ATIQAH

ATIQAH
Bab 46 : Kembali ke Ibukota


__ADS_3

Atiqah baru saja tertidur pukul 04.00 pagi. Setelah kejadian tengah malam tadi, cukup sulit untuk memejamkan mata. Guntur yang terus mengatakan permohonan maafnya setelah mengecupnya beberapa detik, masih saja terbayang dalam ingatan.


"Maaf...saya minta maaf. Saya gak maksud apa-apa" Guntur mengucapnya berkali kali.


"Udah malem, mending kita masuk. Udara makin dingin" ujar Atiqah, tidak mau menanggapi ucapan maaf Guntur. Ia juga malu, kenapa diam dan memejamkan mata.


"Baik mbak" Guntur bangkit, menepuk-nepuk celana sambil memperhatikan Atiqah yang sudah berlari masuk ke dalam kamar.


*****


Gorden yang menutupi kaca besar terbuka, cahayanya masuk. Atiqah terkesiap karena ia ingat Ardi. Atiqah takut Ardi bangun dan dirinya tidak ada di kamar.


"Udah bangun La?" tanya Atiqah, membuka selimut lalu meregangkan badan.


"Udah, belum lama" jawaban Lala terdengar datar.


"Oh...aku ke kamar mandi dulu kalo gitu" Atiqah masuk ke dalam kamar mandi. Menyegarkan tubuhnya mandi air hangat.


"Udah punya pacar tapi ciuman sama cowok lain" gerutu Lala. Marah dan kecewa. Laki-laki yang ia sukai justru berciuman dengan sahabatnya.


Semalam Lala terbangun karena haus tapi Atiqah tidak ada disebelahnya. Lala membuka tirai mencari keberadaan Atiqah, justru ia melihat sahabatnya berciuman dengan Guntur.


Lala keluar kamar, duduk di kursi santai pool. Guntur menghampiri Lala setelah lari pagi.


"Pagi mbak Lala" sapanya sambil menyeka keringat dengan handuk kecil yang melingkar di leher.


"Pagi" Lala kembali menjawab datar, tersenyum terpaksa. Guntur merasa ada yang beda dari Lala.


"Mbak Lala udah sarapan?" tanya Guntur.


"Belum" jawab Lala, setelahnya ia diam.


"Mau sarapan sama-sama? tapi saya masuk dulu. Mbak Lala tunggu sebentar ya" tanpa menunggu jawaban, Guntur berlalu masuk ke dalam kamar.


"Apa-apaan...semalem ciuman sama Atiqah trus pagi ngajakin aku sarapan" gumam Lala, melipatkan tangan ke depan dada sambil memicingkan mata ke arah pintu kamar Guntur.


*****


Setelah mandi, Atiqah mengendap-endap masuk ke dalam kamar Ardi. Kepalanya masih terbungkus handuk sehabis keramas. Beruntung Ardi masih tertidur.


Atiqah berpura-pura duduk di sofa sembari menonton acara di televisi. Suara televisi mengusik pendengaran Ardi. Ardi membuka mata.


"Jam berapa sekarang?" tanyanya pada Atiqah. Atiqah menoleh.


"Jam 7" jawab Atiqah, kembali menatap lurus televisi.


"Yang...kamu udah mandi?" Ardi turun dari ranjang lalu memeluk Atiqah yang duduk di sofa, mengendus leher. "Semalem aku ngantuk banget --memberi kecupan-kecupan kecil, Atiqah kegelian-- kamu wangi banget Yang" Ardi ingin mencium tapi Atiqah menutup bibirnya.


"Belum mandi, gosok gigi. Bau" tersenyum. Ardi tertawa.

__ADS_1


"Aku lupa. Mau mandi lagi?" menggoda Atiqah.


"Enggak ah, aku udah laper. Buruan mandi" mendorong Ardi menjauh.


"Oke...oke...aku mandi" Ardi pergi masuk ke dalam kamar mandi. Atiqah bernafas lega, Ardi tidak menaruh curiga padanya.


Menunggu kurang lebih 30 menit Ardi selesai mandi dan berpakaian. Kekasihnya itu mengulurkan tangan mengajaknya sarapan. Sebelum membuka pintu, Ardi mencium bibir Atiqah cukup lama. Mereka lupa, tirai terbuka setengah. Guntur dan Lala melihatnya dari kursi santai pool.


Gila sih ini. Ciuman sana sini. Gak nyangka. Lala membatin, merutuki Atiqah yang menurutnya terlihat murahan.


"Ehem..." Guntur berdehem, melemparkan pandangan ke arah lain.


"Ayo mas Guntur kita sarapan?!" ucap Lala, lebih baik menghindar daripada terus melihat sahabatnya berciuman tanpa tahu malu.


Ardi dan Atiqah menghampiri Lala yang sudah duduk di salah satu meja restoran.


"Mau apa? aku yang ambilin" ucap Atiqah pada Ardi.


"Apa aja, terserah kamu. Ah ya...aku mau jus jeruk" Ardi menarik kursi duduk berhadapan dengan Lala. Atiqah pergi mengambil beberapa menu untuk sarapan.


"Udah lama La?" tanya Ardi.


"Baru aja sama mas Guntur" menunjuk dengan dagunya ke arah Guntur yang sedang memilih mini cake. "Aku makan duluan ya?" Lala menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


Ardi mengangguk. "Silahkan".


Atiqah membawa nampan berisi beberapa menu sarapan untuknya dan Ardi. Dan ia berpapasan dengan Guntur. Atiqah bergeser ke kiri, Guntur ikut ke kiri. Atiqah ke kanan, Guntur juga ke kanan. "Maaf mbak. Silahkan" Guntur bergeser memberikan jalan untuk Atiqah.


Atiqah fokus sarapan dan mengobrol dengan Ardi, sedangkan Lala terus saja diam melirik ke arah Guntur yang duduk disebelahnya. Guntur menatap Atiqah sesekali sambil mengunyah.


"Jam 10 kita checkout. Besok pagi kita balik ke Jakarta. Tiket udah diurus mas?" tanya Ardi pada Guntur.


"Sudah mas. Besok pesawat pagi jam 8" jawab Guntur lalu bersitatap dengan Atiqah.


"Aku duluan" mood Lala berantakan, ia pergi dari restoran. Atiqah bingung dengan sikap Lala hari ini. Sahabatnya itu berubah menjadi pendiam, bukan sifat Lala.


"Kenapa dia? tumben diem aja" tanya Ardi, menggandeng tangan Atiqah keluar dari restoran. Guntur mengikuti dari belakang, menatap punggung gadis yang ia cium semalam.


"Gak tau" mengedikkan bahu.


Sesampainya di teras kamar, Lala sudah menceburkan diri berenang dan diam di ujung kolam memandangi lautan lepas berwarna kebiruan.


"Aneh banget" cibir Ardi. Atiqah diam melihat sahabatnya seperti itu, seakan-akan menjauh darinya. "Masuk!" Ardi menarik Atiqah masuk ke dalam kamarnya. Guntur mengikuti arah pandangnya sampai Atiqah dan Ardi masuk ke dalam.


"Mau apa?" Atiqah tau Ardi menginginkannya. Semalam Ardi ketiduran.


Ardi tersernyum mesum, menarik pinggang dan ******* bibir Atiqah. Menerobos lalu mengabsen deretan giginya satu per satu. Lagi-lagi Guntur melihat mereka berciuman.


Atiqah bingung, tiba-tiba Ardi mundur dan berbalik akan menutup tirai. Ardi dan Guntur kembali bersitatap tajam. Ardi melihat Guntur mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Kamu milikku! cuma milikku!" mencengkeram dua pipi Atiqah. Atiqah bingung, Ardi marah padanya.


"Iya...aku milikmu. Tapi ini sakit" ucapan Atiqah tidak begitu jelas.


Ardi mendorong Atiqah ke sofa. Menarik celana training hitam yang dipakai kekasihnya itu. "Ardi!!" Atiqah memekik. Ardi sudah meliukkan lidahnya dibawah sana. Atiqah mendorong bahu Ardi tapi rasa gelenyar aneh di tubuhnya menginginkan lebih.


Semakin kuat meremas rambut Ardi, menenggelamkan dalam-dalam. Satu tangan Ardi meremas dadanya. Atiqah benar-benar tak kuasa menahan hasrat yang akan meledak.


"Aku suka" ucap Ardi, merasakan denyutan dilidahnya. Atiqah mengatur nafas, tatapannya begitu sayu.


"Pengen lebih?" Atiqah mengangguk. Tangannya mengulur ke area bawah milik Ardi. Mengusap lalu menurunkan celana dengan dua kakinya.


"Aku balik ya?" kata-kata sensual yang pertama kali didengarnya dari bibir Atiqah. Ardi dengan senang hati.


"Siap-siap Yang, aku mau masuk sekarang" bisik Ardi lalu menggigit cuping telinga Atiqah.


Seketika Atiqah mendongak merasakan milik Ardi yang telah masuk seutuhnya. Menggerakkan pinggul perlahan sambil meremas dada dan bermain puncak dadanya yang mengeras.


"Emmm...." gumam Atiqah. Ardi menghujamnya dalam-dalam. Menghentakkan dengan irama yang semakin cepat. Keringat dipagi itu mengucur deras. Atiqah benar-benar sudah terlalu jauh jatuh dalam permainan Ardi, dalam pesona dan cinta seorang Ardi.


Atiqah menikmatinya dan membuat dirinya menggila. Satu yang pasti, dia milik Ardi dan Ardi miliknya. Jika sesuatu terjadi, Ardi berjanji akan selalu ada disampingnya, bersamanya.


*****


Keesokan hari pukul 06.00 pagi. Guntur mengantar Ardi, Atiqah dan Lala setelah sarapan bersama dengan Subroto.


"Hati-hati dijalan. Pintu rumah eyang selalu terbuka untuk cucu eyang yang cantik" mengusap pipi Atiqah. Lala memutar matanya, jengah. Ia ingin segera sampai di Jakarta.


"Terimakasih eyang. Nanti Atiqah main kesini lagi, jenguk eyang" memeluk Subroto.


"Eyang rasa ndak lama lagi kamu dateng kesini" Subroto asal berbicara tapi perasaannya memang sangat peka. Atiqah tak mengerti, hanya anggukan dan senyum yang ia berikan.


Dalam perjalanan menuju bandara. Guntur masih curi curi kesempatan memandangi Atiqah yang diam menatap keluar jendela. Ardi tau, asisten eyangnya itu menaruh hati pada kekasihnya.


"Ehem..." deheman Ardi membuat Guntur terkejut.


"Sini aja mas. Mas Guntur langsung pulang aja. Makasih" ucap Ardi membuka pintu lalu mengeluarkan koper-koper.


"Kami balik Jakarta dulu ya mas. Terimakasih udah ngajak kami jalan-jalan. Lain kali kalo mas Guntur ke Jakarta, aku yang gantian nemenin" ucapan Atiqah begitu menyejukkan hati Guntur tapi tidak dengan Lala dan Ardi yang mendengarnya.


"Baik mbak. Hati-hati" melambaikan tangan.


Atiqah memeluk lengan Ardi sedangkan Lala sudah berjalan dulu di depan.


Bersambung...


*****


Maaf ya baru update 🙏. Sempet gak mood kemaren.

__ADS_1


Rate bintang 5nya jangan lupa guys. Like, komen sama giftmu sangat berarti 😊


Terimakasih banyak 🙏🙏🙏


__ADS_2