
Kekuatan terbesarku adalah Tuhan, arti dari sebuah nama bayi laki-laki yang baru saja Atiqah lahirkan. Aziel Danurdara. Nama itu sudah ia bicarakan bersama Ardi saat malam setelah acara 7 bulanan. Ardi setuju.
Operasi tadi berjalan cukup lama. Atiqah menggigil kedinginan, membuatnya berhalusinasi.
"Maaf, maafin aku. Aku cuma sayang kamu, aku cuma sayang sama anak kita. Maaf," Atiqah mengucapkan kata-kata itu berkali kali pada Ardi. Ardi menunduk mencium kening Atiqah. Ia tidak mengatakan apapun, hanya kecupan dan usapan pada puncak kepala Atiqah.
Bayi laki-laki mereka lahir tepat pukul 04.00 pagi, dengan berat 3,5 kg dan panjang 51cm. Suara lengkingan tangis bayi terdengar sangat nyaring. Atiqah menangis. Ardi pun sama menangis. Pengalaman pertama mereka memiliki seorang bayi.
"Anak kita, anak kita lahir. Aku seneng, aku seneng banget," ucap Atiqah. Ardi menciumi pipinya.
"Iya, bayi kita lahir. Terimakasih," ucapnya pada Atiqah.
Persalinan berjalan lancar. Atiqah dibawa ke ruang rawat. Mbok Jum menyambutnya dari pintu ruang operasi yang baru saja terbuka.
"Selamat mbak Atiqah," ucap mbok Jum. Atiqah tersenyum kecil, tubuhnya terasa lemah, efek obat bius masih ada.
Ardi bersama mbok Jum masuk ke dalam kamar VVIP yang sudah disiapkan di lantai 3.
Atiqah lelah, ia tertidur. Sedangkan Ardi pergi keluar.
"Halo Ma ... Anak Ardi udah lahir. Bulan depan Mama datang ke Jogja. Eyang masih belum sadar," ucap Ardi, menghubungi Anne.
"Oke, Mama kasih kabar ke Melda dan Ryan. Nggak sampai seminggu semua beres. Mama nggak bisa kesana. Mama banyak urusan," ujar Anne dari Jakarta.
"Soal Papa, gimana? udah beres, Ma?" tanya Ardi. Sigit belum tahu kalau rahasianya sudah terbongkar.
"Sedikit lagi. Si tua bangka itu akan Mama bikin hancur, miskin, nggak punya apa-apa. Biar tau rasa! mana ada perempuan yang mau sama pria tua kere," setiap membahas Sigit, Anne sangat marah.
"Oke, Ma. Ardi tunggu bulan depan," ucapnya terakhir kali lalu mematikan telfon. Ardi berbalik, berpapasan dengan Guntur.
__ADS_1
"Mas, selamat atas kelahiran anak mas Ardi dan mbak Atiqah," Guntur mengulurkan tangan tapi Ardi mengacuhkannya langsung masuk ke dalam. Guntur menepuk-nepuk telapak tangannya sendiri.
"Mbok, aku mau pulang dulu. Aku ngantuk, capek. Mbok disini jaga Atiqah," pamit Ardi. Ia melenggang keluar tanpa berbasa basi pada Guntur yang duduk di sebelah Mbok Jum.
"Piye to? wong bojone nembe wae lahiran kok yo ditinggal. Kan iso turu neng kene. Ora pengen ndelok bayine opo piye? cen bocah angel. Untung wae Eyang ora ngerti, jal nek ngerti. Babak bundas. (Gimana sih? istrinya baru saja melahirkan kok ditinggal. Kan bisa tidur disini. Nggak mau ngelihat bayinya apa gimana? memang anak susah. Untung saja Eyang tidak tahu, coba kalau sampai tahu. Babak belur)," Mbok Jum menggerutu karena ia juga merasa aneh dengan sikap Ardi.
"Wes to mbok, biar aja. Kita ini cuma pesuruh. Sek penting mbak Atiqah sehat, bayinya juga," Guntur menepuk-nepuk bahu mbok Jum.
"Lha iyo, nanging ojo koyo ngono to. Piye Eyang? wes sadar rung? (Lha iya, tapi jangan seperti itu. Gimana Eyang? sudah sadar belum?)," tanya mbok Jum. Guntur menggelengkan kepalanya.
"Belum mbok, masih sama. Ini aku tinggal sebentar, soale lagi di lap Suster (soalnya sedang diseka Suster)," Guntur menegakkan badannya melihat ke arah pintu kamar yang diketuk.
"Permisi ... saya bawa bayi bu Atiqah. Belajar menyusui dulu," Suster mendorong box bayi dimana bayi laki-laki Atiqah ada didalamnya.
"Masih tidur Sus, apa perlu dibangunkan?" tanya mbok Jum.
"Bu Atiqah ... bu. Bangun dulu ya, kita belajar menyusui. Ini saya bawa bayi laki-laki ibu, Aziel," Suster itu membangunkan Atiqah perlahan.
"Anak aku Sus?" Atiqah seketika membuka matanya. Ia terkejut mendengar bayinya sudah ada bersamanya.
"Iya bu, pelan-pelan saja. Saya bantu," Suster membantu Atiqah memiringkan badannya. Rasa nyeri sedikit demi sedikit terasa. Efek obat bius mulai menghilang. Atiqah meringis.
"Permisi, saya tutup dulu tirainya," Suster menggeser tirai sampai menutupi ranjang. Mbok Jum dan Guntur diam menunggu.
Percobaan pertama langsung berhasil. Mulut Aziel melekat sempurna ke pu*ting ibunya. Mulutnya bergerak-gerak sangat lucu. Atiqah menangis haru melihatnya. Rasa sakit itu seakan hilang setelah melihat putranya sedang asik menyusu.
"Anak ibu pinter banget," Atiqah membelai rambut tebal berwarna hitam. Rambut dan wajah Aziel sama persis dengan Ardi. Hanya bibirnya saja yang seperti Atiqah.
"Setiap dua jam sekali disusui ya bu. Karna ibu sudah bisa, saya tinggal dulu. Nanti kalau perlu bantuan saya, pencet saja tombolnya. Saya langsung datang kesini," ucap Suster itu lalu keluar dari balik tirai.
__ADS_1
"Sebagai suami, pesan saya, beri dukungan penuh untuk Bu Atiqah dalam menyusui. Peran bapak sangat penting. Saya permisi," Suster langsung saja berkata seperti itu pada Guntur. Suster menyangka suami Atiqah adalah Guntur.
Guntur melongo, saling bertatapan dengan mbok Jum. Atiqah pikir, Suster tadi memang berbicara dengan suaminya, Ardi. Atiqah tidak tahu Ardi pulang ke rumah.
"Yang ... tolong bantu aku," Atiqah memanggil Ardi. Meminta pertolongan. Aziel sudah selesai menyusu.
"Mbok ... mbok aja sana. Aku mau jaga Eyang," ucap Guntur lirih.
"Yowes, kono (Yasudah, sana)," Mbok Jum mengibaskan tangannya. Guntur langsung keluar kamar dengan langkah kaki perlahan.
Mbok Jum membuka tirai. "Mbak ... perlu bantuan apa? Mbok bantu," Atiqah bingung saat Mbok Jum lah yang masuk.
"Lho kok Mbok Jum? Ardi mana Mbok? tadi aku denger ada disini," tanya Atiqah. Ia mendengar perkataan Suster tadi dengan suaminya.
"Emm ... anu, itu ... Den Ardi pulang ke rumah, katanya mau istirahat. Tadi itu Guntur," jawab Mbok Jum.
"Hah?? pulang? istirahat? kenapa harus dirumah? dia nggak mau lihat Aziel? dia nggak mau temenin aku? aku baru aja operasi, belum bisa apa-apa tapi dia milih pulang?" Atiqah sangat marah.
"Mbak, tenang ... tenang," Mbok Jum langsung mengangkat Aziel lalu meletakkannya dalam box bayi.
Atiqah menangis sambil menahan rasa sakit yang sudah semakin terasa. Tubuh bagian bawahnya sudah bisa ia gerakkan sedikit. Mati rasa tadi berangsur menghilang dan kembali normal.
"Mbak Atiqah baru melahirkan, jangan banyak pikiran. Nanti ASInya yang keluar sedikit, kasihan Aziel," Mbok Jum mengusap air mata di sudut mata Atiqah.
"Tapi Mbok, harusnya dia ngerti. Aku butuh suamiku disini. Aku cuma butuh dia," Atiqah terus menangis, Aziel kembali terbangun dan juga ikut menangis. Bayi kecil itu merasakan hal yang sama dengan ibunya.
"Maaf, maafin ibu nak. Ibu janji nggak akan nangis lagi. Maafin ibu," Atiqah memeluk putranya itu setelah Mbok Jum memindahkan Aziel ke ranjang bersama ibunya.
Bersambung...
__ADS_1