
Tepat satu minggu setelah kejadian kecelakaan yang dialami pak Bondan, kini ayah Atiqah sudah kembali ke rumah. Papa Ardi, Sigit Danurdara menjenguk karyawannya ituย satu hari menjelang pak Bondan diperbolehkan untuk pulang.
Awalnya Mama Ardi, Anne marah besar saat mengetahui adanya notifikasi dari bank. Semua notifikasi keuangan putranya itu selalu masuk ke dalam ponselnya. Uang dengan jumlah besar, keluar dari tabungan Ardi senilai 50 juta.
\=\=Beberapa hari sebelumnya\=\=
"Ardi, kamu berhutang satu penjelasan lagi pada Mama. Sekarang katakan!" Anne takut putranya itu salah pergaulan.
"Yang mana Ma?" tanya Ardi, baru saja masuk ke dalam kamar setelah menemani Atiqah ke rumah sakit.
"Seragam kamu, juga notifikasi 50 juta. Untuk apa uang sebesar itu? kamu gak beli narkoba kan?" Anne menyelidik Ardi dari tatapan tajamnya.
"Sembarangan Mama! aku gak ada beli begituan. Jangan nuduh yang enggak-enggak Ma" sambil melepaskan sepatu dan kaos kaki. Meletakkannya disudut kamar.
"Kalau bukan itu, terus apa? cepat jelasin! kemarin kamu ninggalin Mama sampe ketiduran. Mama mau denger sekarang juga!" meletakkan kedua tangannya ke depan dada.
"Aku nolongin bapaknya temen yang kecelakaan, aku yang bawa ke rumah sakit. Jadi itu noda darah dari bapak itu. Soal uang 50 juta, aku bantuin temenku buat bayar biaya perawatannya. Ternyata bapak itu karyawan pabrik Papa. Papa pulang kapan ma?" terang Ardi jujur.
"Apa?? kamu nolongin mereka cuma-cuma? kita bukan badan amal Ardi. Mama kasih uang jajan buat kamu, bukan buat dibagi-bagiin ke orang! Buat apa kamu tanya kapan Papa pulang?" rahang Anne mengeras. Ia memang dikenal cukup perhitungan soal keuangan.
"Ma...please, ubah cara pemikiran Mama yang kikir itu. Bapak temen aku korban, dia karyawan Papa dan pelakunya cuma seorang sopir. Sama kaya Mang Pardi sopir Mama. Aku tanya Papa kapan pulang, biar Papa tau karyawannya ada yang kena musibah. Papa harus kasih kompensasi" Ardi semakin kesal dengan Anne.
"Kamu masih kecil Ardi. Kamu gak perlu ngurusin hal remeh soal pabrik. Biar Papa kamu yang atasi semua. Mama gak habis pikir, bisa-bisanya kamu kasih uang segitu banyak sama mereka. Feeling Mama, kamu suka sama temen kamu itu. Mang Pardi liat kalian berdua naik motor. Mama gak mau kamu ketemu sama perempuan itu lagi. Dia cuma mau uang kamu aja Ardi. Dia tau kamu anak orang kaya, anak laki-laki keluarga Danurdara" Anne semakin menggebu-gebu. Nafasnya memburu, emosinya memuncak.
"Mama gak berhak larang-larang aku! Atiqah perempuan baik dan bukan gila harta juga uang. Dan soal pabrik, Papa gak pernah kasih perhatian ke karyawan-karyawannya. Papa terlalu cuek dan tutup mata. Aku tetap omongin semua ke Papa nanti" Ardi pergi meninggalkan Anne, mengambil kunci mobil di atas nakas di ruang keluarga.
"Ardi...Ardi! berhenti! mau kemana kamu? ini udah malam. Jangan bikin Mama naik darah, Ardi!" Anne berlarian mengejar putranya. Menggedor jendela mobil. Ardi tetap menginjak pedal gas.
"Pak Iman...jangan buka gerbangnya!!" teriak sang Nyonya Besar pada satpam rumah yang kebingungan. Antara Nyonya rumah atau Ardi, putra kesayangan Tuan Besar.
"Aku bilang buka pak Iman! kalo enggak, aku hancurin gerbangnya!" Ardi mengancam pak Iman.
__ADS_1
"Jangan! kamu mau aku pecat Iman?!!!" Anne kembali berteriak dan ikut mengancam. Iman semakin bingung. Ardi membunyikan klaksonnya berkali-kali sampai akhirnya bemper depan siap menabrak gerbang tinggi itu. Anne berteriak ngeri dengan kenekatan putranya. Iman menyerah, menekan tombol otomatis dan gerbang terbuka.
"Kamu gak akan dipecat, nanti aku transfer uang bonus" teriak Ardi pada Iman. Iman hanya bisa menunduk takut oleh tatapan Anne.
"Awas kamu Iman!" menunjuk kedua mata dengan tangannya, tanda peringatan. Lalu Anne pergi masuk ke kamarnya. Membanting semua barang-barang.
Ardi melihat jam di layar dashboard. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Hatinya sedang kesal dan kalut. Tanpa sadar, mobil yang dikendarainya berhenti di depan gapura jalan rumah Atiqah.
"Kamu bener-bener bikin aku gila Atiqah. Liat aja, aku ada disini sekarang" mengacak rambutnya. Ardi memandang rumah Atiqah dari dalam mobilnya. Ia ingin bertemu tapi keraguan muncul dibenaknya.
Tak disangka ponselnya bergetar, satu pesan masuk dari Atiqah.
๐ฉ Lagi apa? kamu baik-baik aja kan? perasaanku gak enak. Biasanya kalo udah sampe rumah, kamu kabarin aku. Tapi ini enggak.
Ardi tersenyum membaca pesan Atiqah. Rasanya ingin segera bertemu dengan gadis sederhana itu. Memang mereka belum terikat sebagai pasangan tapi Atiqah merasa nyaman untuk mengutarakan apa yang ia rasakan, seperti malam ini.
Ardi membalas pesan Atiqah.
Pesan Ardi itu langsung dibaca Atiqah. Tak lama Atiqah keluar rumah dengan pakaian rumahan, dibalut jaket denim. Ardi tersenyum melihat Atiqah yang sedang berjalan mendekati mobilnya.
Ardi membuka pintu mobil dari dalam. "Masuk". Atiqah masuk lalu duduk disebelah Ardi.
"Kamu kenapa?" tanya Atiqah menatap Ardi dengan posisi duduk menghadap laki-laki itu.
"Jangan disini. Aku ajak kamu ke suatu tempat, gak papa kan?" tanya Ardi.
"Gak papa kok. Aku bilang ke Robi, keluar sebentar sama Lala" Ardi mengangguk.
"Pakai seatbeltnya" ucap Ardi pada Atiqah. Ia mulai melajukan mobilnya ke arah pantai di daerah Jakarta bagian utara.
Sepanjang perjalanan Atiqah dan Ardi sama-sama diam. Sesekali Ardi menatap Atiqah, begitu juga sebaliknya. Dan kini mereka sudah berada di pinggir pantai.
__ADS_1
"Katanya mau curhat, tapi diem aja daritadi" celetuk Atiqah mencairkan suasana di dalam mobil yang hening.
"Emm...aku lagi marahan sama Mama" jawab Ardi, menatap mata Atiqah sendu.
"Kalau boleh tau, soal apa?" Atiqah hanya ingin tahu saja tanpa ada maksud lain.
"Mama larang aku buat ketemu kamu" Ardi mengalihkan pandangannya ke pemandangan pantai saat malam. Hanya lampu kerlap kerlip di tengah lautan sana.
"Hah??" Atiqah terkejut. Salah apa dia, sampai-sampai Ardi tidak boleh bertemu dengannya. Dan Atiqah belum sama sekali pernah bertemu Anne dan berkenalan.
"Aku gak bisa. Aku gak bisa Atiqah. Maaf kalo aku terlalu lancang. Aku nyaman kalo kita sama-sama gini. Aku gak akan maksa kamu kaya waktu itu. Aku cuma mau bilang, aku sayang kamu Atiqah. Kamu mau jadi pacar aku?" tanyanya lembut. Kali ini Ardi tidak memaksa. Tangannya sudah menggenggam kedua tangan Atiqah.
Lama terdiam dan masih saling menatap. Atiqah menganggukan kepalanya. "Iya, aku mau". Ardi terkejut dengan jawaban Atiqah.
"Serius kamu?" Atiqah mengangguk berkali kali.
"Kamu gak lagi becanda kan?" Atiqah menggelengkan kepala. Ardi langsung memeluk Atiqah. "Makasih...makasih udah mau jadi pacar aku" memeluk erat.
"Iya...iya. Tapi lepasin dulu, aku gak bisa nafas"
"Maaf yang" ucapan spontan Ardi membuat pipi Atiqah bersemu merah. Beruntung malam hari, Ardi tidak terlalu dapat melihatnya. Samar-samar.
Atiqah mengecup pipi Ardi. "Kamu..." Ardi memegangi pipi kirinya. Atiqah tersenyum di dalam keremangan mobil. "Jadi, aku boleh cium kamu? kamu barusan udah cium aku Atiqah. Kamu curang" Atiqah menghindari Ardi.
"Ardi!" seketika Ardi mengangkat Atiqah ke pangkuan, saling berhadapan.
"Aku mau bales kecupan kamu tadi" mengusap lembut pipi Atiqah. Tangan Ardi telah berpindah ke tengkuk, menekannya perlahan sampai bibir mereka bertemu.
Bersambung....
*****
__ADS_1
Ehem...ehem...udah mulai sedikit fire ๐ฅ guys ๐