
Atiqah rutin datang ke apartemen Ardi. Hanya untuk menghabiskan waktu bersama menonton film ataupun melakukan hal yang lain.
Dan satu bulan pun berlalu. Sebagian lemari Ardi berisi pakaian-pakaian Atiqah yang memang ia beli bersama di Mall. Atiqah menjadi jauh dengan Lala. Atiqah sibuk dengan Ardi sedangkan Lala terus menjauhinya.
"Mba, besok sabtu Bu Siti ngunduh mantu di hotel dekat stasiun. Ibu sama bapak dikasih baju seragam" ucapan ibunya membuat pagi Atiqah terasa buruk.
"Emangnya Mas Fajar udah nikah? kok aku nggak dikasih tau?" Atiqah menarik kursi, duduk di ruang makan.
"Pagi ini nikah di Bandung. Mungkin nak Fajar lupa kasih tau. Hari sabtu kamu berangkat sama Robi aja, sekalian ajak nak Ardi" ucap bu Asri, meletakkan sayur dan lauk.
Atiqah diam, ia cemburu mendengar kabar Fajar menikah pagi ini.
"Sarapan dulu mba" ucap bu Asri menggeser wadah berisi nasi.
"Bapak mana bu?" Atiqah mengedarkan pandangan mencari sosok ayahnya.
"Bapak sama Robi lagi ikut kerja bakti" ucapnya lagi. Bu Asri menarik kursi, duduk didepan Atiqah.
"Ibu nggak jualan?" tanya Atiqah sambil menyendokkan nasi, sayur dan suwiran ayam ke dalam mulutnya.
"Hari ini ibu libur, warung ibu tutup dulu. Ibu capek, mau istirahat" bu Asri pun sama menikmati sarapannya.
"Ooo ... iya, kalo capek istirahat bu. Atiqah juga dapet beasiswa sampe kelas tiga, jadi ayah sama ibu udah nggak terbebani biaya sekolah" Atiqah kembali mengunyah makanannya.
"Iya mba. Bersyukur anak Ibu pintar. Terimakasih ya mba, sudah jadi anak Ibu yang baik dan pengertian" bu Asri tersenyum senang.
"Mba yang bersyukur punya Bapak sama Ibu" Atiqah membalas senyuman ibunya tapi di dalam hatinya terasa gundah. Sudah satu bulan lebih ia tidak menstruasi. Sudah dua hari ini, setiap malam perutnya terasa keram seperti akan datang bulan.
Raut wajah Atiqah berubah saat rasa mual tiba-tiba datang. Ia menahannya tapi...
"Huek huek" Atiqah berlari ke arah wastafel dapur, tepat dibelakang ibunya duduk. Bu Asri bangkit, membantu memijat tengkuk putrinya.
"Mba, kenapa? sakit?" bu Asri terus memijat tengkuk. Atiqah mengeluarkan semua isi perutnya.
"Nggak tau bu" Atiqah duduk di kursi yang ibunya duduki tadi.
"Minum dulu" bu Asri memberikan teh hangat pada putrinya. Atiqah meminumnya perlahan.
"Mba, dikamar dulu ya Bu. Pusing" Atiqah berjalan tertatih memegangi kepalanya. Bu Asri memandangi putrinya sambil terus menggelengkan kepala. Ia tidak mau berprasangka buruk pada Atiqah.
Atiqah menutup pintu kamar lalu merebahkan dirinya ke atas ranjang.
Satu pesan Ardi masuk sejak pagi tadi.
📩 Ardi
Yang...jadi ke apartemen kan? aku kangen.
Atiqah membaca sambil memijati kepalanya yang terasa semakin berputar.
__ADS_1
📩 Atiqahku
Kayaknya enggak. Aku sakit.
Balasnya singkat. Atiqah tidak sanggup berlama-lama menatap layar ponsel. Ia letakkan begitu saja di sampingnya tanpa menghiraukan lagi pesan Ardi.
📩 Ardi
Sakit apa? semalem kamu baik-baik aja. Jangan bikin alesan!
📩 Ardi
Yang...kok gak dibales-bales? kamu beneran sakit?
📩 Ardi
Oke...aku kerumah sekarang. Awas kalo bohong, aku habisi kamu dikamar!
Atiqah merasa mual lagi, tangannya merayapi meja belajar di samping ranjang. Mencari minyak kayu putih. Setelah dapat, ia mengolesi ke bagian hidung, tengkuk dan dadanya.
"Ah...segernya" menghirup aroma khas minyak kayu putih.
Karna merasa nyaman dengan aroma minyak, Atiqah terlelap. Ia tidak mendengar suara Ardi di teras saat bertemu bu Asri.
"Pagi bu. Atiqahnya ada?" tanyanya. Bu Asri baru saja keluar rumah membawa beberapa makanan untuk ia berikan ke pos kamling di ujung jalan tempat bapak-bapak lingkungan sekitar bergotong royong.
"Apa benar Atiqah sakit bu?" tanya Ardi.
"Iya, tadi lagi sarapan nggak tau kenapa langsung muntah-muntah. Mungkin masuk angin. Yaudah nak Ardi, ibu anter makanan dulu ke pos. Sudah ditunggu ibu-ibu yang lain" ucap bu Asri langsung meninggalkan Ardi.
Ardi mengangguk lalu masuk ke dalam rumah, mengetuk pintu kamar Atiqah. Tidak ada sahutan. Ardi menekan handle pintu perlahan. Atiqah memang benar tertidur memunggunginya. Ardi duduk di tepi ranjang, aroma khas minyak menguar. Kemudian ia mengulurkan tangannya ke dahi Atiqah.
"Nggak demam" gumamnya. "Yang ... ini aku. Bangun" menepuk bahu Atiqah.
"Kamu ngapain kesini?" Atiqah terkejut, membalikkan badannya melihat Ardi yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Pesanku nggak dibales. Jadi aku kesini. Kamu gak demam tapi kata ibu, tadi kamu muntah-muntah?" tanya Ardi, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi dahi Atiqah.
"Iya. Tadi tau-tau berasa mual banget, tapi sekarang udah enggak" jawabnya lalu sedikit melongok melihat keadaan rumah dari atas ranjang, pintu kamarnya terbuka lebar.
"Cari siapa?" tanya Ardi melihat gelagat Atiqah.
"Ibu"
"Ibu ke pos kamling nganter makanan" Ardi mengusap pipi Atiqah.
"Peluk ... aku kangen" Atiqah merentangkan tangannya, ingin mendapatkan pelukan kekasihnya.
"Oh karna pengen minta dipeluk jadi liat situasi dulu?" Atiqah mengangguk sambil tersenyum. Ardi memeluk Atiqah erat.
__ADS_1
"Aku juga mau cium" Atiqah kembali merengek.
"Dengan senang hati" Ardi memiringkan kepalanya lalu menempelkan bibirnya ke bibir Atiqah. "Kamu bau minyak Yang" ucapnya disela-sela ciuman. Atiqah menggelengkan kepala, tidak ingin diganggu. Atiqah terus menekan masuk menikmati bibir Ardi. Atiqah merindukan belaian kekasihnya itu.
"Aku mau kamu" bisik Ardi menggigit cuping telinga.
"Jangan disini. Aku takut Bapak Ibu pulang" Atiqah menahan dada Ardi.
"Oke ... kita ke apartemen sekarang. Kamu telfon ibu, bilang kita ke dokter" saran Ardi. Atiqah mengangguk.
Atiqah menggulirkan layar ponselnya, menghubungi bu Asri.
"Bu, Ardi mau bawa mba ke dokter"
"......"
"Iya bu ... iya"
"Udah?" Atiqah mengangguk. Ardi kembali menyerbu bibir Atiqah sambil meremas satu dadanya.
"Aku mau ini dulu. Duduk sini" meremas dada lalu menepuk pahanya agar Atiqah duduk dipangkuan berhadapan. Ardi mengangkat piyama sampai melewati kepala lalu meletakkannya ke kasur.
Ardi menurunkan satu tali bra, mengeluarkan satu dada dan langsung melilitkan lidahnya, bermain main sampai berdecak dan basah. Atiqah meremas belakang kepala Ardi sambil mendongakkan wajahnya ke langit-langit kamar.
"Udah Yang ... aku udah basah" Atiqah bergumam tak karuan. Rasanya benar-benar menggelitik.
"Aku juga udah nggak tahan Yang. Main cepet ya, nanti kita lanjutin lagi di apartemen" Atiqah mengangguk, menutup pintu kamar lalu menurunkan celananya sebatas paha. Begitu juga dengan Ardi.
Atiqah mengatupkan mulutnya menahan dorongan dan gerakan Ardi yang cepat. Rasanya ingin berteriak tapi ia sadar suaranya akan terdengar keluar.
"Udah Yang. Ayok buruan ganti baju kamu. Kita berangkat sekarang" ucap Ardi sambil menyeka miliknya juga milik Atiqah dengan tisu yang ia sambar dari atas meja belajar.
"Enak banget kalo main cepet gini. Deg-deg an" ucap Atiqah, menarik baju dan celana dari dalam lemari lalu memakainya cepat.
"Mau coba yang lebih menantang?" tanya Ardi membuka pintu kamar.
"Nggak mau" Atiqah menggelengkan kepala lalu berjalan keluar rumah, mengunci pintu kemudian meletakkan kunci dibawah pot bunga kesayangan bu Asri.
Atiqah dan Ardi masuk ke dalam mobil, menuju apartemen.
Bersambung...
*****
Pokoknya mah pol-pol an sebelum negara api menyerang 😄
Jangan lupa lagi rate bintang 5, like, komen dan giftnya 😁😊 malak 😂
Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1