah" gumam Ardi sambil menatap ke arah kelas kekasihnya itu. Ardi mengerutkan keningnya saat melihat pintu kelas Atiqah yang masih terbuka di lantai 3.


"Ehem..." satu pengawalnya berdehem. Ardi memicingkan matanya lalu kembali berjalan keluar sekolah.


Mobil mundur, siap keluar melewati gerbang. Tatapan Ardi bertumbuk dengan Atiqah yang berjalan tertatih lalu terduduk. "STOP!! BUKA PINTUNYA!!" teriak Ardi pada bodyguardnya. Ardi langsung berlari.


"Atiqah?!" Atiqah mengangkat kepalanya, tangisannya pecah. Ardi memeluknya erat.


"Kamu kenapa?" memegang wajah Atiqah, melihat beberapa bekas luka.


"Pu-tra...." suara Atiqah tercekat, menahan rasa pusing dan juga kakinya yang sakit.


"Lho...mba Atiqah, mas Ardi ada apa ini?" satpam sekolah ikut mendekat. Dua bodyguard Ardi berdiri menunggu didepan mobil saling melempar tatapan. Mereka memberi waktu Ardi untuk melihat kondisi Atiqah.


"Apa yang Putra lakuin ke kamu?" tanya Ardi tak menjawab pertanyaan satpam sekolah. Pikirannya sudah menerka-nerka apa yang terjadi antara Atiqah dan Putra.


"Di..dia ngelecehin a-ku" air matanya kembali menetes. Ardi geram dan langsung berlari ke arah tangga sekolah.


"Ardi...Jangan!! pak Imron tolong Ardi, jangan sampai dia berantem sama Putra!" teriak Atiqah pada Ardi lalu meminta tolong satpam sekolah. Dua bodyguard ikut berlari saat mengetahui Ardi masuk kembali ke dalam sekolah.


Ardi terus berlari menaiki tangga sekolah. Dan berpapasan dengan Putra yang berjalan perlahan memegangi bagian sensitifnya yang masih terasa sakit oleh tendangan Atiqah.


"Brengsek!!" Bug..Bug..Bug


Ardi melayangkan pukulan-pukulannya pada Putra membabi buta. Pak Imron melerai dengan menarik Ardi. Putra terkapar di lantai dengan banyak luka di wajahnya.


"Brengsek!!" Ardi meronta dan siap menendang Putra kembali. "Jangan mas Ardi! nanti dia bisa sekarat. Mas Ardi yang disalahin!" ucap pak Imron masih memegangi Ardi.


Dua bodyguard mengangkat Putra. "Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit, Tuan" ucapnya. Ardi mengatur nafasnya yang masih memburu, hatinya panas mengingat Putra melecehkan Atiqah.


Putra dibawa masuk ke dalam mobil melewati Atiqah yang masih terduduk di lantai lobby sekolah.

__ADS_1


"Bisa berdiri?" tanya Ardi memegang kedua bahu, Atiqah mengangguk. Tapi saat mencoba berdiri, Atiqah mengaduh sakit di kakinya.


"Aku gendong aja" Ardi langsung membawa Atiqah dalam gendongan menuju mobil.


"Pak Imron, saya bawa Atiqah dan Putra ke rumah sakit. Untuk urusan selanjutnya biar saya aja yang urus" ucap Ardi pada satpam sekolah dari dalam mobilnya.


"Oke mas" jawab pak Imron.


"Jalan!" ucap Ardi pada bodyguardnya yang sudah siap di belakang setir.


Putra tidak sadarkan diri di jok belakang. Atiqah mengalihkan pandangan, ia tidak mau melihat wajah Putra. Bayangan kejadian tadi masih ada diingatannya.


"Masih sakit?" Ardi kembali mengamati beberapa luka di wajah Atiqah.


"Aw..."


"Maaf" ucap Ardi. Tangannya menggenggam erat tangan Atiqah. "Kamu pasti ketakutan tadi" Atiqah menatap sendu pada Ardi, lalu ia teringat ucapan Putra mengenai kejadian dirinya bersama Ardi diruang Osis.


Atiqah merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel lalu mengetikkan beberapa kata kemudian ia kirim pesan itu pada Ardi disebelahnya. Ardi menautkan kedua alisnya saat notifikasi pesan dari Atiqah.


"Hemm..." Atiqah berpura-pura berdehem. Maksud dirinya mengirim pesan pada Ardi, karena tidak mau didengar langsung oleh kedua bodyguard di kursi depan.


"Serius kamu? oke, nanti aku urus dia. Jangan panik, bersikap seperti biasa" balasan Ardi.


Atiqah berusaha menetralkan pikirannya. Ucapan Putra tadi sungguh sangat mengganggu.


Gedung Rumah Sakit sudah terlihat, mobil yang mereka tumpangi masuk ke area IGD. Dua bodyguard keluar, begitu juga dengan Ardi. Ardi kembali membawa kursi roda untuk Atiqah, sedangkan Putra sudah berada diatas brankar masuk ke ruang IGD.


"Tolong cek pacar saya sus. Kaki kanannya terkilir" ucap Ardi selesai merebahkan Atiqah ke atas ranjang. Putra berada di sebelahnya dengan dibatasi tirai khas rumah sakit berwarna hijau yang tertutup.


Ardi mendekati pengawalnya. "Tasnya mana?" tanyanya soal tas Putra.


"Ada di mobil, Tuan" jawab salah satunya.


"Cepat ambil handphonenya! dia pasti taruh di dalam tas" titah Ardi.


"Ini Tuan. Ponselnya ada disakunya tadi" memberikan ponsel Putra. Ardi menerimanya lalu keluar dari ruang IGD untuk mengecek isi ponsel Putra.

__ADS_1


Dugaan Ardi benar, Putra merekam adegan dirinya bersama Atiqah di ruang Osis. "Sialan! brengsek Putra! harusnya aku habisin dia tadi" meremas ponsel milik Putra.


"Gimana pacar saya sus?" tanya Ardi selesai mengurus ponsel Putra.


"Beberapa luka sudah diolesi salep. Untuk bagian kakinya, dokter anjurkan rontgen. Karena dari keterangan nona Atiqah, dia terjatuh dari tangga. Dan lukanya semakin membengkak" jawab suster yang menangani Atiqah.


"Baik, lakukan yang terbaik buat pacar saya sus" Suster itu mengangguk.


"Seperti dugaanku, si Putra bajingan itu punya rekaman kita di ruang Osis" Ardi memberitahu Atiqah.


"Hah?? Apa?? terus gimana ini? kita bisa dikeluarin dari sekolah kalau video itu sampai kesebar" Atiqah menggigit kuku lalu bibir bawahnya.


"Tenang...udah aku hapus. Jangan panik! jangan takut! ada aku. Juga...jangan gigit bibir gitu. Cuma aku yang boleh gigit bibir kamu" Ardi menarik tirai, meraup bibir Atiqah yang ingin dia rasakan lagi. Jujur saat melihat hasil rekaman milik Putra, Ardi terpancing ingin melakukan hal yang sama. Setidaknya hanya sekedar ciuman.


"Emphh...Ar-diiii" lenguhan Atiqah saat Ardi meremas dada kanannya. Satu tangannya masih sibuk menekan tengkuk Atiqah, ******* bibir pacarnya dengan rakus.


"Tuan..." suara salah satu bodyguard dibalik tirai yang tertutup, menyela cumbuannya pada Atiqah.


"****!!" Ardi mengumpat. Atiqah merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan oleh remasan Ardi tadi.


"Apa sih?" nada suara Ardi yang kesal.


"Tuan Besar menelfon, kita harus sampai dirumah segera Tuan" ucapnya menundukkan kepala.


"Bilang aja, saya pulang telat. Ada tugas sekolah. Jangan sampe kamu bilang saya ada disini sama Atiqah. Ngerti?!! ini sekali aja. Kamu liat sendiri, kalo pacar saya butuh pertolongan" bodyguard itu mengangguk mengerti.


"Sekali ini aja Tuan. Lain kali, saya tidak mau menghianati Tuan Besar" ucapnya lalu kembali mendekati ranjang Putra. Ardi kembali menutup tirai.


"Kamu pulang aja. Aku bisa sendiri. Bentar lagi juga sembuh" Atiqah mendengar pembicaraan antara Ardi dan pengawalnya.


"Gak!! aku temenin. Bentar lagi kita ke ruang rontgen" Ardi bersikeras menemani.


Bersambung...


*****


Atiqah datang lagi 😁😁😁

__ADS_1


yuk ah jangan bosen buat kasih rate bintang 5nya, like, komen dan giftnya 😊


Terimakasih 🙏 lope lope deh smw 😘😘😘


__ADS_2