ATIQAH

ATIQAH
Bab 63 : Casanova


__ADS_3

"Jogja??" Anne terduduk lemas di sofa ruangan kantor Sigit.


"Mereka sudah menikah. Restui saja. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Papi akan menjaga perempuan itu. Dia hamil cucu kita" Sigit memundurkan kursinya, menghampiri Anne.


"Enggak ... Mama nggak mau terima. Bukan cucu kita!" Anne menggelengkan kepalanya. Sikapnya yang kerasa kepala itu justru membuatnya semakin pusing.


"Sudahlah Ma. Jangan keras kepala. Nanti kambuh lagi vertigonya" Sigit memijat kepala Anne.


Anne memejamkan mata lalu membuka matanya tiba-tiba. "Bowo kemana? di mejanya nggak ada, Narnia juga. Ini jam kerja tapi kenapa mereka berdua nggak ada?" Anne merasa aneh.


"Ada urusan di luar. Papa limpahkan ke mereka berdua. Sudah makan?" Sigit mengalihkan pembicaraan. Anne tidak tahu kalau Narnia sudah resign. Sigit tidak ingin Anne curiga dengan perut besarnya nanti.


"Belum. Mama laper. Capek ngurusin Ardi sampai Mama lupa makan" Anne menegakkan tubuhnya. Pagi tadi menguras tenaganya membawa Ardi ke bandara. Ternyata putranya kabur. Ia buru-buru ke kantor suaminya.


"Mau makan apa?" Sigit merangkul Anne.


"Nggak usah peluk-peluk. Tumben banget Papa perhatian" Anne mengernyitkan alisnya. Sudah bertahun-tahun ia dan Sigit tidak skinship (kontak fisik), ranjang mereka juga terpisah.


"Peluk istri sendiri nggak boleh? oke ..." Sigit menjauh, mengangkat jasnya yang menggantung lalu memakainya. Anne yang sudah tidak mau disentuh, membuat Sigit mencari kepuasan diluar. Bukan hanya Narnia, lebih dari tiga perempuan yang meminta dinikahi. Dua dari tiga perempuan itu menghasilkan masing-masing satu anak yang berusia 2 tahun dan 3 tahun. Dan Narnia yang sedang hamil muda.


Keempatnya gadis muda. Pertemuan mereka pun berbeda-beda. Satu gadis seorang pramugari yang bertemu dengannya saat terbang menuju Los Angeles, Amerika. Satu anak kuliahan yang sedang magang di salah satu cabang perusahaan. Satu gadis lagi berprofesi sebagai barista kopi di cafe kecil pinggiran kota. Dan satu gadis lagi adalah Narnia.


Sigit patut menyandang Casanova. Pria tua nakal, ahli perempuan dan petualang se*ks. Usianya menginjak 45 tahun, usia sangat matang dan gairahnya sedang mumpuni.


"Mau kemana?" tanya Anne.


"Katanya laper? ayo makan?!" Sigit berjalan mendahului istrinya. Ia harus secepatnya mengurus Anne. Sore ini ia janji ke apartemen menemui Narnia.


Sigit membawa Anne ke sebuah restoran tak jauh dari kantornya. Sungguh sial, Sigit bertemu Ratih bersama anak laki-laki yang tertidur di stroller. Sudah satu minggu Sigit tidak menemui simpanannya itu. Gadis muda mantan pramugari.


Beruntung anak mereka sedang tidur. Jika tidak, anak itu akan berlarian memanggilnya Papa.


"Papa ke mobil sebentar, handphone ketinggalan" Sigit meninggalkan Anne, ia mengejar Ratih ke parkiran. Ratih menatapnya sinis saat berpapasan tadi.


"Sayang ..." Sigit menyebut panggilan mesra itu saat Ratih akan menutup pintu mobil.


"Ngapain Mas kesini? istri Mas ada di dalam" Ratih kesal karena seminggu tidak ada kabar dari kekasihnya.


"Keluar! Mas mau ngomong sebentar" menarik Ratih lalu menggeser pintu baris tengah, mereka masuk ke dalam lalu menutupnya lagi.


"Mas nanti kalau ketauan gimana? ini di parkiran" ucap Ratih lirih. Anaknya masih tidur di carseat kursi depan.

__ADS_1


"Enggak ... kalau cepet nggak ketauan. Mas kangen" Sigit menciumi leher Ratih lalu menyesap dua gundukan yang selalu menjadi candunya. Ratih mendesaah.


"Ssttt ... nanti Aga bangun sayang" suara parau Sigit mengingatkan Ratih agar tak bersuara. Anak laki lakinya yang bernama Braga bisa terbangun jika mendengar suara berisik.


Ratih mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sigit memangku Ratih, meremas dua bokong sintal itu. "Gerak sayang" Sigit menyuruh Ratih bergerak. Keduanya sama-sama bergerak mencari titik kepuasan masing-masing. Mobil besar itu tidak nampak bergoyang karena bodynya yang kokoh.


Hubungan singkat dan cepat itu membuat Ratih sudah tidak merajuk. "Mas sudah transfer uang jajan kamu sama Aga. Besok Mas dateng ke rumah. Masakin makanan kesukaan Mas" Sigit melumatt sebentar sambil meremas dada Ratih.


"Ahh ... iya Mas. Makasih buat uang jajannya. Aku tunggu besok di rumah. Aga pasti seneng banget ketemu Papanya" ucap Ratih mengecup pipi Sigit.


Pria tua itu kembali masuk ke restoran. Anne sedang mendapatkan telefon dari orangtuanya di Singapore.


"Anne juga pusing Mom. Ardi kabur. Dia sudah menikah dengan pacar gembelnya itu. Bukan Mami aja yang kesel, Anne juga. Sorry Mom. Iya, Anne besok kesana dengan Melda dan Rian" Anne sibuk bertelefon lalu mematikan ponselnya.


"Mami?" tanya Sigit. Bersikap sesantai mungkin.


"Iya ... besok, Mama sama Melda juga Rian ke Singapura. Mami marah soal Ardi kabur" Anne sudah lupa tentang suaminya yang cukup lama hanya sekedar mengambil ponsel di mobil.


"Berapa hari?" Sigit senang bukan main. Dia bebas menemui wanita-wanita simpanannya.


"Nggak tau sampai kapan. Mama mau menenangkan diri" jawaban Anne semakin membuat Sigit bahagia dan membayangkan bagaimana dengan mudahnya menyambangi wanitanya bergiliran tanpa harus banyak beralasan.


"Oke ... Papa titip salam buat Mami. Maaf pekerjaan Papa banyak. Mama tau itu" ucap Sigit. Menjadikan kesibukan sebagai tamengnya.


Sigit tidak menuju kantornya. Ia langsung pergi ke apartemen Narnia. Bowo baru saja menghubungi bahwa kekasih gelapnya sudah selesai cek kehamilan dan saat ini sudah sampai di lobby apartemen.


"Kerja bagus! nanti saya transfer bonus kamu" ucapnya pada Bowo saat mendengar laporan asistennya itu.


"Sudah menjadi tugas saya pak. Terimakasih banyak untuk bonusnya. Oh iya pak. Tadi Nona Priska mengirimkan pesan. Inara demam, katanya rindu Papa" Bowo menyampaikan sesuai pesan yang dikirimkan Priska, wanita simpanan lainnya. Barista kopi cantik.


Arah mobil yang berlawanan, Sigit menuju apartemen sedangkan Bowo menuju ke kantor.


Sigit memijat hidungnya. Ia sudah janji menemui Narnia dan besok menemui Ratih.


"Oke ... biar saya yang urus" Sigit mematikan ponselnya. Ia terus melaju menuju apartemen Narnia. Malam ini ia harus bersama Narnia terlebih dulu.


Setelah pulang larut malam. Pagi harinya Sigit hanya mengantarkan istri, anak dan menantunya sampai didepan teras. Ketiganya akan terbang ke Singapore.


"Iya sayang. Mas udah dijalan. Inara masih demam?" tanyanya sambil mengendarai mobilnya masuk ke jalan tol menuju daerah pinggiran ibu kota.


"Udah enggak Mas. Papa ... papa" suara Inara terdengar memanggilnya.

__ADS_1


"Iya sayang. Papa lagi di jalan. Tunggu sebentar ya?" ucapnya lembut pada bocah berusia 3 tahun itu. Priska wanita simpanannya yang pertama kali dan langsung menghasilkan seorang putri setelah satu tahun menjalin hubungan.


"Yeay ...yeay. Papa Inara pulang --suara sorak sorai bahagia dari anak yang merindukan kepulangan ayahnya-- Mas mau makan apa? aku masakin sekarang" Priska yang tidak tahu jika Sigit akan datang pagi itu tidak memiliki persiapan.


"Nggak perlu masak. Mas udah bawain makanan. Tapi maaf, siang nanti Mas ada urusan lain. Ada pertemuan klien penting. Mas janji sabtu ini kita pergi ke Bandung" Sigit memang sangat mahir dalam merayu, beralasan dan bermulut manis. Siang nanti dia akan menemui Ratih dan Aga. Janjinya kemarin.


"Iya Mas ... nggak papa. Aku tau mas sibuk" Priska sudah terlatih selama bertahun-tahun. Ia sudah terbiasa dengan kesibukan Sigit dan tau diri bahwa posisinya hanyalah wanita simpanan.


Setelah cukup bermain dengan Inara, Sigit berpindah tempat. Di pinggiran ibu kota sebelah timur. Menemui Ratih dan Aga putranya. Ia bermalam disana.


Dan keesokan paginya Sigit langsung ke kantor. Pekerjaannya menumpuk, karena sibuk mengurusi tiga wanita berturut turut. Dan satu wanita lainnya datang dengan wajah muram.


"Mas jahat banget! Udah satu bulan nggak ada kabar. Mas lupa punya aku?" ucap gadis bermata sipit, gadis magang yang kini sudah lulus dan bekerja di salah satu anak perusahaan. Gladys, usianya dibawah Narnia. Ia yang paling muda diantara lainnya. Sigit memacari Gladys satu tahun setelah bersama Narnia.


"Kamu kenapa kesini? Mas udah bilang jangan ke kantor" Sigit berjalan ke arah pintu, memberi kode pada Bowo untuk berjaga didepan pintu.


"Habisnya Mas nggak dateng ke apartemen. Aku kangen Mas" Gladys membelai rahang Sigit lalu berjinjit mencium bibir.


"Kamu tau kalau Mas sibuk" Sigit duduk di sofa. Memiliki empat wanita simpanan ternyata serumit ini. Waktunya sangat terbatas untuk mengurusi mereka.


"Iya aku tau. Tapi aku kangen sama belaian Mas" mendudukkan dirinya ke atas pangkuan lalu menggigit cuping telinga Sigit.


"Mas juga kangen. Lepas semua!" menurunkan Gladys, sambil melihat wanitanya melucuti pakaian satu per satu. Sigit juga membuka retsleting celananya, menurunkan sebatas paha.


Sigit menarik rambut panjang Gladys dan menggerakkannya naik turun dengan cepat. "Bangun!" titahnya, lalu membalikkan Gladys dan langsung memasukinya.


Waktu 30 menit terasa cepat. Gladys sudah merapihkan pakaiannya begitu juga dengan Sigit.


Bunyi notifikasi di ponselnya berbunyi. Gladys langsung memeluk dan mengecupi Sigit.


"Makasih Mas transferannya --mengecup bibir-- besok Mas harus dateng ke apartemen. Kalau enggak, aku dateng lagi kesini" mencubit hidung Sigit.


"Iya sayang" meremas satu bokong. Gladys keluar dari ruangannya dengan wajah puas dan senang. Uang 50 juta baru saja masuk ke dalam rekeningnya.


Bersambung...


*****


Cerita lengkap soal Papa Ardi udah selesai disini ya. Nanti muncul lagi di bab-bab akhir.


Don Juan banget kan? tua-tua keladi. Semoga Ardi gak nurunin kelakuannya. Semoga 😊

__ADS_1


Gak perlu di ingetin lagi ya soal rate bintang 5, like, komen sama giftnya. Jari udah otomatis kan? 😄


Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2