ATIQAH

ATIQAH
Bab 39 : Yogyakarta (3)


__ADS_3

Lala dan Guntur kembali masuk ke dalam rumah setelah berkeliling selama satu jam. Subroto sudah duduk manis menunggu anggota keluarga lainnya bergabung untuk sarapan.


Atiqah membawa nampan yang tadi Ardi bawa.


"Sudah sarapan?" tanya Subroto melihat nampan yang dibawa Atiqah.


"Jajanan pasar eyang, tadi Ardi yang bawa. Maaf, saya bangunnya terlambat" Atiqah menundukkan kepala, merasa tidak enak hati.


"Ora popo (gak papa)...mreneo, sarapan sek (kesini, sarapan dulu)" menepuk kursi disebelahnya. Atiqah menurut, menarik kursi duduk di sebelah kiri Subroto. Ardi ikut duduk juga disebelah Atiqah. Lala dan Guntur duduk bersisian di depan Atiqah dan Ardi.


Menu sederhana lontong opor, sambel goreng kentang hati, kerupuk udang dan teh manis hangat.


"Selesai sarapan, mandi njur (terus) ikut eyang ke perkebunan" ucap Subroto di sela-sela sarapan mereka.


"Inggih eyang" ucap Guntur.


"Iya eyang" ucap Ardi, Atiqah dan Lala.


Mereka kembali menikmati sarapan dengan tenang.


"Bangun jam berapa kamu Atiq? aku ketuk-ketuk kamar tapi gak bangun juga" Lala kesal mengingat hal tadi, pagi sekali.


"Jahat banget ninggalin aku sendirian. Kesempatan ya kamu berduaan sama mas Guntur?!" Atiqah tidak menjawab pertanyaan Lala tapi justru memojokkan sahabatnya.


"Kamu malah balik marah ke aku sih? aku kan udah bangunin, mau ngajakin lari pagi sekitar sini. Tapi kamunya tidur terus. Yaudah aku berdua aja sama mas Guntur. Lagian ada kak Ardi, kenapa kamu malah sewot sih? apa jangan-jangan kamu cemburu aku deket-deket mas Guntur? ckckck...Atiqah kamu udah ada kak Ardi, cucu konglomerat, mau apa lagi?" cerocos Lala yang tidak bisa di interupsi oleh Atiqah.


"Udah ngomongnya?" tanya Atiqah, ia sedang di kamar Lala setelah mandi. Duduk di atas ranjang.


"Apaan sih Atiq" Lala mengerucutkan bibirnya, ia sedang duduk menghadap cermin memoles wajahnya dengan make up.


"Aku gak ada rasa apapun sama mas Guntur. Tapi jangan tinggalin aku dong. Kan kamu bisa teriak. Ya gimana kek caranya sampe aku bangun. Aku juga pengen ngerasain sejuknya pagi hari di Jogja" Atiqah tidak mungkin menceritakan ketakutannya kalau hanya berduaan dengan Ardi.


"Iya..iya maaf" sambil mengaplikasikan liptin merah ke bibir.


"Trus ngapain kamu dandan gitu? kita mau ke kebon, bukan mau ke Mall La" Atiqah memandang Lala dari pantulan cermin.


"Ya buat apa lagi...buat mas Gunturku sayang" ucap Lala sambil berlenggak lenggok didepan cermin.


"Dasar Genit" Atiqah tertawa melihat tingkah Lala.

__ADS_1


Terdengar suara langkah kaki berjalan cepat. "Yang...sayang. Kamu dikamar Lala?" suara Ardi memanggil Atiqah didepan pintu kamar.


"Tuh...sayangnya kamu udah manggil-manggil. Kangen kali, hahaha" Lala menunjuk ke arah pintu sambil tertawa.


"Hishh" Atiqah turun dari ranjang lalu membuka pintu.


"Eh bener disini. Aku mau ngomong sebentar" menarik tangan, Atiqah membulatkan matanya meminta pertolongan pada Lala dengan gerakan bibir tak bersuara tapi Lala justru mengibaskan tangannya.


"Mau ngomong apa? gak usah dikamar, di luar aja" Brakk...pintu kamar ditutup Ardi. Atiqah mundur satu langkah saat Ardi maju satu langkah. Begitu seterusnya sampai Atiqah terduduk karena kaki belakangnya menabrak ranjang.


"Mau cium kamu. Aku kangen Yang...please cium aja gak lebih. Aku janji" Ardi sudah berdiri didepan Atiqah, mengapit kedua kakinya. Atiqah sudah benar-benar terkunci.


"Cium aja-" Ardi langsung menunduk, meremas belakang kepala Atiqah. Menciumnya dengan lembut, mencoba memancing Atiqah untuk membalas ciumannya. Benar saja, Atiqah membalasnya sekaligus membuka bibirnya untuk akses lidah Ardi.


Atiqah melingkarkan tangannya memeluk pinggang Ardi, wajahnya menatap ke atas menikmati ciuman kekasihnya yang tak memberikannya jeda waktu untuk mengambil nafas.


Nafas Ardi memburu, tangannya turun mengusap leher lalu ke punggung dan pinggang mencari tepian t-shirt kekasihnya. Tanpa sadar Atiqah melenguh saat tangan Ardi sudah masuk ke dalam bajunya dan menurunkan satu tali. Memutar, memilin dan meremas dada.


"Kamu suka Yang? enak kan" tanya Ardi dengan suara berat. Miliknya mengetat dibalik celana chinos armi pendek. Atiqah tak menjawab, rasanya entah kemana jiwanya.


Ardi menarik tangan Atiqah, menuntun untuk memegang miliknya. "Usap Yang" Atiqah mengusap naik turun, membuat Ardi men*desah.


Ardi mengangkat baju Atiqah sampai sebatas leher, mendorong kekasihnya itu sampai berbaring diatas kasur. "Aku mau ini" menurunkan satu tali sebelah kiri. Tanpa berpikir panjang Ardi sudah menyerbu puncak dada Atiqah dengan gerakan lidah yang memabukkan.


Satu tangan Ardi membuka kancing depan celana pendek Atiqah. Meringsek memasukkan jarinya. Reflek Atiqah menaikkan pinggangnya. "Enak kan Yang" Atiqah mengangguk, menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Ardi kembali membenamkan bibirnya bermain puncak dada dan terus mengoyak inti tubuh Atiqah dibawah sana.


"Ah..Ah..aku...aku" Atiqah terbata, rasanya akan meledak.


"Lepasin aja Yang" ucap Ardi menambah kecepatan gerakan jarinya. Atiqah memejamkan mata, merasakan miliknya berkedut. Nafasnya terengah-engah.


"Sekarang giliranku" Ardi membuka kancing celananya. Atiqah yang sudah lemas tak memikirkan apapun.


tok tok tok...seperti ditampar untuk sadar, Atiqah bangkit duduk merapihkan keadaannya lalu mendorong Ardi untuk turun dari ranjang.


"Sial!!" umpat Ardi.


"Kak Ardi...Atiq. Udah selese belum ngobrolnya? udah ditungguin eyang didepan" teriak Lala sambil mengetuk pintu.


"Iya La, bentar lagi. Tunggu didepan aja dulu. Aku nyusul" teriak Atiqah dengan suara senormal mungkin.

__ADS_1


"Oke" Lala berbalik keluar paviliun. Suara pintu terdengar keras ditutup.


"Lala udah pergi, lanjutin lagi Yang. Bentaran aja" ucap Ardi yang kembali menarik Atiqah dan siap membuka celananya.


"Kamu gila! Eyang udah didepan, nunggu kita. Jangan sampe mereka curiga. Janjinya tadi gak lebih dari ciuman" Atiqah kesal, membuka koper meraih ****** *****.


"Tapi tadi kamu mau-mau aja. Kamu udah keenakan trus ninggalin aku? kamu gak kasihan sama aku?" Ardi menatap Atiqah yang berjalan melewatinya masuk ke dalam kamar mandi.


"Makanya aku gak mau berduaan sama kamu. Akhirnya pasti gini. Udah keluar duluan gih. Aku mau bersih-bersih" Atiqah berteriak dari dalam kamar mandi.


"Nanti malam kamu harus puasin aku!!" mencengkeram lengan Atiqah setelah kekasihnya itu baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku gak mau!" jawab Atiqah tegas.


"Kamu harus mau! kamu gak akan bisa nolak aku nanti malam! pake baju yang aku kasih. Habis kamu malam ini!" Ardi menghempaskan lengan Atiqah lalu keluar kamar.


Suara pintu paviliun tertutup dengan keras. Atiqah terlonjak. "Mesum! ngeselin! Arghh..." menghentakkan kakinya ke lantai.


"Mana Atiqah?" tanya Subroto saat Ardi masuk ke dalam mobil yang sudah siap menunggu di halaman depan.


"Ada di belakang" dari jawaban Ardi, semua tahu pasangan itu sedang bertengkar.


"Gelut meneh (berantem lagi)?" Subroto menggelengkan kepala. Ardi mengedikkan bahu, duduk disebelahnya.


"Eh La, kamu kok didepan?" tanya Ardi menyadari Lala duduk manis di sebelah Guntur.


"Wes mbok ben. Kae Yangmu wes teko, minggiro pindah mburi (Sudah biarkan saja. Itu pacarmu sudah datang, minggir sana pindah ke belakang)" Subroto menyuruh Ardi pindah setelah melihat Atiqah keluar dari pintu utama.


"Maaf Eyang" Atiqah masuk duduk di sebelah Subroto, menatap Ardi sekilas.


"Yowes...mangkat Tur (yasudah, berangkat Guntur)" ucap eyang.


"Inggih eyang" Guntur melanjukan mobil vellfire hitam menuju perkebunan yang tidak jauh dari rumah.


Bersambung...


*****


Nanggung lagi 😝

__ADS_1


Udahlah ya langsung cuz rate bintang 5, like, komen dan giftnya sayang...


Matur suwun sanget 🙏


__ADS_2