
Atiqah mengetuk pintu rumahnya. Ia sudah mendapatkan alasan apa yang akan ia katakan pada kedua orangtuanya.
"Kenapa baru pulang? ini udah malam mba" tanya pak Bondan dengan nada tegas setelah membuka pintu.
"Maaf pak, tadi mba bantuin orang yang lagi dipukulin tukang parkir didepan toko buku" Atiqah kembali berbohong, memeluk tasnya.
"Dipukuli?" pak Bondan menatap wajah putrinya sambil menutup pintu.
"Iya pak. Gak tau masalahnya apa" Atiqah berusaha menghindar masuk ke kamarnya.
"Tunggu dulu --menahan bahu, membalikkan badan Atiqah-- ini kenapa?" pak Bondan menyentuh luka di sudut bibir putrinya.
"Ini --memegang luka di sudut bibir-- tadi kena pukul pas misahin. Tapi gak papa kok. Mba masuk kamar ya pak. Besok udah mulai sekolah" setelah pak Bondan memberikan anggukan kepala, Atiqah masuk ke dalam kamar.
"Huuhh --menghembuskan nafas lega-- Aahh...kasur --menghempaskan tubuhnya, menelungkup ke atas kasur-- capek banget. Badan pegel. Ardi bener-bener hyper" tanpa berganti pakaian, Atiqah langsung tertidur. Tubuhnya butuh istirahat.
*****
Ardi baru saja masuk ke rumah sakit dimana mamanya, Anne dirawat. Ia menyiapkan diri untuk mendengar ocehan papanya.
Langkah kakinya terhenti saat melihat Sigit sudah berdiri di ambang pintu dan menatap kearahnya.
"Diam disitu!" Sigit menghampiri putranya lalu menarik masuk ke pintu darurat. Emosinya sudah memuncak dan ingin ia segera lampiaskan.
"Anak gak tau diri --mencengkeram leher baju-- kamu udah mempermalukan Papa waktu itu lalu sekarang? kamu permalukan Papa lagi? Brengsek!" Sigit menonjok wajah putranya sampai terjatuh didekat anak tangga. Ardi menatap tajam Sigit, bangkit dan menantang papanya.
"Apa?? Ardi brengsek karena siapa? Papa lebih brengsek. Ardi tau kalo Papa sering check in di Darmawangsa sama sekertaris Papa itu. Dan ternyata dia sekarang lagi hamil" Ardi mengeraskan rahangnya menatap papanya. Sigit terkejut karena putranya tahu apa yang sedang ia resahkan beberapa hari ini. Sekertarisnya mengaku sudah hamil tiga bulan.
"Mana buktinya? jangan mengalihkan pembicaraan" Sigit mengelak.
"Oke...--membuka layar ponselnya-- ini buktinya" Ardi memperlihatkan beberapa foto Papanya dan sekertarisnya check in lalu check out beberapa jam kemudian. Sigit meremas ponsel Ardi digenggaman.
"Kamu ngancam Papa?" Sigit berpura-pura tidak cemas dengan bukti yang dipertontonkan putranya.
__ADS_1
"Kalo iya, gimana? Ardi bisa kasih semua bukti ini ke Mama dan Eyang" Ardi semakin memojokkan Sigit.
"Kalau sampai kamu berani --menunjuk wajah Ardi-- keluarga kita akan hancur. Dan Papa gak akan segan-segan nyelakain pacar kamu itu" menggertakan gigi. Sigit sudah sangat terpojok, hanya kembali mengancam yang bisa ia lakukan.
"Keluarga kita pasti hancur dan Papa gak akan dapat apa-apa karna Eyang sudah pasti murka. Ardi juga gak segan-segan buat bikin Papa hancur sehancur hancurnya" Ardi membalas lebih sengit lagi.
"Fu*ck!!" Sigit meninju tembok tepat di belakang telinga Ardi. Ardi tersenyum senang, papanya tak berkutik. "Jadi apa mau kamu?" tanya Sigit sambil mengelus punggung tangannya yang merah.
"Setelah lulus sekolah, Ardi nikahin Atiqah. Jangan ganggu keluarganya! Papa cukup menyetujui dan duduk diam di kursi kebesaran Papa, sampai nantinya aku ambil alih semua" Ardi tersenyum miring. Ternyata tidak sia-sia ia menyuruh orang memata-matai papanya. Ardi yakin bisa memegang kuncian untuk menggertak Sigit dan nyatanya sangat berguna. Papanya tidak berkutik.
Sigit terdiam memikirkan ucapan putranya. Ia tidak bisa menolak. Karena Ardi memang cucu laki-laki satu-satunya di keluarga Danurdara. Ayahnyapun sangat memihak pada Ardi. Sigit tidak punya jalan lain. Kecerobohan yang ia lakukan sendiri. Bergonta ganti perempuan demi memuaskan hasratnya.
"Oke Papa setuju, asal...kamu jaga rahasia ini sampai kapanpun. Jangan sampai kamu ingkar janji" Sigit menyerah, ia kalah telak.
"Ardi gak janji --Sigit mengepalkan tangannya, rasanya ingin meninju lagi wajah putranya-- suatu saat Papa bisa lakuin hal jahat pada Atiqah dan keluarganya. Ardi tau gimana liciknya Papa" Ardi tahu betul sifat Sigit.
"Ardi gak nyangka bakal punya adik dari wanita simpanan Papa. Dan wanita-wanita yang lainnya lagi entah siapa" Ardi mengatakannya tanpa membalikkan badan, membuka pintu darurat.
Ardi memilih pulang ke rumah tanpa menjenguk Anne terlebih dulu. Ardi muak dengan kedua orangtuanya.
*****
"Yang, pulang sekolah ikut aku ke apartemen. Bantuin aku beresin pakaian sama buku-buku" ucap Ardi pada Atiqah yang duduk disampingnya. Pagi ini Ardi menjemput seperti biasa dengan membawa beberapa koper besar di bagasi.
"Kamu pindah ke apartemen?" tanya Atiqah, menyerongkan duduknya menatap Ardi yang sedang menyetir.
"Iya...aku keluar dari rumah. Aku gak tahan lagi sama Papa Mama" menggenggam tangan Atiqah, mencium sambil terus menyetir.
"Kenapa harus gitu? aku yang gak enak. Mereka akan semakin benci sama aku" Atiqah tidak mau merenggangkan hubungan Ardi dengan kedua orangtuanya.
"Mau sampai kapanpun mereka gak akan setuju sama hubungan kita. Aku muak punya orangtua seperti mereka" ucap Ardi menggebu-gebu.
"Iya...iya" Atiqah tidak mau berkata lebih jauh lagi. Suasana hati Ardi sedang tidak baik. Kekasihnya itu akan bertingkah kasar jika semakin tertekan.
__ADS_1
Ardi memarkirkan mobil lalu menggenggam tangan Atiqah masuk ke dalam sekolah. Ardi tidak perduli lagi dengan semua tatapan teman-teman di sekolahnya. Ardi dan Atiqah sudah terang-terangan jika mereka memang memiliki hubungan, bukan sekedar teman tapi pacar.
Saat ini Echa sudah tidak seperti dulu. Ia menjadi pendiam dan menyendiri. Teman satu gengnya menjauhinya. Mereka tau kalau Echa memang hanya anak seorang sopir, bukan pengusaha yang digembar gemborkan selama ini.
"Nanti aku tunggu di parkiran" ucap Ardi tepat di depan kelas baru. Papan pengumuman pembagian kelas sudah dipasang, Atiqah dan Ardi melihatnya tadi. Dan hari pertama sekolah hanya berjalan 3 jam saja, setelahnya mereka pulang.
"Iya" Atiqah mengangguk lalu masuk ke dalam kelas. Di kelas 2 Atiqah tidak sekelas dengan Lala. Sahabatnya di kelas berbeda dan masih mengacuhkannya. Beberapa pesan yang ia kirim pada Lala tidak dibaca ataupun dibalas.
Atiqah menghela nafasnya. Memilih duduk di samping jendela di barisan ke empat. Di meja itu baru dia yang duduk disana. Atiqah tidak tahu siapa yang akan menjadi teman semejanya di kelas 2.
Tiga jam berlalu. Semua siswa siswi berhamburan keluar kelas. Atiqah langsung menuju parkiran. Ardi belum ada di mobilnya, ia menunggu menyandar pada bagasi mobil.
"Lala...." teriak Atiqah saat melihat Lala baru saja keluar dari lobby sekolah. Lala menoleh sebentar lalu berjalan lagi mengacuhkan Atiqah. Lala bersama teman sekelasnya tertawa riang. Seketika wajah Atiqah muram. Lala berubah pikirnya. Ia merasa tidak memiliki kesalahan apapun pada sahabatnya itu.
"Kenapa cemberut?" tanya Ardi yang baru saja datang.
"Lala masih marah. Aku panggil tapi dia tetep jalan. Aku bingung kenapa dia gitu. Kemaren kita liburan ke Jogja baik-baik aja. Gak ada yang salah" Atiqah mengeluhkan sikap Lala pada kekasihnya. Ardi menarik Atiqah masuk ke dalam mobil.
"Udah udah...gak usah cemberut gitu. Masih ada aku. Cium sini" menarik lengan Atiqah lalu mengangkat dagu mengecup bibir.
"Kita masih di sekolah" gerutu Atiqah.
"Jadi kalo di apartemen, mau?" Ardi mengusap paha Atiqah. Atiqah terperanjat ingin memukul tangan Ardi tapi ia urungkan. Kekasihnya itu akan bereaksi lebih kasar. Atiqah semakin mengenal sifat Ardi.
Ardi tersenyum mesum. Dengan cepat melajukan mobilnya ke arah apartemen yang tak jauh dari sekolah.
Bersambung...
*****
Langsung pada piktor nih bab berikutnya pas di apartemen lagi 😄😄😄
Rate bintang 5nya dulu ya 😁 terus like, komen sama giftnya 🥰
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏