ATIQAH

ATIQAH
Bab 72 : Di luar Kendali


__ADS_3

Pagi yang gaduh itu membuat Ardi saat ini duduk di dalam ruangan Damar selaku Kepala Sekolah. Papa dan Mamanya sedang di jalan menuju sekolahan. Damar duduk di kursinya sambil memijat pangkal hidungnya.


Ardi duduk dengan santai sambil menggulir ponselnya ke atas ke bawah. Lalu satu chat dari Topan terlihat di layar.


Sialan! brengsek! umpat Ardi dalam hati. Foto-fotonya tadi mendadak viral di media sosial. Entah siapa yang menyebarkannya dan langsung menjadi top trending.


Satu kutipan di laman berita online berikut dengan gambar Ardi dan Atiqah memasuki lobby apartemen :


*Sepasang s**iswa siswi SMAN 6 Jakarta, terciduk memasuki apartemen dengan perut membuncit. Diketahui siswa tersebut anak konglomerat di Jakarta. Salah satu pemilik pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara. Menurut narasumber yang juga murid di sekolah yang sama, bahwa siswi tersebut sudah mengundurkan diri sejak 3 bulan yang lalu*.


Sepertinya Damar menerima pesan juga dengan berita yang sama. Beliau menggebrak meja lalu bangkit dari duduknya. Ardi terkejut, menoleh ke arah kanan.


"Kamu sudah mencoreng nama sekolah! Lihat semua berita-berita di media sosial!" Damar menunjukkan layar ponselnya pada Ardi.


"Jangan salahkan saya pak. Harusnya pihak sekolah yang menyelidiki siapa dibalik semua berita ini. Kalau orang itu tidak menyebar luaskan, pasti tidak akan seheboh ini" Ardi berkata realistis. Toh dia bertanggung jawab menikahi Atiqah dan istrinya itu memang sudah keluar dari sekolah.


"Tapi kalau kamu dan Atiqah tidak berbuat hal seperti ini, semua berita juga nggak akan ada. Bapak kecewa sama kamu Ardi! kamu ketua Osis dan jadi contoh untuk semua murid-murid di sekolah" Damar menjatuhkan dirinya di sofa tunggal di sisi kanan Ardi.


"Saya nggak akan keluar dari sekolah sebelum saya lulus. Dan kami sudah menikah secara sah dan bukan ilegal. Saya 18 tahun dan Atiqah 17 tahun. Batas umur kami sah di mata hukum" terang Ardi. Ia tidak mau dikeluarkan dari sekolah. Tersisa beberapa bulan lagi ia akan lulus SMA.


Damar menghela nafasnya. Rasanya menunggu orangtua Ardi begitu lama. Dan ketukan pintu terdengar. Sigit dan Anne datang bersama dengan raut wajah yang sudah dipastikan sangat kesal pada Ardi. Mereka sudah diberitahu untuk apa mereka ke sekolah.


"Mama udah bilang, jangan berhubungan dengan perempuan itu! Sekarang begini kan? semua orang jadi tau. Mau ditaruh mana muka Mama?" Anne marah, langsung memberondong putranya dengan nada lantang.


"Ma, duduk dulu. Ada pak Damar" bisik Sigit pada Anne.


"Silahkan duduk Pak Bu" Damar mempersilahkan dengan sopan. Perlakuannya berbeda dan begitu istimewa karena Sigit Danurdara adalah donatur tetap di sekolah. Nominalnya pun tidak main-main.


"Apa saya bisa memulainya sekarang?" Damar bertanya pada Sigit dan Anne.


"Silahkan pak" jawab Sigit.

__ADS_1


"Pak Sigit dan Bu Anne sudah saya beritahu sebelumnya. Jadi langsung saja. Kami dari pihak sekolah merasa dirugikan dengan pemberitaan ini --menyodorkan ponselnya-- Nama sekolah sudah tercoreng. Karena bapak selaku donatur tetap sekolah, kami tidak akan mengeluarkan nak Ardi tapi akan kami skorsing selama dua bulan" ucap Damar langsung pada pokok pembahasan.


"Tapi pak ... Saya nggak bersalah. Harusnya bapak cari orang yang sudah membuat keributan ini. Saya kan sudah bilang, kalau saya sudah menikah dengan Atiqah! saya nggak terima kalau saya di skors" Ardi bangkit dari duduknya dan melontarkan kata-kata dengan penuh amarah.


"Ardi!!" Sigit membentak Ardi.


Ardi keluar dari ruangan Kepala Sekolah, membanting pintu dan berjalan menyusuri lorong meninggalkan sekolah. Siswa siswi yang ruang kelasnya dilewati, reflek berdiri dan terus memandang Ardi.


"Nggak nyangka, Ketos kita begitu. Atiqah sampe hamil. Sebelum ketauan udah keluar duluaqn dia. Cerdas juga mereka" ucap salah satu murid yang ikut memandang Ardi.


"Sudah ... sudah. Semua duduk! Ayo ... ayo duduk! kembali ke kursi masing-masing!" seru guru yang sedang mengajar.


*****


Ardi kembali ke apartemen, menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ponsel di saku celana bergetar. Ardi merogoh lalu menatap layar dimana nama Atiqah muncul disana.


"Halo ..." jawab Ardi masih dengan posisi yang sama.


Teriakan mereka begitu jelas. Meneriaki Atiqah perempuan murahan, tidak tahu malu dan menyeret nama kedua orangtuanya.


"Hah?? Apa?? --Ardi bangkit, menegakkan badannya. Menyambar kunci mobil, berjalan tergesa-gesa keluar dari apartemen-- Tunggu disitu! Jangan kemana-mana! inget ... Jangan kemana-mana! Tunggu aku! Oke?" Ardi menekan tombol lift.


"ta ... tapi ... cepetan kesini. Aku takut, aku takut" Atiqah berjalan mondar mandir lalu memegangi perutnya.


Ardi segera datang ke warung mertuanya. Hanya butuh waktu 5 menit, ia sudah sampai tepat didepan warung. Ardi membunyikan klakson berkali-kali untuk menyingkirkan orang-orang yang berkerumun.


"Bu ... ini Ardi" Ardi berteriak sambil menggedor pintu. Kerumunan yang sempat terurai tadi, kembali mendekat. Satu laki-laki dewasa menarik bahu Ardi.


"Oh ... ini laki-lakinya? Sinting ... masih muda tapi jago hamilin anak orang" orang itu mengatai dengan menunjuk-nunjuk wajah Ardi.


"Minggir! bukan urusanmu --melepaskan dengan kasar tangan laki-laki itu di bahunya-- Yang, buka!" Ardi kembali berteriak. Lalu pintu terbuka.

__ADS_1


"Nak Ardi, perut Atiqah tiba-tiba sakit" tanpa pikir panjang, Ardi masuk ke dalam langsung membopong Atiqah keluar menuju mobilnya.


"Minggir! Minggir! kalian bisa aku laporin ke polisi!" Ardi berteriak sekaligus mengancam sambil menggendong Atiqah. Atiqah meringis, menyembunyikan wajahnya ke dada Ardi. Ia ketakutan.


Orang-orang yang berkerumun tadi diam karena ancaman yang dilontarkan. Ardi menunjuk semua orang "Kalau sampai ada apa-apa sama istriku, habislah kalian semua! aku bisa nyuruh orang buat ngeringkus kalian semua!!" brakk...pintu mobil ditutup Ardi keras.


Ardi membawa Atiqah ke rumah sakit terdekat. Bondan segera datang langsung dari pabrik setelah dihubungi istrinya, Asri.


"Bagaimana dok?" tanya Ardi saat dokter spesialis kandungan selesai memeriksa Atiqah. Sejak tadi, Ardi berdiri di samping ranjang menggenggam tangan Atiqah.


"Bayi di dalam kandungan baik, sehat. Ini murni karena panik dan cemas. Sehingga membuat si ibu merasakan keram" dokter bernama Arman menjelaskan. Ardi menghela nafasnya, mengusap kepala Atiqah.


"Lebih baik dirawat dulu selama beberapa hari sampai tenang kembali" saran dokter Arman.


"Baik dok. Terimakasih" ucap Ardi.


"Sus ... tolong antar ke ruang rawat inap" dokter Arman memberi perintah pada suster di belakangnya.


"Baik dok"


Dan siang itu, Atiqah dirawat dirumah sakit. Kakeknya Subroto langsung terbang ke Jakarta bersama Guntur.


Bersambung...


*****


Tetep dukung Atiqah ya 😊


Di akhir Bab nanti ada give away buat temen2 yang ada di podium umum 1, 2 dan 3


Terimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2