
Subroto dan Guntur selama dua hari tinggal dirumah putranya, Sigit. Pagi ini mereka sarapan bersama dan perdebatan kembali terjadi.
"Gimana bisa papih kasih rumah, kebun juga gedung untuk perempuan itu? kayaknya ada yang nggak beres. Perempuan itu pasti ke dukun" Anne langsung menuduh Atiqah didepan suami dan ayah mertuanya, juga Guntur.
"Diam kamu Anne! Buang pikiran kotormu itu! Picik!" Subroto membanting sendok dan garpu di tangannya ke atas piring. Sarapan yang seharusnya dinikmati dengan hikmat tetapi menjadi kacau karna ulah Anne, menantunya.
Anne menggenggam erat sendok dan garpunya sambil menatap nyalang pada Subroto. Ia sudah tidak gentar lagi terhadap sikap Subroto yang selalu membela Ardi dan Atiqah. Anne benar-benar sudah sangat muak.
"Pih ... tapi harusnya diomongin dulu sama aku. Papih nggak bisa gitu aja kasih semua. Aku anak papih, orangtua Ardi dan dia menantuku" Sigit berucap perlahan. Namun Anne semakin kesal pada suaminya karna menyebut Atiqah sebagai menantu. Anne menginjak kaki Sigit dibawah meja makan. Sigit menoleh sambil tersenyum menahan sakit.
"Lho memangnya papih salah? kasih itu semua ke cucu menantu? deweke lagi mbobot putumu, cicitku (dia sedang hamil cucumu, cicitku)" ucap Subroto, menatap ke arah Sigit dan Anne bergantian. Anne masih sama, mengerucutkan bibirnya.
"Enggak pih, papih nggak salah tapi baiknya diobrolin dulu sama aku" Sigit berkata dengan lembutnya.
"Papa gimana sih?" gerutu Anne, bibirnya rapat sambil bergumam. Sigit memberi kode dengan matanya. Posisi Sigit sudah mati kutu. Ia tidak bisa membantah lagi ucapan ayahnya dan berperang dengan Ardi.
"Pembicaraan ini cukup sampai disini!" Subroto memegang tongkatnya, dibantu berdiri oleh Guntur.
Subroto pagi itu setelah sarapan dengan rasa marah selesai berdebat dengan Anne dan putranya Sigit, meminta Guntur untuk mengantarnya ke apartemen Ardi.
"Tur, mampiro disek maring bakery (Guntur, mampi dulu ke toko roti)" seru Subroto, menepuk pundak Guntur dari kursi belakang.
"Inggih Eyang" Guntur mengangguk sambil terus melajukan mobil ke arah toko roti langganan Subroto.
Beberapa mini cake dan satu keranjang buah berisi anggur hijau, apel, pear juga jeruk memenuhi kursi di samping Guntur. Semua itu Subroto yang memilihnya untuk Atiqah. Subroto senang melihat cucu menantunya itu banyak makan. Subroto sedih melihat tubuh Atiqah kurus, hanya perutnya saja yang membesar.
"Pasti mbak Atiqah seneng banget Eyang. Akhir-akhir ini mbak Atiqah suka sekali yang manis-manis" celetuk Guntur sambil tersenyum melihat Subroto dari spion tengah.
"Kowe ngerti to. Meneng-meneng kowe ngematke (Kamu ternyata tau. Diam-diam kamu memperhatikan)" ucapan Subroto yang terlontar memiliki arti lain. Guntur mengerti.
"Ngapunten Eyang. Kulo namung ngestokake, mboten enten maksud nopo-nopo. Saestu Eyang ( Maaf Eyang. Saya hanya memperhatikan, tidak ada maksud apa-apa. Sungguh Eyang)" Guntur tidak enak hati dengan Subroto. Orangtua itu memang sangat peka terhadap gerak gerik orang disekitarnya.
__ADS_1
"Yo ... aku percoyo (Ya ... aku percaya)" Subroto mengetuk ngetuk tongkat digenggaman dengan telunjuknya.
Ardi dan Atiqah yang baru saja selesai mandi bersama, kelabakan saat mendengar bel apartemen berbunyi. Mereka sama-sama belum memakai pakaian.
"Kamu pelan-pelan aja pakai bajunya. Biar aku yang buka pintunya" Ardi mengecup kening Atiqah sambil mengusap perut buncit yang terpampang.
"Iya"
Ardi berjalan cepat ke arah pintu dan melihat Subroto juga Guntur dari door viewer.
"Eyang ... kenapa nggak ngabarin dulu kalau mau kesini?" Ardi mencium tangan Subroto setelah membuka pintu.
Tapi setelahnya, Ardi mendapatkan sentilan di keningnya. "Bocah saru (anak nakal). Memangnya kamu sibuk, sampe Eyang harus telfon kamu dulu? gendeng (gila)". Ardi meringis, mengekori Subroto yang berjalan masuk ke dalam. Guntur menutup pintu.
"Ya Ardi emang nggak sibuk Eyang, tapi kan ada Atiqah. Eyang yang udah pengalaman berpuluh-puluh tahun pasti ngerti" menggaruk kepalanya sambil terus berjalan di belakang Subroto.
"Paijo gendeng" Subroto berbalik lalu mengangkat tongkatnya akan memukul Ardi.
"Ojo mlayu-mlayu nduk (jangan lari-lari nak)" Subroto mengibaskan tangan kirinya lalu menurunkan tongkatnya dari tangan kanan.
"Yang ... jangan lari dong" Ardi menangkap pinggang Atiqah.
"Maaf ... aku lupa" Atiqah meringis, memamerkan deretan giginya pada Ardi. Tangannya menempel di dada Ardi.
Mereka berempat duduk di meja makan. Buah tangan yang dibeli tadi sudah terhampar. Seperti dugaan Guntur, Atiqah sangat menyukai cake manis. Buah-buahan pun tak luput di santap.
"Jam 10 nanti Ardi mau antar Atiqah ke dokter, Eyang. Kontrol pertama setelah kejadian kemarin" Ardi memberitahu Subroto.
"Yowes ... Eyang ikut juga. Sekalian nanti Eyang mau lihat cicit. Oleh to? (boleh kan?)" Subroto antusias. Sudah lama sekali menyaksikan janin yang terus berkembang dan berdetak dari layar monitor. Terakhir kalinya saat Anne mengandung Ardi.
"Iya Eyang, boleh. Tapi jangan cerewet ya nanti. Dokter Arman pasiennya cukup banyak. Waktu itu Ardi antar Atiqah ke ruangannya, jadi Ardi tau" terang Ardi.
__ADS_1
"Iyo ... iyo. Mengko tak kon disek an. Melas karo putuku ( Iya ... iya. Nanti aku suruh duluan. Kasian sama cucuku)" Subroto mengelus kepala Atiqah yang duduk disamping kanannya.
****
Setelah kepergian Subroto pagi tadi, Anne menumpahkan amarah dan rasa curiganya pada Sigit.
"Papa kenapa jadi gini sih? sekarang Papa nggak berkutik. Iya iya aja. Papa juga nggak pernah marah lagi sama Ardi. Mama jadi curiga ...." Anne menatap sinis suaminya.
"Semua udah kejadian Ma. Percuma juga kita berdebat. Ujung-ujungnya begini kan? kita tetap kalah. Udahlah, Papa mau berangkat ke kantor dulu. Pusing banyak kerjaan sama beberapa klien" Sigit mengelap bibirnya dengan napkin lalu bangkit meninggalkan Anne yang masih tidak puas dengan pembahasan pagi itu.
Sigit mengendarai mobilnya sendiri tapi tidak ke kantornya. Subuh tadi Narnia mengancamnya jika ia tidak mau pergi ke dokter bersama, Narnia akan mendatangi salon kecantikan milik Anne.
"Halo ... iya sayang. Aku on the way, tunggu sebentar. Jam praktek dokter masih dua jam lagi. Masih banyak waktu, kita nggak akan terlambat" ucap Sigit saat menjawab telefon dari Narnia. Usia kehamilan kekasih gelapnya itu memasuki bulan ke delapan.
"Buruan mas. Aku kangen. Aku pengen manja-manja dulu sama kamu" rengekan manja Narnia terdengar dari earphone yang melekat di telinga kiri Sigit.
"Oke ... sabar ya sayang. Aku juga kangen banget. Udah dua minggu nggak nengokin baby" ucapnya sambil memutar kemudi memasuki tol dalam kota.
"Udah dimana sih mas? kok lama banget. Aku udah pake baju kesukaanmu. Aku udah nggak sabar nih" suara manja Narnia terdengar lagi. Sigit meremang, membayangkan tubuh seksi Narnia dihadapannya memakai lingerie hitam favoritnya.
"Sebentar ... Aku baru aja masuk tol. Lima menit lagi. Sabar sayangku. Jangan lupa pakai parfumnya. Aku suka aroma tubuhmu sayang" rasanya Sigit benar-benar ingin segera sampai dan langsung melampiaskan hasratnya.
"Aku udah pakai parfumnya juga. Masss, cepetan ..." Narnia sudah gelisah, mondar mandir di depan ruang santai.
Bersambung...
*****
Maaf lagi ya gengs, updatenya lama. Pikiran lagi campur aduk. Nemenin anak ujian semesteran dll. Tapi tetep kudu dukung Atiqah ya. Rate bintang 5 sebanyak banyaknya, like trus komennya sayang. Kasih gift lebih kece lagi. Soalnya othor mau bagi-bagi giveaway podium umum 1, 2 dan 3 di akhir bab nanti. Cuzz...kasih gift sebanyak-banyaknya 😊🤗😁😄
Thankyou gengs 🙏😘😘
__ADS_1