ATIQAH

ATIQAH
Bab 41 : Yogyakarta (5)


__ADS_3

"Eunghhh..." Lala merenggangkan badannya. Suara ayam berkokok mengganggu tidurnya. Mengucek beberapa kali mata lalu mengerjapkan matanya.


"Atiq?? kamu tidur disini? kapan? kok aku gak tau?" Lala mengguncang tubuh Atiqah.


"Apaan sih La? aku masih ngantuk" ucapnya tanpa membuka mata.


"Dasar kebo! molor aja kerjaanmu Atiq. Ini udah pagi. Gak enak sama eyang Subroto. Pasti udah bangun, pasti lagi kasih makan ikan-ikannya. Buruan bangun! kita jalan-jalan pagi. Udaranya seger banget. Seriusan, aku gak bohong" Lala mengoceh panjang, Atiqah membenamkan wajahnya ke bantal.


"Atiq bangun! ayok..." menarik selimut yang membungkus Atiqah.


"Ahh...Lala. Aku masih ngantuk. Semalem aku gak bisa tidur. Kamu ngorok, berisik banget" Atiqah mengacak rambutnya. Lingkaran bawah matanya terlihat sedikit menghitam.


"Hah??" Lala justru tertawa melihat kantung mata Atiqah.


"Kenapa ketawa?" sambil merogoh bawah bantal, seperti biasa ia simpan bra_nya disana.


"Atiq!!" Lala menahan bahu Atiqah saat temannya itu memakai bra.


"Apa?" Atiqah cuek, masih memakai bra_nya.


"Ini...ini...ini apa? kok merah-merah gini? digit nyamuk? --mendekat, meneliti bekas kemerahan di dada atas Atiqah-- ini bukan bekas digigit nyamuk. Kamu alergi? makan apa aja sih kemaren? aku baru tau kamu ada alergi Atiq"


Deg...Atiqah mematung. Jantungnya berdetak kencang. "Emm...iya, ini kayaknya aku alergi. Rada gatel semalem" berpura-pura menggaruk bekas kemerahan di dada.


"Minum obat deh. Nanti aku bilang ke kak Ardi soal alergi kamu ini"


"Eh...gak usah, gak usah. Aku punya salep di kamar kok. Aku bawa dari rumah. Emang persiapan aja kalo alergiku kambuh" Atiqah kembali berbohong.


"Ooh...yaudah yuk cuci muka gosok gigi. Kita jalan-jalan" menarik Atiqah turun dari ranjang.


"Iya, aku ke kamar" Atiqah pergi ke kamarnya lalu mengunci pintu. Ia takut Ardi masuk tanpa mengetuk pintu.


Krek...Atiqah menginjak sesuatu. "Apa nih?" mengambil kotak persegi berwarna biru. "Astaga --menutup mulutnya-- Ardi semalem pasti kesini. Untung aku ke kamar Lala" mengelus dada lalu meletakkan benda itu ke atas nakas, meninggalkannya disana.


Atiqah mencuci muka, menggosok gigi lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus olahraga. Celana panjang dan atasan panjang. Udara benar-benar dingin.


"Pagi eyang..." sapa Atiqah dan Lala bersamaan.


"Pagi...mau lari pagi lagi?" tanya Subroto sedang berjalan di rerumputan tanpa alas kaki.


"Jalan santai aja eyang" jawab Atiqah.


"Ndak sama Guntur atau Ardi?" Subroto menanyakan itu karna tidak ingin terjadi sesuatu diluar sana tanpa ada laki-laki yang menjaga mereka.


"Berdua aja eyang" Atiqah kembali menjawab. Lala sedang mondar mandir melakukan pemanasan tapi matanya terus melihat ke arah dalam rumah.


"Ndelok opo cah ayu? ngenteni Guntur? (liat apa anak cantik? nungguin Guntur?). Samper rono (samperin kesana)" Lala menghentikkan kakinya, bingung dengan ucapan Subroto. Lala tidak tahu bahasa Jawa, sedangkan Atiqah hanya sedikit saja tahu bahasa asal orangtuanya.


"Maaf eyang, saya sama Atiqah gak ngerti eyang ngomong apa" Atiqah meringis. Subroto tertawa.

__ADS_1


"Eyang juga lupa kalian ndak ngerti boso jowo. Wes wes...samperin Guntur ke kamarnya, minta ditemani. Eyang takut ada apa-apa. Cah wedok (anak perempuan) ndak boleh dijalan sendirian. Harus ada laki-laki. Eyang lebih tenang" mengayunkan tongkatnya, menyuruh Lala masuk lagi ke dalam rumah.


"Oh...siap eyang!" Lala memberi hormat, dengan semangat 45 berlari masuk ke dalam.


"Ngapain kamu lari-lari gitu?" tanya Ardi, baru saja keluar dari kamar.


"Mau ke kamar mas Guntur. Disuruh eyang" Lala berdiri didepan pintu kamar Guntur yang bersebelahan dengan kamar Ardi.


"Mas Guntur udah pergi ke pasar nganter mbok Jum. Tumben banget eyang nyuruh. Kamu ngada-ngada kan?!" Ardi menyelidik tak percaya.


"Ih beneran disuruh eyang, kak. Aku sama Atiqah mau jalan pagi disekitar rumah tapi sama eyang disuruh bareng mas Guntur. Takut dijalan ada apa-apa" Lala berdiri didepan Ardi.


"Jalan pagi? Atiqah? kenapa gak bilang dari tadi. Kan ada aku" Ardi berjalan mendahului Lala ke teras depan.


"Ya tadi kata eyang, kalo gak sama mas Guntur ya sama kak Ardi. Tapi kan aku pengennya sama mas Guntur. Hehehe" Lala tertawa dibelakang Ardi, masih mengikuti.


"Atiq..." Atiqah menoleh ke belakang. Rasa bersalah melingkupi hatinya. Semalam pasti Ardi marah besar. "Kenapa gak ngetuk kamarku? aku yang temenin kalian jalan pagi"


"Mas Guntur?" tak menjawab pertanyaan Ardi tapi Atiqah bertanya soal kemana Guntur pada Lala.


"Mas Guntur ke pasar nganter mbok Jum" jawab Lala.


"Yowes...ndang budal" Subroto menyuruh ketiganya cepat berangkat jalan pagi.


*****


Sarapanpun sudah mereka lahap sampai habis. Sekarang Atiqah duduk dipinggir kolam renang sambil memakan buah-buahan yang di petik kemarin. Sedangkan Lala memilih membantu Guntur di dapur bersama mbok Jum, menyiapkan makan siang.


"Yang...aku mau anggur" rengek Ardi dari dalam kolam. Ardi berenang setelah sarapan. Atiqah mencomot tiga anggur hijau, membawanya mendekati Ardi.


"Aaa...." tiga anggur hijau masuk ke dalam mulut Ardi. "Ahh...." Byuuurrr. Ardi menarik Atiqah ke dalam kolam.


"Astaga...basah bajuku. Dingin...dingin banget. Aku kan udah bilang gak mau berenang" Atiqah memukuli Ardi.


"Masa dingin sih? sini aku peluk" Ardi berusaha memeluk Atiqah, tapi Atiqah menjauh.


"Gak mau! jangan gila kamu Ardi! ada eyang disana" menunjuk arah dimana Subroto sedang bermain dengan burung kesayangannya.


"Gak papa. Eyang juga tau kok gimana orang pacaran. Eyang juga pernah muda" Ardi semakin mendekat, Atiqah mundur.


"Enggak. Aku naik" Atiqah berhasil kabur. Berlarian masuk ke dalam kamar, kembali mengunci pintu kamar.


"Liat aja nanti malam. Gak boleh sampe gagal!" menepuk air kolam, kesal.


******


Lala, Atiqah dan Ardi menonton film di ruang santai di dalam paviliun. Guntur sedang pergi bersama Subroto acara makan malam bersama perkumpulan pengusaha-pengusaha Jogja dan Solo.


"Siapa sih yang milih ini film? serem banget" Lala menggerutu pada Atiqah.

__ADS_1


"Ardi yang milihin tadi. Ganti lain aja" menyerahkan remote.


Ardi membuka pintu paviliun lalu diam-diam memutar kunci perlahan sampai Atiqah dan Lala tidak menyadarinya.


"Nih minumannya sesuai pesanan kalian, sama ini biar makin semangat nonton filmnya" meletakkan satu gelas jus alpukat untuk Atiqah, satu gelas jus mangga untuk Lala dan satu gelas kopi susu hangat untuk dirinya sendiri. Dan juga satu loyang pizza yang sengaja Ardi pesan lewat go food.


"Makasih" ucap Lala dan Atiqah bersamaan.


Film romantis pilihan Lala justru membuat mereka bertiga canggung.


"Ganti yang lain aja ya?" Atiqah memencet lalu menggulir memilih film lain bergenre komedi.


1 jam 40 menit film komedi korea selesai diputar. Lala ternyata sudah hilang kesadaran, menjemput mimpinya. Di dalam mimpinya ia bersama Guntur. Beberapa kali Atiqah dan Ardi mendengar Lala menyebut "M**as Guntur tangkap aku" entah apa yang dilakukannya dalam mimpi.


"Yang...ke kamar yuk" Ardi merangkul Atiqah, membisikkan ajakan itu dengan sensual.


"Mending kamu balik ke kamar deh" mendorong Ardi, melepaskan rangkulan.


Ardi menjambak rambut Atiqah saat kekasihnya itu berusaha kabur. "Aku bilang masuk kamar!" mendorong Atiqah masuk ke dalam kamar, mengunci dengan dua kali putaran.


"Pakai bajunya!" melemparkan paperbag yang ternyata belum bergeser dari tempatnya.


"Maksud kamu apa? aku gak mau! jangan paksa aku. Kamu gak bener-bener sayang sama aku" Atiqah mundur menjauh.


"Kamu pikir kamu siapa, bisa nolak aku!" mencengkeram leher. Wajah Atiqah memerah, ia takut dengan Ardi yang saat ini didepannya.


"Pakai sekarang juga! puasin aku! atau --merogoh celananya, mengeluarkan ponsel miliknya -- mau video kita kesebar?" memutar video, menyodorkannya ke depan wajah Atiqah.


Video Ardi dan Atiqah yang sedang bercumbu di ruang Osis saat itu, Ardi menyimpannya.


"I-ini video yang Putra--" Atiqah terbata melihat video itu masih ada.


"Aku simpan. Ternyata berguna juga" melemparkan ponselnya ke atas sofa.


"Kamu jahat Ardi! aku gak nyangka kamu sejahat ini!" Atiqah kecewa, sangat kecewa.


"Aku jahat? kalo aku jahat, aku udah sebarin ini video dari dulu. Kalo aku jahat, kamu udah aku tinggalin dari kemaren. Buktinya aku masih disini sama kamu, masih cinta juga sayang kamu" meraba pipi Atiqah lalu berbisik. "Cepat pakai bajunya, puasin aku!"


Bersambung....


*****


Hari ini beneran crazy up. 3 bab sekaligus. Tiap babnya juga panjang-panjang. Luar biasa banget 👏👏👏 otak othor lagi tokcer.


Udah muncul satu sebab yang buat Atiqah gak bisa nolak permintaan dan perlakuan Ardi. Nanti muncul sebab lain lagi.


Tunggu next babnya ya...dukung terus Atiqah. Kasih rate bintang 5, like, komen sama giftnya sayang2nya aku 😘😘😘


Thanks alot 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2