ATIQAH

ATIQAH
Bab 20 : Makan Malam


__ADS_3

Ardi terlihat masuk kembali ke mobil. Atiqah menunggunya di dalam. Satu tentengan ditangan berisi foundation ia serahkan pada Atiqah sedangkan satu tentengan lagi berisi makanan ringan untuk Robi, ia letakkan di kursi tengah. Atiqah langsung membuka foundation lalu menotol ke bagian yang terdapat bekas kemerahan di lehernya.


"Masih keliatan?" tanya Atiqah pada Ardi yang terus menatapnya, mendekatkan lehernya. Mobil belum bergerak, masih berada di parkiran minimarket.


"Udah kok" Ardi mengamati titik-titik dimana bekas kemerahan itu.


"Beneran?" Ardi mengangguk, tangannya sibuk memindahkan persneling dari P ke N lalu R, memundurkan mobilnya. Memutar setir, mengubah persneling kembali dari R ke N lalu D. Mobil melaju ke arah rumah Atiqah.


"Trus itu apa?" menunjuk tas dengan logo minimarket tadi yang Ardi letakkan dibagian kursi tengah.


"Itu snack buat Robi. Kasian dia udah seminggu ditinggal orangtuanya di rumah sakit, juga ditinggal kakaknya yang sibuk pacaran" sindir Ardi lalu terkikik.


"Ishh...pacaran-pacaran" gerutu Atiqah. Ardi kembali fokus menatap jalan.


Mobil berbelok ke kiri, masuk ke jalan rumah Atiqah. Ardi memarkirkan mobilnya tepat di depan teras. Robi berlari menyongsong kedatangan kakaknya dan juga Ardi.


"Mas Ardi...." menarik tangan Ardi, mencium punggung tangan. Atiqah menaikkan alisnya, menatap Ardi dan juga Robi bergantian. Ardi tersenyum manis menampilkan lesung pipinya, mengacak rambut Robi.


"Heh...kesambet apa kamu dek? mba sendiri aja gak pernah salim begitu" Atiqah melipat kedua tangannya di depan dada. Belum sempat menjawab, Ardi memberikan tentengan berisi snack pada Robi.


"Yes...makasih mas. Sering-sering aja mas kasih jajan buat aku" menampilkan deretan giginya.


"Maunya...dasar bocah!" Atiqah hendak menjitak kepala adiknya tapi Robi sudah menghindar, berlari masuk ke dalam rumah sambil terus berteriak. "Bu, Mba Atiqah mau jitak kepalaku" adu Robi pada ibunya.


"Dasar tukang ngadu!" Atiqah mencibir.


Ardi mengusap punggungnya. "Sabar. Yuk masuk?! kasian bapak sama ibu kamu pasti udah nungguin kita lama".


Atiqah berjalan terlebih dulu, Ardi mengikuti.


"Maaf bu. Kami lama. Tadi sedikit macet" Ardi beralasan. Alasan yang dibuat-buat pastinya. Kenyataannya mereka bertengkar di dalam mobil di depan taman kota.


"Gak papa nak Ardi. Ayok duduk! ibu siapin piring-piringnya dulu ya. Cicipin jajanan pasarnya, tapi ibu gak bikin sendiri. Ibu pesen ke tetangga. Dijamin enak kok. Dimakan ya?!" ucap bu Asri, setelahnya berlalu ke arah dapur mengambil piring.

__ADS_1


"Iya bu" Ardi mencomot satu jajan pasar berwarna merah berisi kacang hijau, kue ku.


"Mba aja yang bawa bu" Atiqah mengambil alih tumpukan piring yang akan dibawa bu Asri ke meja makan.


Ardi masih menikmati jajanan pasar bersama Robi. Atiqah sesekali ikut nimbrung dengan obrolan keduanya. Sedangkan bu Asri menjemput suaminya di kamar. Pak Bondan memang sedang istirahat semenjak pulang tadi siang.


"Eh nak Ardi. Udah lama?" tanya pak Bondan saat melihat Ardi duduk di ruang makan.


"Lumayan pak. Bapak gimana? udah baikan?" tanya Ardi menatap pak Bondan sampai duduk tepat dihadapannya.


"Udah lumayan, tapi memang harus banyak istirahat" Ardi setuju dengan ucapan pak Bondan.


Mereka berlima menyantap makan malam dengan canda tawa. Ardi cepat beradaptasi dengan keluarga Atiqah. Atiqah semakin kagum dengan pacarnya itu. Tapi terbesit rasa bimbang di dalam hatinya. Tidak mungkin baginya untuk terus bersama dengan seorang Ardi Danurdara. Ia takut orangtua Ardi akan melakukan hal buruk pada ayahnya. Karena ayahnya hanyalah seorang buruh pabrik, bawahan yang tidak selevel dengan keluarga konglomerat Danurdara. Meskipun Ardi mengancam Ayahnya agar tidak berbuat macam-macam pada Atiqah, tidak akan semudah itu Sigit menyerah.


Brak brak brak...


Suara gebrakan pintu rumah terdengar keras. Pak Bondan yang sudah masuk ke kamar kembali terkejut. Sama halnya dengan Ardi dan Robi yang sedang nonton acara televisi. Atiqah yang sedang mencuci piringpun terlonjak mendengar suara gebrakan itu.


"Ardi! Ardi!" suara gelegar pria dewasa terdengar keras di depan pintu.


"Siapa?" tanya bu Asri pada Atiqah dan Ardi. Atiqah menggelengkan kepalanya.


"Ibu, masuk kamar lagi aja. Biar Atiqah yang buka" Atiqah tidak ingin ibu dan bapaknya melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Atiqah tau siapa orang yang berteriak di depan dari gumaman Ardi. Bu Asri kembali masuk ke dalam kamar.


"Biar aku yang buka, kamu dibelakangku. Robi...kamu disitu aja!" ucap Ardi menarik tangan Atiqah agar berlindung dibalik tubuhnya dan menunjuk Robi agar tetap diam didalam.


"Iya mas" Robi menuruti ucapan Ardi.


Ardi membuka pintu, mengeraskan rahangnya. Ayahnya begitu nekat mendatangi rumah Atiqah dengan beberapa bodyguard.


"Papa..." Ardi begitu kesal. Ia menoleh ke arah pintu kamar bu Asri dan pak Bondan. Jangan sampai mereka tau siapa yang datang.


"Ngapain kamu disini? Hah?! bisa-bisanya kamu ngehina Papa kaya gini. Ini sudah malam dan kamu masih dirumah perempuan miskin ini?" Sigit menunjuk-nunjuk wajah Atiqah.

__ADS_1


"Jaga bicara Papa! gak usah teriak-teriak. Pak Bondan lagi istirahat" Ardi menurunkan volume suaranya memperingatkan ayahnya dengan penekanan.


"Papa gak peduli. Sekarang pulang! dan jangan coba-coba bisa kemari lagi! Bawa dia!!" titah Sigit pada dua bodyguardnya untuk membawa Ardi masuk ke mobilnya.


"Lepas!! Atiqah...Atiqah" Ardi sudah diseret lalu didorong masuk ke mobil Sigit. Atiqah bergeming, hatinya terasa sakit.


"Masuk! ambil tas Ardi didalam. Pasti kunci mobilnya ada didalam tas. Kamu bawa mobilnya!" Sigit memerintah satu bodyguardnya yang lain masuk ke dalam rumah Atiqah.


"Permisi!" Atiqah bergeser saat orang itu masuk ke dalam.


"Mba..." Atiqah menoleh ke arah bu Asri yang berdiri didepan kamarnya. Menatap orang berbadan besar melewatinya, menenteng tas Ardi. Atiqah masih diam tak berkata apapun pada ibunya.


"Sudah Tuan" ucap bodyguard yang membawa tas Ardi.


"Bawa mobil Ardi kerumah. Mulai besok kamu yang antar anak saya ke sekolah! dan jaga ketat. Jangan sampai Ardi didatangi perempuan miskin ini!" menunjuk kembali wajah Atiqah. Bu Asri yang mendengarnya langsung mendekati putrinya. Matanya membulat, siapa yang datang dan membuat gaduh malam-malam.


"Bagus...seperti ini semakin mudah untuk saya. Jangan dekati Ardi lagi! kalau kalian tidak mau ada apa-apa dengan Bondan di pabrik. Ingat itu!!" Sigit pergi meninggalkan teras rumah, masuk ke dalam mobil. Ardi di ikat dan di lakban mulutnya, agar dia tidak berulah.


Karena kekacauan itu, para tetangga di sekitar rumah Atiqah berkerumun diluar pagar rumah. Melihat bagaimana Sigit mempermalukan Atiqah dan keluarganya.


"Mba...jadi nak Ardi itu..." ucapannya menggantung tetapi Atiqah tau apa yang dimaksud ibunya.


"Iya bu, Mba juga baru tau hari ini" nada suaranya terdengar lesu. Ayah Ardi mempermalukan keluarganya didepan semua orang. Sudah pasti jadi bahan pergunjingan.


"Udah...udah. Kita masuk, kita omongin di dalem" setelah menutup pintu, keduanya berbalik dan kembali mematung. Pak Bondan berdiri didepan kamar, memegangi dadanya.


"Pak...kenapa pak? dadanya sakit?" bu Asri memegangi tubuh suaminya. "Masuk aja pak, istirahat" membawa kembali masuk ke dalam kamar. Atiqah berlari ke arah kamarnya, menutup dan mengunci pintu. Tubuhnya meluruh dibalik pintu. Menutup wajahnya dan terisak lirih.


Bersambung....


*****


Konfliknya dikit-dikit ya guys. Jangan yang tegang-tegang banget 😁

__ADS_1


Cuzz ah kasih rate bintang 5nya, like, komen juga giftnya ditunggu man teman 😊


Terimakasih 🙏😘


__ADS_2