ATIQAH

ATIQAH
Bab 30 : "Cantik Banget"


__ADS_3

Setelah pertemuan pertama dengan Eyang Subroto, malam ini tepat malam minggu Atiqah diundang secara resmi untuk dinner bersama keluarga Danurdara di restoran hotel mewah di bilangan Jakarta Pusat.


Sudah sejak sore Atiqah dijemput Ardi. Mobil SUV hitam itu berbelok ke sebuah butik. Ardi menggenggam tangan Atiqah masuk ke dalamnya.


"Ini terlalu mewah buat aku. Aku gak biasa pakai baju kaya gini" Atiqah melihat tampilan dirinya tidak percaya diri di hadapan Ardi yang duduk di sofa tunggal menunggunya mondar mandir mencoba beberapa model gaun.


"Karena gak biasa jadi kamu ngerasa aneh. Tapi yang ini bagus banget, aku suka. Pas di badan kamu" gaun berwarna putih, terlihat sederhana dan tidak berlebihan.


"Masa sih?" Atiqah menatap pantulan dirinya di cermin panjang. Memutar badannya ke kanan dan ke kiri.


"Kamu selalu cantik" Ardi memeluk Atiqah dari belakang.


"Lepas! malu" Atiqah melepaskan tautan tangan Ardi di perutnya.


"Ngapain malu sih? kamu pacar aku" mencubit hidung Atiqah lalu berbicara pada karyawan butik itu. "Mba..yang ini ini sama yang tadi warna merah. Juga tas yang itu itu sama heels yang itu" Ardi menunjuk semua barang yang dicoba Atiqah tadi.


"Baik kak" membawa semua yang ditunjuk Ardi ke meja kasir.


"Ardi! kenapa semuanya? kebanyakan. Buat kemana baju model beginian? seumur hidupku baru kali ini dateng ke acara makan malam. Aku cukup ini aja" menunjuk gaun putih yang terakhir ia coba.


"Kamu bisa pake waktu kita dinner berdua nanti" mengedipkan satu matanya.


"Dinner?" Ardi mengangguk mantap.


Ardi menarik tangan Atiqah menuju kasir. Gaun putih pilihan Ardi sudah dipakainya.


"Kita mau kemana lagi?" Atiqah mengedarkan pandangannya keluar jendela. Jalan itu berlawanan arah dari tujuan acara makan malam keluarga.


"Kamu duduk manis aja nanti" Ardi menoleh Atiqah sesekali sambil tersenyum dan kembali fokus menyetir.


Mobil masuk ke dalam deretan ruko-ruko mewah dan berhenti tepat disalah satu salon.


"Salon?" sambil bergantian menatap Ardi dan salon, Atiqah melepaskan safetybelt. Ardi hanya tersenyum, membuka pintu mobil meninggalkan Atiqah


"Ayok turun?!" Ardi telah membukakan pintu mobil, mengulurkan tangannya pada Atiqah.


"Mau apa sih?" Atiqah menerima uluran tangan Ardi, masih terus menatap kekasihnya itu yang hanya memberikan senyuman tanpa jawaban.


Keduanya masuk ke dalam salon. Dua wanita cantik dengan balutan seragam telah berdiri menunggu di depan meja resepsionis.

__ADS_1


"Silahkan mas Ardi" ucap salah satunya mempersilahkan masuk ke dalam. Atiqah masih tidak mengerti. Pertanyaan muncul dikepalanya, bagaimana bisa wanita cantik berseragam itu mengenal Ardi. Apa Ardi sering datang ke salon itu?.


"Mba Atiqah? silahkan duduk" ucap wanita cantik itu. Atiqah duduk didepan cermin besar dengan meja penuh perlengkapan make up profesional.


"Duduk manis, tunggu sebentar" bisik Ardi lalu mengecup pipi kiri Atiqah.


"Aku mau diapain? ini cuma makan malam kenapa harus seheboh ini? aku gak pernah make up Ardi" menatap Ardi dari pantulan cermin.


"Udah! nurut aja Yang" mengusap kedua bahu Atiqah lalu Ardi duduk di sofa panjang. Atiqah mengerucutkan bibirnya, pasrah. Dua wanita cantik tadi sibuk mengurusinya. Membersihkan wajahnya dan menata rambutnya.


"Sorry aku sedikit terlambat" tiba-tiba terdengar suara lembut wanita lain lagi masuk ke dalam ruangan. Atiqah menatapnya dari cermin. Wanita itu akrab dengan Ardi. Mencium pipi kanan dan kiri kekasihnya.


"Jadi ini pacar kamu?" tanyanya pada Ardi lalu mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Ia bersiap me-make over Atiqah. Ardi mengangguk tersenyum.


"Hai pacar Ardi...aku Caroline. Mantan pacar Ardi" bisik Carol pada Atiqah.


"Man-tan pacar?" menatap tak percaya pada Carol. Terlihat jelas usia Carol lebih dewasa dari Ardi.


"Kenapa? kaget ya? Aku sahabat kakaknya Ardi. Tenang...kita jadian cuma dua minggu aja kok" perkataan Carol menambah pikiran Atiqah. Pacaran macam apa hanya dua minggu?.


Ardi tidak memperhatikan keduanya yang sedang berbincang. Carol terus mengaplikasikan primer untuk melembabkan wajah lalu color corector untuk menutupi lingkaran hitam dibawah mata, flek hitam maupun noda jerawat. Selanjutnya f**oundation, bronzer/highlighter, eyebrow, eye shadow, eyeliner, mascara, blush on dan terakhir lipstick pada wajah Atiqah.


Tampilan Atiqah saat ini tidak berlebihan, sangat pas dan serasi dengan gaun putih yang dipakainya.


Carol berdehem "Ehem...siapa dulu yang make up-in" sambil membersihkan tangannya dengan tisu basah.


"Iya...iya. Semua berkat kamu. Thanks ya?" melemparkan senyuman.


Carol berdesis. "Ckck...jasaku gak gratis! aku gak terima ucapan terimakasih doang".


"Oke...oke. Aku bayar didepan" mengulurkan tangan, Atiqah bangkit dari duduknya menerima uluran tangan Ardi.


"Terimakasih kak" ucap Atiqah pada Carol.


"Hemm...ya ya. Good luck"


Ardi menyelesaikan pembayaran di meja kasir kemudian melajukan mobilnya ke restoran tempat acara makan malam keluarga.


"Kamu gini aja? nyantai banget. Aku udah sampe begini, kamunya cuma pake kemeja sama celana jeans?" Atiqah meneliti tampilan Ardi dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Enggak dong. Baju aku ada di lantai 5. Tadi aku suruh orang bawa ke hotel. Bik Narti masukin setelan aku ke loundry dan baru banget jadi tadi waktu aku jemput kamu" Ardi membelokkan setir ke kanan setelah melewati pertigaan besar.


Hanya beberapa meter, mobil SUV hitam Ardi sudah ia belokkan ke arah kiri masuk ke dalam basement hotel mewah itu.


"Temenin aku ganti baju dulu" menggenggam tangan Atiqah masuk ke dalam lift setelah mengambil kartu akses kamar di resepsionis hotel.


Ardi terus menatap penampilan Atiqah dari atas sampai bawah. "Apa sih? ngeliatinnya gitu banget. Aneh ya?" Atiqah membenarkan gaunnya berkali kali.


"Enggak...kamu cantik banget"


"Bohong" mereka berdua sama-sama tertawa.


tting...


pintu lift terbuka tepat di lantai 5. Ardi kembali menarik Atiqah berbelok ke kiri ke arah kamar nomor 5005.


"Ayo masuk?!" pintu terbuka otomatis setelah kartu di tangannya ia tempelkan pada gagang pintu kamar 5005.


"Cuma buat ganti baju doang, kamu sewa kamar hotel sebesar ini?" Atiqah berkeliling melihat isi kamar. Ardi tidak menjawab, ia langsung ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Setelah selesai berkeliling, Atiqah membuka pintu toilet tanpa mengetuk terlebih dulu. Ia tidak tahu Ardi sedang berganti pakaian.


"Aduh...aduh. Aku beneran gak tau kalo kamu didalem" Atiqah langsung menutup pintu dengan cepat sampai berbunyi keras. Ardi tergelak.


Pintu kembali Ardi buka setelah selesai memakai setelan jasnya. "Pipi kamu makin merah -mencubit pipi- makanya ketuk dulu".


"Maaf...aku beneran gak tau" menggigit bibir bawahnya. Ardi melihatnya dan langsung ******* bibir Atiqah.


"Aku udah bilang...jangan gigit bibir kamu. Cuma aku yang boleh" menyentuh bibir Atiqah lalu ********** lagi.


Ciuman menuntut Ardi sungguh memabukkan. Atiqah terhanyut dengan situasi yang semakin memanas. "Emm...Ar-di. Kita mung-kin u-dah di tung-gu di ba-wah. Ah..." Ardi membenamkan bibirnya pada puncak dada Atiqah.


Ardi seolah tuli dan terus melanjutkan aksinya menyerbu Atiqah. Rambut Atiqah tergerai dan berantakan. Ardi terus mencumbunya, membelai paha dalam Atiqah.


"Ahh...Ar-di cu-kup"


Bersambung....


*****

__ADS_1


Eh...muncul2 udah bikin panas dingin 😂😂😂. Happy friday everyone 🤗🤗🤗


Jangan lupa rate bintang 5nya, like, komen & giftnya. Matur tengkyu sadayana 😘😘😘


__ADS_2