ATIQAH

ATIQAH
Bab 66 : Telfon Makian dari Anne


__ADS_3

Ardi memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. Setelah satu minggu ijin, ia datang dengan raut wajah santai tanpa dosa. Semua menatap Ardi yang berjalan masuk melewati kelas demi kelas. Desas desus Atiqah yang tidak terlihat bersamaan dengan dirinya santer terdengar. Hingga pagi ini melihat Ardi datang tanpa Atiqah.


Lala yang sudah mengetahui hal itu sebetulnya ingin mencari tahu, ada apa dengan Ardi dan Atiqah. Tetapi Lala urungkan. Lala merasa bukan sahabat Atiqah lagi, karena sudah lama mereka tidak berhuhungan. Lala menghindar dan Atiqah lebih sering bersama Ardi.


"Kemana aja? ijin sampe seminggu" tanya Topan, menghampiri Ardi yang baru saja masuk kelas.


"Ke Jogja, ada perlu" jawab Ardi singkat. Ia membuka tas ranselnya, mengeluarkan buku Bahasa Inggris.


"Satu minggu? bukan masalah juga sih kalaupun sampe satu bulan. Bagi Ardi Danurdara anak konglomerat penyumbang dana terbesar untuk sekolah, itu gampang" Topan menjentikkan jarinya.


Ardi mengangguk-anggukan kepalanya. "Udah? balik gih ke kursi" Ardi mengusir Topan. Ia malas menjawab segala pertanyaan tidak jelas.


Sudah sejak pagi Ardi tidak bisa menghubungi Atiqah. Ardi uring-uringan.


Jam pelajaran pun di mulai.


Pagi hari di kediaman Subroto, Atiqah lemas. Seperti biasanya, mabuk berat. Atiqah sedang di kamar ditemani mbok Jum.


"Kalau hamil muda pancen koyo ngene, sabar (memang seperti ini)" mbok Jum memijat mijat pelipis dan kepala Atiqah.


"Iya mbok. Tapi beneran nggak enak banget rasanya" ucapnya memejamkan mata, menikmati pijatan mbok Jum.


"Sabar ... telung sasi ngkas, ngidame ilang" (Sabar ... 3 bulan lagi mual muntahnya hilang). Mbok Jum dengan sabar mengurus Atiqah. Pengalamannya memiliki 7 orang anak, sudah tidak diragukan lagi.


Ponselnya terus bergetar dari atas nakas, tapi rasanya Atiqah tidak sanggup untuk mengambil ponsel dan menjawab telfon yang sudah pasti dari Ardi.


"Hp ne ket mau geter-geter. Sopo ngerti den Ardi sing nelfon" (ponselnya dari tadi bergetar. Siapa tahu mas Ardi yang nelfon). Ujar mbok Jum masih memijati kepala Atiqah.

__ADS_1


"Nggak papa Mbok. Aku masih pusing. Biar aja" Atiqah benar-benar merasa pening.


"Yowes"


Selama satu jam Mbok Jum memijati Atiqah sampai tertidur. Ia keluar dari paviliun menuju dapur. Berencana menyiapkan makanan berkuah untuk Atiqah. Makanan yang bisa menggugah selera dan mengurangi rasa mual.


"Mba Atiqah sudah enakan Mbok?" tanya Guntur yang ternyata melihat mbok Jum keluar dari paviliun dan mengikutinya ke dapur.


"Astaga ... ngageti wae koe. Ujug-ujug ndongol" (Astaga, ngagetin aja kamu. Tau-tau nongol). Mbok Jum mengelus-elus dadanya.


"Ngapunten Mbok (maaf Mbok)" Guntur cekikikan lalu mengambil papan kayu dan pisau. "Aku bantu Mbok. Mau masak opo?" Guntur mengamati mbok Jum yang sedang membuka lemari pendingin.


"Masak sayur bayem wae, ben sueger. Mesakake, lagi meteng enom. Muntah-muntah teros" (masak sayur bayem saja, biar seger. Kasihan sedang hamil muda. Muntah-muntah terus). Terang mbok Jum, meletakkan bayam, wortel dan jagung manis ke atas meja dapur.


"Tak ewangi mbok" (aku bantuin mbok). Guntur memetiki bayam, lalu meletakkannya ke dalam wadah tirisan berlubang kecil-kecil.


"*Dengaren a*wakmu ora lungo karo Eyang" (Tumben kamu enggak pergi sama Eyang). Ucap Mbok Jum heran.


"Oh ... ngono to?! (oh begitu) --menganggukkan kepala sambil mengupas bawang merah dan bawang putih-- sing bener Tur, kuwi bojone den Ardi. Ojo mbok koe tresnani. Ciloko koe" (yang bener Guntur, itu istrinya mas Ardi. Jangan kamu sayangi. Celaka kamu). Mbok Jum memperingatkan Guntur. Meskipun sudah tua tapi mbok Jum paham betul melihat gelagat Guntur yang suka memandang Atiqah. Tatapan yang memiliki arti.


"Opo to Mbok? Ojo mikir macem-macem. Aku yo reti mbak Atiqah garwone mas Ardi" (Apa sih Mbok? jangan mikir macam-macam. Aku juga tau mbak Atiqah istri mas Ardi). Guntur mengelak.


"Koe pikir aku ora reti? paijo ... paijo. Wes ojo macem-macem pokoke" (Kamu pikir aku nggak tahu? paijo ... paijo. Sudah jangan macem-macem pokoknya). Mbok Jum mengibaskan tangan kanannya yang sedang menggenggam bawang kupas.


Guntur tersenyum kecut.


*****

__ADS_1


Ardi masuk ke dalam apartemen dengan raut wajah lelah dan juga kesal. Atiqah masih tidak mengangkat atau membalas pesan-pesannya.


Melepaskan sepatu lalu berjalan lesu ke arah sofa dan menghempaskan tubuhnya kesana, menelungkup memeluk bantal. Ardi tertidur.


Dua jam berselang. Suara dering ponsel Ardi berbunyi nyaring dari dalam tasnya. Ardi terkejut, buru-buru ia menyerobot tas lalu mengambil ponsel. Ardi pikir itu dari Atiqah, ternyata Anne mamanya yang telefon.


"Hemm ... Halo" Ardi menyapa dengan malas-malasan. Rasanya sangat tidak bersemangat. Ardi tau, mamanya menghubungi karna mau memarahinya.


"Akhirnya kamu angkat juga telefon dari Mama" suara Anne dari negri Singa terdengar bersemangat. Bersemangat untuk memaki-maki putranya.


"Apa sih Ma? apa lagi?" Ardi sungguh malas. Ia kembali merebahkan tubuhnya terlentang dengan satu lengannya menutupi kening dan satu tangannya menempelkan ponsel di telinga.


"Kamu putra Mama satu-satunya yang paling bodoh. Kamu tau udah coreng nama keluarga besar kita tapi dengan santainya bawa itu perempuan ke restorannya Feri. Sekarang semua keluarga besar kita yang di Jogja tau soal kamu menikah dan perempuan itu sedang hamil. Dimana otak kamu ARDI!!!" Anne menggebu-gebu. Rasanya belum puas memaki-maki putranya tidak didepan wajahnya langsung. Feri nama asli dari Gombloh.


"Aku nggak bodoh. Mama yang bodoh, gampang dibodohi!" Ardi membalas ucapan Anne.


"Maksud kamu apa? jangan melenceng dari topik pembicaraan" Anne masih belum mengerti soal ucapan Ardi.


"Nggak perlu dibahas soal itu. Tapi bukan Ardi yang bawa Atiqah ke restorannya Lek Gombloh. Eyang yang bawa kesana, jadi Mama marahin aja Eyang. Tapi ... kalau berani" Ardi tertawa sarkas. Sangat tidak mungkin ibunya marah-marah pada Subroto.


"Kamu sama Eyangmu sama aja. Mama pusingggg!!!" Anne berteriak memegangi tengkuknya.


"Biar Mama nggak pusing, jalan satu-satunya terima Atiqah sebagai menantu Mama. Dia lagi hamil cucu Mama, calon penerusku nanti. Ingat itu Ma" ucap Ardi. Perkataannya memang benar. Jika bayi di dalam kandungan Atiqah berjenis kelamin laki-laki, sudah dipastikan akan mewarisi apa yang ada di tangan Ardi.


"Arghh ... enggak! enggak! Mama nggak sudi!" Anne kembali berteriak. Anne mengunci pintu kamarnya. Melda putrinya mendengar ibunya terus-terusan berteriak, membuatnya cemas.


"Terserah Mama! Emm ... Ardi kasih saran ke Mama. Jangan lama-lama di Singapore, kasihan Papa di Jakarta sendirian. Entar kepincut sama daun muda" Ardi terkikik dan langsung mematikan sambungan luar negri itu tanpa menunggu balasan Mamanya.

__ADS_1


Ardi yakin betul, Mamanya akan kembali berteriak dan memakinya terus menerus.


Bersambung...


__ADS_2