ATIQAH

ATIQAH
Bab 78 : Berpura-pura


__ADS_3

Atiqah sedang bersiap didepan cermin. Ia memoleskan make up tipis ke wajahnya. Menutupi mata bengkaknya. Setelah kejadian kemarin, Ardi pergi dan entah bermalam dimana.


Pagi tadi Ardi pulang dalam keadaan mabuk. Sampai sore hari Ardi masih tidur. Padahal sore ini Subroto akan datang menjemput mereka.


"Yang ... bangun. Mandi. Eyang pasti udah di jalan. Kamu nggak lupa kan kalau kita mau makan malam?" Atiqah menggoyang lengan Ardi, tidurnya menelungkup. Ardi mengacuhkan Atiqah, menepis tangan Atiqah dengan sikunya.


Atiqah terus membujuk agar Ardi segera bangun. Ia sendiri sudah siap dengan dress hitam selutut, lengan panjang dan bagian kerahnya menutup sampai leher untuk menutupi luka gigitan Ardi kemarin.


"Yang ... bangun," Atiqah mencoba lagi.


"Apa sih? berisik banget!" Ardi langsung duduk sambil memegangi kepalanya.


"Kita ada janji sama Eyang. Kamu nggak inget?" Atiqah berdiri di pinggir ranjang.


"Inget," jawab Ardi lalu menutup mulutnya, rasa mual akibat mabuk semalam.


Ardi mendorong Atiqah saat terburu-buru turun dari kasur. "Astaga ..." Atiqah mundur beberapa langkah, berpegangan bibir nakas.


Ardi masuk ke dalam kamar mandi. Suara mual itu terdengar sampai ditelinga Atiqah. Ia menyusul ke sana.


"Yang ... perlu bantuanku?" ucap Atiqah sambil mengetuk pintu. Ardi sengaja menguncinya.


Ardi tidak menjawab, suara mual masih terdengar. Atiqah menghela nafasnya, menyandar pada pintu.


"Salah aku apa sih? pulang dari dokter baik-baik aja. Tapi ..." Atiqah teringat soal terakhir kali Ardi menerima pesan dan suaminya itu berubah.


Atiqah masuk ke dalam kamar, mencari ponsel Ardi. "Ah ... jaket. Jaket dimana?" Atiqah mencari jaket Ardi yang dipakai saat pergi dan pulang.


Jaket Ardi tergeletak di atas sofa. Atiqah merogohnya dan menemukan apa yang dia cari.


"Duh, kenapa pakai password sih?" Atiqah kesal saat menyalakan layar lalu harus memasukkan kode. Ponsel Ardi terkunci.


Atiqah mencobanya beberapa kali sambil menoleh ke arah pintu kamar mandi. Untuk berjaga-jaga bila Ardi keluar.


"Kamu ngapain buka-buka handphone ku?" Ardi menyambar ponselnya dari genggaman tangan Atiqah. Suaranya yang keras membuat Atiqah mundur satu langkah sambil memeluk perutnya. Tangan Ardi sudah melayang di udara siap menampar pipi. Atiqah reflek menutup wajahnya dengan lengan kirinya.


"Maaf ... tadi handphone nya bunyi. Aku cuma mau lihat itu siapa," ujarnya masih menutupi wajah.


"Kamu udah berani bohong sama aku?" Ardi menarik rambut Atiqah, menggenggamnya kuat.


"Ampun ... ampun. Sakit," Atiqah memegangi tangan Ardi.


"Atau kamu udah biasa bohongin aku? iya? hah?? Jawab!!" Ardi semakin keras menggenggam rambut Atiqah. Rambut yang sudah di tata rapih itu seketika berantakan dan kusut.


"Enggak ... enggak. Aku nggak ada bohong. Aku jujur sama kamu," ucapnya sambil merintih. Kulit kepalanya terasa perih.


"Satu kali kamu bohong sama aku ... aku akan bikin kamu sengsara. Ngerti? Ngerti nggak? Jawab!!" Ardi semakin meremas rambut Atiqah.


Belum sempat Atiqah menjawab, suara bel berbunyi. Subroto dan Guntur sudah sampai untuk menjemput mereka makan malam.


"Rapihin dandanan kamu. Awas kalau sampai Eyang curiga!" ucap Ardi sambil menunjuk wajah istrinya.


Atiqah mengusap kepalanya yang terasa perih setelah Ardi melepaskan tarikan itu.


Ardi yang hanya memakai bathrobe membuka pintu apartemen.

__ADS_1


"Paijo gendeng, durung siap-siap (Paijo sinting, belum siap-siap)" ujar Subroto kesal melihat Ardi yang belum berpakaian. Ardi tersenyum lalu melirik Guntur kemudian jalan terlebih dulu.


"Ya namanya juga punya istri Eyang. Mesra-mesraan dulu. Ehem ..." Ardi berdehem, ia melakukan itu untuk membuat Guntur cemburu.


"Mesra-mesraan wae pikiranmu. Bocah sableng. Ndang nganggo klambi kono (mesra-mesraan saja pikiranmu. Anak sinting. Lekas pakai baju sana)," Subroto mengibas-ngibaskan tangannya, menyuruh Ardi masuk ke dalam kamar.


Ardi cengengesan lalu masuk ke kamar. Menghampiri Atiqah yang sedang merapihkan rambutnya di depan meja rias.


"Bangun! jangan balik badan!" bisik Ardi dengan nada perintah. Atiqah bingung, menatap Ardi dari pantulan cermin.


"Bungkuk!" Ardi memerintah lagi.


"Hah? kamu mau apa?" Atiqah semakin bingung, tapi ia menuruti perintah Ardi.


"Yang ..." Atiqah terkejut saat Ardi menaikkan dressnya sebatas pinggang lalu menurunkan underwarenya sampai melorot ke lantai.


Atiqah semakin membulatkan matanya saat Ardi sedang membasahi miliknya dengan cairan pelicin yang ia ambil dari laci.


"Jangan sekarang ... bukannya ada Eyang?" Atiqah dengan jelas mendengar suara Subroto.


"Kalo aku maunya sekarang, kamu bisa apa?" meremas dada sebelah kiri lalu memasukkan kejantanannya dalam-dalam tanpa melakukan foreplay.


Bagi Atiqah ini sangat menyakitkan. Miliknya belum sama sekali basah tapi suaminya sudah memasukinya.


Atiqah memejamkan mata. Lututnya bergetar, begitu juga tangannya yang berpegangan tepi meja rias. Rasanya menyakitkan. Ardi sedang menyiksanya. Suaminya itu kembali seperti dulu.


Ardi memacu dengan gerakan cepat sambil meremas bokong Atiqah, sesekali mencubitnya. Atiqah menahan suaranya. Subroto dan Guntur ada di sana.


"Kamu cuma milikku! nggak ada yang lain yang bisa milikin kamu. Cuma aku yang bisa bikin kamu mendesah. Ingat itu!!" Atiqah menganggukkan kepalanya. Lehernya kembali diremas Ardi sambil terus memacunya dari posisi yang sama.


"Dari awal kamu selalu enak. Bersihin! ganti bajumu yang serba panjang. Aku nggak mau Guntur lihat betis kamu," Ardi menyeka miliknya dengan tisu basah lalu membuka lemari, memakai pakaiannya. Ardi lagi-lagi mencampakkan Atiqah begitu saja. Istrinya hampir saja kli*maks tapi Ardi sudah melepaskan penyatuan itu dengan sengaja.


Rasanya? sangat menyakitkan untuk Atiqah. Kedua kalinya ia ditinggalkan, diacuhkan sebelum merasakan pelepasan.


"Guntur? kenapa menyebut nama Guntur?" Atiqah merasa janggal dengan ucapan Ardi.


Ini kekerasan dalam rumah tangga. Pikir Atiqah. Ia tersiksa fisik dan batinnya.


Atiqah melepaskan dressnya tadi, mencari pakaian yang sesuai dengan perintah Ardi.


"Turu neh po piye? sak jam dewe. Ra sopan, wong tuo sing kon nunggu (Tidur lagi apa gimana? satu jam sendiri. Nggak sopan, orangtua yang disuruh menunggu)," ujar Subroto kesal menunggu Atiqah dan Ardi bersiap. Suami istri itu baru saja keluar dari kamar. Ardi merangkul pinggang Atiqah, bersikap mesra untuk membuat Guntur cemburu lagi.


"Maaf Eyang, tadi perut Atiqah sakit. Jadi Ardi nyuruh Atiqah istirahat sebentar," Ardi berbohong. Tangan kanannya mengusap perut Atiqah.


"Terus saiki piye nduk? tesih loro? (Lalu sekarang bagaimana nak? masih sakit?)," Subroto mendekati Atiqah.


Atiqah menggelengkan kepalanya, "Enggak Eyang. Udah baikan kok," lalu tersenyum.


"Jangan sakit lagi ya sayang," Ardi berpura-pura bersikap manis pada Atiqah. Atiqah hanya bisa ikut bersandiwara bersama suaminya.


Makan malam tidak terlalu lama, Subroto khawatir dengan kesehatan Atiqah yang sedang mengandung. Udara di malam hari tidak baik untuk cucu menantu dan calon cicitnya.


Subroto meminta bill pada pelayan lalu memberikan kartu berwarna hitam dari dompetnya.


"Maaf Eyang, Atiqah mau ke toilet lagi," Atiqah tidak enak hati. Sudah ketiga kalinya ia pergi ke toilet.

__ADS_1


"Yowes ... ra popo. Ati-ati (Yasudah ... nggak apa-apa. Hati-hati)," ucapan itu pun sudah ketiga kalinya Subroto lontarkan.


Kali ini Ardi tidak menemani Atiqah. Ia fokus menatap layar handphone nya. Sedangkan Guntur sudah terlebih dulu ke toilet.


"Aduh ..." Atiqah memeluk perutnya. Perutnya benar-benar sakit. Badannya sedikit limbung. Beruntung ada pelayan wanita yang melintas.


"Mba, ada apa? sakit?" tanya pelayan itu. Memegangi lengan Atiqah, memapahnya duduk di kursi plastik yang ada di depan toilet.


"Perut saya sakit mba," titik-titik keringat muncul di kening. Atiqah meringis menahan rasa sakit.


"Saya cari bantuan dulu mba. Mba kesini dengan siapa?" tanya pelayan itu lagi.


"Su --" belum Atiqah menjawab. Guntur sudah mendekatinya.


"Mbak ... Mbak Atiqah kenapa? mana yang sakit?" tanyanya. Guntur berjongkok sambil menyentuh lengan Atiqah.


"Katanya perutnya sakit mas," pelayan itu yang menjawab. Atiqah tidak mampu menjawab, ia sibuk mengatur nafas sambil mengusap terus perutnya yang terasa nyeri lagi.


"Mbak, kita ke rumah sakit aja ya?" Guntur merapihkan anak rambut yang menutupi dahi. Lalu merogoh sapu tangan di kantong celananya. Guntur menyeka keringat di kening dan leher Atiqah dengan perlahan.


"Ng-gak u-sah Ma-s ... se-ben-tar dulu," ucapnya terbata.


"Baik mbak," Guntur berdiri di sisi kiri Atiqah. Sedangkan pelayan tadi masuk ke dapur mengambil air hangat.


"Ma-s --mendongak-- tolong u-sap," Atiqah meminta tolong Guntur mengusap punggung bawah. Rasanya panas menjalar sampai ke pinggul.


"Hah??" Guntur bingung, tapi ini permintaan dari Atiqah sendiri dan mereka bukan melakukan hal yang aneh-aneh.


Atiqah yang sedang kalut dan takut pada Ardi, memilih meredakan rasa sakitnya sendiri. Pikirnya meminta bantuan Guntur lebih baik dari pada suaminya.


Guntur mengusap punggung Atiqah. Pelayan datang membawa satu gelas air hangat, diberikannya pada Atiqah.


"Diminum dulu mba," menyodorkan gelas.


"Terimakasih mba," Atiqah menerimanya, meminumnya perlahan. Guntur masih memberikan usapan lembut.


"Brengsek!" Ardi menarik Guntur, menjatuhkannya lalu menindih. Memukuli Guntur membabi buta.


Subroto datang untuk melerai namun tidak didengarkan oleh Ardi. Atiqah berteriak, memohon pada Ardi untuk melepaskan Guntur.


"Mas Guntur nggak salah apa-apa. Aku ... aku cuma minta tolong aja. Tadi perutku sakit," selesai mengatakan itu, Ardi melepaskan Guntur lalu bangkit.


Plak


"Bit*ch!! Murahan banget kamu," Ardi menampar keras pipi kiri Atiqah sampai sudut bibirnya terluka.


"Ardi!!" Subroto melayangkan tongkatnya tapi Ardi bisa menangkisnya. Ia kembali menatap Atiqah nyalang dan jijik.


"Jangan main tangan!" Guntur berteriak lalu meninju Ardi. Mereka baku hantam, sampai pihak keamanan Restoran datang untuk melerai.


"Bajingan! Sinting! Tai!" Ardi berteriak mengucapkan kata-kata kasar pada Guntur. Subroto menggelengkan kepalanya.


Belum merasa puas, Ardi mendorong sekuriti yang menahannya lalu akan melayangkan tinjuan pada Guntur namun naas, Atiqah yang terkena pukulan di matanya saat akan menghentikan Ardi.


"Mba ... Mba," seru kepala keamanan yang memegangi Guntur, beralih menangkap tubuh Atiqah yang akan terjatuh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2